Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Mengunjungimu


__ADS_3

Setelah merasa baikan Juno kembali bekerja ke rumah sakit yang memang tak bisa dia tinggal lama karena memang sedang tidak ada dokter seniornya.


"Kamu kan baru sembuh!" tutur Amora masih tampak khawatir.


"Aku harus ke rumah sakit hari ini. Ada salah satu dokter yang akan pindah juga. Dia dokter yang paling dekat baik sama aku selama ini. Hari ini dia akan berangkat, jadi aku mau ketemu dia buat ngucapain salam perpisahan juga sama dia," tutur Juno terlihat tak bisa di cegah lagi itu. Walau khawatir tapi Amora tidak bisa berbuat banyak. Karena Juno tetap bersikeras ingin bekerja hari ini walau baru sembuh dan masih pucat.


Amora mengantar Juno bekerja hingga ia hilang di balik pintu gerbang, baru Amora kembali masuk ke rumahnya dan menuju kamarnya kembali. Ia melakukan sedikit beres-beres pada kamarnya yang sedikit berantakan. Setelah selesai ia kembali membaringkan tubuhnya di ranjang tanpa kegiatan, lagi.


***


Di rumah sakit Juno tengah ada acara perpisahan dengan dokter ikhwar. Dia akan pindah ke Singapura dan akan bekerja di sana. Ini merupakan hal yang berat bagi Juno karena dokter ikhwar adalah salah dokter yang paling dekat dengan Juno. Dia sudah menjadi ayah bagi Juno selama ini. Karena ini Juno pula alasan Juno tetap memaksakan diri ke rumah sakit walaupun masih lemas karena baru sembuh.


Juno memeluk lama dokter ikhwar seakan belum siap melepaskan kepergiannya.


"Kamu ini, Singapur-Indonesia itu itungan jam juga nyampe. Nggak usah kayak anak ayam kehilangan induknya gini lah," tegur dokter lucu itu seraya terkekeh khas nya. Juno dan yang lain hanya tertawa mendengarnya.


Mulai sekarang tidak akan ada lagi dokter jenaka yang suka menggodanya dengan lelucon konyolnya. Atau kunjungan dadakannya ke ruangan Juno yang sering mengagetkan Juno. Itu pula yang membuat Juno kehilangan sosok dokter baik hati yang selalu membimbingnya dan sudah seperti sosok ayah baginya.


"Saya akan tunggu kabar baiknya. Ingat, usahakan anak kembar," bisiknya membuat Juno tersenyum simpul.


"Betul itu, dok. Sudah beberapa bulan masak masih belum gol juga, sih," kelakar yang lain.

__ADS_1


"Iya, padahal resepnya sudah saya kasih, loh," tuturnya lagi yang membuat Juno kembali mengingat obat kuat yang ia berikan kepada Juno. Itu membuat Juno tertawa seraya geleng-geleng kepala mengingat kembali obat itu lagi.


Setelah puas mengobrol. Tiba lah saatnya si dokter benar-benar harus pergi karena jam keberangkatannya sebentar lagi. Dia harus stay di bandara lagi. Mereka memberikan salam perpisahan yang mengharukan. Dokter memeluk Juno cukup lama karena dia sangat dekat dengan Juno selama ini.


Setelah puas dengan salam perpisahannya dokter ikhwar pun segera masuk mobil dan melambaikan tangannya dari jendela mobil yang terbuka dengan posisi mobil terus melaju.


Juno terus menatap kepergian mobil itu dengan tatapan yang sangat sedih. Sinta dan beberapa dokter lain paham betul dengan kesedihan Juno atas kepergian dokter ikhwar. Beberapa orang dokter menghampiri Juno dan menepuk bahunya seolah memberikan Juno kekuatan untuk melepaskan dokter Ikhwar dari rumah sakit.


***


Di rumah. Amora tampak masih sibuk dengan bantal dan selimutnya. Lama-lama itu membuat dia bosan. Dia masih terus melihat handphonenya, masih tidak ada notifikasi yang masuk.


"Kapan dia mau hubungin aku, sih? Nyebelin. Pasti dia lagi senang-senang berdua dengan Sinta di rumah sakit," rutuk Amora kesal sendiri di kamarnya.


