
Pagi-pagi Amora sudah bangun. Dia sengaja bangun cepat karena ingin menyiapkan sarapan untuk suaminya itu. Walau yang ada hanya roti dan susu saja. Ini kembali mengingatkan dia ke masa lalu mereka saat mereka ke sana tanpa memiliki cukup uang. Ia tertawa kecil seolah menertawakan takdir yang kembali membawa mereka ke masa itu lagi. Karena kebetulan dia juga kehilangan kartu ATM yang di berikan ibunya kemarin karena jatuh dan dia menyusul Juno kesini pun hanya dengan uang pas-pasan.
Selesai membuat sarapan, Amora kembali ke kamarnya. Pemandangan yang sama. Juno tertidur tanpa mengenakan pakaiannya di pagi ini. Tapi, tentu dengan kondisi yang berbeda. Dia tidak membenci Juno kali ini, tapi malah sangat menyayangi lelaki ini. Takdir seolah terus membawa mereka Dejavu yang seolah di sengaja untuk memperbaiki semua di yang berantakan dengan masa lalu mereka saat itu. Di mana Amora terus merutuk Juno dan memakinya, tapi kali ini Amora membangunkan suaminya itu dengan ciuman hangat dan sarapan pagi yang siap ia antar ke kamarnya.
Juno tampak perlahan membuka matanya dan melihat Amora dengan sarapan pagi di nampan yang ia bawa. Juno tersenyum.
"Dulu, kamu buat sarapan buat aku, aku malah membuangnya. Kamu bangun tidur langsung aku lempar pakai guci dan aku maki setiap hari. Hari ini seolah keadaan berbalik. Aku yang siapin sarapan buat kamu dengan perasaan yang penuh dengan cinta buat kamu," ungkap Amora. Juno tersenyum seraya mengambil segelas susu hangat dari nampan dan menikmatinya.
"Dan kita menginap di penginapan yang sama," sambung Juno.
"Di dapur juga udah kehabisan bahan makanan dan ATM aku hilang di bandara. Aku kesini pakai uang pas-pasan," sambung Amora lagi, Juno membelalakkan matanya tidak percaya dengan kebetulan yang persis sama hanya saja sekarang Amora lah yang merasakan sulitnya di posisi Juno saat itu.
Juno mengusap wajah istrinya itu.
"Tuhan ingin aku memperbaiki kesalahan aku sama kamu selama ini sehingga dia terus memutar takdir yang membalikkan keadaan. Maaf ya sayang waktu itu aku nyakitin kamu," tutur Amora hangat dan Juno balas memeluk istri tercintanya.
"Kamu tau, betapa aku takut jika seandainya aku benar-benar membenci kamu saat itu. Aku tidak ingin membenci kamu, karena itu aku ingin pergi menghindari menyakiti kamu, sayang," bisik Juno dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, aku tau. Kamu laki-laki baik yang tidak akan menyakiti aku. Aku beruntung bersuamikan seorang Herjuno Wiryawan," bisik Amora.
__ADS_1
***
Setelah membersikan diri mereka pun berjalan berkeliling di sekitar penginapan. Dulu Amora tidak sempat berkeliling karena dia terus mengurung diri di kamar. Kali ini dia berkeliling seraya terus menggandeng tangan Juno. Juno menunjukkan pemandangan indah kaki gunung Alpen pada Amora.
"Bagus banget, ya. Sejuk dan dingin," ucap Amora. Juno tersenyum
"Iya. Ini yang bikin aku pengen balik lagi ke sini," tutur Juno.
Amora menatap Juno,
"Jun, kita ke pasar, yuk. Aku mau belanja," tutur Amora. Juno mengangguk. Mereka pun segera balik ke rumah dan bersiap untuk ke pasar lagi. Kali ini mereka berencana untuk jalan kaki saja sekalian olah raga untuk Amora yang tengah hamil tua agar bisa lebih aktif.
"Udah berapa banyak tabungan yang kamu habisin selama perjalanan kamu? Kenapa ada pengeluaran yang milyaran waktu kamu baru pergi? Kamu punya istri muda yang harus kamu tinggalin uang belanjanya atau gimana?" cerca Amora yang membuat Juno tertawa mendengarnya.
