Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Sungguh Aku Tak Ingin Kehilanganmu


__ADS_3

Selesai merapihkan pakaian Juno. Amora merasa lelah. Ia berjalan keluar dari walk in closed menuju ranjangnya dan merentangkan tubuhnya sesaat di ranjang. Ia kembali ingat, biasanya Juno akan mengecup keningnya sebelum pergi tapi pagi ini tidak. Amora menyentuh keningnya, dia merasa kehilangan sesuatu dari Juno. walau Amora selalu pura-pura tidur ia selalu terjaga saat Juno lakukan itu padanya.


Ia sadar, jika Juno benar-benar terluka akan ucapannya kemarin. Bahkan Juno menatapnya tajam sesaat sebelum pergi kemarin. Ada luka yang terlihat sangat dalam tergores di hati Juno saat itu. Amora sangat menyesali ucapannya, benar-benar menyesalinya. Dia mengucapkannya karena dia kesal pada Horner. Ia mulai menangis lagi sendirian.


"Bodoh! Kenapa aku mengatakan itu pada Juno," rutuk Amora. Ia memejamkan matanya sesaat dan mendekap wajahnya. Sesaat dia mulai dapat menguasai diri kembali dan ia mengusap air matanya.


Amora segera bangkit dari tidurnya dan keluar kamarnya. Hanya ada pelayan yang hilir mudik di rumahnya, sedangkan ibu dan ayahnya kelihatannya juga sudah pergi. Amora segera mencari Ros pengasuhnya.


"Dimana Ros? Suruh dia menemui ku ke kamar sekarang," perintah Amora.


Si pelayan mengangguk lalu dengan sopan pergi dari hadapan Amora, sedangkan Amora kembali ke kamarnya.


Tidak lama terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Amora yang tengah duduk di balkon kamarnya segera menyahut dan duduk di sofa kamarnya. Ros pun masuk dan Amora segera memintanya untuk duduk di sampingnya.


"Apa Juno mengatakan sesuatu padamu?" tanya Amora khawatir.


"Ada apa? Suamimu bukan tipe orang terbuka, bahkan dia jarang bicara dengan orang-orang di rumah ini. Dia hanya makan malam, tidur, lalu bangun di pagi hari dan pulang malam. Kau yang tidur dengannya, harusnya kau yang lebih tau. Kenapa malah bertanya dengan aku yang bahkan sangat jarang bicara dengannya. Kalian bertengkar?" tebak Ros. Amora hanya terdiam tanpa jawaban. Ros tersenyum tipis dan menarik nafasnya sebelum bicara.


"Di rumah ini aku lihat yang bisa menerima dia itu hanya ayahmu, hanya saat ada ayahmu dia bisa terlihat nyaman berada di rumah. Bahkan ibu mu tidak mengizinkan dia makan malam bersamanya, sudah beberapa hari belakangan bahkan dia tidak sarapan di rumah ini jika tidak ada ayahmu di rumah, nona muda. Dia tidak nyaman di rumah ini. Apalagi aku lihat beberapa hari lalu terlihat ada memar di tubuhnya. Aku tebak! kau melakukan sesuatu lagi padanya, kan? Dan aku rasa dia mulai lelah mengambil hati keluarga mu, nona muda. Mungkin dia merasa dia tidak di terima. Dia itu sebatang kara, dia mudah merasa di campakkan dan di tinggal, karena dia pernah rasakan itu. Sekarang keluargamu melakukan itu lagi padanya. Mungkin dia mulai merasa putus asa dan ingin menyerah," ujar Ros yang entah kenapa membuat Amora takut.


"Bagus kan? Kau berhasil membuat dia menyerah, sebentar lagi dia akan melepaskan mu. Seperti yang kau inginkan selama ini nona muda," tutur Ros lagi seolah meledek Amora.


