
Sore harinya Juno bersiap akan pulang. Sebelum pulang Juno mampir ke tempat penjual martabak dulu. Sesuai dengan janjinya pada Amora. Setelah selesai dengan pesanannya Juno pun pulang.
***
Di rumah Amora tampak tengah sibuk memainkan handphone nya. Dia berselancar ria di sosial media miliknya. Sesaat matanya tertuju pada sebuah menu makanan. Tampak seseorang tengah mempromosikan sebuah menu makanan.
"Nasi goreng ati ampela! Kayaknya enak," gumam Amora yang tiba-tiba menginginkannya.
"Juno belum pulang, ya. Mending pesan aja kali, ya..." Gumamnya lagi yang langsung menelpon Juno. Tepat saat Juno baru sampai pagar kediamannya yang di bukakan oleh tukang kebunnya.
"Iya!" jawab Juno pada telponnya.
"Aku pengen nasi goreng ampela, kamu bisa beliin nggak?" tanya Amora manja yang kini berhadapan dengan Juno langsung.
"Aku baru aja nyampe rumah ini. Nanti aja ya, jangan sekarang. Lagian yang jual juga adanya malam kayaknya." Amora sedikit kecewa tapi dia mencoba untuk memahami keadaan. Dia mengambil tas Juno dan menentengnya ke kamar menuju kamar bersama Juno. Dia melirik martabak yang sudah Juno beli juga, tapi rasanya dia sudah tidak berselera lagi dengan martabak itu, sekarang Amora menginginkan nasi goreng ati ampela.
"Aku nggak mau martabak lagi, Jun. Aku mau nasi goreng," rengek Amora seraya terus mengikutinya ke kamar.
"Iya, nanti kita beli, ya," bujuk Juno.
Amora hanya diam mengikuti Juno yang memijit tengkuknya seraya berjalan menuju ranjang mereka dan menghempaskan tubuhnya.
"Capek banget, aku istirahat sebentar. Nanti kita beli habis magrib," ujar Juno lagi seraya terbaring di ranjangnya.
"Aku nggak makan dari pagi tadi, rasanya mual, cuman pengen nasi goreng aja sekarang," ujar Amora lagi yang kali ini duduk di pinggir ranjang. Juno menghampirinya dan membaringkan kepalanya di pangkuan Amora dan memeluk perut istrinya itu dengan manja seraya tersenyum. Dia mencium perut rata Amora dengan penuh kasih sayang seolah tengah mencium anaknya.
Amora tersenyum dengan sikap manja Juno, ia mengelus lembut kepala Juno yang masih memeluk perutnya dengan manja.
__ADS_1
"Aku capek banget hari ini. Aku istirahat dulu, nanti kita pergi," bujuk Juno lagi. Amora tersenyum dan luluh, ia pun mengangguk.
Sesaat telpon Amora berdering.
"Mama! Yaudah, kamu istirahat aja dulu, aku mau angkat telpon mama," ujar Amora seraya bangkit dan menjauh untuk mengangkat telpon dari ibunya di teras balkon kamar mereka. Juno pun bangkit untuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebentar lalu mulai terbaring sebentar untuk menghilangkan penatnya dulu.
***
"Halo, ya, Ma..." Sahut Amora.
"Gimana kabar kamu? Masih mual?"
"Masih, ini aja aku makannya dikit, Ma. Juno malah sibuk di rumah sakit, kalo di rumah malah sibuk sama nenek yang juga udah beberapa hari ini lagi nggak enak badan," adu Amora manja.
"Juno gimana, sih. Masak dia nggak merhatiin kamu? Sekarang dia lagi dimana?"
"Yaudah, besok Mama kesana nengokin kamu kalo sempat,"
Setelah mengobrol sebentar Amora dan ibunya pun mengakhiri obrolan mereka. Amora kembali ke kamarnya. Dia melihat Juno masih tertidur. Amora keluar kamar dan menemui nenek di kamarnya.
Tampak si nenek tengah duduk di atas ranjangnya yang baru saja selesai makan. Dia tersenyum melihat kedatangan Amora.
"Apa nenek sudah sembuh?" tanya Amora.
