
Amora turun menyusuri tangga menuju meja makan. Kebetulan Ros juga ada di sana sambil menikmati teh hangatnya. Dia menatap kedatang Amora yang di sambut para pelayan dengan menu sarapan paginya yang telat karena jam sudah menunjukkan pukul 11.35 Wib.
"Siang ini jenguklah nenek Juno di rumahnya. Jangan membantah lagi. Mulai lah bersikap dewasa," ucap Ros seraya menikmati teh hangatnya tanpa menoleh kepada Amora "saat itu kamu setuju dengan pernikahan ini, tapi saat semua sudah terjadi kamu malah berulah. Seandainya nenek Juno tahu akan sikap kamu pada cucunya ini, maka keluarga kamu akan malu. Dulu saat keluarga kamu di ambang ke bangkrutan keluarga Juno yang menyelamatkannya. Kalau tidak apa kamu pikir masih bisa tidur nyenyak di kamar besar kamu itu? Apa kamu masih bisa berfoya-foya seperti sekarang ini?" ucap Ros penuh penekanan.
"Waktu itu aku lagi kesal sama si Bren*se* itu. Makanya aku iyain aja apapun yang bisa buat dia enyah dari pikiran aku, ternyata malah buat aku kejebak sama pernikahan sialan ini," ucap Amora yang masih tampak kesal sambil menyuap makanannya.
Ros menatap Amora serius seraya geleng-geleng kepala. Dia tidak percaya betapa kekanak-kanakan nya anak ini dalam memandang sebuah hubungan.
"Pernikahan bukan sesuatu yang bisa kamu jadikan bahan pelarian lalu kamu tinggalkan begitu saja. Ini hal yang sakral, kalau kamu sudah memulainya, maka bertanggung jawablah. Jangan terus meminta pengertian orang lain tanpa kamu sendiri bisa menghormati orang lain, bahkan diri kamu sendiri pun kamu tidak bisa hormati. Mencintai suami orang lain tapi mengabaikan suami sendiri yang jauh lebih tampan, apa itu bisa di sebut orang yang bisa menghormati dirinya. Kamu membuat nama kamu sendiri jadi buruk," nasehat Ros. "Nanti siang jenguk nenek Juno. Tunjukkan rasa hormat kamu. Setidaknya kamu jangan terus mempermalukan keluarga kamu dan membuat masalah," ingat Ros kembali dengan menatap kedalam mata Amora.
Ia bangkit lalu pergi meninggalkan Amora yang masih menikmati makannya. Ia menatap Ros lalu mendengus kesal seraya membanting sendok dan garpu di atas meja makan hingga membuat beberapa makan tumpah karena bantingan sendok garpu Amora. Para pelayan dengan sigap segera membersihkannya.
Tiba-tiba selera makan Amora menjadi hilang. Dia jengah di paksa terus menerima keberadaan Juno. Juno bukan laki-laki impiannya selama ini. Walau Juno tidak bisa di katakan berwajah jelek. Juno cukup rupawan, tapi sikap laki-laki itu sangat menyebalkan bagi Amora, bahkan selama mereka berkenalan tidak ada hari mereka lewati tanpa bertengkar. Dan sekarang dia di paksa menerima dan menghormati lelaki tersebut.
Amora beranjak dari kursinya dan kembali ke kamarnya meninggalkan makanan yang bahkan belum sampai separuhnya ia makan.
Ia melirik handphone nya. Dia baru sadar, walau suami istri Juno tidak pernah menghubunginya, dia bahkan tidak punya nomer Juno.
"Bagaimana cara aku mau hubungin dia, kalo nomer dia aja nggak ada," ucap Amora.
Amora mencoba menghubungi beberapa pelayannya untuk mencari tahu nomer Juno, tapi tidak satupun orang yang menyimpan nomer Juno.
"Masak nggak ada satupun orang yang tahu, sih?" kesah Amora kesal.
__ADS_1
Bahkan Ros dan ibunya pun tidak memiliki nomer Juno. Harapan Amora hanya ayahnya, tapi jika dia menanyakan pada ayahnya pasti akan menjadi masalah lagi nantinya. Namun Amora tidak punya pilihan. Dia harus menanyakan pada ayahnya, sebab dia tidak tau alamat rumah nenek Juno. Selama ini mereka hanya berhubungan dengan hotel saja. Amora tidak pernah mau jika di ajak bertamu ke rumah Juno.