"Aku menemui Horner kemarin," aku Amora tidak tahan seraya tertunduk. Ros tercekat mendengarnya. "Dan dia mengetahuinya. Di bertanya bagaimana perasaan ku padanya? Lalu aku jawab, aku tidak pernah memberikan dia harapan apapun untuk hubungan ini, jadi ... Dia tidak perlu merasa terluka dengan apa yang dia lihat, karena ... dia juga tau, kan. dari dulu jika aku membencinya. Lalu dia jawab, iya, dia yang tidak tau diri, katanya sambil pergi, Ros," Amora mulai berkaca-kaca. "Semalam aku minta maaf dan aku nungguin dia pulang semalaman. Tapi waktu aku bilang aku minta maaf, dia dingin, Ros. Dia tidak mau bicara dengan ku lagi. Dia membenciku sekarang. Aku harus bagaimana? Aku dan Horner sudah memutuskan hubungan kami. Aku sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengannya sejak kemarin. Aku hanya kesal lalu tidak sengaja aku malah melampiaskan nya pada Juno yang kebetulan menemuiku saat itu," cerita Amora sambil terisak. Ros mengangkat wajah nona mudanya itu.

__ADS_1


"Lihat aku. Dia itu suamimu, dia sudah cukup sabar selama ini. Tapi saat kau temui laki-laki lain kau malah bersikap seolah dia tidak berhak atasmu, nona muda. Hal yang wajar jika dia marah dan kecewa. Jadi ... Bujuk dia dan tunjukkan keseriusanmu mulai saat ini. Jangan bersikap kasar lagi dengannya. Temui dia ke rumah sakit dan minta maaf terus sampai dia mau bicara. Dia itu lelaki sabar, jika sudah marah itu artinya kamu sudah sangat keterlaluan," nasehat Ros.


"Aku sudah menyusun semua barangnya di walk in closed dan aku menyiapkan semua keperluan nya pagi ini, tapi dia tetap acuh," ungkap Amora. Ros tersenyum bahagia, akhirnya nona mudanya ini mulai mau mencintai suaminya.


"Bagus! Sekarang, kamu harus terus meyakinkan dia," tutur Ros. Amora pun mengangguk dan sontak memeluk Ros.


"Makasih, Ros." Ros pun mengelus kepala nona mudanya itu.


"Saran ku, lebih baik kau temui suamimu dan perbaiki hubungan kalian. karena bukan hal yang mustahil banyak wanita di luar sana tengah mengintai momen yang tepat untuk merebut suami tampan mu itu. Dia itu jauh lebih tampan dari pada mantanmu yang bapak-bapak itu." Goda Ros sebelum pergi dengan senyumnya. Amora tersenyum seraya mengangguk dan menyeka air matanya.


"Jelaskan apa yang perlu kau jelaskan padanya."


Setelah Amora tenang, Ros pun permisi untuk kembali bekerja.


"Apa mau diajak ngobrol? Juno pasti nggak mau denger nanti," gumam Amora kembali berpikir seraya mengigit kuku tangannya karena khawatir.


***


Di rumah sakit hubungan Juno dan Sinta terasa agak kaku setelah kejadian kemarin. Sinta merasa sedikit malu, sedangkan Juno merasa sedikit canggung. Kejadian kemarin benar-benar sudah merusak suasana. Tapi saat mereka memulai pekerjaan mereka, mereka mencoba untuk bisa profesional.


Setelah selesai praktek dan Juno bersiap akan keluar. Sinta menahannya.


"Juno, aku serius dengan ucapan ku kemarin. Jika Amora tidak menginginkanmu, aku bersedia menggantikan dia, Jun. Perasaan aku sama kamu lebih dari seorang sahabat. Mungkin ini memang merusak hubungan kita yang sudah ada. Tapi ... Aku tidak tahan jika terus melihat Amora memperlakukanmu begitu. Aku mampu bahagiakan kamu jika kamu beri aku kesempatan, Jun" ujar Sinta seraya menggenggam tangan Juno. Juno dengan cepat menariknya.

