Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Menggila


__ADS_3

Juno merasa sangat bersyukur, Amora belum sempat diapa-apakan oleh 3 berandalan tersebut. Berkali-kali ia mencium wajah istrinya itu sebagai ungkapan rasa syukurnya dan luahan ketakutannya tadi dan memeluknya erat. Rasanya jantungnya seperti berhenti berdetak saat melihat Amora yang tengah bersama berandalan tadi. Itu menjadi momok yang sangat menakutkan bagi Juno. Dia tidak bisa bayangkan betapa hancurnya mereka seandainya itu benar-benar terjadi.


"Kamu kenapa suka bikin aku panik, sih," ujar Juno dengan tangis yang tak bisa ia tahan seraya mengelus lembut wajah istrinya itu dengan air mata yang terus mengalir.


Setelah puas meluahkan perasaannya, Juno segera membawa Amora ke kamar hotel. Di sana ia setelah membeli obat di apotik dan pakaian ganti Amora, ia segera mengguyur tubuh Amora agar cepat sadar dan bisa membawanya secepatnya pulang. Setelah itu ia pun membawa Amora ke atas ranjang dan menggantikan pakaiannya.



Setelah menunggu beberapa saat, Amora tampak mulai sadar. Ia segera menghampiri Amora dan memberikannya obat tanpa banyak bicara dan memaksa Amora meminum air kelapa. Amora yang masih ling-lung di paksa Juno menelan obat tersebut untuk mengurangi efek mabuknya dan air kelapa untuk menetralisir alkohol di tubuhnya.


"Aku dimana?" tanya Amora masih bingung.


"Kita di hotel," tutur Juno dengan tatapan tajamnya pada Amora. Amora memegang kepalanya yang terasa pusing itu.


"Hotel? Kok bisa?"


"Bisa. Kamu mabuk dan hampir saja pria berandalan itu tadi lecehin kamu. Kamu itu kenapa pergi ketempat kayak gitu sih? mabuk-mabukkan sendirian lagi? Kalo mau bunuh diri seenggaknya jangan buat masalah dulu. Tinggal loncat dari jembatan layang juga kamu bisa mati kecebur sungai. Enak, tinggal nyariin mayat kamu dan aku bisa nikah lagi sama wanita lain. Nggak kayak gini. Yang ada cuman buat masalah, tau nggak? Itu tempat bukan cuman bisa buat kamu saja mati, tapi seluruh orang terdekat kamu bisa mati kalau terjadi apa-apa sama kamu. Terutama aku!" Omel Juno kesal sekaligus marah. Amora yang masih teler hanya tersenyum mendengarnya seraya merentangkan tangannya minta di peluk oleh Juno.


"Kalo punya otak itu mikir, jangan bisanya cuman nyusahin aja. Pikirin perasaan orang lain juga, bukannya sibuk sama perasaan kamu aja. Kamu tau nggak kalo tindakan kamu tadi itu berbahaya? Kalo aku telat sedikit saja, maka semuanya akan hancur, Amora. Kamu bisa kan setidaknya sekali saja ngerti gimana aku, gimana papa kamu, mama kamu. Kamu hidup itu bukan cuman kamu aja," bentak Juno. Amora hanya bisa terdiam tanpa jawaban. Dia masih terlalu mabuk untuk paham ucapan Juno. Dan Juno sengaja mengatakan semuanya saat Amora mabuk agar dia puas mengatakan semua yang ia rasa selama ini.


"Aku capek lindungin kamu, sedangkan kamu nggak niat buat nolongin diri kamu sendiri. Aku hampir mati rasanya karena jantungan liat kamu mau di apa-apain sama mereka tadi," tutur Juno lagi.


"Sudah lah. Percuma nasehatin orang mabuk kayak kamu. Denger pun nggak. Kita pulang sekarang," ujar Juno lagi. Dia segera bersiap-siap untuk check-out dari hotel lagi. Mereka harus segera pulang. Besok bagaimanapun Juno sudah harus kembali bekerja lagi.


Juno harus repot lagi menggendong Amora hingga ke parkiran karena dia yang masih mabuk tidak bisa di ajak kerja sama. Bahkan Amora berkali-kali mencoba memeluk Juno dan Juno kesulitan melepaskan diri darinya. Juno benar-benar repot karena ulah Amora malam ini.

__ADS_1


***


Juno segera mengantar amora pulang bersamanya. Dia tidak ingin semua orang khawatir. Dia melihat Amora yang masih tampak teler dan mabuk di sampingnya. Dia terus berusaha memeluk Juno hingga Juno kesulitan untuk menyetir. Entah obat apa yang bajingan itu berikan kepada Amora hingga dia bisa seperti ini.


Sesampainya di rumah, Juno segera membawa Amora ke kamar. Untung ayah dan ibu Amora sudah tidur. Jadi dia bisa menyelinap menggendong Amora ke kamar mereka.


Dia terus ke kamarnya dengan di ikuti para pelayan yang membawakan tas Amora dan membantu membukakan pintu kamar. Setelah menutup kembali pintu kamarnya. Juno pun segera mengurus Amora.



"Jun, ayok cepetan kesini," seru Amora lemas karena masih separuh mabuk. Juno pun segera menghampiri Amora.


