
Setelah membeli handphone Juno mengantar Amora pulang.
"Aku balik ke rumah sakit lagi, ya. Malam ini aku piket. Kemungkinan pulangnya besok," pamit Juno.
Amora tidak peduli, dia terus memainkan gawai barunya tanpa peduli perkataan Juno. Juno menarik nafasnya panjang dan melepaskannya dengan kasar melihat sikap Amora padanya. Lalu ia pun keluar kamar.
Amora sempat melihat kepergian Juno saat lelaki itu membalikkan badan dan pergi meninggalkannya. Dia menatap punggung itu dengan sedikit senyum tipis.
***
Di luar tampak Dona ibunda Amora tengah mengomel dengan beberapa orang pelayan.
"Pak Harun lagi sama tuan, nyonya . Pak Ridwan sedang antar tamu dan pak Akri sedang antar Buk Ros belanja bulanan," terang si pelayan sopan dan agak takut tertunduk tak berani menatap nyonya besarnya itu.
"Ya sudah sana. Biar saya cari taksi saja," ujar Dona ibunda Amora kesal. Juno yang kebetulan melihat itu segera menghampiri Dona.
"Pergi sama saya saja, Mah. Kebetulan saya juga mau ke rumah sakit," ujar Juno menawarkan. Dona menoleh dan menatap Juno sekilas dengan tatapan tidak suka.
"Tidak usah. Saya cari taksi saja," ujar Dona datar dan sedikit dingin.
"Nggak papa, Mah. Nanti saya antar Mama dulu baru saya ke rumah sakit belakangan," tawar Juno lagi.
"Saya bilang tidak usah ya tidak usah. Kamu dengar tidak saya bilang tidak usah," ujar Dona agak ketus kali ini.
Mendapat reaksi agak kasar seperti itu membuat Juno terkesiap, dia agak kaget dan terdiam. Dia tau Ibu mertuanya itu selalu dingin dengannya, hanya saja baru ia sadari jika ibu mertuanya itu ternyata juga sangat tidak menyukainya.
__ADS_1
"Oh, i-iya," gumam Juno pelan lalu pergi mendahului mertuanya itu dengan sedikit menundukkan tubuhnya dengan sedikit senyuman kecut pada mertuanya yang tengah buang muka padanya. Lalu ia pun pergi menggunakan mobilnya.
Melihat reaksi Juno yang langsung pergi tiba-tiba ada rasa bersalah pada Dona saat mobil itu melaju agak cepat di hadapannya. Dia melihat wajah Juno yang terlihat shock dan sedih saat mendengar penolakkan darinya tadi.
"Apa yang anak itu pikirkan?" ujar Dona seolah baru menyadari akan sikapnya barusan. Ia menggigit kukunya karena khawatir akan sikapnya barusan. Dia seolah melampiaskan kekesalannya pada Juno yang berniat baik padanya.
***
Di mobil Juno masih terbayang akan sikap ibu mertuanya tadi. Apalagi membayangkan sikap Amora padanya selama ini. Dia mulai merasakan hanya ayah Amora yang mau menerimanya dan seolah semua orang di rumah itu menolaknya.
Pikiran Juno terus terganggu akan hal itu hingga tiba-tiba dia di kagetkan dengan sebuah sepeda motor yang tiba-tiba menyalipnya di depan. Juno mengerem secara mendadak dan untungnya tidak mengakibatkan kecelakaan. Juno melihat ke sekitarnya dan mengusap dadanya lega.
Dia kembali melanjutkan perjalannya dengan lebih tenang dan berkonsentrasi lagi. Kejadian tadi seolah kembali menyadarkan dia bahwa dia sudah tidak berkonsentrasi lagi. Dia mencoba untuk melupakan kejadian tadi dan meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa semua baik-baik saja.
Tidak lama ia pun sampai di rumah sakit. Dia di sambut dengan senyuman ramah orang-orang di sana. Ini seolah kembali membuat dia semangat lagi. Selalu di sini di rumah sakit ini dengan segala kesibukannya dia bisa kembali bersemangat menjalani ini semua. Sikap ramah dan Wellcome nya orang-orang disini membuat dia merasa sangat di terima akan kehadirannya.
"Dokter Juno!" seru seseorang.
