
Juno membaringkan tubuh Amora dengan lembut di ranjang. Ia menyeka rambut Amora yang menutupi sebagian wajah cantiknya, ada seulas senyum di wajah Juno saat menatap wajah cantik Amora itu dari dekat. Baru kali ini ia bisa sedekat ini dengan Amora. Biasanya mereka selalu terlibat pertengkaran jika bersama, itu membuat Juno tidak bisa mendekatinya.
Ia kembali menatap wajah cantik itu lekat-lekat, bibir merah itu, wajah tirus dengan hidung mancung dan kulit putih kuning Langsat mulus terawat.
Matanya terus turun menyusuri tiap lekuk tubuh ramping Amora yang sintal menggoda. Dengan ragu dan jantung yang berdegup kencang ia memberanikan diri untuk menyentuh pipi mulus itu, perlahan turun hingga lehernya. Sesaat matanya tertuju pada kancing pakaian Amora. Sedikit ragu ia melepaskan perlahan kancing jaket tebal Amora dan mulai lagi dengan kancing baju tidurnya yang membuat ia bisa melihat tubuh Amora secara jelas dan dada Amora yang tersingkap membuat hasrtanya sebagai seorang lelaki normal semakin membuncah tak terbendung.
Perlahan tangannya menyentuh bibir merah itu. Juno mengecup lembut bibir itu dan lama-lama mulai sedikit Menyesapnya seakan akan melahap bibir itu hingga habis. Kali ini Juno benar-benar separuh gila. Ia mulai intens dengan ci*man lembutnya di bibir Amora yang menggoda, sedikit kul*man kecil yang semakin menggairahkan. Semakin lama malah menjadi semakin tak terkendali. Kini tangannya dengan liar mulai menyentuh area terlarang milik Amora dan malah mulai berani membuka kancing pakaian milik Amora satu persatu secara keseluruhan hingga tak tak terkancing sama sekali.
Pelan-pelan Juno menjadi lebih berani. Ia benar-benar melakukannya selayaknya seorang suami terhadap istrinya. Sesaat apa yang Juno lakukan pada Amora mengundang reaksi dari Amora, ada ******* kecil dan liukan tubuh Amora saat Juno mulai lebih agresif pada tubuh Amora.
Ia tersenyum dan mengusap lembut pipi halus Amora, Amora kembali tenang dan Juno kembali melanjutkannya lagi, ia pun kembali menc*mbunya, semakin lama semakin buas dan panas.
Yang ia lakukan sekarang benar-benar sudah di luar ambang batas, dia benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan diri dan hasratnya sendiri. Tindakannya mulai menuntut hal lebih, penuntasan yang lebih jauh lagi. Kali ini ia benar-benar akan menuntaskan apa yang sudah ia mulai bersama Amora. Cuaca terasa semakin dingin karena mereka tengah tak mengenakan sehelai benangpun di tubuh mereka. Juno berinisiatif menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka agar mereka tidak membeku di kedinginan malam ini. Dan apa yang mereka lakukan saat ini juga cukup membantu mereka dalam menghangatkan tubuh mereka.
Hawa dingin dan tindakan panasnya ini semakin membuat pergolakan yang menantang dalam dirinya yang semakin mempermainkan gairah keduanya.
Ia segera menuntaskan apa yang sudah ia mulai. Sesaat Amora seperti bereaksi sebab ini adalah pertama kali baginya. Juno yang sudah sampai pada klimaksnya tak memperdulikan reaksi Amora.
Untungnya itu tidak sampai membangunkan Amora. Ia berhasil melepaskan hasratnya pada Amora, entah apa yang barusan ia lakukan. Ia sudah tidak peduli, Juno terbaring lemas di samping Amora. perlahan kantuk mulai menyerangnya, ia pun membenahi selimut ke tubuh Amora, takut wanita itu kedinginan. Sebelum benar-benar tertidur ia mengecup lembut kening Amora yang terlelap dalam mabuknya.