Sesaat dia selesai dengan dandanannya. Ia pergi menggunakan setelan jeans semata kaki baju kaos sederhana dan blazer yang menambah kesan elegannya serta flatshoes kesukaan Amora. Ia tampak cantik dengan paduan sederhana nya nan elegan. Apalagi mata bulat dan rambut ikalnya yang panjang, membuat Amora terlihat seperti boneka hidup dengan polesan make up tipis di wajah mulusnya itu. Pantas jika Juno selalu tak bisa menahan diri saat bersamanya.


Setelah beberapa kali memantaskan diri Amora pun segera pergi dengan sebelumnya ia mengambil kunci mobil dan tas selempang kecil miliknya. Ia berjalan keluar kamarnya dan berlari kecil di tangga dengan hati yang bersemangat. Para pelayan tampak menundukkan kan kepalanya saat Amora melewati mereka. Dengan sudut mata yang mengekori langkah ceria Amora. Baru kali ini setelah pernikahannya Amora kembali terlihat ceria. Nona muda mereka sudah mulai kembali seperti semula, itu pikir mereka.


Amora bersemangat karena ia memikirkan bahwa ia akan dapat bertemu Horner lagi hari ini di rumah sakit.


Ia meminta supir untuk mengantarnya ke rumah sakit tempat Juno bekerja. Si supir pun segera mengantar nona muda nya itu. Sebelum sampai, Amora menyempatkan diri dulu untuk membeli buah tangan berupa parsel buah sederhana. Setelah membelinya ia pun kembali melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


Setelah sampai, Amora segera menanyakan ruang rawat anak Horner pada resepsionis penjaga di sana. Beberapa orang staf rumah sakit yang mengetahui siapa Amora terus memperhatikan kedatangan wanita cantik itu di sana.


"Itu istrinya dokter Juno, ya?" tanya salah satu perawat yang ingin memastikan lagi dengan tatapan mata yang tak lepas dari sosok cantik Amora yang tengah melenggang pergi.


"Kayaknya gitu. Cantik ya, kayak boneka. Putih, mulus, tinggi, ramping lagi. Nikah sama dokter Horner yang super ganteng, nggak kebayang gimana cakepnya anak mereka," tutur mereka dengan tawa kecil gemas membayangkan setampan dan secantik apa anak Juno dan Amora kelak.


"Benar-benar bibit unggul. Orang kayak gini mending punya banyak anak, deh. Biar generasi good looking bisa tetap terlestarikan," timpal yang lain dan di sambut anggukan dan kekehan yang lainnya.


Tawa mereka terus berlangsung hingga Sinta datang melewati mereka, seketika tawa mereka pun terhenti berubah jadi suasana tegang. Sebagai junior mereka sangat segan dengan Sinta yang senior, apalagi Sinta termasuk senior yang galak bagi sebagian perawat di sana.


"Tuh udah dateng aja bodyguard nya dokter Juno," bisik mereka lagi saat Sinta melewati mereka.


"Bukan bodyguard tapi helder," timpal yang lain membuat mereka kembali terkekeh lagi. Sinta yang mendengar tawa mereka menatap tajam ke arah mereka yang membuat mereka seketika menjadi terdiam saat itu juga.


***


Amora masih terus menyusuri tiap lorong untuk mencari kamar yang ia cari. Sesaat matanya terhenti pada salah satu kamar, sepertinya kamar itu adalah kamar yang Amora cari sedari itu.


Seketika jantung Amora berdegup cukup kencang. Semangatnya yang sedari tadi membara tiba-tiba mulai meragu saat ia sudah sampai di depan kamar tersebut. Amora mengangkat tangannya hendak mengetuk, tapi ia tarik kembali, dan sesaat ia berpikir dan berniat akan pergi. Tapi ia kembali menatap pintu kamar tersebut. Ia pun kembali berjalan cepat menuju kamar tersebut dan mengetuknya tanpa menunggu lagi.


Setelah beberapa kali ketukan pintu pun terbuka. Seseorang membukakan pintunya. Seketika jantung Amora seolah berhenti berdegup. Ia menatap wajah yang ada di hadapannya saat ini. Tapi ia sudah tidak bisa menghindar lagi. Sosok yang sangat ia kenal dan bagian dari masa lalunya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2