
Amora sampai rumah dan masih terlihat kecewa. Dia langsung masuk kamar. Kevin yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah anaknya itu.
"Dia sudah sangat merindukan suaminya. Sudah hampir 4 bulan Juno pergi, Pah. Wajar kalau dia kesal waktu di larang pergi nemuin suaminya. Dia pasti takut Juno berubah pikiran dan pergi lagi nggak jadi nemuin dia," terang Dona. Kevin menatap istrinya itu.
"Awasi dia jangan sampai nekat," ujar kevin lalu pergi melangkah ke kamarnya.
Dona hanya bisa mendengus kesal dengan tingkah suaminya yang seolah tidak peduli dan santai. Karena Dona juga khawatir jika Juno berubah pikiran dan pergi lagi, tapi apa boleh buat kalau memang dokter sudah melarangnya.
"Ros, berikan vitamin ini pada Amora. Dan nasehati dia supaya jangan kepikiran terus." Ros mengangguk mengerti. Dia pun segera menuju kamar nona mudanya itu.
***
Di kamar Amora terus berpikir bagaimana caranya dia bisa pergi menemui Juno. Dia terus memutar otaknya. Sesaat dia tersenyum dan mulai bergerak, dia menyusun semua keperluannya secara diam-diam di tas yang sering dia jadikan tas untuk pergi berkunjung ke tempat nenek Juno. Diam-diam dia memasukkan pasport dan beberapa keperluannya untuk berangkat.
Saat sedang asyik berberes-beres tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Amora yang panik dengan cepat segera menyembunyikan pasport nya diantara tumpukan pakaian yang akan ia bawa sebelum dia menyahut mempersilahkan orang yang mengetuk pintu kamarnya masuk.
Setelah di izinkan masuk, tampak Ros yang datang menghampiri Amora. Dia melihat perlengkapan Amora dengan curiga. Lalu ia menatap Amora seolah dengan tatapan penuh tanda tanya. Amora paham jika dia sedang di curigai.
"Aku mau ketempat nenek Juno buat nginap di sana. Aku akan pergi bersama salah seorang pelayan ke sana. Bolehkan?" terang Amora.
Ros tidak menjawab, ia hanya menyerahkan obat vitamin Amora setelah itu ia pun pergi meninggalkan Amora di kamar. Amora menarik nafas lega.
Dia segera menelpon Juno kembali.
"Kamu lagi apa?" tanya Amora.
__ADS_1
"Lagi tidur, ini jam 3 pagi di sini," sahut Juno serak. Amora tersenyum mendengar suara serak Juno.
"Oh, yaudah, tidur aja lagi." Amora pun mematikan handphonenya.
Setelah semua perlengkapan alakadarnya selesai Amora pun segera berangkat. Dia juga mengajak pelayan bersamanya.
Saat turun dari kamarnya, Kevin dan Dona menatap Amora dengan tatapan penuh curiga.
"Kamu mau kemana?" tanya ayahnya penuh curiga.
"Mau ketempat nenek Juno," ujar Amora berusaha santai. Tapi Kevin malah menatap Amora curiga.
"Oh, ya? Jangan sampai kamu nekat pergi ya Amora. Dokter sudah melarang kamu, kalau kamu tidak menyayangi diri kamu, setidaknya sayangi calon anak kamu. Kalau kamu sampai nekat, kasihan dia nantinya," nasehat Kevin seraya menatap perut buncit Amora. Amora mengelus perutnya yang di jawab tendangan kecil janinnya yang membuat Amora menggigit bibir bawahnya.
"Papah apaan sih, Amora kan cuman pergi ke tempat nenek Juno. Amora pengen nginep di sana sekalian makan makanan buatan mbok Darsih buat ngobatin kangen Amora sama Juno," kilah Amora menolak menyerahkan kartu-kartu nya.
"Ya sudah kamu bisa pergi, tapi kartu kamu Papa pegang dulu sampai Juno pulang kesini. Papa nggak mau kamu nekat." Amora tidak bisa menghindar lagi, dengan berat hati ia pun terpaksa menyerahkannya.
Amora melangkah gontai menuju mobilnya. Dia terlihat lemas karena rencananya gagal. Dia masuk mobil dengan wajah di tekuk. Tiba-tiba ibunya datang menghampiri Amora.
