
Sesampainya Indonesia mereka di sambut ayah dan ibu Amora.
Saat melihat tatapan tajam ayahnya, Amora segera mundur berlindung di balik punggung Juno. Juno hanya tersenyum dengan tingkah Amora. Juno tau Amora tengah takut dengan kemarahan ayahnya.
"Jun, lindungin aku. Ini waktunya kamu tunjukkan sikap gentleman kamu dalam melindungi istri kamu. Jangan biarin laki-laki lain nyakitin aku," bisik Amora dengan tatapan was-was pada ayahnya.
"Kamu di marahin kan karena ulah kamu, jangan libatin aku, donk. Hadapin aja sendiri," elak Juno membuat Amora menyambitnya dengan cepat menggunakan tas Selempangnya. Juno segera mengaduh akan lemparn Amora yang mengenai kepalanya itu. Dona dan Kevin langsung membelalakkan matanya melihat tingkah Amora. Mereka saling pandang melihat tingkah berani Amora pada Juno.
"Amora!!" seru Kevin dan Dona berbarengan kaget akan tindakan Amora melempar Juno seenaknya seperti itu, sedangkan Juno hanya tertawa karena sudah biasa dengan sikap Amora padanya.
Amora seketika ciut nyalinya saat mendengar seruan ayah dan ibunya terhadapnya, ia mengintip dan menekuk wajahnya kesal di balik punggung Juno yang terus berjalan menuju kedua orang tua Amora yang tengah menunggu kedatangan mereka.
"Kamu itu kebiasaan main lempar, main teriak, ngomong kasar kalo sama suami kamu. Mama kamu aja nggak pernah kayak gitu sama Papa. Kamu itu belajar dari mana sih nggak bisa hormati suami kayak gitu," omel Kevin. Juno hanya tersenyum mendengar dia di bela ayah mertuanya.
'Belum apa-apa, baru juga datang. Udah jadi anak tiri aja aku di sini,' rutuk Amora membatin kesal seraya menatap Juno tajam.
"Amora!" seru Dona kali ini. Amora mengernyitkan keningnya.
"Aku itu lagi hamil, kenapa kalian semua belain Juno sih!" pekik Amora kesal seraya menghentakkan kakinya. Juno yang tau Amora hampir menangis segera memeluknya sebelum tangisnya pecah di depan banyak orang di sini. Dia segera membawa Amora ke mobil jemputan mereka dan membiarkan barang bawaan mereka di bawa oleh supir.
Kebetulan mereka menggunakan 2 mobil, Amora sengaja meminta Juno membawanya ke mobil yang tidak di naiki orang tuanya untuk menghindari ayahnya. Dan dia meminta supir untuk membawa mobil lebih cepat agar dapat meninggalkan ayahnya jauh di belakang.
"Mau kamu hindarin gimanapun kita tetap akan ketemu sama Papa. Kan kita tinggal serumah," ujar Juno santai seraya menatap Amora yang tampak kesal.
"Kamu kenapa nggak belain aku sih?"
"Au ah capek mau istirahat," ujar Juno yang langsung memejamkan matanya seraya mencari posisi bersandar ternyaman untuk tidur. Amora hanya bersungut seraya menendang kaki Juno kesal, Juno hanya tertawa kecil dengan memejamkan matanya.
***
Di sisi lain, tampak Kevin dan Dona duduk di mobil yang berbeda dari Amora.
"Dia sengaja pergi cepat buat hindarin aku kayaknya, Mah," ujar Kevin seraya terkekeh. Dona pun ikut tertawa.
***
Hingga malam menjelang Amora masih menghindari ayahnya karena takut di marahi. Juno yang bosan mengurung diri di kamar seharian akhirnya keluar saat Amora ke kamar mandi.
__ADS_1
Dia melangkah turun tangga yang di sambut Dona dengan ramah. Dia tersenyum dan di balas Juno dengan senyum yang sama. Terlihat sudah tidak ada masalah lagi diantara mereka berdua. Juno sudah memaafkan semua dan Dona pun terlihat sudah benar-benar berubah, dia tidak lagi memandang Juno sebelah mata. Dia sudah bisa menerima Juno sebagai bagian dari keluarganya dan sebagai anak menantunya.
"Jun, mbok Darsih bilang kamu suka ikan gurame bakar, ini mama masak buat kamu ikan gurame bakar," tutur Dona. Juno pun dengan antusias segera duduk di depan meja makan. Tidak lama ayah mertuanya pun datang.
"Amora mana?" tanya Kevin pada Juno.
"Masih nggak mau turun, Pah. Dia di Paris juga habis morotin aku. Dia belanja kayak kesetanan. Makanya itu harus bayar bagasi tambahan banyak kita jadinya," adu Juno.
"Hah... Anak ini perlu di kasih paham kayaknya," ujar Kevin menarik nafas panjang seraya geleng-geleng kepala.
"Biarin dia di kamar sampe turun sendiri. Biar kelaparan sekalian kalo nggak mau turun. Kamu jangan ke kamar dulu, liat sampai kapan dia bisa tahan lapar," tambah Kevin lagi membuat Juno tertawa mendengarnya.
***
Amora di kamar mulai uring-uringan karena lapar pelayan yang di hubunginya untuk membawakannya makanan tak kunjung datang, Juno di telponnya malah handphonenya ketinggalan di kamar. Sedangkan dia sudah sangat lapar.
Tidak lama datang seseorang mengetuk pintu kamar Amora. Amora pun segera membukanya.