"Bukan. Itu aku beliin Sinta rumah dan mobil. Sebab sebelum pergi keluar, aku nemuin dia buat kasih hadiah pernikahan," ungkap Juno.
"Ka-kamu beliin rumah sama mobil buat Sinta?" tanya Amora tidak percaya, dia merasa sedikit cemburu dengan perhatian Juno yang besar terhadap Sinta.
"Iya. Nenek itu nabung banyak banget semenjak aku SMP. Semua uang nggak dia pakek, dia simpan semua hingga jumlahnya kamu lihat aja, aku udah belanja sekian banyak tetap aja masih ratusan milyar di sana. Udah lah, kasih Sinta segitu nggak kerasa sama sekali, kok," ucap Juno santai.
__ADS_1
"Kamu nggak ngomong sama sekali kalo nenek kasih kamu uang segini banyak nya. Jangan-jangan kamu pengen pergi itu gegara liat uang tabungan ini, jadi kamu pengen jalan-jalan sendirian nikmati nya sendiri, atau bahkan nyembunyiin yang ini dari aku. Iya, kan?!" tuding Amora.
"Pantas kamu nggak ragu sama sekali kasih semua aset kamu sama papa. Ternyata kamu punya yang lebih gede jumlahnya" ujar Amora seraya bersedekap dada menatap Juno tajam dan sinis. Juno tertawa mendengarnya.
"Ya ... kan ... aku juga nafkahin kamu lebih dari cukup. Semua hasil itu semua kamu yang ambil. Kalo aku kasih uang itu juga terus aku pegang apa di jalan. Aku mau transfer males ribet. Makanya aku tunggu pulang aja ngomonginnya sama kamu," ungkap Juno memberi alasan.
"Lagian kamu matre banget sih, semua mau di ambil," tuding Juno dengan tatapan aneh.
"Apa kamu bilang? Matre? Kamu itu lagi bohongin aku, Herjuno Wiryawan. Aku pikir kamu pergi dengan uang pas-pasan ternyata kamu pergi dalam keadaan kaya raya. Kita pulang ini aku nggak mau tau, kita mampir ke Paris dulu buat belanja. Enak aja, Sinta kamu belanjain segitu banyak nya. Sedangkan aku nggak," ungkap Amora memanyunkan bibirnya kesal.
"Iya, iya, kita beli apapun yang kamu suka. Sekalian kita belanja buat anak kita juga," hibur Juno membuat Amora kembali tersenyum sumringah.
"Beneran ya, kita belanja. Selama ini aku udah berhemat demi kamu, sekarang aku mau kehidupan nona muda aku balik lagi. Enak aja Sinta di kasih hampir 4 M, tapi aku istri kamu nggak pernah di kasih jajan segitu," ungkap Amora terlihat menggembungkan pipinya kesal sekaligus cemburu. Juno hanya tertawa melihatnya.
"Udah, yuk. Kita belanja keperluan dapur lagi. Besok itu natal, pasti semua toko tutup, jadi hari ini kesempatan terakhir kita belanja sebelum semua tutup," ungkap Juno lagi. Dia langsung mengambil jaketnya dan Amora karena memang cuaca sedang sangat dingin di luar sana.
Amora masih terlihat kesal saat Juno memasangkan jaketnya padanya dengan hangat penuh kasih sayang dan menariknya keluar kamar untuk pergi berbelanja. Sesuatu yang jarang Juno lakukan selama ini, karena selama ini Amora lah yang selalu menggandengnya tapi sekarang Juno menggandengnya. Ada senyum yang diam-diam terukir dari wajah Amora. Dia dapat rasakan betapa Juno benar-benar merindukannya dan menyayanginya.
'Aku akan belanja lebih dari Sinta. Lihat aja kamu nanti Juno,' batin Amora yang terus menatap tajam pada Juno yang terus menggandengnya sepanjang perjalanan dengan senyum penuh arti.
__ADS_1
BERSAMBUNG...