
Setelah 3 hari mereka dengan liburannya. Hari ini Juno dan Amora mengunjungi neneknya ke kediaman nenek Juno. Sesampainya di rumah neneknya, Juno di sambut nenek dengan hangat. Tampak Sinta juga ada disana. Gadis itu tersenyum menyambut kedatangan keduanya. Kelihatannya dia juga baru sampai dari kampung halamannya.
"Oh kalian baru sampai? Ayo masuk, nenek sudah masak banyak buat kalian," sambut neneknya antusias. Juno dan Amora pun masuk di ikuti oleh Sinta dari belakang.
"Kapan balik?" tanya Juno pada Sinta.
"Tadi pagi." Juno dan Sinta pun mengobrol cukup akrab.
Sedangkan Amora sudah langsung masuk kamar untuk menaruh tas baju gantinya, karena dia dan Juno memang berencana menginap di rumah nenek malam ini.
***
Amora masih sibuk dengan bawaannya. Dia mengeluarkan pakaiannya dan Juno dari tas. Ia meletakkan semua barang-barang bawaannya di atas ranjang. Tiba-tiba matanya tertuju pada lingerie merahnya yang rencananya akan ia kenakan malam ini. Ia kembali memantaskan lingerie itu di depan cermin seraya membayangkannya saat ia kenakan malam nanti.
Tapi tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang, membuat Amora kaget dan segera menyembunyikannya di tumpukan pakaiannya, yang lebih mengejutkan itu adalah Sinta.
__ADS_1
"Boleh masuk?" ujar Sinta. Amora masih tampak kaget, tapi ia tetap mengizinkan Sinta masuk. Ia masuk dan duduk di pinggir ranjang. Amora menatap kedatangannya.
"Sekarang Juno kelihatan lebih bahagia dari pada kemarin. Aku senang lihatnya. Aku senang kalian bisa berbaikan dan sama-sama," tutur Sinta yang entah kenapa terlihat sangat tulus itu.
"Aku sudah terlalu lama bersama Juno, aku paham betul bagaimana expresi wajah Juno selama ini. Dia tidak pernah sebahagia sekarang. Sejak kejadian itu dia nyaris selalu berusaha pura-pura bahagia hanya agar dia tidak di kasihani, hanya agar neneknya tidak khawatir. Kamu tau waktu dulu kita selalu bilang ke Juno waktu dia nggak mau makan, kita takutin dia kalo dia nggak makan nenek nya akan sedih dan sakit. Kamu tau? Juno waktu itu makan sampe hampir muntah, saat kita bilang kalau dia sedih terus neneknya akan sakit karena kepikiran dia dan nanti dia bisa kehilangan neneknya. Sejak saat itu juga dia selalu ceria dan pura-pura tidak apa-apa. Dan sekarang aku sadar, tindakkan mereka saat itu sangat kejam, mereka membuat Juno menjadi melakukan semua secara terpaksa hanya agar dia tidak kehilangan neneknya," tutur Sinta lagi. Kali ini Sinta menatap Amora dalam.
"Karena itu aku membencimu, Juno juga terpaksa menikahimu karena neneknya yang memintanya, aku membencimu karena kau menyakiti Juno saat bersamaannya. Aku tambah membencimu saat kau buat kepala Juno di jahit dan dia masih baik sama kamu. Itu seolah membuat aku kembali mengingat kejadian saat Juno makan sampai hampir muntah waktu kecil hanya karena takut neneknya sakit seandainya kepikiran dia tidak mau makan. Aku takut Juno menjalani ini semua karena dia merasa terpaksa demi neneknya juga,"
"Tapi Amora ... Tadi aku lihat Juno sangat bahagia. Dia terlihat sangat bahagia. Aku senang, akhirnya dia bisa benar-benar bahagia, bukan sekedar meng-kamuflase kebahagiaannya seperti selama ini. Amora, jangan sakiti Juno, dia laki-laki yang sangat baik dan jujur, dia mudah percaya kepada orang lain tapi juga mudah terluka, dia mudah menyayangi orang lain, tapi juga mudah merasa di tinggalkan. Amora, jika suatu saat Juno ingin pergi karena sikapnya yang mudah terluka, aku mohon tahan dia. Karena ... Dia selalu mencurigai semua yang di sayangnya akan meninggalkannya. Jangan pernah kamu coba-coba khianati dia, atau dia akan hancur, karena ... Aku lihat dia mulai membuat kamu sebagai pengganti neneknya, dia akan lakukan apapun untuk kamu, tapi kamu harus hati-hati, jangan sampai membuat dia terluka," ingat Sinta berkali-kali dan seolah meminta Amora untuk tak melupakan ucapannya ini.
