
Pagi-pagi Juno di bangunkan oleh Amora yang menikmati sunrise. Akan tetapi Juno terlalu mengantuk untuk itu, hingga dia malas untuk beranjak dari tidurnya.
"Jun, ayok ke pantai sekarang. Aku mau nikmatin sunrise mumpung kita lagi di sini, yuk," ajak Amora seraya terus menepuk pelan wajah Juno yang masih tertidur.
"Ah, tiap hari juga matahari terbit, ngapain di tungguin? Nggak akan kiamat hari ini," tutur Juno yang masih separuh tertidur, masih asyik dengan selimut dan bantalnya.
"Ih, Juno. Ayok donk. Jarang-jarang kan kita ke sini," paksa Amora lagi yang sudah siap dengan topi floppynya.
"Liat aja dari balkon kan juga keliatan," jawab Juno sekenanya. Amora menatap Juno yang masih memejamkan matanya dengan tatapan sebal.
"Nyebelin!" rutuk Amora yang tahu ini hanya akan buang-buang waktu. Juno sempat mengintip kepergian Amora dengan senyum tipis, lalu ia pun kembali tertidur. Akhirnya ia pun pergi sendiri ke pantai.
***
Di sana ia di sambut para pengunjung yang juga sama dengannya. Mereka juga menikmati mentari pagi yang cerah baru terbit dengan terang di ufuk timur, cahayanya hangat dengan suasana sejuk dan bersih karena pagi yang masih belum banyak ada kegiatan namun sudah cukup ramai.
Amora terus menyusuri pantai hingga ia sampai di pinggir pantai. Ia membiarkan kakinya sesekali di sentuh air laut yang menyapu pantai dengan angin sepoi-sepoi yang tenang. Benar-benar pagi yang cerah, ia menikmatinya dengan perasaan yang damai. Beberapa pedagang sudah mulai menyambut pagi dengan dagangannya yang baru buka.
Ada juga beberapa pasangan yang tengah menikmatinya berdua. Amora menatapnya dengan tatapan iri. Si wanita di peluk mesra sang kekasih dengan melingkarkan tangannya di pinggang si wanita yang manja menyandarkan kepalanya di dada si pria. Sedangkan Juno hanya mau memperlakukan dia dengan hangat saat di kamar saja, jika sudah berada di publik, lebih banyak dia yang bereaksi mendekat sedangkan Juno malah seolah biasa saja sekedar bereaksi dengan reaksi yang Amora berikan.
mengingat itu membuat Amora memanyunkan bibirnya dengan tangan yang terus menahan topi floppynya. Padahal dia sudah memimpikan momen romantis di sunrise, tapi yang di harapkan malah menghabiskan waktunya dengan tidur hangatnya.
***
Mentari semakin meninggi di ufuk barat dengan cahayanya yang semakin terang dan menyilaukan. Tampaknya hari sudah semakin panas dan matahari sudah cukup tinggi. Rasanya sudah cukup bagi Amora. Puas menikmati pagi, Amora pun mulai beranjak meninggalkan pantai.
Sosok nya yang cantik tak jarang mengundang mata untuk mengekori langkahnya. Amora tampak cuek dan tidak tertarik meski beberapa diantara mereka sempat menyapanya. Dia tetap dengan langkahnya yang terus menuju kembali ke hotelnya yang memang tidak begitu jauh dari pantai.
Sesampainya di kamar hotel, Amora mendapati Juno sudah tidak ada di kamarnya hingga Amora tidak bisa masuk ke kamar hotel tersebut. Dia pun segera mengambil handphone nya dan menelpon.
***
__ADS_1
Di lain sisi Juno tampak tengah menikmati sarapan paginya dengan menu oatmeal dan segelas coklat panasnya. Setelah beberapa saat kepergian Amora tadi Juno bangun dan tiba-tiba merasa lapar hingga ia turun dan langsung menuju restoran hotel setelah mengenakan pakaian rapinya.
Tak jauh dari Juno tampak seorang wanita cantik yang tampak celingak-celingukan mencari tempat kosong. Saat melihat sosok Juno yang tampan sendirian dia pun dengan senyum penuh artinya mendekati bangku Juno.
"Maaf, apa di sini kosong?" tanyanya pada bangku kosong di depan Juno. Juno mengangguk dan si wanita dengan senyum manisnya duduk dan mulai menikmati sarapan paginya di hadapan Juno dengan tatapan mata yang tak pernah lepas dari sosok Juno yang tampak cuek dan sibuk dengan views di luar jendela yang mengarah ke pantai langsung itu.
"Sendirian saja, mas?" tanya si wanita memecahkan keheningan diantara mereka.
Wanita dengan kulit exotic dan dandanan seksi yang sangat stylish itu tentu tidak akan sulit menarik perhatian lawan jenisnya. Juno memperhatikannya sekilas seraya menikmati coklat hangatnya.