"Udah, tidur kamu," perintah Juno seraya membenahi tidur Amora. Tapi belum juga selesai Juno berbenah, Amora sudah menarik Juno kepelukannya hingga jatuh menindih tubuhnya Amora. Amora tanpa basa-basi langsung menc*MB*UI suaminya itu.


Sepertinya benar laki-laki itu sudah memasukkan sesuatu keminuman Amora tadi. Juno merasa bersyukur bisa cepat membawa Amora pergi tadi. Tapi belum sempat apa-apa Juno sudah di tarik lagi oleh Amora. Juno yang melihat Amora tanpa sehelai benangpun pada tubuh polosnya itu jadi ikut terpancing. Dia mulai membalas c*MB*an Amora padanya. Hingga mereka benar melakukannya. Amora terlihat berbeda kali ini. Dia terlihat sangat bernafsu, hingga membuat Juno kewalahan mengatasinya. Apalagi dengan des@h@nnya yang terdengar agak berteriak itu membuat Juno kewalahan membungkamnya.


Apalagi setelah mereka selesai melakukannya. Amora masih saja memintanya untuk mengulangnya lagi dan lagi. Juno hingga bingung harus bagaimana lagi, padahal mereka sudah mengulangnya beberapa kali tapi Amora tetap tak terpuaskan. Sepertinya efek obat itu sangat kuat. Jika orang normal mungkin sudah menyerah, tapi Amora malah terus ingin mengulanginya lagi dan lagi. Karena tidak bisa diatasi juga. Juno melirik ke laci di nakas samping tempat tidurnya. Juno ingat dengan obat yang dokter ikhwar itu berikan padanya dulu. Dia penasaran dengan efek obat itu.


"Kamu mau gila? Baik. Ayo kita gila malam ini," gumam Juno yang benar-benar meminum obat itu. Mereka melakukan hubungan itu tanpa terkendali lagi malam ini. Dua orang kekasih yang tampak menggila dengan h@sr@t mereka masing-masing.


"Udah Amora. Aku udah nggak kuat," keluh Juno menyerah karena sudah berkali-kali.


"Ayok Juno, lagi," rengek Amora yang masih terus memaksa. Juno segera mendekap itu istrinya itu.


"Udah, nanti kamu sakit," bujuknya.

__ADS_1


"Nggak, aku mau lagi, Jun," lirih Amora di dekapan Juno yang terus menahannya dengan mendekap Amora. Lama-lama tubuh Amora melemah dan benar-benar tertidur di pelukan Juno. Juno pun yang sama lelahnya dengan Amora pun ikut tertidur. Mereka tertidur berpelukan hingga pagi menjelang.


***


Juno terbangun hari sudah terang. Dia melirik ke jam di dinding kamarnya. Ternyata sudah jam 9 pagi. Dia baru ingat kalau dia belum memberikan laporan medis pasien yang akan di operasi pagi ini pada dokter bedah yang akan melaksanakan operasi hari ini juga. Juno pun dengan panik pontang-panting menyiapkan segala sesuatu nya. Apalagi dengan semua perlengkapannya yang baru Amora pindahkan ke walk in closed. Itu membuat Juno harus membuka satu persatu laci untuk mencarinya.



"Amora kamu kenapa sih ngerepotin terus. Kamu tarok mana barang-barang punya aku semua?" rutuk Juno sambil terus mencari-cari.


Dia tidak bisa membangunkan Amora yang masih tertidur. Walau dia sudah memberikan Amora obat semalam tetap saja wanita itu teler pagi ini karena efek obat yang di berikan ke 3 berandalan itu pada Amora.


Sungguh ini sangat membuang-buang waktunya. Dia terus mengenakan pakaiannya dengan terburu-buru. Sekarang dia harus mencari koas kakinya lagi yang entah dimana Amora letakkan. Jam tangannya masih belum baik betul terpasang dia sudah mencari kaos kakinya kesana-kemari. Hingga akhirnya ia menemukanya.


Sekarang dia buru-buru keluar dari walking closed dan menuju keluar menuju kamarnya. Amora masih tertidur dengan tubuh polosnya dan kamar yang berantakan karena insiden semalam.


"Pasti dia kesakitan nanti bangun. Salah sendiri, udah di bilang udahan masih lagi-lagi. Tapi ... Aku juga pegel jadinya, badan aku lemes remuk gini. Kalo nggak karena istri udah aku biarin dia semalam," rutuk Juno sambil terus mengenakan sepatunya dengan pandangan sesekali melihat Amora yang tampak mulai mau bangun.


Terlihat Amora mulai bergerak dan perlahan membuka matanya. Saat dia melihat Juno sudah siap berangkat. Dia pun mencoba untuk bangkit. Akan tetapi langkahnya tertahan. Dia merasa pusing juga sakit pada bagian pribadinya. Juno hanya tersenyum melihatnya. Sekarang Amora rasakan sendiri akibatnya.


"Kenapa? Itu akibatnya kalo ngelakuin berulang-ulang kali. Itu baru cuman sama aku aja, kalo sampe kamu berakhir dengan ketiga bangsat itu ... Kamu bisa mati, tau?" Juno tersenyum sinis seraya bersiap pergi.


Amora masih tampak berpikir dan masih terlihat ling-lung. Juno pun sudah tidak punya waktu menjelaskan, dia membiarkan Amora sendiri mengingatnya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2