
Pagi saat bangun Juno sudah tidak mendapati Amora di sampingnya. Juno menatap ke sekeliling dan pintu kaca di balkon yang sudah cukup terang. Juno melihat jam weker di nakas yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Matahari tampak sangat cerah pagi ini.
Juno bangkit dari tempat tidurnya masih menggunakan boxer pendeknya. Ia mencari celana piyamanya yang ia kenakan semalam dan mengenakannya kembali. Ia berjalan ke balkon kamar yang menuju ke pemandangan halaman belakang rumah yang luas.
Di sana tampak Amora dan Sinta yang tengah memetik sayur. Mereka tampak akrab sejak kemarin. Juno tersenyum tipis melihat 2 sahabat baru itu tampak begitu akrab. Dan sesaat Amora melihat kehadiran Juno dan ia pun melambaikan tangannya kearah Juno. Juno tersenyum seraya membalas lambaiannya.
Setelah beberapa saat ia kembali ke kamarnya. Dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah rapi ia pun mencari sosok Neneknya. Akan tetapi rumah besar itu sepi seperti tak berpenghuni. Wajar saja jika rumah besar ini terlihat sepi. Luas rumah yang hampir 600 m² ini hanya di huni oleh 3 orang saja. Yang terdiri dari nenek Juno, bik Darsih dan suaminya yang merupakan tukang kebun sekaligus penjaga rumah.
Rumah ini dulunya sama dengan kediaman Amora yang memiliki puluhan pelayan yang mengurusnya dengan puluhan kamar dan ruangan besar, tetapi semenjak kematian ayah dan kakek Juno itu membuat mereka tidak lagi sanggup menyewa banyak pelayan. Hingga sebagian besar rumah nyaris terlihat terbengkalai dan tak terurus. Hanya tertutup kain putih untuk melindungi perabotan yang memang terbilang mahal itu agar tidak rusak dan berdebu termakan usia, mereka hanya melakukan pembersihan menyeluruh beberapa kali sebulan untuk membuat rumah tetap terawat dan setelah itu perabotannya pun akan kembali di tutupi kain putih.
Tidak heran jika Amora selalu bergidik melihat situasi rumah ini, karena memang rumah ini nyaris tak terawat sepenuhnya. Apalagi halaman rumah yang juga besarpun hanya mampu di jadikan kebun buah dan sayuran oleh keluarga Juno saat ini. Oleh sebab itu mereka sering memiliki panen buah yang berlimpah, selain tidak memakan banyak biaya dalam segi perawatan juga bisa membuat halaman rumah yang hektaran itu tidak menjadi kosong.
Rumah ini termasuk memiliki lahan terbesar di kawasan elite ini, bahkan orang-orang sering menyebutnya angker. Apalagi 5 anggota keluarga Juno tewas dalam kecelakaan pesawat membuat banyak rumor tersebar di lingkungan sekitar, namun sosok Juno yang tampan dan ramah ikut membuat mereka terkenal di kawasan ini. Mereka sering menyebut Juno sebagai vampir penghuni rumah hantu. Karena sosok Juno yang tampan dan putih sering dianggap menyerupai vampir tampan dengan nenek yang masih terlihat cantik di usia senjanya. Dan di tambah lagi nenek Juno juga sering kali membagikan hasil kebun mereka ke tetangga itu membuat mereka juga terkenal di lingkungan sekitar sebagai orang yang supel walau tinggal di kawasan elit. Kebun buah yang melimpah hingga ke pagar luar rumah. Bahkan hasilnya sering kali di ambil oleh penadah untuk di jual kembali ke pasar jika sudah terlalu banyak.
Saat ini keluarga Juno hanya bergantung dari hasil investasi yang tidak seberapa jika di banding dulu saat kakek dan ayahnya masih ada. Namun, itu cukup untuk membiayai kehidupan sederhana Juno dan neneknya. Namun jika di bandingkan keluarga Juno saat ini sangat jauh di bandingkan keluarga Amora, mungkin karena itu pula ibu Amora tampak memandang sinis Juno.
__ADS_1
***
Juno masih terus menyusuri rumah besarnya yang sepi itu hingga ia sampai di halaman belakang dan ternyata neneknya tengah menikmati teh herbal nya di kursi goyang miliknya sambil menikmati sinar mentari pagi. Beliau terlihat sangat menikmati paginya ini. Juno pun segera menghampirinya dan menyapanya.
"Nek! Nenek nggak masak? Biasanya nenek lagi masak kalo jam segini," sapa Juno seraya duduk di samping neneknya seraya berjongkok di hadapan neneknya itu.