"Sinta ... Aku pikir ... Kamu ... Tidak menyukaiku," tutur Amora ragu.
"Aku hanya takut ... Takut kau akan menyakiti Juno dan membuat dia terluka seperti dulu. Aku tidak mau Juno terluka seperti dulu, Amora. Aku sangat menyayangi dia, dia sangat baik sama aku selama ini. Dia jagain aku waktu orang tua aku bercerai, dia lindungin aku waktu aku di bully orang-orang, dia juga jagain aku kalo kenapa-kenapa. Karena itu aku nggak rela dia di sakitin orang lain, apalagi waktu aku lihat kamu cuekin Juno. Itu bikin aku pengen kamu cemburu. Maaf, kalo kamu jadi salah paham sama aku jadinya. Aku nggak berniat ambil Juno dari kamu, aku hanya nggak mau dia di sakitin aja," terang Sinta. Amora tersenyum dan memeluknya erat.
"Makasih Sinta, udah jagain Juno ku selama ini, Juno beruntung punya sahabat setulus kamu," tutur Amora berkaca-kaca, mereka tersenyum. Mulai saat itu seperti nya mereka akan menjadi sahabat baru.
__ADS_1
"Tapi, ada satu hal yang bikin aku kesel sama Juno, dia kalo lagi ada orang lain pasti kayak jaga jarak gitu. Nyebelin. Tapi, kalo nggak ada orang malah sering peluk dan sayang," keluh Amora.
Sinta tertawa mendengarnya.
"Gini Amora, kadang kemesraan yang berlebihan yang kita tunjukkan di depan orang lain itu tidak baik. Kenapa? Bisa jadi membuat orang lain risih, dan ke dua bisa jadi orang lain akan iri dan berniat merebut pasangan kita, tanpa sengaja kita malah buat perempuan lain berniat rebut pasangan kita nantinya ke tiga, Juno itu pemalu, jadi wajarkan kalau dia nggak mau terlalu agresif di depan orang lain. Hubungan itu yang penting pengakuan dan tanggung jawab. Ada yang berani mengungkapkan nya dengan frontal di depan khalayak sampe berciuman di depan semua orang, ada yang hanya berani menggandeng tangan pasangannya karena risih kalau harus berlebihan. Dan memang sedikit tidak beretika kan kalau kalian sampe mesra-mesraan di depan banyak orang, apalagi didepan nenek." Sinta menatap Amora dengan senyum seraya menggenggam tangan Amora. "Yang penting dia nggak nutupin pernikahan kamu di depan orang lain. Percaya deh, Juno itu sayang banget sama kamu." Amora tersenyum mendengar nasehat Sinta. Dia tidak menyangka pemikiran Sinta jauh lebih dewasa dari dirinya.
Sekali lagi Amora memeluk Sinta sahabat barunya.
Tiba-tiba pintu di ketuk oleh seseorang.
"Eh, malah jadi Teletubbies, berpelukan. Nenek udah nungguin, dia ngajak kita makan siang. Tuh, udah di tungguin," seru Juno.
Amora dan Sinta pun mengangguk tersenyum dan pergi menyusul Juno ke meja makan.
BERSAMBUNG...
__ADS_1