
Sesampainya di rumah Juno segera di sambut Amora dengan gembira. Apalagi saat melihat Juno berhasil mendapatkan apa yang dia pesan.
Juno menyajikannya untuk Amora. Amora menikmatinya di meja makan berdua bersama Juno.
"Kamu nggak sekalian?" tanya Amora.
"Nggak, aku masih kenyang,"
"Eh, iya. Keira itu siapa? Kok kayaknya Deket sama nenek?" tanya Amora penasaran.
"Dia teman kuliah aku, ponakannya om Budi juga, yang pengacara keluarga kita. Dia dulu sering kesini, main sama Sinta juga. Anaknya memang usil, jadi nanti kalo dia kesini kamu jangan terlalu ambil hati ya sama dia. Sebab dia kadang suka iseng,"
Amora hanya diam sambil menikmati nasi gorengnya. Juno segera mengambil air minum untuk Amora yang terlihat sudah habis.
"Dia bilang dia Deket sama kamu, dia juga sempat niat mau nikah sama kamu waktu di pesta malam itu," ucap Amora yang terdengar sedikit cemburu, Juno yang baru duduk langsung tertawa mendengar pernyataan Amora tersebut.
"Hahaha... Itu dia lagi iseng pasti, dia itu kan tunangannya Abian. Aku sama Abian aja temenan, masak aku mau nikah sama Keira, mau nyakitin Abian gitu! Dia pasti godain kamu. Jadi kalo dia kesini kamu nggak usah pasang muka cemburu, nanti dia makin menjadi-jadi, anggap aja teman biasa," nasehat Juno yang mengerti jika Amora tengah cemburu pada Keira.
"Syukur, deh. Kirain beneran," ujar Amora merasa lega.
"Aku itu punya banyak temen cewek dulu. Nggak tau kenapa mereka suka aja kalo ada apa-apa manggil aku, ya aku mah sama temen santai aja. Sekarang udah nikah semua kayak menjauh," ujar Juno.
'Itu karena mereka baper, dasar nggak peka,' rutuk Amora membatin seraya menyendokkan makanannya.
***
Keesokan harinya Amora dan Juno kembali kekediaman Amora atas desakan dari nenek Juno karena dia tidak mau membuat kesalahpahaman lagi antara dia dan Dona, walau di hati kecilnya sendiri masih berat rasanya beliau melepas Juno ke rumah itu kembali. Dia yakin Dona masih belum berubah, dia dapat rasakan dari cara dia datang tempo hari yang terlihat kurang meyakinkan. Untuk itu nenek sudah menyiapkan mata-mata yang akan memantau bagaimana Juno di sana di perlakukan oleh Dona.
__ADS_1
Entah kenapa, semenjak nenek Juno mengetahui ketidak sukaan Dona terhadap Juno, beliau selalu merasa khawatir jika Juno akan kembali ke sana lagi, tapi bagaimana pun dia tidak punya pilihan lain, karena di sana lah kediaman Juno saat ini.
"Hati-hatilah di sana, jangan buat masalah. Apalagi saat ayah mertuamu tidak ada," nasehat nenek.
"Nenek jangan khawatir, aku nggak apa-apa kok di sana, nenek jangan banyak pikiran lagi, nenek harus percaya sama aku," ujar Juno meyakinkan. Nenek tersenyum walau jauh di relung hatinya dia tetap saja khawatir.
***
Saat sampai dan masuk ke pelataran halaman rumahnya, ada sedikit kekhawatiran pada diri Amora, mengingat mereka pergi saat itu dalam keadaan bertengkar. Dona datang menyambut putrinya itu dengan wajah kaget saat melihat kedatangan mereka, apalagi saat melihat kondisi Amora yang tampak pucat dan lemas.
"Amora! Kamu kenapa? Kok pucat kurusan, sih?" seru Dona dari dalam rumah menyambut kedatangan Amora yang masih di teras depan itu dan baru saja keluar dari mobil bersama Juno.
"Aku mual terus, Mah. Apalagi sekarang makin parah aja rasanya. Ini aja aku masih lemes rasanya," keluh Amora yang segera di papah Dona masuk kamarnya.
Amora menuju kamar terlebih dahulu ke kamarnya bersama Dona. Sedangkan Juno sibuk mengambil barang bawaan mereka di mobil.
"Juno kan neneknya juga sakit, Mah," tutur Amora.
"OOO... Jadi dia sibuk sama neneknya terus nggak sempat urus kamu?" tanya Dona.