Nenek hanya tersenyum, sedangkan Darsih langsung membereskan semua untuk keluar membawa semua peralatan makan. Amora melihat keadaan nenek semakin lemah paska pertengkaran nenek dan ibunya. Sepertinya nenek terus memikirkan kejadian tersebut hingga membuat keadaannya terus melemah.
"Maaf, Nek. Mama bikin nenek kayak gini, jangan diambil hati nek ucapan Mama itu. Amora nggak pernah lihat Juno kayak gitu, Amora yang jalanin pernikahan ini, Amora yang berhak nentuin dan Amora yang rasain siapa yang terbaik buat Amora. Jadi, nenek jangan khawatir, ya," ujar Amora. Nenek tersenyum mendengar pernyataan Amora, dia mengelus kepala Amora lembut.
__ADS_1
"Nenek percaya. Kamu sayang sama cucu nenek, apalagi sekarang kamu sedang mengandung anaknya. Nenek memang sudah tua, memang sudah lemah. Jadi, nenek sakit bukan karena ucapan Mama kamu. Kamu sama Juno jangan salahkan mama kamu terus. Nenek tidak apa-apa. Maaf, kalau nenek sering repotin Juno dan buat Juno lupain kamu, ya. Nanti, nenek akan cari suster saja buat jaga nenek, biar Juno bisa jagain kamu, ya. Kamu juga perlu Juno perhatikan,"
"Aku nggak apa-apa kok, nek. Memang lagi susah makan saja, Juno juga jagain aku dengan baik, kok,"
"Nenek dengar semalam kamu minta martabak dan Juno malah nggak bisa beli gara-gara harus rawat nenek. Maaf, ya." Sontak itu membuat Amora tidak enak hati, karena ternyata nenek mengetahui kejadian tersebut.
"Nggak kok, Juno udah beliin tadi. Itu aku habis makan, tapi memang akunya aja yang nggak selera makan, jadinya nggak habis," terang Amora.
Sesaat dia merasa sedikit egois, Juno begitu repot harus memperhatikan mereka berdua sekaligus apalagi dia juga harus pergi kerja ke rumah sakit. Dan dia masih sempat-sempatnya mengeluh dan marah saat Juno tidak bisa memenuhi kemauannya padahal dia sudah berusaha yang terbaik untuknya.
Tiba-tiba pintu di ketuk dan ternyata itu Juno. Dia kelihatannya baru bangun dan langsung menemui mereka. Nenek tersenyum atas kedatangan Juno. Juno duduk di samping nenek.
"Masih nggak enak, nek?" tanya Juno.
"Nenek tidak apa-apa. Tadi nenek sudah telpon Keira buat jagain nenek ke sini. Jadi, kamu bisa pulang ke tempat Amora biar nenek sama Keira di sini, dia kemaren telpon katanya mau rawat nenek sampai dia selesai urus surat lamarannya kerja di tempat kamu. Dia mau kerja di tempat kamu, jadi, dia nganggur sekarang, makanya dia nawarin mau jagain nenek di sini sekalian dia nginap di sini. Jadi, kamu bisa pulang ke tempat Amora," tutur nenek.
"Kapan dia ngomong, nek?"
"Waktu kamu sama Amora lagi nggak ada di rumah dia sempat ke sini. Kemungkinan besok dia kesini juga," tutur nenek Juno.
Beliau terlihat tidak ingin membuat Juno dan Amora berantakan hubungannya karena dia. Dia menghubungi Keira untuk menjaganya beberapa hari lalu. Karena keluarga Keira termasuk keluarga sesepuan jauh Juno dan nenek Juno juga sempat membantu keluarganya dalam bisnis sebelum bisnis mereka berkembang sebesar sekarang, karena itu keluarga Keira cukup segan terhadap nenek Juno.
***
Setelah menemui nenek nya, Juno dan Amora pun pergi membeli pesanan Amora. Amora tidak ikut karena masih merasa mual, hingga hanya Juno yang berangkat pergi.
Amora di kamar seolah masih terbayang dengan nama Keira. Dia merasa pernah dengar nama itu. Rasanya nama itu tidak asing baginya, namun dia tidak bisa mengingat di mana dia mengenal nama itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...