Juno pun segera menoleh dengan cepat. Ternyata itu adalah Sinta asistennya, gadis itu datang menghampiri Juno. Dia lah yang di bilang orang-orang rumah sakit satpam Juno. Karena dia selalu menjaga jarak Juno dari orang-orang yang ingin mendekatinya. Sinta selalu bersikap menjaga Juno agar tidak di ganggu oleh perawat-perawat muda yang sering menggoda Juno, apalagi pasien iseng yang tertarik akan ketampanan Juno. Selalu Sinta pasang badan untuk menegur sikap itu seolah dia adalah istri Juno yang cemburuan. Karena itu pasien dan para perawat menyebutnya bodyguard dokter Juno yang galak.
"Kita ada visit hari ini," tuturnya.
"Oh, iya. Mana nama pasien nya, lihat?" tanya Juno pada daftar pasien yang akan mereka kunjungi hari ini. Sinta pun menyerahkan sebuah laporan yang berisi catatan medis para pasien mereka. Juni membacanya dan mempelajarinya sebentar lalu bangkit dari posisinya dan mulai dengan rutinitasnya.
Dia mengunjungi pasienya satu persatu. Dia melakukan itu dengan telaten dan penuh dedikasi serta ramah membuat pasien yang di kunjunginya merasa nyaman. Dia bersikap biasa lagi, seolah kejadian tadi tak mempengaruhinya lagi.
__ADS_1
Tibalah Juno pada salah satu pasien pasangan suami istri. Si suami tampak terbaring lemah di ranjang dengan istri yang dengan setia mendampinginya di samping. Dia adalah pasien yang mengalami kecelakaan kerja sehingga harus mengalami amputasi.
Saat melakukan pemeriksaan dan memasukkan daftar resepnya, Juno memperhatikan si istri yang dengan setia di sampingnya.
'Apa Amora juga akan bersedia menerima aku jika aku dalam keadaan seperti ini? Apa dia juga akan bersedia merawat ku? Atau saat seperti ini lah aku bisa di tinggalnya dengan alasan sakitku?' batin Juno. 'ah, senangnya jika bisa di cintai sepenuh hati seperti itu,'
"Anda beruntung memiliki istri yang setia," puji Juno pada pasangan suami istri itu dengan seulas senyuman hangat yang sendu.
"Hanya dia harta saya yang berharga, dok. Saya tidak punya siapa-siapa lagi untuk bergantung. Hanya dia yang mau menerima saya," tutur berkaca-kaca. Si istri mengelus suaminya seraya tersenyum.
"Makanya Anda beruntung," tutur Juno ikut terharu. Sinta menatap tatapan sedih Juno.
"Dok, pasien selanjutnya," tutur Sinta membuyarkan lamunan Juno. Juno sedikit kaget lalu ia pun permisi dengan sopan pada pasiennya untuk mengunjungi pasien selanjutnya.
"Dia dokter yang baik, buk. Lembut kayaknya," tutur si suami. Istrinya pun mengangguk setuju.
***
Juno dan Sinta baru saja selesai melakukan kunjungan pada pasien dan berjalan di lorong rumah sakit.
"Apa rasanya mencintai tanpa harus berjuang?" tutur Juno tiba-tiba membuat Sinta tercekat.
"Jun! Kamu kenapa?" tanya Sinta khawatir. Juno seolah sadar dengan apa yang barusan ia ucapkan.
"Ah, enggak! Lupain," tuturnya lagi. Sinta merasa ada makna dalam dari ucapan Juno barusan. Juno yang tersadar langkah Sinta yang tertinggal pun segera menoleh kebelakang.
__ADS_1
"Ayok! Ngapain berhenti? Kamu nggak liat kita lagi di depan ruang mayat?" goda Juno seraya melirik kesamping Sinta.
Sinta menoleh kesamping nya benar saja, di sampingnya adalah ruang mayat. Ia pun lari terbirit-birit karena ketakutan, kebetulan tadi siang mereka ada mayat korban kecelakaan yang datang tadi siang dan masih tersimpan di sana. Juno pun terkekeh melihat tingkah Sinta yang tiba-tiba ketakutan dan mendahuluinya berlari. Juno kembali melupakan permasalahannya sesaat. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskan nya. Ia kembali melanjutkan perjalanannya.