
Juno turun dari taxi dan ia di sambut dengan suasana gunung Alpen kembali.
Aroma yang khas kedamaian gunung Alpen, segar dan dingin seperti dulu juga. Kali ini pun musim gugur tengah berlangsung dan mungkin sebentar lagi juga salju akan turun. Perbedaannya dia pergi sendiri tanpa Amora dan dia memiliki cukup uang saat ini. Dia tidak akan kelaparan seperti dulu lagi.
Juno melangkah kan kakinya kembali ke sana dan ia sengaja menyewa penginapan yang dulu ia sewa bersama Amora. Untungnya penginapan itu belum di sewa orang lain. Juno masuk dan suasana di dalam pun masih sama seperti dulu. Juno menuju ke tungku perapian, di sana banyak kenangan antara dia dan Amora. Saat pertama kalinya ia memeluk Amora dan mencumbunya tanpa izin. Ada seulas senyum tipis saat Juno kembali mengingat kejadian itu lagi.
Ia pun melihat ke arah tangga, Juno berjalan berlahan ke arah tangga tersebut sambil menyeret kopernya. Ia kembali ingat bagaimana ia menggendong Amora ke atas dengan tatapan mata yang tak pernah lepas dari wajah cantik itu. Hingga ia tiba di depan pintu kamar mereka dulu.
Juno menghentikan langkahnya ia menatap pintu yang masih tertutup itu. Tiba-tiba dia merasa sangat merindukan Amora saat ini, dia merasa sangat menginginkan istrinya itu lagi saat ini. Juno terpaku tanpa suara di posisinya, ia mengedarkan pandangannya kesekitar. Semua yang di sini perlahan kembali membawa ia pada cintanya pada Amora, betapa dulu ia sangat menginginkan wanita itu hingga ia rela di perlakukan seperti apapun oleh gadis tersebut.
Juno kembali melangkah perlahan menuju kamarnya. Dia memegang gagang pintu dan perlahan membuka pintu tersebut hingga terdengar deritnya. Saat pertama kali pintu itu terbuka ia melihat ranjang mereka dulu. Di sana lah ia beberapa memaksa Amora berhubungan dengannya, gadis itu selalu menolak tapi dia selalu berhasil melakukannya. Dia marah tapi Juno tetap tidak peduli.
Juno kembali melangkah menuju ranjang itu, ia meninggalkan kopernya di depan pintu dan terus melangkah. Ia duduk di ranjang itu lagi. Ia mengusap lembut kasur itu dengan senyum tipis yang terukir dari wajahnya. Juno membaringkan tubuhnya ke ranjang dan menatap ke atas. Pikirannya terus melayang mengingat Amora kembali.
Ah, kembali kemari seperti membuat ia kembali menemukan serpihan yang kurang dari hatinya. Cinta yang sempat ia kira telah hilang dari hatinya ternyata kembali ia temukan di sini.
"Aku kangen kamu Amora," gumam Juno dengan tetesan bening yang mengalir dari sudut matanya perlahan mengalir turun hingga membasahi kasur.
***
Di sisi lain tampak Amora yang masih gelisah, ia masih memikirkan pesan Juno barusan padanya. Dia bingung apa dia harus menghubungi Juno atau membiarkannya. Setidaknya Juno sudah memberinya kabar. Kini ia malah semakin merindukan Juno saat Juno mulai menghubunginya lagi tadi.
__ADS_1
Amora berdiri terpaku seraya mengusap perutnya yang sudah tampak membuncit itu.
"Apa yang harus Bunda lakukan, nak? Apa kita harus menyusul ayahmu ke sana? Apa ayahmu mau menerima kita nanti? Bagaimana kalau ayah masih marah dan mengusir kita?" ucap Amora sambil terus mengusap perutnya seolah tengah berbicara dengan janinnya.
Amora melirik handphone nya. Dia mengusap layar handphonenya untuk membuka dan mencari nomer kontak Juno. Dengan ragu ia mencoba menekan tombol hubungi. Baru beberapa saat ia sudah memutuskan sambungan telpon tesebut.
Amora kembali menatap layar handphonenya, dia ragu menghubungi atau tidak.
