Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Ayolah Pahami Posisimu


__ADS_3

Selesai makan malam Amora dan Juno duduk di sofa teras belakang rumah neneknya yang luas. Tampak Juno yang tengah mengotak-atik handphone Amora walau sudah berkali-kali Amora melarangnya, Juno tetap mengabaikannya. Dia ingin mengubah password handphone Amora hingga hanya menggunakan sidik jarinya saja untuk membukanya dan Amora hanya bisa membukanya dengan pasword manual.


"JUNO! Balikin handphone aku, kamu lagi ngapain, sih," teriak Amora kesal. Yang di bekap Juno hingga tidak dapat melawan lagi. Dia terus meronta tapi tetap saja tenaganya kalah kuat dari Juno. Amora terus berusaha meminta handphonenya tapi Juno terus menahannya membuat mereka seolah seperti tengah berpelukan. Sinta yang sedari tadi memperhatikan dari dalam rumah hanya bisa melihat itu dari kejauhan dengan perasaan cemburunya.


"Nih udah selesai," ujar Juno dengan senyum puas dan menyerahkan handphone tersebut kembali kepada Amora seraya mengecup puncak kepala istrinya itu, Amora tidak memperdulikan itu, ia sedang fokus dengan handphone. Amora mencoba membukanya dengan sidik jarinya, benar saja. Sudah tidak bisa lagi. Dia langsung menghajar Juno dengan tangannya dengan membabi buta, sedangkan Juno hanya terkekeh dan langsung kabur.


"Balikin Juno! Balikin nggak. Kamu rese', Jun" rengek Amora seperti akan menangis dengan keisengan Juno padanya.


"Nggak papa kan masih bisa di bukak," ujar Juno mulai tidak tega saat Amora mulai tampak akan menangis.


"Ribet brengsek!" teriak Amora yang hampir menangis tak bisa menahan kekesalannya. Juno malah makin terkekeh melihatnya dan ia pun kabur meninggalkan Amora yang mulai menangis seraya terus mencoba mengutak-atik handphone lagi agar bisa ia kembalikan kunci semula tapi tetap tidak bisa. Entah apa yang sudah Juno lakukan pada handphone nya hingga ia tak bisa perbaiki lagi ke bentuk semula. Bahkan wallpaper dan semua isi handphone Amora sudah di ubah Juno menggunakan foto mereka berdua.


"Juno gila, kenapa jadi kayak gini, sih. Kayak anak alay tau nggak, semuanya kenapa jadi foto kamu semuanya, Juno," teriak Amora lagi pada Juno yang sudah pergi entah kemana meninggalkan Amora yang semakin kesal.


Sinta melihat betapa nyamannya Juno saat bersama Amora. Dia bisa menjadi dirinya sendiri saat bersama Amora, tidak peduli searogan apa Amora padanya, Juno tetap terlihat nyaman. Berbeda saat Juno bersamanya, Juno jadi lebih tenang dan menjaga sikapnya. Dia mulai iri dengan Amora yang bisa membuat Juno nakal saat bersamanya. Dia ingin Juno juga seperti itu saat bersamanya. Tapi kelihatannya itu tidak mungkin, Juno sudah terlanjur kaku sedari dulu saat bersamanya.


"Junooo...," rengek Amora menangis masih di sofa. Nenek pun datang melihat Amora yang tengah menangis di sofa.


"Eh, ada apa ini?" tanya nenek Juno khawatir pada Amora, ia duduk di samping Amora seraya memeluknya.


"Juno ubah sidik jari handphone aku, nek. Lihat, aku musti pakek pasword manual buat bukak handphone aku sendiri," ucap Amora masih menangis. Nenek Juno hanya terkekeh melihatnya.

__ADS_1


"Juno! Jun, Juno. Kesini sayang," panggil nenek Juno lembut. Itu membuat Juno tidak berkutik. Ia pun menghampiri neneknya.


"Apa sih, nek!" ujar Juno.


"Juno. Kamu apain handphone Amora?" tanya neneknya lembut.


