Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Aku Mau Kamu


__ADS_3

Sebelum memulai prakteknya kembali, Juno mengunjungi neneknya di ruang perawatan VIP. Neneknya masuk rumah sakit tadi pagi-pagi, dia baru mendapat kabar saat dia bangun setelah piket semalam dan tertidur sebentar di rumah dinas dokter yang masih di area rumah sakit tersebut. Dia buru-buru pergi mengunjungi neneknya saat mendapat kabar neneknya di rawat.



Saat melihat kedatangan Juno, neneknya langsung tersenyum sumringah. Walau masih tampak lemas, beliau tetap terlihat cerah saat melihat kedatangan cucu kesayangannya itu.


"Kok pagi-pagi sudah datang?" tanya beliau seraya menerima salaman dari cucunya dan Juno tersenyum lalu duduk di samping neneknya dengan tatapan khawatir. Dia menggenggam tangan neneknya.


"Aku piket semalam, nek. Jadi aku tidur di sini dan waktu bangun di kasih kabar nenek di rawat. Maaf, ya. Aku nggak hubungin nenek, sebab aku baru kemarin beli handphone, belum sempat simpan nomer. Gimana kabar nenek? Kenapa masuk rumah sakit lagi? Nenek nakal lagi ya makannya? Kenapa nek susah di bilangin," tanya Juno penuh kasih sayang sambil memeriksa keadaan neneknya dengan stetoskop lalu tensinya sambil terus mengobrol bersama neneknya ini.


"Nenek sudah mendingan. Kamu tidak usah khawatir," ucap beliau seraya mengusap lembut bahu cucunya itu. Dia beruntung memiliki cucu yang sangat baik seperti Juno. Selain penurut Juno juga sangat perhatian, terutama kepada neneknya.


"Bagaimana Amora?" tanya neneknya yang membuat Juno terhenti sesaat dan tersenyum kecut.


"Nenek belum lihat dia semenjak kalian pulang dari Swis kemaren. Nenek pikir dia sakit atau kenapa-kenapa," tutur neneknya lagi.

__ADS_1


"Dia baik, nek. Maaf ya Juno belum sempat bawak dia nemuin nenek, sebab Juno juga lumayan sibuk di rumah sakit akhir-akhir ini," ucap Juno berbohong.


Karena selama ini Amora selalu menolak saat Juno mengajaknya mengunjungi neneknya. Dia tidak ingin neneknya mengetahui keadaan yang sebenarnya.


"Tidak apa-apa. Nenek hanya khawatir saja kalau-kalau dia sakit. Bawak dia nemuin nenek kalau kamu sudah sempat saja. Ini nenek juga nggak parah. Darsih saja yang berlebihan. Nenek bilang pusing. Eh, langsung di bawanya ke rumah sakit. Dokter di sini juga gitu. Berlebihan sekali, nenek bilang tidak apa-apa, nenek cuman kecapean, tapi mereka masih saja keukeh mintak nenek di rawat," tutur nenek seraya terkekeh masih dengan wajah lemasnya.


"Nggak papa, nek. Sekalian kalau nenek di rawat Juno bisa pantau keadaan nenek juga, kan. Jadi Juno nggak khawatir," Juno menatap wajah teduh neneknya itu, orang yang sangat ia hormati dan kasihi.


Awalnya Juno sempat menolak akan Perjodohan ini, karena dia sudah merasa jika hanya dia yang menginginkan pernikahan ini sedangkan Amora tidak. Dia tahu betul bagaimana Amora selalu kesal padanya. Tapi ayah Amora terus mendesak dengan alasan dia tidak ingin putrinya bersama kekasihnya saat itu dan juga demi bisnis keluarga mereka pun. Karena bisnis keluarga Amora dan keluarga Juno merupakan bisnis bersama. Jadi karena itu juga ayah Amora yang memang sudah sangat menyukai kepribadian Juno itu bersih keras menjodohkan mereka berdua. Apalagi itu juga permintaan neneknya Juno, Juno tidak akan pernah bisa menolak jika itu permintaan neneknya.


***


"Terima kasih, dok. Keira selalu nungguin dokter buat berobat. Sama dokter lain dia tidak mau, katanya hanya mau dengan dokter Herjunot, mah," kelakar si pasien yang tengah membawa pasien anak-anak berusia 7 tahun itu.


Juno sudah biasa mendapat pengaduan itu. Dia selalu senang mendapat perlakuan ramah pasiennya. Hanya ini hiburannya saat ini, rasanya dia tidak ingin pulang saja. Karena sepertinya di rumah sakit dia jauh dapat di terima di bandingkan di rumahnya sendiri. Bahkan ibu Amora pun sebenarnya tidak begitu menginginkan Juno jadi menantunya.

__ADS_1


Tapi, kakek Amora yang merupakan pemilik semua aset keluarga Amora berpesan sebelum meninggal agar Amora menikah dengan Juno sebagai syarat mewarisi seluruh kekayaan tunggal keluarga ayahnya Amora itu. Karena ayah Amora anak tunggal.


Karena itu, ibu Amora masih tampak memaksa Amora menikahi Herjunot walau ia juga agak kurang setuju. Buktinya dia tidak begitu ramah pada Herjunot, dia bersikap agak dingin dan mereka jarang berkomunikasi, kecuali saat ayah Amora ada.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Juno baru selesai dengan tugasnya, karena ada tugas tambahan untuknya menangani pasien gawat darurat pasca kecelakaan. Apalagi dia juga di sibukkan mengurus neneknya yang juga baru di rawat tadi pagi. Hingga membuat dia pulang terlambat. Seharusnya tadi siang dia sudah bisa pulang malah terlambat hingga malam hari.


"Aduh pengantin baru kita masak di suruh pulang telat nih, kerjaan siapa ini?" seru dokter Anwar yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam. Juno hanya tersenyum mendengar kelakarannya.


"Iya, dok. Orang-orang sini keterlaluan semua! Udah 2 hari dokter Herjunot tidak bisa pulang," sahut asistennya pula tidak kalah usil.


"Nggak, kok. Ini juga sudah selesai," jawab Juno ramah.


"Kalau dalam seminggu ini masih di suruh lembur, bilang sama saya, dok. Nanti bisa kita mutasi mereka kehutan tugasnya, hahahah.... " Kelakar si dokter lagi seraya berjalan pergi sambil menepuk pelan bahu Juno. Juno hanya tersenyum mendengarnya. Ya, mereka semua di rumah sakit sudah seperti keluarga bagi Juno.

__ADS_1


Setelah selesai semuanya, Juno pun bersiap pulang.


BERSAMBUNG...


__ADS_2