***
Di sisi lain Juno merasakan getar handphone di saku celananya. Dia pun segera bangkit dan merogohnya. Belum lagi sempat ia angkat tiba-tiba sambungan telpon itu sudah terputus. Juno melihat nama orang yang menghubunginya. Ia tersenyum tipis saat mengetahui yang menghubunginya adalah Amora.
Juno tanpa terduga malah menelponnya balik.
"Juno!" seru Amora serak. Sepertinya ia tengah menahan tangisnya. Juno pun langsung tak dapat membendung air matanya.
"Aku kangen!" seru Juno. Membuat tangis Amora pecah mendengarnya, ia tidak percaya Juno akan mengatakan itu.
"Kamu dimana?" tanya Amora dari seberang sana.
"Di tempat dulu kita terjebak, di tempat kita menghabiskan malam pengantin kita," jawab Juno yang membuat Amora semakin tak dapat menahan tangisnya.
"Kamu di sana? Sendirian?"
__ADS_1
"Hmm... Hanya ada aku, rasanya tidak sama seperti saat ada kamu dulu. Rumah ini terasa hampa, berbeda saat kita bersama dulu," ujar Juno lagi seraya menatap ke sekelilingnya.
"Boleh aku kesana?" tanya Amora yang seketika membuat senyum mengenang dari bibir Juno dengan tangis harunya seraya mengangguk keras.
"Iya, cepat lah kesini. Aku merindukan kamu, sangat merindukan kamu, aku ... Aku ... Mencintaimu Amora, aku tidak bisa lari, sejauh apapun aku pergi, aku tetap tidak bisa melupakan mu," tutur Juno seraya terisak.
"Jangan menangis sendirian di sana. Aku akan ke sana, secepatnya, aku akan ke sana. Jangan menangis sendirian sayang," tutur Amora yang juga tidak bisa menahan tangisnya.
"Aku mencintaimu Amora, aku sangat mencintaimu..." Isak tangis Juno pun pecah hal yang sama terjadi kepada Amora di seberang sana.
"Aku juga sangat mencintaimu, Herjunot. Kami akan segera ke sana, tunggu kami datang," tutur Amora lembut. Juno mengangguk dan mematikan sambungan telfonnya.
Setelah mendengar suara Amora barusan Juno merasa ada kelegaan dalam dirinya. Dia seperti kembali terbawa pada perasaan yang dulu ia rasakan pada Amora. Menggebu, berhasrat dan penuh gejolak yang menggoda.
Juno berjalan keluar kamarnya dan melangkah keluar menuju teras. Masih tampak persis seperti dulu. Domba yang
berkeliaran dan sapi milik peternakan. Konsep penginapan ini memang mengangkat tema pedesaan asri. Juno menuruni tangga perlahan. Ia mendekati sekumpulan biri-biri yang tengah di gembala. Ia berdiri di perbatasan kayu yang melintang sambil menikmati sinar mentari sore.
Ia kembali teringat akan Amora. Wanita itu berhari-hari menghindari membersihkan diri karena takut Juno mendekat, hingga Juno menyebutnya mirip biri-biri. Juno tersenyum saat mengingat kenangan itu lagi.
Haaahhh... Mungkin ia telah menemukan serpihan cintanya kembali di kaki gunung Alpen ini.
Kadang cinta mempermainkanmu dengan cara bersembunyi dari tempat yang tak terlihat oleh mu, tapi percayalah dia ada di sana, masih di sana, kau hanya perlu bersabar dengan permainannya agar dia mau keluar dan menunjukkan keberadaannya lagi padamu.
Amora memberi ruang dan waktu kepada Juno untuk menemukan serpihan itu kembali. Dia percaya Juno akan berhasil menemukannya. Ya, Amora benar, Juno menemukannya lagi dan kini ia dalam langkah pulang ke tempat yang seharusnya. Yaitu, kepada hati Amora lagi. Di sana lah cinta Juno bersemayam dan ia hanya pergi sebentar karena sempat hilang arah, sekarang ia sudah kembali.
__ADS_1
Merpati tak pernah ingkar janji, dan cinta tau kemana arah ia kembali.
BERSAMBUNG...