
Juno baru sampai di rumah besar itu saat hari sudah malam. Rumah besar bak istana itu bahkan terlihat paling menonjol diantara rumah elite lainnya. Saat baru sampai, Juno di sambut para pelayan yang datang menyambut kepulangannya. Mereka selalu sigap seandainya ada yang di perlukan oleh para majikannya. Tapi Juno jarang meminta bantuan mereka, Juno lebih banyak melakukan apapun sendirian.
Juno melangkah menuju kamarnya dan Amora. Saat akan mengetuk pintu kamar tersebut, Juno tiba-tiba mengurungkan niatnya. Sikap Amora itu sudah sangat melukai hatinya. Lebih baik ia menjauhinya saja untuk saat ini. Dia tidak mau memancing pertengkaran lagi.
Juno melangkah ke kamar sebelah, ia masuk kamar tersebut melepaskan sepatu dan menaruhnya di salah satu sudut dan menggantung jas putihnya itu di lemari, melepaskan kaca matanya dan menaruhnya di atas nakas yang ada di pinggir tempat tidur itu. Setelah meregangkan ototnya sesaat barulah Juno ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya lagi.
Rasanya lebih segar saat dia selesai mandi. Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk seseorang. Juno pun segera keluar dan membukakan pintunya.
"Kenapa kamu tidur di kamar tamu?" tanya ayah Amora yang tampak sangat kesal. Sepertinya ayah Amora melihat Juno saat masuk kamar tadi. Seketika Juno tercekat tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Sepertinya beliau baru pulang dari perjalanan bisnisnya.
"Mungkin Amora masih tidur. Biar saya tidur di sini saja, Pah," terang Juno yang merasa serba salah menjelaskannya.
Kevin yang tampak naik pitam langsung berjalan ke arah kamar Amora dengan langkah cepat. Dia mengetuk seperti akan menghancurkan Pintu kamar tersebut. Juno semakin merasa tidak enak hati jadinya. Tapi dia juga tidak tau harus berbuat apa. Para pelayan mulai mengintip dari kejauhan dan ibu Amora yang terbangun karena mendengar ada keributan pun datang menghampiri suaminya.
"Ada apa ini ribut malam-malam gini, Pah?" Tanya Dona yang masih tidak paham dengan apa yang terjadi. Tapi, Kevin tak menjawabnya, dia terus menggedor pintu itu dengan keras.
"Sudah, Pah. Ini sudah malam, besok saja kita bicarakan. Tidak baik ribut malam-malam begini. Amora kan butuh istirahat juga, papa baru sampe jugakan," nasehat istrinya.
"Diam kamu, mah. Aku malu dengan tingkah anak tidak tau diri ini. Lama-lama dia jadi sangat kurang ajar. Dia harus di beri paham biar mengerti kalau dia itu bukan anak kecil lagi. Juno sudah menjadi suaminya, dia tidak bisa seenaknya dengan Juno kayak sebelum nikah dulu," teriak ayah Amora emosional.
"Iya, mami tau. Tapi ini sudah sangat larut," ingat Dona lagi.
__ADS_1
Ibu Amora sempat melirik sekilas pada Juno, seolah tatapan itu ingin menyalahkan Juno karena dianggapnya sudah mengadukan semua pada suaminya. Juno hanya bisa menundukkan tatapannya tidak mau cari masalah.
"AMORA! KELUAR SEKARANG ATAU PAPAH HANCURKAN PINTU KAMAR KAMU INI!" teriak ayahnya sangat marah.
"AMORA! PAPAH HITUNG SAMPAI 3 BELUM KAMU BUKAK JUGA, PAPAH HANCURKAN PINTU INI SEKARANG JUGA. 1 .... 2 ...," Hitung ayahnya. Belum juga selesai ayah Amora menghitungnya. Pintu itu sudah terbuka. Amora keluar dan membuka pintunya, dia bingung dengan apa yang terjadi. Itu membuat ayahnya semakin geram karena Amora seolah tidak paham dengan kesalahannya.
Amora menatap Juno bingung, Juno terdiam tak bisa menjelaskannya.