__ADS_1
Juno kembali menghempaskan tubuhnya ke samping Amora dan kembali memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Amora dan tubuhnya. Ia mendekap tubuh Amora agar lebih hangat, karena sekarang mereka sudah tidak mengenakan apapun Kecuali selimut tebal tersebut.
Juno yang sebenarnya juga dalam pengaruh alkohol itu sedikit mabuk, kini ia berlahan terlelap tertidur dengan mendekap Amora semakin ke pelukannya agar gadis itu tetap hangat bersamanya.
***
Pagi menjelang, Juno masih hanyut dalam mimpi indahnya. Yang ia lakukan semalam seperti mimpi indah baginya hingga ia bisa tidur begitu nyenyak dan tak menyadari jika Amora tengah menangis di sampingnya dengan hanya mengenakan selimut di tubuhnya.
Amora dengan linangan air matanya berusaha mencari sisa pakaiannya yang berhamburan di ruangan itu. Dengan sedikit menahan nyeri Amora mulai mencoba untuk melangkah dan bangkit mengenakan pakaiannya kembali. Ia menatap Juno dengan penuh dendam dan kesumat yang tak terbendung lagi.
Tiba-tiba sebuah keramik kecil mendarat tepat di kepala Juno karena sambitan Amora yang marah. Itu membuat Juno terbangun karena kaget. Matanya masih terasa berat untuk terbuka, tapi tetap ia paksakan untuk terbuka. Ia mencoba bangkit dan duduk, belum lagi ia duduk betul sebuah benda padat keras kembali mendarat di kepalanya.
Sebuah guci kecil lain mendarat lagi ke kepalanya. Kali ini membuat kepalanya sedikit berdarah karena terkena sudut yang sedikit runcing.
"Auowh .... " pekik Juno mengaduh sambil memegangi kepalanya yang barusan terkena lemparan Amora. Sesaat ia merasakan ada cairan di kepalanya yang mengalir, ia pun melihat ke tangannya dan ternyata benar saja ada bercak darah di tangannya. Ia menatap Amora tajam. Gadis itu tengah memegang satu buah guci kecil lagi di tangannya yang siap untuk ia lemparkan kembali ke arah Juno.
"Kamu sudah gila, ya? Ini masih pagi, lihat kepala aku bisa bocor kalo kayak gini," pekik Juno mulai sangat kesal karena baru bangun dan mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari Amora, kepalanya sekarang benar-benar terasa perih karena terluka. Juno berusaha menahan aliran darah itu agar tidak keluar dari lukanya, ia mengambil pakaiannya yang ada di dekatnya untuk menutupi luka tersebut. Rasa perih yang ia rasakan membuat ia menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakuin sama aku semalam bangsat?!" teriak Amora histeris masih dalam keadaan menangis dan terlihat sangat murka. Dia tampak sudah mengenakan pakaian lengkapnya walau masih tampak sangat kacau.
"Apa?" tanya Juno balik, karena dia masih tidak ingat.
Itu membuat Amora semakin kesal. Dia mengambil bantal dan melemparnya pada Juno. Hingga Juno kewalahan menahannya.
"Udah Amora! Stop!" pinta Juno mulai tidak tahan.
"Kamu lecehin aku semalam, apa kamu masih nggak ingat, HAH?!" pekik Amora sambil terus melempar apapun yang ada kepada Juno sambil terus menangis histeris.
Juno terus menahan lemparan tersebut tanpa pergi dari posisinya, karena ia tengah tidak mengenakan apapun kecuali selimutnya. Sesaat ingatan Juno seakan mulai pulih. Dia mulai panik. Dia ingat semuanya sekarang. Dia menatap Amora yang masih memegang senter di tangannya bersiap akan di lempar pada Juno lagi.
"Ok, ok ... Aku minta maaf. Beneran semalam aku khilaf, kan kamu tau sendiri kita sama-sama mabuk," ujar Juno berusaha mencari alasan yang tepat.
"Mabok tapi kamu masih bisa angkat aku ke kamar. Dan kamu lakuinnya lebih dari sekali," ujar Amora masih histeris.
"Dari mana kamu tau lebih dari sekali?" tanya Juno heran.
DEG...
__ADS_1
Amora terdiam.