
Setelah berkeliling mencari tapi martabak yang Amora idamkan tak kunjung mereka dapatkan. Amora tampak kecewa, itu terlihat dari dia yang diam sedari tadi.
"Yaudah kita beli bahan di minimarket aja, ya. Kita buat di rumah, gimana?" bujuk Juno lembut dan penuh kasih sayang.
"Terserah!" jawab Amora ketus seraya buang muka, entah kenapa dia bukan hanya merasa kecewa tapi sangat sedih, hingga bulir bening pun menetes dari sudut matanya. Perasaan Amora saat ini sangat lah sensitif, sebagai seorang dokter Juno paham betul dengan perubahan emosi Amora yang cepat tersebut.
Juno pun menuju minimarket yang buka 24 jam terdekat untuk membeli bahannya. Sedangkan Amora tidak mau turun, dia hanya ingin menunggu di mobil saja katanya. Selesai membeli bahan Juno pun memutar balik mobilnya menuju kediaman neneknya kembali.
***
Sampai di rumah hari sudah menunjukkan pukul 12 malam. Keduanya tampak sudah sangat mengantuk dan lelah. Akan tetapi, Juno tetap berusaha membuatkan martabak untuk Amora seperti yang ia janjikan tadi, walau Amora sedari tadi tampak tidak antusias dan semangat. Dia terlihat masih kecewa walau Juno berjanji untuk menggantinya.
Sebelum memulai membuatnya, Juno melihat tutorialnya di internet terlebih dahulu karena dia juga belum paham cara membuatnya, setelah mempelajarinya sebentar, dia mulai membuatnya walau sekarang jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
Demi Amora ia lakukan yang terbaik walau harus berusaha keras melawan rasa kantuk dan lelahnya sendiri.
Setelah bersusah payah akhirnya dia pun berhasil membuatnya. Karena ia membuatnya dengan menggunakan teflon hingga bentuknya sedikit berbeda dengan yang di buat mamang penjual martabak sebenarnya.
Walau begitu, Juno tetap bersemangat menyajikannya. Amora menatap kedatangan Juno. Dan menyajikan martabak buatannya di hadapan Amora. Amora tampak tetap tidak begitu antusias.
"Ini cobain," ujar Juno dengan seulas senyum sambil menyajikannya di hadapan Amora. Amora dengan malas menatapnya dan dengan ragu membolak-balikkannya dengan expresi tak suka.
"Ini kayak pancake bukan martabak. Aku maunya martabak Juno, bukan pancake," tutur Amora kecewa.
Juno langsung berubah raut wajahnya saat melihat Amora yang pergi meninggalkannya begitu saja dengan makanan yang bahkan tidak Amora sentuh sama sekali.
Juno menarik nafas panjang, dan memakannya sendirian di meja makan, sedangkan Amora sudah sampai kamar.
***
__ADS_1
Di kamar Amora langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Dia menangis di dekapan bantalnya.
'kalo kita pergi lebih cepat tadi pasti masih ada yang jual, Jun. Kamu malah pergi nemuin nenek, padahal yang mau kan anak kamu juga. Apa kita nggak penting ya buat kamu,' batin Amora menangis.
Perasaannya yang sensitif saat ini membuat dia seringkali operthinking saat ini.
Sedangkan Juno hanya bisa menikmati masakannya dengan lemas. Ia menghabiskan semuanya sendirian di meja makan. Lalu menyimpan sisanya di lemari penyimpanan. Dan membereskan semuanya sebelum ia kembali ke kamar.
Di kamar Juno mendapati Amora yang sudah tertidur dengan membelakanginya.
"Besok, aku janji kita beli lagi, ya. Nggak akan telat, aku janji," janji Juno seraya mengecup lembut puncak kepala istrinya itu seraya mendekapnya dari belakang. Sedangkan Amora masih saja meneteskan air matanya dalam diam dan tidurnya, hingga bantal yang ia pakai saat ini sedikit basah karena air matanya.
Juno terus memeluk istrinya itu hingga ia terlelap. Amora membalikkan tubuhnya ke arah Juno. Sesaat dia merasa sedikit bersalah, ia menatap wajah Juno yang sudah terlelap itu. Mungkin dia juga sudah sangat lelah, Amora terus mengusap wajah Juno dan ia beringsut menuju pelukan Juno dan tertidur di pelukan hangat itu.