"Non, tuan besar memintak nona muda untuk turun makan malam bersama. Semua orang sudah menunggu," lapor seorang pelayan.
Amora berpikir sejenak sebelum dia memutuskan untuk turun. Akhirnya ia pun memutuskan untuk turun makan bersama. Saat ia turun Kevin menatap Amora tajam, Amora dia terus menatap Amora hingga Amora sampai ke meja makan. Sedangkan Juno hanya senyum-senyum dengan tingkah Amora. Amora dengan langkah ragu duduk di samping Juno dan memeluk lengan suaminya itu dengan wajah tertunduk terus menatap ayahnya yang terus menatapnya tajam.
"Kamu ini memang susah kalau di bilangin. Dilarang malah kabur, nyampe sana malah ngabisin uang banyak banget buat belanja. Tas sebanyak itu mau kamu apakan? Itu tas mahal semua ...." omel Kevin panjang lebar, Amora sama sekali tidak berani membantah. Sedangkan yang lain hanya diam dan tersenyum melihat Amora di omeli.
Ya, mulai saat itu semua sudah membaik walau Amora masih dengan watak manjanya dan merepotkan. Tapi setidaknya Juno tau betul dia sangat mencintai Amora sebagai wanita yang sempurna baginya dan dia juga menemukan keluarga yang hangat penuh kasih sayang menerimanya. Dia memang kehilangan semua keluarga kandungnya, tapi sekarang semua sudah terganti dengan kehadiran Amora dan keluarganya.
***
2 bulan kemudian, Amora melahirkan secara normal bayi laki-laki pertama nya sekaligus cucu pertama. Semua orang menyambutnya dengan gembira dan penuh suka cita. Terutama Juno.
Orang-orang di rumah sakit pun tidak kalah antusias nya, terutama trio perawat centil itu yang kini sudah tidak magang lagi. Mereka sudah menjadi perawat kontrak di rumah sakit tersebut. Mereka terus memotret bayi Juno dan Amora. Mereka juga menjadi orang yang paling antusias merawat Amora selama di rawat di sana.
__ADS_1
"Dok, kalo anaknya secakep ini nggak usah KB aja ibuk Amora nya, biar generasi good looking tetap terlestarikan," ujar salah satu diantara mereka membuat semua orang tertawa.
"Wah, kalau itu saya setuju, dok. Nanti kalau ada anak perempuan mau saya jodohkan dengan anak saya sekalian," sambung salah seorang dokter di sana.
"Iya, Dok. Lihat ini, ini bayi cowok paling ganteng di sini yang pernah kita lihat, dok," tambah suster lagi. Juno hanya tersenyum mendengarnya. Dengan Amora yang masih terbaring lemas di sampingnya.
"Bapaknya enak, aku yang susah. Nggak ada. 5-6 tahun lagi baru ada lagi. Nggak ada sekarang," bantah Amora cepat. Juno hanya tertawa mendengarnya begitu pula yang lain. Mereka terus mengobrol akrab dengan tamu yang berkunjung silih berganti karena penasaran dengan kehadiran putra pertama Juno dan Amora.
Saat semua orang sudah tidak ada, hanya ada Amora dan Ros di kamar. Juno menghampiri Amora. Dia baru saja selesai dengan tugasnya hari ini. Dia duduk di samping istrinya yang tengah menyusui si kecil.
"Terimakasih, sayang. Udah kasih aku seorang putra," lirih Juno dan mengecup kening Amora yang masih tampak lemas tapi dia juga sangat bahagia. Amora memejamkan matanya dan tersenyum seraya menyandarkan kepalanya di dada Juno.
...***TAMAT***...
Novel ini cukup adult untuk yang di bawah umur, karena itu dari awal sudah saya ingatkan bahwa ini bukan novel untuk anak di bawah umur. Perkembangan cinta dan hubungan mereka lebih banyak saya jabarkan dari hubungan suami istri di ranjang.
Hubungan suami-istri menjadi sangat penting dalam berumahtangga. Itu lebih dari sekedar h@srat semata. Ada penggambaran sebuah hubungan dan kondisi hubungan rumah tangga yang sesungguhnya di sana, kondisi pasangan kita pada hubungan yang tengah kita jalani, bukan sekedar nafsu semata.
Dari novel ini saya berusaha menggambarkan itu dalam sebuah cerita. Dari Amora yang tidak mau, perlahan mulai mau, mulai merindukannya, lalu berubah menjadi hasrat menggebu, lalu saling menerima. Hingga suatu waktu malah menjadi hambar tak bergairah. Akhirnya butuh waktu untuk membuat hubungan itu kembali bisa hangat di antara mereka.
Saya harap cerita ini bisa lebih dari sekedar cerita adult di mata kalian, semoga cerita ini bisa diambil pelajarannya...π€π€
Dan...
Selanjutnya, terima kasih untuk semua orang yang sudah mengikuti cerita novel sederhana saya. Terimakasih atas semua hadiah, vote, like dan komen kalian. Maaf kadang saya tidak balas satu persatu. Maaf jika ada kalimat di dalam novel ini yang tidak berkenan di hati kalian. Saya masih belajar untuk menjadi penulis yang baik dan benar...
Cerita ini tidak ada apa-apanya tanpa Readers seperti kalian...πππ
...SALAM HORMAT SAYA...
...ADEK SISKA......
...π€ππ₯°βΊοΈ...
See you next story...πππππ
__ADS_1