"Bagus kamu, ya. Masih punya nyali kamu!"ucap ayahnya seraya mengangkat tangan hendak menampar Amora tapi segera di tahan ibu Amora. Juno yang sedari tadi berdiri terpaku semakin tidak enak hati dengan keributan yang terjadi. Tapi dia juga tidak mendekat, karena dia juga serba salah.
"Jangan, Pah. Dia anak kita satu-satunya. Nanti Mama akan mintak Ros untuk nasehati dia, ya. Mama mohon Pah jangan buat keributan malam-malam begini," pinta ibunya memohon.
"Kamu terus membela dia. Lihat sekarang apa yang terjadi! Dia semakin liar dan susah di atur!" teriak Kevin pada Dona. Kevin menatap Amora dengan tatapan tajam ke arahnya.
"Juno! Kamu jangan pernah tidur di kamar tamu lagi. Masuk kamar bersama Amora sekarang juga. Kalau dia kurang ajar lagi, biar Papa yang hajar dia," perintah ayah Amora keras.
"Juno! Cepat bawa Amora masuk" bisik ibu Amora kepada Juno.
Juno yang baru tersadar dengan langkah cepat berjalan menuju kamar Amora dan menarik pelan Amora masuk kamar agar pertengkaran ini segera selesai. Lalu dengan sopan ia pun menutup pintu kamarnya.
"Sudah, Pah!" ucap istrinya lagi seraya mengelus pelan dada suaminya gara dapat tenang dan ia pun menggiring suaminya untuk kembali ke kamar mereka.
__ADS_1
***
Sedangkan di kamar, Amora tampak tak bisa menahan tangisnya, ia segera menuju ranjangnya sambil terisak. Ia menarik selimut dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya itu. Dia tidak pernah di bentak ayahnya sebelumnya, ini pertama kalinya dia melihat ayahnya marah seperti itu.
Juno hanya diam tanpa suara. Amora masih tampak terisak di selimutnya. Juno membiarkan Amora untuk tenang sendiri. karena dia memang sudah sangat lelah dari rumah sakit dan sudah 2 hari baru ia pulang. Akhirnya Juno tertidur tanpa memperdulikan Amora lagi.
"Juno!" lirih Amora.
Juno kembali terbangun saat namanya di sebut. Tapi dia tetap bergeming di posisinya. Tiba-tiba Amora memeluk tubuh Juno dari belakang. Itu cukup mengagetkan Juno.
"Kenapa kamu nggak kasih tau aku kalo kamu sudah pulang? Tadi aku telfon kamu, tapi nggak diangkat," lirih Amora, Juno tampak masih bergeming, Amora merasa sedikit sedih dengan pengacuhan Juno padanya, mungkin ini juga karena kesalahannya.
Juno sudah terlanjur sangat terluka atas perbuatan Amora dan Horner saat di rumah sakit. Sekarang Juno memilih untuk tak menggubris Amora, dia diam tak merespon apapun.
"Maaf. Aku tau ucapan aku waktu itu sangat keterlaluan, harusnya aku bisa hargain hubungan kita. Kita sudah nikah, tapi ... Aku malah nemuin laki-laki lain," lirih Amora lagi. Juno tetap diam. Amora kembali memeluk Juno erat seraya terisak.
"Kamu boleh marah, kok. karena memang aku yang keterlaluan sama kamu. Lakukan apapun yang kamu suka, hukum aku sampai kamu puas. Tapi, jangan diem-in aku," lirih Amora dalam isaknya. Juno tetap bergeming.
"Baik. Aku akan tunggu kamu sampai kamu bisa maafin aku, Jun." Amora mengecup belakang telinga Juno, Juno memejamkan matanya tak ingin goyah kali ini. Amora mengerti jika sekarang Juno masih tidak mau diajak bicara. Dia tetap memeluk Juno, hingga ia terlelap sendiri.
Juno menoleh kebelakang dan melihat Amora yang sudah tertidur dengan wajah yang sedikit basah karena air mata. Ia melepaskan perlahan pelukan Amora pada tubuhnya dan mencoba untuk tidur sedikit menjauhi Amora. Ia kembali tidur membelakangi Amora.
__ADS_1
BERSAMBUNG...