Nenek yang melihat kedatangan Juno hanya tersenyum seraya mengelus kepala cucunya itu.
"Nggak. Katanya mereka yang mau masak. Itu lagi panen sayur," ujar nenek Juno menunjuk kearah Amora dan Sinta seraya terkekeh. Juno menatapnya tidak percaya.
"Haaahhh... Ancur deh makan siang aku hari ini. Yang masak kayak gitu bentukannya," tutur Juno seraya merebahkan kepalanya di pangkuan neneknya dengan manja. Dia dapat bayangkan bagaimana ancurnya makan siangnya kali ini.
"Biarkan dia belajar. Kamu cukup hargai saja, nanti lama-lama juga enak. Bayi baru belajar berjalan pun akan jatuh sebelum mereka bisa berlari, begitu pula kita, saat pertama kali melakukan sesuatu gagal itu lumrah. Itu proses, proses untuk seseorang memahami sesuatu itu dari kesalahan. Agar dia ingat dan tidak mengulanginya lagi. Jadi, biarkan mereka lakukan kesalahan, asal itu membuat mereka sadar dan dapat memperbaiki diri dari kesalahan. Yang tidak boleh itu, mengulangi kesalahan yang sama hanya karena terbiasa di mengerti atas kesalahannya. Itu namanya egois, salah itu biasa tapi segera perbaiki," tutur nenek Juno bijak. Juno menatap mata teduh itu dan tersenyum, dia mencium tangan neneknya yang di sambut neneknya dengan senyum merekah yang sangat teduh dan hangat.
"Tidak, kamu harus tetap bertahan walau nenek sudah tidak ada. Kamu tumpuan kita semua, jika kamu tidak ada maka garis keturunan kita akan putus. Jadi kamu harus tetap hidup apapun yang terjadi. Baik nenek ada ataupun tidak, kamu tetap harus bisa bertahan," ujar neneknya lagi seraya mengelus kepala cucunya itu. Juno merebahkan kepalanya di pangkuan neneknya itu seraya melilitkan tangannya di pinggang neneknya, ia merasakan kedamaian tiap kali ia memeluk nenek keluarga satu-satunya yang Juno miliki saat ini, Juno kembali tersenyum menatap neneknya.
"Jangan pergi sebelum nenek lihat anak Juno lahir, nenek akan lihat di KK tidak lagi nama Juno sendiri lagi, tapi sudah ada nama lain yang membuat anggota keluarga kita bertambah," ujar Juno. Neneknya hanya tersenyum seraya mengangguk.
"Yaudah, nek. Juno mau lihat mereka dulu," pamit Juno. Juno bangkit dan melihat ke arah Amora dan Sinta yang masih sibuk panen dari kemarin.
__ADS_1
"Aku mau susul mereka dulu. Kayaknya mereka udah kelamaan dari tadi, ini udah mau makan siang lagi tapi mereka masih aja rumpi di sana," tutur Juno seraya melangkah menghampiri duo sahabat itu. Nenek hanya terkekeh menanggapinya dengan masih duduk di kursi goyangnya.
Sesampainya di kebun Juno di sambut teriakan Amora dan Sinta.
"Jun, liat deh kita udah dapat banyak. Kita bisa masak tumis kangkung, terus ada terong ungu yang bisa kita sambel nanti, ini banyak deh," ujar Sinta antusias.
"Ini udah siang, kalian mau mulai masak jam berapa? Sarapan aja belum," ujar Juno yang mulai kelaparan.
"Iya, ntar gampang, kita beli gado-gado depan," tutur Sinta santai membuat Juno mengernyitkan kan dahinya.
"Kalian ini bukannya mempermudah kerjaan malah nambah kerjaan yang ada. Haaahhh... Tau lah, mending aku cari sarapan sendiri aja," ujar Juno melangkah pergi.
"Suami kamu kenapa pagi-pagi udah ngamuk kelaparan gitu," tanya Sinta pada Amora.
"Amora pun membisikkan sesuatu ke telinga Sinta." Sesaat Sinta jadi terbelalak mendengarnya.
"Hmmm... Kalo rajin kayak gitu, bisa cepet gendong keponakan baru aku nih," ledek Sinta seraya menggenggam perut ramping Amora yang membuat Amora terpekik karena kaget dan geli.
"Kamu sama Juno lebih dari ini nggak tereak, masak kayak gini aja tereak kenceng," goda Sinta lagi.
__ADS_1
"Kalo dia mah beda nyentuhnya, nggak kayak kamu," elak Amora membuat keduanya kembali terkekeh. Sedangkan Juno sudah hilang di balik pintu pagar besar rumahnya untuk membeli sarapan mereka.
BERSAMBUNG...