***
Malam ini sepulang kerja Juno tidak langsung pulang, dia langsung ke tempat neneknya. Di sana ia di sambut oleh Pak Suryo tukang kebun yang membuka pintu gerbang rumah besar itu. Rumah yang sangat besar dengan halaman luas hektaran. Ya, memang dulunya keluarga Juno adalah keluarga kaya raya sebelum ayah dan kakeknya meninggal. Semua berubah di keluarga Juno saat semua bisnis mereka tidak bisa beroperasi lagi karena kehilangan pemimpinnya, yaitu kakek dan ayah Juno, Juno yang masih remaja pun tidak mungkin menggantikan posisi mereka saat itu.
Nenek Juno pun mengambil keputusan untuk menghentikan semua pelayan karena hanya ada dia dan Juno di rumah dan semua mobil pun dijual, beberapa usaha keluarga yang membutuhkan perhatian lebihpun nenek Juno jual. Banyak rumor yang mengatakan keluarga Juno bangkrut pasca kecelakaan tersebut. Namun beberapa usaha masih di selamatkan oleh ayah Amora sebagai sahabat karib ayah Juno, dia mengelolanya dan membagi hasilnya bersama keluarga Juno. Hingga Juno dan neneknya masih bisa hidup layak seperti saat ini.
Walau masih ada usaha sleeping investor yang di miliki keluarga Juno yang tidak banyak di ketahui orang lain. Tapi kelihatannya hidup sederhana seperti ini sudah menjadi pilihan keluarga Juno saat ini. Tenang dan jauh dari hiruk-pikuk dunia bisnis dan pesta kolega yang melelahkan.
***
Juno masuk ke rumah besar itu, dia di sambut oleh Darsih satu-satunya pembantu tetap di rumah super besar itu. Darsih dan Suryo merupakan suami istri yang selama ini setia menjaga keluarga Juno dari dulu kala, jadi sudah sangat akrab dengan keluarga Juno.
"Nenek mana, Mbok? Masih pusing dia?" tanya Juno.
"Ada di kamar, udah sembuh. Dia kayaknya lagi baru selesai di suapin sama Sinta makan tadi," ujarnya medok.
"Oh ya udah. Aku ke atas dulu ya, mbok," pamit Juno yang langsung berjalan menaiki anak tangga. Belum juga dia sampai, dia sudah kembali berbalik.
"Mbok, siapin makan, ya. Aku lapar! Kangen sama masakan, mbok" ujar Juno lagi seraya memegang perutnya yang memang sudah lapar. Si mbok paruh baya itu pun tersenyum ramah.
"Iya, nanti mbok masakin gurame bakar kesukaan Aden, ya. Sama sayur cah kangkung." Mendengar 2 menu kesukaan nya itu, seketika Juno tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Makasih, mbok." Juno pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar neneknya.
Juno mengetuk pintu terlebih dahulu baru ia masuk dengan senyumnya.
Di kamar tersebut Juno mendapati neneknya tengah duduk bersandar di ranjangnya. Menyambut Juno dengan rentangan kedua tangannya dan di sambut Juno dengan pelukan hangat sebagai seorang cucu.
"Nenek sudah baikan?" tanya Juno.
"Iya, kamu kenapa langsung ke sini? Mana istrimu?" tanya nenek.
"Aku pulang dari rumah sakit tadi langsung ke sini, nek. Jadi belum ke rumah. Mungkin malam ini aku nginap aja, ya," ujar Juno seraya mengusap lembut punggung tangan neneknya itu. Neneknya menatap mata cucunya.
"Kamu itu baru nikah, tapi istri sering di tinggal gitu. Nanti apa kata mertuamu," ucapnya lagi.
"Nggak papa, mereka pasti ngerti, kan nenek lagi sakit. Siapa lagi yang rawat nenek kalau bukan aku," ujar Juno dengan seulas senyum seraya mengusap punggung tangan neneknya. Sesaat neneknya melihat ada sesuatu yang Juno sembunyikan dari senyum Juno, ada tarikan tak biasa di senyum itu.
"Yaudah, nek. Aku mau mandi dulu terus makan, aku udah lapar," tukas Juno sebelum neneknya kembali membantahnya.
Nenek hanya bisa melongo melihat Juno yang langsung keluar kamar sebelum sempat ia bicara lagi. Dan menutup pintu kamar neneknya kembali dengan seulas senyum yang entah kenapa menggambarkan kesedihan yang dalam di mata neneknya itu.
"Ada apa dengan anak ini?" gumam nenek sendirian di kamarnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1