"Sayang!" panggil ibunya. Amora pun segera menoleh sebelum ia masuk mobil.
"Ini vitamin kamu ketinggalan." Serah Dona pada Amora sebuah plastik berisi obat. Diam-diam Dona membisikkan sesuatu.
"Ada sesuatu di dalamnya buat kamu," bisik Dona. Amora tidak bertanya lagi, ia langsung masuk mobil mengerti situasinya. Karena Kevin tengah menatapnya saat ini.
__ADS_1
Amora segera berangkat menggunakan mobil yang di supiri oleh supirnya. Di dalam mobil Amora membuka kantong plastik pemberian ibunya tadi. Ternyata ada sebuah surat di dalamnya.
'Ini ada kartu ATM Mama, sudah Mama tulis nomer pinnya. Ambillah uang itu buat bekal kamu pergi. Juga ada surat keterangan dokter yang mama buat tadi di rumah sakit. Kalau memang kamu ingin menemui Juno, temui lah. Tapi jaga kandungan kamu dengan baik dan hati-hati di jalan.' Tulis Dona pada sebuah kertas membuat Amora tersenyum senang dan mencium kertas pemberian ibunya itu karena sangking senangnya.
"Makasih, Mah," seru Amora senang.
Dia segera menuju bandara. Akan tetapi sesampainya bandara, Amora harus menuju konter check in terlebih dahulu di karenakan kondisi Amora yang tengah hamil tua. Ia harus melapor ke konter check in untuk menandatangani surat pernyataan release form. Bentuk persyaratan penerbangan bagi ibu hamil.
Setelahnya itu Amora pun segera mengurus keberangkatannya. Ia berangkat seorang diri. Rasa tidak sabar menyergapi hatinya. Hari ini sudah lama ia tunggu-tunggu, di mana Juno akan menghubunginya.
"Sayang, kita akan nemuin ayah. Kita jalan-jalan jauh, kamu baik-baik ya nak. Biar kakek nggak marah waktu kita pulang nanti, ya. Kalo terjadi sesuatu sama kamu nanti Ayah akan sedih dan kakek pasti marahin Bunda, nak," bisik Amora seraya mengelus perutnya.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya Amora pun bisa berangkat. Ia pun segera masuk pesawat, karena kondisinya ia mendapat prioritas dari pihak kru maskapai penerbangan nya. Ia masuk terlebih dahulu untuk menghindari kondisi berdesakan. Amora sengaja mengambil bangku kelas utama demi kenyamanannya nanti di perjalanan.
Ia terus tersenyum bahagia dan dengan perasaan tak sabar ingin segera bertemu Juno. Membayangkan bahwa ia akan bertemu Juno saja sudah membuat Amora sangat bahagia, apalagi jika mereka sudah benar-benar bertemu nantinya.
***
Di sisi lain Kevin baru mengetahui keberangkatan Amora di karenakan pelayan yang ia minta menemani Amora tidak sampai ke kediaman Juno. Kevin segera tahu jika Dona lah dalang dari semuanya.
"Kenapa kamu kasih izin sih, Mah. Kamu kan dengar sendiri dokter bilang kondisi Amora itu tidak aman, apalagi ini dia pergi sendirian menempuh perjalanan 17 jam di pesawat. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya di pesawat. Ini bukan bentuk kasih sayang, tapi ini bentuk sikap teledor. Kamu bikin repot saja," omel Kevin gusar pada Dona.
"Emangnya Mama nggak tahu, itu dokter kan sudah Papa sogok biar larang Amora pergi," kilah Dona tidak mau kalah. "Mama tahu, Pah. 29 Minggu itu masih aman buat Amora. Lagian suaminya juga dokter, dia berangkat dengan kelas utama, pasti dia di prioritaskan lah di sana. Biar mereka menikmati kebahagian mereka di sana, Amora sudah lama menunggu kedatangan Juno selama ini. Apalagi Juno sengaja menelpon pas di tempat honeymoon mereka, itu pasti karena Juno juga ingin menemui Amora di sana. Kamu jangan rusak momen donk, Pah. Biarkan mereka bahagia di sana. Nggak akan terjadi apa-apa. Percaya deh, Pah," ujar Dona santai. Kevin hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah istrinya itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1