"Bukan gitu. Dia urus aku juga, cuman dia juga harus urus nenek juga. Sebab nenek semenjak bertengkar sama Mama jadi sering sakit-sakitan," terang Amora agak kesal.
Sesaat Juno masuk kamar, dia terlihat tidak menyapa Dona. Ia langsung ke kamar mandi untuk menghindar. Juno masih kesal jika mengingat bagaimana Dona memaki neneknya tempo hari dan membuat neneknya terus kepikiran hingga sakit saat ini.
"Dia kenapa?" tanya Dona pada Amora.
"Kesel sama mulut Mama," tutur Amora singkat. Dona hanya tersenyum sinis dan langsung pergi dari kamar Amora.
__ADS_1
***
'Berani-beraninya dia nunjukin muka jutek gitu sama aku ibu mertuanya' batin Dona seraya menutup pintu kamar Amora.
***
Saat makan malam Juno makan malam bersama Dona saja. Karena Amora tengah mual, jadi dia tidak ikut makan malam bersama mereka. Juno sebenarnya sangat canggung dengan keadaan ini, apalagi dia juga tengah kesal pada ibu mertuanya itu karena telah membuat neneknya sakit hingga sekarang akibat pertengkaran ibu mertuanya dan neneknya tempo hari.
"Amora sampai kurus nggak kamu rawat apa. Kamu tau kan dia itu anak tunggal kami yang sangat kami jaga, jangan kamu sia-siakan gitu, donk. Apalagi dia tengah mengandung anak kamu juga kan, jangan sibuk sama nenek kamu terus," tegur Dona dingin di sela makan malam mereka.
"Aku hanya punya 2 tangan, dua kaki dan satu tubuh. Aku jagain mereka sepenuh hati, tapi aku harus jagain 3 hal sekaligus, pasien aku di rumah sakit, istri yang sedang ngidam dengan banyak mau dan nenek yang sakit karena beban pikiran. Buat semua baik-baik saja dalam satu waktu itu bukan hal yang mudah untuk aku seorang diri," ujar Juno tak kalah dingin.
Dona segera menghentikan makan malamnya dan menatap Juno tajam, sedangkan Juno masih terus menikmati makan malamnya tanpa menoleh pada Dona. Sesaat dia ingat bagaimana dulu saat Jefri menolaknya, begitu dingin dan keras walau dia sudah berusaha mengungkapkan semua dengan berani di hadapan Jefri dengan mengenyampingkan harga dirinya saat itu.
"Kau bisa menikam sahabatmu dengan mengatakan ini padaku Dona? Kau bukan wanita baik untukku, kau membuat aku semakin yakin pada Hanna," ucap Jefri dingin saat itu.
Begitu jelas expresi angkuh Jefri saat itu. Ia berlalu tanpa peduli dengan tangis Dona saat itu. Jefri menyebut cintanya yang ia pendam selama ini sebagai cinta yang jahat, padahal dia yang lebih dulu mencintai Jefri dan baru sebentar Hanna hadir malah dengan mudah dia merebut itu semua dari Dona. Jefri yang awalnya bisa ia dekati malah berbalik memusuhi saat itu.
Amarahnya di masa lalu Dona kini terasa kembali, saat ia mendengar nada bicara yang sama dari Juno yang merupakan putra Jefri dan Hanna. Mata Jefri dengan senyum Hanna pada diri Juno, nada bicara Jefri yang dingin saat marah dan hati yang lembut seperti Hanna saat mencintai, tapi sangat tajam dan menghujam saat ia marah, persis seperti Jefri.
"Kamu persis seperti ayah kamu. Kasar dan tidak punya hati seperti mereka berdua," hardik Dona yang langsung meninggalkan Juno yang tercenung saat ibu mertuanya itu menyinggung almarhum ayahnya.
Di kamar Dona menangis dalam diam. Ia begitu ingat sekarang bagaimana cinta dua insan itu begitu menyakiti nya dulu, kini dia lihat kembali cinta yang sama sekarang, sebelum akhirnya berlahan menjadi musuhnya dalam diam dulu. Juno mencintai neneknya persis seperti Jefri mencintai Hanna, takkan berpaling walau dia di goda oleh apapun. Jefri akan mencintai Hanna dan rela menyakiti demi Hanna.
Persis seperti Juno yang menentangnya setelah ia bertengkar dengan neneknya. Juno yang biasanya diam dan patuh, kali ini malah bisa menentangnya karena dia menyakiti neneknya tempo hari. Seolah hilang rasa hormat Juno terhadap Dona sekarang.
BERSAMBUNG...
__ADS_1