Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Bermain Bersama


__ADS_3

Mereka tengah berkumpul di meja makan dengan menu kesukaan Juno. Nenek melayani Juno menyajikan makanannya. Juno sangat menikmati momen seperti itu.



"Kamu kurusan sekarang. Makan yang banyak, ya," tutur neneknya seraya. Juno hanya tersenyum, dia sangat senang tiap kali melihat senyum neneknya dan hari ini dia melihat senyum neneknya itu saat beliau menyajikan lauk ke piring Juno. Sesaat Juno mata Juno tertuju ke arah Sinta dan Amora, mereka terlihat akrab berdua sekarang. Entah apa yang terjadi di kamar tadi, yang jelas mereka terlihat sudah bisa akur sekarang. Juno terus memperhatikannya seraya menikmati makanannya.


"Tumben akrab, biasanya kayak perang kutup, saling cemberut-cemberutan," goda Juno.


"Kapan? Kita biasa aja dari dulu," elak Amora di sambut tawa oleh Sinta.


"Jun, besok dokter Faiz datang, jadi bangsal nggak perlu kamu pegang lagi," ujar Sinta.


"Bagus lah, aku capek handel 3 tempat sekaligus. Mereka semua pergi kayak nggak ada beban hidup di rumah sakit itu, semua jadi aku yang pegang," tutur Juno sedikit kesal, mengingat bagaimana beberapa dokter senior pergi karena urusan mereka masing-masing hingga Juno yang menjadi dokter umum senior harus turun tangan sendiri beberapa Minggu ini.


"Oya, Jun. Ada kabar gembira lagi. Sinta sudah menerima lamaran si polisi itu," beri tahu nenek seraya melirik Sinta yang tersipu malu, membuat Amora dan Juno saling pandang, lalu menatap Sinta yang tampak malu-malu. Ia pun tersenyum seolah mengiyakan pernyataan nenek barusan. Amora dan Juno masih tidak percaya ini.


"Seriusan?" tanya Amora lagi, karena dia masih tidak percaya. Sekali lagi Sinta tersenyum seraya mengangguk.


"Kemaren aku di telpon sama Mama di suruh pulang, karena keluarga mereka mau nanyain aku bersedia atau nggak. Ya, aku pikir memang sudah waktunya kan aku nikah. Dia dari keluarga baik-baik dan dia sendiri juga baik. Udah dekat sama keluarga aku juga dari dulu. Dia kayaknya juga bertanggung jawab. Aku nggak punya alasan Buat nolak, kan?" tutur Sinta yang tampak tak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya.

__ADS_1


"Iya, itu bagus itu. Jodoh, Rizki dan maut itu sudah tuhan yang atur. Kalau bukan waktunya mau di paksa bagaimanapun pasti tidak akan terjadi, kalau sudah waktunya mau di tolak bagaimanapun ya akan tetap terjadi," nasehat nenek lembut pada Sinta. Sinta hanya tersenyum seraya mengangguk.


"Mudah-mudahan dia memang jodoh terbaik yang di kirim tuhan buat Sinta ya, Nek," tutur Sinta.


Nenek mengangguk seraya tersenyum dan mengelus lembut kepala Sinta penuh kasih sayang.


"Aku ikut senang dengarnya. Mudah-mudahan kamu bahagia sama dia, Sint," tutur Juno tulus. Sinta mengangguk seraya mengamini ucapan Juno. Ada rasa sedih di hari Juno, karena itu artinya Sinta dan dia akan berpisah karena Sinta pasti akan ikut suaminya bertugas nantinya. Mereka pun tidak akan bertemu lagi.


Obrolan mereka berempat cukup akrab di meja makan. Apalagi makanan yang di buat nenek Juno juga sangat lezat, sudah lama Juno tidak menikmatinya semenjak neneknya sakit dan dia pindah ke kediaman Amora.


***


Selesai makan siang, mereka di sibukkan dengan melihat kebun nenek Juno di halaman belakang rumah yang lumayan luas itu. Amora dan Sinta tampak asyik dengan buah mangga dan rambutan yang tengah berbuah itu, mereka berdua tampak akrab sedari tadi berdua seperti dua remaja bersama sahabat karibnya.


Juno dan neneknya kini tengah duduk santai di bawah pohon beringin besar yang terdapat kursi panjang di bawahnya.


"Juno, kalau nenek pergi, kamu tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi nenek harap kamu bersikap baiklah sama keluarga istri kamu, jangan banyak ulah yang tidak penting. Mana yang bisa di kecilkan masalah, coba di maklumi saja, mana yg tidak perlu jangan di ributkan. Kadang hidup kita perlu banyak toleransinya. Kalau masalah, semua orang punya masalah, tapi itu tergantung bagaimana kita bersikap masalah itu bisa besar kalau kita salah cara menanggapinya dan bisa selesai kalau kita bijak. Jadi ... Bersikaplah bijak sebagai pemimpin rumah tangga. Dengan ibu mertuamu, bagaimana pun dia, kamu harus tetap baik, jangan terlalu diambil hati," tutur neneknya.


"Nenek tidak mau, saat nenek tidak ada, kamu tidak punya rumah tempat kamu pulang, tidak ada orang yang lihat kalo kamu sakit. Setiap hari nenek berdoa supaya orang-orang yang hubungan dengan kamu di lembutkan hatinya untuk Nerima kamu," tutur nenek dengan berkaca-kaca. Sesaat air matanya menetes dari sudut mata nya dan menetes di wajah keriputnya. Juno tersenyum dan menyekanya.

__ADS_1


"Nenek nggak boleh pergi, sebelum nenek lihat anak-anak aku lahir nanti. Kalau Juno sudah punya anak, nenek tidak perlu khawatir Juno sendirian lagi. Juno akan punya tempat pulang dan ada yang lihat kalau Juno sakit. Nenek akan tenang dan tidak perlu khawatir lagi," tutur Juno dan memeluk neneknya. Neneknya terlihat sangat nyaman di pelukan cucunya itu.


"Nenek hanya khawatir kalau kamu sendirian. Nenek takut kamu tidak punya tempat untuk mengadu. Karena itu nenek harap kamu selalu jadi orang baik agar orang-orang baik sama kamu. Jangan banyak mengeluh dan selalu bijak nak," nasehat neneknya lagi. Juno mengangguk seraya mengusap tangan neneknya dan menciumnya. Neneknya pun mengusap kepala Juno dengan lembut.


Sesaat Amora sudah kembali dari kegiatan panen mereka. Tampak sekeranjang buah berhasil mereka kumpulkan.


"Jun, ambilin yang tinggi di sana donk, nggak nyampe kita, tapi udah merah banget," teriak Sinta.


"Buat apa dia ambil banyak gini," gumam Juno.


"Sudah, ambilkan saja. Nanti kalau memang banyak, kasih tetangga saja sekalian," ujar nenek, Juno pun bangkit dan menuju kearah Sinta yang tengah di bawah pohon rambutan itu.


Amora setelah meletakkan sekeranjang buah panennya kembali mengikuti Juno dan bergelantungan di tangan Juno. Sesaat dia malah memanjat punggung Juno hingga Juno menggendong nya ketempat Sinta. Mereka bertiga bertingkah seolah seperti sahabat lama yang sudah sangat akrab.



Mereka memanen banyak buah di kebun dan akan mengolahnya nanti, sisanya nenek Juno berikan kepada tetangganya.


__ADS_1


Begitulah mereka menghabiskan hari itu. Menyenangkan dan penuh keakraban yang mungkin sebentar lagi akan jadi kenangan bagi mereka semua.


BERSAMBUNG...


__ADS_2