"Nggak, tadi sama istri. Tapi dia pergi kemana nggak tau tadi," tutur Juno sekenanya tanpa bertanya balik.
"Saya Claudia, kamu?" tanya nya.
"Juno!" jawab Juno sekenanya.
"Hmmm... Kelihatannya kamu masih muda, berarti nikah muda ya? Atau masih pengantin baru?" tebak si wanita.
"Hmmm... Aku ke sini karena baru patah hati di tinggal mantan kekasih sama selingkuhannya," terangnya dengan nada sedih tanpa di minta seolah ingin terlibat obrolan yang lebih dalam dengan Juno. Juno hanya diam mendengarnya seraya terus menikmati sarapan oatmeal nya, Juno hanya menatapnya sekilas. Sepertinya Juno sudah hapal betul dengan karakter wanita yang seperti ini.
"Ya, aku kesini mau cari hiburan, dan mencari ketenangan," terangnya lagi. Juno hanya bereaksi dengan mengangguk dan senyum tipis.
Sesaat Amora menelpon Juno.
"Cepetan ke restoran sekarang," perintah Juno.
Si wanita di depan Juno terus menceritakan kisah percintaannya. Juno hanya mendengarnya dengan respon seadanya. Sungguh dia tidak nyaman, berkali-kali ia melihat ke sekeliling berharap Amora segera datang.
Tidak lama Amora pun datang. Saat melihat Juno bersama seorang wanita seksi Amora menghentikan langkahnya. Amora menyipitkan matanya sesaat untuk melihat sosok wanita yang tengah bersama Juno. Dia tidak suka, tapi belum sempat dia memikirkan apa-apa, Juno sudah mengirimkannya pesan.
'cepetan!' tulis Juno membuat Amora tersenyum.
Dia menghampiri Juno dan menatap dengan senyum. Si wanita kaget sat melihat kedatangan Amora. Dia pun duduk di samping Juno dan menikmati sarapan di piring yang sama dengan Juno tanpa basa-basi dengan tatapan tak lepas dari sosok wanita, seolah Amora tengah ingin menunjukkan atas kepemilikannya terhadap diri Juno.
__ADS_1
"Saya Amora, istrinya." Senyum Amora membuat si wanita tersenyum kecut. Juno hanya tersenyum melihat reaksi Amora.
"Saya Claudia," ujarnya dengan senyum kecut.
"OOO...," tutur Amora.
Merasa terintimidasi dengan kedatangan Amora si wanita pun buru-buru pergi padahal dia belum sempat menyelesaikan sarapannya.
"Saya harus ke kamar sekarang, permisi," tuturnya dengan menatap layar handphonenya seolah-olah ada seseorang yang menghubunginya. Amora hanya tersenyum seraya mengangguk.
Juno menatap kepergian si wanita dan Amora secara bergantian.
"Baru di tinggal sebentar sudah ada aja yang bikin gerah," tutur Amora seraya menikmati coklat panas Juno. Juno hanya melirik Amora tanpa sepatah katapun sedari tadi.
"Udah lihat matahari terbitnya?" tanya Juno.
"Udah,"
"OOO..." gumam Juno.
"Apa maksudnya? Kamu ngeledekin aku?"
Amora melirik tajam ke arah Juno, gumaman Juno barusan terdengar seperti tengah meledek bagi Amora. Juno hanya tersenyum tipis dengan tatapan Amora.
"Mandi, yuk. Aku udah mulai gerah, tadi belum sempat mandi udah keburu lapar," ajak Juno.
Amora langsung tersenyum penuh arti. Juno tanpa basa-basi lagi langsung bangkit sedangkan Amora masih dengan senyum usilnya menatap kepergian Juno. Lalu ia pun ikut bangkit dari posisinya dan berlari memeluk lengan Juno berjalan beriringan menuju kamar mereka. Juno tersenyum dan menarik topi floppy Amora hingga menutupi wajah cantiknya.
Juno memang bukan sosok yang agresif menunjukkan cintanya di depan publik, tapi dia sangat bisa di percaya dalam hal kesetiaannya. Ah... Seharusnya Amora merasa bersyukur memiliki suami seperti Juno, tidak neko-neko dan banyak tingkah yang yang aneh-aneh.
Hari itu mereka menghabiskan bulan madu mereka dengan indah di bath-up dan dinner di malam harinya, setidaknya itu cukup untuk menebus momen romantis yang Juno tolak saat Sunrise di pagi hari.
Kali ini bulan madu yang mereka impikan akhirnya bisa terwujud dengan indah, walau sedikit terlambat. Mereka bisa pulang dengan rasa yang puas setelah 3 hari liburan mereka nanti.
BERSAMBUNG...
__ADS_1