"Dia mintak di buatin pasword nya, aku bantuin malah aku di serangnya, bukannya bilang terimakasih," adu Juno sambil terkekeh.


"Kalo bantu kenapa dia nangis?"


"Kan dari dulu juga gitu, nek," ujar Juno santai. "Udah, udah malam tidur, yok," ujar Juno seraya mengulurkan tangannya pada Amora, Amora masih mengacuhkannya dengan mata basah menangis karena kesal pada Juno. Juno pun mengangkatnya. Membuat neneknya kaget dan Amora langsung menjerit. Nenek Juno yang melihat itu langsung tertawa.


Sinta segera menemui nenek Juno saat Juno dan Amora sudah pergi.


"Eh, Sin. Belum tidur kamu?" sapa nenek ramah saat Sinta datang menghampirinya.


"Belum, Nek. Belum ngantuk," ujarnya dan duduk di samping nenek Juno di tempat Amora duduk tadi.


"Amora itu manja sekali, ya. Pasti Juno repot mengimbanginya," ujar Sinta. Nenek pun terkekeh.


"Tapi, semenjak ada Amora Juno bisa bercanda lagi seperti dulu. Biasanya dia lebih banyak diam, tapi saat bersama Amora dia jadi mencair dan suka bercanda. Itu buat nenek tenang, setidaknya sekarang Juno punya keluarga yang jagain dia kalau seandainya nenek sudah tidak ada. Nenek merasa tenang sekarang," ujar nenek seraya mengusap tangan Sinta lembut. Nenek bisa rasakan jika Sinta tengah cemburu kepada Amora yang tampak akrab dengan Juno.

__ADS_1


"Kadang ada yang bisa kita jadikan teman, ada yang bisa kita jadikan pasangan. Bukan karena dia lebih baik atau lebih buruk, tapi karena begitu lah dia di posisikan. Jika kita paksakan tentu hasilnya tidak akan sama. Setiap orang punya reaksi berbeda pada setiap orang, bukan!" ujar nenek seolah ada sesuatu yang tersirat dari ucapannya.


"Iya, Nek," ujar Sinta paham yang di maksud nenek adalah dia dan Amora.


"Pasti ada pria di luar sana yang bisa buat kamu bahagia. Jangan banyak menolak lagi, coba buka diri. Apalagi yang kamu tunggu, kamu nenek lihat sudah cukup siap berumah tangga," nasehat nenek lagi. Sinta pun tersenyum. Malam itu Sinta dan nenek mengobrol cukup lama hingga larut dan mereka putuskan untuk tidur bersama. Sinta dan nenek memang sangat dekat, karena dia dan Juno sudah berteman sejak mereka balita.


Sesaat terdengar teriakan Amora.


"Auhw" teriak Amora. Sontak membuat Sinta dan nenek menuju ke sumber suara. Tepat saat Juno tengah membantu Amora berdiri dan membawanya duduk di sofa.


"Ada apa, Jun," seru nenek yang tampak khawatir.


"Tau nih si Amora," seru Juno seraya terkekeh dan memijit kaki Amora yang tampaknya sempat sedikit keseleo.


"Hmmm... Hati-hati, donk Jun," ujar neneknya.


Juno hanya terkekeh dengan Amora yang masih tampak meringis kesakitan pada kakinya.


"Yaudah, yok aku gendong aja ke kamarnya," ujar Juno setelah memijit sebentar kaki Amora. Amora pun melilitkan tangannya di leher Juno dengan wajah yang ia dekap di dada Juno dengan manja. Juno mulai mengangkat Amora menuju kamar mereka.


Sinta memperhatikan bagaimana cara Juno menatap Amora, begitu hangat dan sangat peduli. Begitu pula Amora, tampak sangat nyaman saat bersama Juno, tak terlihat seperti dia tengah membenci Juno. Malah seperti sepasangan kekasih yang tengah jatuh cinta. Dia terus memperhatikan Juno yang membopong istrinya itu dengan penuh kasih sayang. Nenek yang melihat itu hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Sinta yang segera tersadar dan menyusul nenek dari belakang menuju kamar mereka.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2