
Saat Juno turun dari mobilnya, dia melihat kedatangan Amora. Ia pun tersenyum, ada juga Sinta yang menyusul di belakang Amora.
"Gimana keadaan nenek?" tanya Juno menatap Sinta seraya menutup dan mengunci pintu mobilnya.
"Baik, tadi dia juga mulai banyak makannya. "Kapan kita mulai praktek? Minggu depan jadi?" tanya Sinta mulai merasa besar kepala, karena yang di ajak Juno mengobrol dari tadi hanya dia, sedangkan Amora hanya diam saja melihat percakapan keduanya.
"Nggak dulu deh, Nenek belum pulih betul. Tunggu nenek baikan dulu, lagian aku masih sibuk juga di rumah sakit beberapa Minggu kedepan," ujar juno. "Yuk, masuk!" tutur Juno lagi seraya menyeret tangan Amora secara tiba-tiba untuk masuk. Sontak membuat ia tersenyum Meninggalkan Sinta yang masih terpaku di posisinya.
Amora kaget menatap Juno lalu ia tersenyum ke arah Sinta, senyum simpul yang seolah menentang dengan membulat kan matanya pada Sinta. Sinta yang tertinggal di belakang menjadi panas melihat kemesraan pasangan suami istri baru itu. Ingin rasanya ia menarik tangan Juno agar melepaskan genggamannya pada Amora, tapi ia sadar ia tidak berhak atas itu.
"Juno! Kamu itu main seret aja, kamu pikir aku mobil-mobilan," rutuk Amora pura-pura kesal seraya memukul tangan Juno.
Diam-diam mata Amora mengekori Sinta yang berjalan di belakang mereka, ia tampak semakin panas dengan tatapan tajamnya dan nafas yang sedikit memburu ke arah Juno dan Sinta. Apalagi saat Juno malah mendekap istrinya sambil terus berjalan menuju lantai atas kamar mereka.
***
Sampai lah mereka di sebuah kamar yang cukup luas Amora hanya duduk di tepian ranjang Juno dengan pandangan menyisir ke setiap sudut kamar Juno yang terkesan bersih dan rapi itu. Sementara Juno tengah berada di kamar mandi.
Dia melihat beberapa foto terpajang di sebuah dinding, sepertinya foto saat Juno masih menempuh bangku kuliah kedokterannya. Dia tampak paling menonjol diantara yang lain dengan senyumnya yang manis. Dalam puluhan orang yang berjejer di dalam foto, Amora selalu dengan cepat bisa menemukan sosok Juno diantara banyaknya mahasiswa.
Amora juga melihat ada sebuah deretan foto masa kecil Juno hingga saat ini. Amora dapat melihat perubahan wajah Juno dari kecil hingga dewasa. Di dalam foto tersebut tampak juga seorang gadis yang membuat Amora kesal, karena wanita itu adalah Sinta. Mereka memang sangat dekat dari kecil ternyata.
__ADS_1
Sedangkan Juno dan Amora dekat dari Juno SMP saat Juno di titipkan bersama keluarganya karena musibah yang menimpa keluarganya. Juno sering menghabiskan waktu bersama walau tidak akrab. Mungkin saat itu lah Juno baru bangkit dari keterpurukannya setelah kehilangan keluarganya. Tapi saat itu Juno perlahan bisa bangkit dari keterpurukannya. Menemani Amora kecil bermain membuat dia bisa lupakan trauma dukanya secara bertahap.
Sesaat Juno sudah berpakaian lengkap dari kamar mandi. Amora menatap sosok tampan itu.
"Tolong Pijit-in, donk. Badan aku sakit semua, berhari-hari aku lembur terus," pinta Juno yang langsung tidur tengkurap di atas kasur. Amora mengernyitkan keningnya dengan mata yang ia sipitkan.
"Kalo nggak mau, yaudah aku mintak tolong Sinta aja," ucap Juno merasa tidak ada reaksi dari Amora dan bersiap bangkit akan pergi.
"Ya, iya ... Sini," tutur Amora buru-buru berubah pikiran saat nama Sinta di sebut.
Amora pun mulai memijit tubuh Juno, Juno mulai menikmatinya karena dia memang tengah kelelahan beberapa hari ini.
"Kenapa nyusul? Kangen?" tanya Juno mulai lagi. Amora mendelik matanya dan menekan keras bagian tengkuk Juno dengan gemas mendengar pernyataan Juno. Juno hanya mengasuh seraya terkekeh atas perlakuan Amora. Lalu ia pun kembali melanjutkan memijit Juno.
"Dah, ah. Capek," Amora mulai malas karena Juno yang terus meledeknya sedari tadi. Juno kaget karena Amora yang memijitnya hanya sebentar itu.
"Lah, udahan?" seru Juno, tapi sudah lah, sudah mau saja itu juga merupakan sebuah kemajuan yang baik untuk hubungan mereka, pikir Juno. Juno pun bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang tersebut.