***
Keesokkan harinya Juno pun berangkat kerja, Amora menatap kepergian Juno hingga hilang di balik gerbang pagar besi tinggi itu.
"Amora, sini, nak," seru nenek.
Amora pun datang mendekat. Ternyata nenek baru saja membeli bubur kacang hijau yang ia pesan dari Darsih saat ke pasar tadi.
"Makan ini, nak. Ini bagus buat kandungan kamu, tadi nenek pesan Darsih beli ini buat kamu," ujar nenek. Amora yang sebenarnya tidak berselera makan tetap berusaha mencicipinya. Tapi, baru beberapa suap, dia sudah mual lagi.
Melihat itu, nenek dengan sigap mengusap punggung Amora.
"Maaf nek, kayaknya perut Amora nolaknya," tutur Amora tidak enak hati pada nenek Juno.
"Tidak apa-apa, nanti saja makannya kalo kamu sudah mendingan, ya." Amora mengangguk seraya tersenyum. Nenek pun segera meminta Darsih untuk menyimpan bubur itu untuk Amora nanti saja.
__ADS_1
Sesaat mata Amora tertuju pada martabak yang Juno buat semalam. Martabak kacang yang lebih mirip bentuk pancake itu cukup menarik perhatian Amora. Amora segera mengambilnya satu dan menaruhnya di piring kecil. Dia mulai menyendokkannya untuk memakannya.
Saat Amora mulai mencicipinya ternyata rasanya tidak lah buruk, bahkan rasanya sangat cocok dengan selera Amora yang tengah sensitif itu. Semalam dia tidak mau mencicipinya karena kesal dan mengantuk. Tanpa sadar bahkan Amora sudah menghabiskannya 3 dalam bulatan kecil. Amora tersenyum menikmatinya. Dia memotret makanan yang Juno buat semalam. Dan mengirimnya pada Juno.
'Martabaknya enak,' ucap Amora pada sebuah pesan teks kepada Juno.
Tidak lama Amora mendapatkan pesan balasan dari Juno.
'oya? Kiraain kamu nggak suka,'
'Enak ternyata. Aku abis 3' tulis Amora lagi.
Juno tersenyum sambil menatap layar handphonenya dan terus berjalan menuju ruang pasiennya untuk visit dengan beberapa orang perawat pendampingnya. Padahal sedari tadi dia bekerja dengan tidak nyaman karena terus mengingat Amora yang tidak selera makan. Sekarang dia mulai semangat lagi, saat setelah mendapat pesan tersebut dari Amora.
***
Di kediaman Amora. Ros tampak tengah berbincang-bincang dengan Dona.
"Apa nyonya sudah tau kalau nona muda tengah hamil? Dia baru pulang dari dokter kemarin waktu Nenek Widya datang. Sepertinya si nenek sudah ada firasat, makanya beliau ke sini untuk menjenguk cucunya. Sebelumnya saya lihat nona muda juga muntah-muntah," info Ros.
"Amora hamil? Sejak kapan? Tapi dia nggak cerita apa-apa, Ros," ujar Dona kaget.
"Iya, nyonya. Saya hanya khawatir, karena nenek Juno juga tengah sakit sedangkan nona muda tengah mabuk karena hamil muda. Apa tuan Juno sanggup menangani mereka berdua sekaligus sendirian? Kan di rumah hanya ada tuan Juno, nenek Widya dan nona muda, nyonya. Sinta sahabat tuan Juno sedang tidak di sana. Saya dengar nona muda mabuknya cukup parah juga," adu Ros yang menghawatirkan keadaan Amora.
"Iya juga, ya. Juno pasti akan lebih memperhatikan neneknya. Lalu Amora pasti di abaikannya," curiga Dona.
"Saya yakin tuan Juno akan bertanggung jawab untuk keduanya, nyonya. Hanya saja mungkin tuan Juno akan agar kerepotan. Maksud saya, apa tidak sebaiknya nona muda tinggal di sini saja dulu, tidak apa-apa kan kalau tuan Juno di biarkan fokus pada neneknya dulu, biar kita yang tangani nona muda di sini, nyonya,"
"Awas saja kalau sampai terjadi apa-apa pada Amora. Akan saya ambil Amora dari sana," ancam Dona yang malah tampak emosional dengan tatapan sinisnya.
__ADS_1
Ros hanya geleng-geleng kepala seraya beranjak pergi meninggalkan majikannya itu.
BERSAMBUNG...