__ADS_1


"Sinta, jangan kayak gini," ujar Juno mulai merasa risih.


"Aku serius, Juno. Aku sayang sama kamu sejak kita kecil, Jun. Aku selalu senang kalau di dekat kamu. Aku hampir gila waktu tau kamu nikah. Tapi, aku nggak bisa berbuat apa-apa. Saat, lihat gimana Amora sama kamu kemaren, aku sakit hati. Aku nggak bisa lihat kamu terus di sakitin kayak gitu. Kenapa kamu nggak bisa lihat aku, aku sayang sama kamu tulus, Jun. Aku nggak akan sia-siakan kamu kayak Amora. Mungkin keluarga aku nggak sekaya keluarga Amora. Tapi ... Aku tulus, Jun," ujar Sinta membuat Juno semakin bingung.


Tanpa Juno sadari, Amora melihat itu di balik pintu, dan ia membuka pintu itu tepat saat Sinta menggenggam tangan Juno, Amora seketika menitikkan air matanya. Ia tidak tahan dan langsung pergi. Sedangkan Juno masih terpaku di posisinya. Sinta berpikir sejenak, lalu ia berlari menyusul Amora.


Sinta berlari menyusul Amora menuju parkiran. Sinta segera menghampirinya dan menarik tangan Amora.


"Lepasin aku!" teriak Amora seraya terisak. Sinta tetap menariknya dan membalikkan tubuh Amora menghadap ke arahnya.


"Kenapa? kamu sakit hati lihatnya? Bukannya kamu nggak peduli sama hubungan kalian. Kamu buang dia kan? Aku cuman memungutnya Amora," seru Sinta penuh emosional.


"Dia suamiku, aku yang menemani tidurnya. Aku yang di sentuhnya, jadi, hal yang wajar kan jika aku mengutuk yang kalian lakukan barusan. Karena dia milikku," Isak Amora penuh emosional seraya menunjuk ke wajah Sinta.


"Kau melayaninya sambil mengutuknya setiap saat. Hanya dia yang berhasrat, sedangkan kau bersikap seperti perempuan suci yang tengah ternodai. Kemarin kau sendiri yang bilang kan, kalau dia tidak tau diri karena dia menginginkan kau yang tak pernah menganggap dia," sudut Sinta.


"Aku mencintainya. PUAS!? Aku mencintai Juno, Sinta. Aku sangat mencintainya, kalau aku benar-benar tidak menginginkannya apa kau pikir aku masih sudi melihat wajahnya saat ini? Apa aku masih mau bersamanya? Apa aku masih bisa terlelap tidur di sampingnya? ITU SEMUA KARENA AKU MENCINTAINYA, ITU KARENA AKU MENCINTAINYA," histeris Amora yang tanpa Amora sadari, Juno mendengar semuanya dia terdiam tanpa expresi mendengar pernyataan Amora di balik dinding.


"Lalu kenapa kamu masih menemui laki-laki lain kalau kau mencintainya? Cinta saja tidak cukup nona muda arogan. Kau juga harus menghargainya, apa kau pikir mencintai tanpa menghargai itu tidak menyakitkan? Kau pikir dengan mengatakan ini berarti sudah cukup?" sinis Sinta.


"Tidak. Kau tidak pantas untuk Juno," sudut Sinta lalu meninggalkan Amora yang masih mematung.


Tangis Amora kembali pecah, lalu ia terjatuh lunglai bersandar di samping mobilnya. Juno hanya diam menyaksikan Amora yang tengah menangis sendirian. Saat langkahnya akan menghampiri Amora, ia kembali berpikir. Tidak ... Hatinya masih terlalu sakit untuk bisa menerima Amora saat ini. Juno pun mengurungkan niatnya. Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Amora yang masih terisak di parkiran rumah sakit.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2