"Makanya jangan ngelawan sama suami," ucap Juno seraya duduk di samping Amora. Dia mulai menatap wanita itu dengan tatapan liarnya membuat Amora mulai waspada.
Lalu Juno menangkup wajah Amora dengan kedua tangannya dan tiba-tiba mendaratkan ciumannya secara mendadak membuat Amora kaget dan membelalakkan matanya. Amora memberontak dengan keras, Juno terus melakukannya tanpa mau melepaskan dia. Hingga Amora merasa nafasnya tercekat, baru Juno mau melepaskan dia. Juno jika menginginkan dia seringkali memaksa tanpa peduli teriakannya.
__ADS_1
"Juno! Kamu mulai gila lagi," seru Amora seraya menutup mulutnya menatap Juno yang mengulum senyum menatapnya.
Dia menatap Amora dalam dan mulai lagi dengan lembut, Amora berusaha menolak tapi seperti biasa dia kalah kuat. Juno terus mendesaknya hingga Amora benar-benar tidak kuasa menolaknya lagi. Mungkin karena lama tak melakukannya lagi bersama Amora karena kesibukannya dan lain hal membuat Juno sebagai lelaki normal tak bisa menahan dirinya lagi. Ia menuntut ini sebagai kebutuhan biologisnya seorang suami sah dari Amora.
Sesaat Amora seolah membiarkan itu terjadi lagi kali ini. Entahlah dia menginginkannya juga atau tidak, dia tak dapat bedakan itu saat ini. Yang jelas sentuhan itu menghipnotisnya membuatnya tak mampu menolak lagi. Tangannya yang tadi keras menolak kali ini malah perlahan mulai seperti kehilangan tenaganya. Ia seperti kembali menikmati sentuhan itu seperti seseorang yang sudah lama merindukannya. Bahkan beberapa kali ia seolah seperti membalas c*mbu@n Juno padanya. Hingga mereka kali ini pun benar-benar melakukannya lagi.
Juno tersenyum saat melihat expresi wajah Amora yang terpejam. Ia kembali me*cu*bui istrinya ini setelah ia rasa Amora juga mulai ikut terbawa suasana, dia semakin berani menyentuh Amora. Perlahan satu persatu pakaian yang mereka kenakan pun terlepas, berganti hanya dengan seutas selimut yang menutupi tubuh keduanya. Amora pun sudah tampak tak melawan bahkan terkesan seperti men*k@tinya. Dia tak berani membuka matanya untuk melihat apa yang tengah ia lakukan bersama Juno saat ini. Ia hanya mencoba memunafikkan semua ini untuk sesaat.
Saat ini yang terdengar hanya suara leng*han dan d*esa*an dari keduanya yang terdengar sangat menggoda. Hingga beberapa saat apa yang mereka lakukan menuntut penuntasan segera. Mereka semakin terbawa suasana dalam ga*rah mereka bersamaan yang semakin membawa keduanya seolah-olah terbang ke awang-awang ke*ikmatan surgawi dunia. Juno menggenggam erat tangan Amora dan di balas Amora dengan hal yang sama. Sesaat mereka lupa segala-galanya dan larut dalam h@sr@t mereka.
Juno perlahan membuka matanya dan menatap wajah Amora dengan tatapan sendu dan nafas tersengal-sengal. Dia tersenyum penuh kehangatan pada Amora dan meng*c*p lembut kening Amora. Amora sialnya malah berexpresi menikmatinya. Membuat Juno kembali terkekeh, sesaat Amora tersadar dengan apa yang ia lakukan. Ia segera mendorong tubuh Juno dan buru-buru bangkit mencari pakaiannya yang berserakan. Juno pun terbaring ke samping Amora seraya menarik selimut menutupi tubuhnya kembali.
Dengan tubuh polosnya ia berlari ke kamar mandi meninggalkan Juno yang masih menertawakannya seraya berbaring kembali di ranjang dan memeluk gulingnya. Sesaat ia kembali merasa lelah. Ia mencoba untuk menetralisir dirinya sesaat dengan tidur sebentar.
***
Saat Amora keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaiannya dengan lengkap. Ia melihat Juno sudah tertidur dengan hanya seutas selimut saja. Bisa-bisanya dia di paksakan lagi oleh lelaki ini. Bodohnya dia tidak bisa melawannya. Selalu saja dia kehilangan kewarasannya saat Juno mulai menjamahnya.
Amora terus mengeringkan rambutnya yang basah, sambil sesekali matanya tertuju pada Juno yang masih tertidur. Lelaki itu terlihat tenang dalam tidurnya.
__ADS_1
Amora yang sudah selesai mengeringkan rambutnya dan sudah rapi segera keluar kamar meninggalkan Juno yang masih saja terlelap.
BERSAMBUNG...