Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Izin


__ADS_3

Juno kembali bekerja hari ini. Aura duka masih sangat terlihat di wajahnya. Walau dia selalu berusaha tersenyum tapi tiap kali sendirian dia selalu termenung dengan tatapan mata yang kosong. Dia merasa sendirian, seperti kehilangan arah dalam hidupnya. Kehilangan nenek seperti kehilangan rumah untuk dia kembali, kehilangan bahu untuk ia bersandar, kehilangan sosok untuk ia mengadu. Baru kali ini ia merasa menjadi orang yang sangat miskin. Dia tidak punya apapun lagi tempat dia bergantung.


Keira yang melihat itu segera menyapa Juno karena Juno hampir salah menusukkan jarum suntiknya pada pasien. Untung dengan cepat Keira menyadarkan dia.


"Jun! Sini biar aku aja," tutur Keira yang segera menggantikan tugas Juno di IGD.


Setelah selesai mengurus pasiennya. Keira menatap Juno yang masih berada di ruangan tersebut.


"Maaf, aku kurang fokus," ucap Juno saat pasiennya sudah keluar.


"Kamu belum siap kerja, Jun. Istirahat lah dulu," nasehat Keira. Juno mengangguk dan menuju ke sebuah ruangan. Dia duduk di sana dan mulai lagi merenung kembali.


'Tuhan, kenapa hatiku seperti ini. Aku benar-benar lelah dengan perasaanku sendiri? Aku ingin bisa seperti dulu' batin Juno. Ia kembali merasa tersiksa sendiri. Ia tertunduk dan mendekap wajahnya di atas meja.


Keira yang memang setelah menangani pasien segera mencari Juno kembali. Dengan langkah perlahan datang mendekatinya, ia menyentuh lembut bahu Juno hingga membuat Juno mengangkat wajahnya menatap Keira yang baru datang.


"Juno! Apa kamu baik-baik saja?!" Keira terlihat sangat khawatir setelah kejadian tadi. Tadi Juno hampir saja melakukan kesalahan yang cukup fatal dalam penangan pasien jika tidak ia cegah oleh dengan cepat.


Tiba-tiba Juno tertunduk cukup lama dan tiba-tiba ia terisak. Seketika pertahanannya runtuh, dia tidak bisa menahannya lagi, terlalu menyakitkan bagi Juno. Dia sudah berusaha menahan semua di dalam hatinya tapi akhirnya roboh kembali ketika ada seorang menanyakan apa dia baik-baik saja. Bagaimana mungkin dia baik-baik saja, jika dia merasa tidak memiliki apapun lagi di dunia ini untuk dia hidup.


"Semuanya sudah pergi, sudah pergi ... Tuhan tidak menyisakan apapun untukku lagi. Apa salahku? Dimana letak salahku? Dimana? Aku selalu menepikan perasaanku demi orang lain tapi aku malah dikhianati, aku di campakkan dan di tinggal pergi sendirian begini. Aku lelah, sangat lelah. Aku ingin pergi kemana pun yang bisa buat aku lupa bahwa aku pernah kehilangan dan di khianati." Juno terisak tanpa dapat ia tahan lagi. Keira yang mendengarnya ikut merasakan perihnya hanya bisa menjadi pendengar bagi Juno. Dia tahu Juno tidak henti-hentinya menyesali kejadian itu. Dia seolah terus merutuk dirinya sendiri karena terlambat datang di saat neneknya kritis.


"Seharusnya aku ada di sana saat nenek nyariin aku, Kei. Harusnya aku datang saat dia panggil aku." Sesal juno.


"Jun, berhenti menyesal dan nyalahin diri kamu. Semua udah takdirnya gitu. Sekarang lebih baik kamu lanjutkan hidup kamu, kamu terus menyesal kayak gini pun pasti akan bikin nenek sedih. Nenek itu sayang banget sama kamu, dia pasti maafin kamu, Jun." Keira mencoba menghibur Juno.

__ADS_1


Keira menatap wajah tampan itu, dia masih terlihat sangat terluka. Apa mungkin dia bisa pulih dengan cepat, jika hati dan perasaannya terus tertekan seperti ini.


"Kei!" panggil Juno.


"Aku pengen pergi," tutur Juno tiba-tiba.


Keira menatap Juno mencari arti maksud perkataan Juno barusan. Keira paham betul bagaimana kacaunya perasaan Juno saat ini. Tapi, dia tidak menyangka jika Juno sampai berniat untuk pergi.


"Tapi gimana dengan Amora, apa dia siap kamu tinggal? Kamu jangan buat masalah, Jun. Kamu cuman lagi kacau, jangan buat keputusan yang bisa buat kamu nyesel nantinya, Jun. Kamu itu lagi labil, Jun." Keira berusaha mencegah. Dia tau Juno sedang kacau. Dia tidak mau jika Juno melakukan hal yang tidak di inginkan selama perjalanannya nanti. Dia tau betul jika saat ini Juno tengah tanpa arah, dia tidak bisa berpikir jernih.


"Aku di sini pun tetap sama. Aku tetap ngerasa kacau. Aku pengen nemuin suasana baru dan aku nggak akan ninggalin Amora. Aku akan coba cari jalan buat maafin semuanya. Aku cuman butuh waktu buat sendiri. Mungkin pergi 1 bulan atau lebih buat menjauhi semua bisa buat perasaan aku kembali tenang."


"Juno, Amora bakal ngerasa kamu ninggalin dia. Apalagi dengan situasi kayak gini, kamu kalo pergi bisa buat semua makin kacau," cegah Keira lagi.


Juno hanya terdiam, hatinya masih keras ingin pergi. Dia benar-benar tidak sanggup menghadapi ini semua, dia tidak ingin memaksa diri menghadapi ini. Dia benar-benar butuh waktu untuk menjauh.


Malam hari setelah makan malam Juno Menemui ayah mertuanya ke ruang kerjanya. Juno mengetuk pintu ruangan itu. Setelah mendapatkan izin untuk masuk, barulah Juno berani masuk. Dia melangkah perlahan menuju meja kerja Kevin dengan ragu.


Kevin menatap kedatangan Juno dengan tatapan bingung sekaligus aneh, karena tidak biasanya Juno menemuinya seperti ini.


"Ada apa, Jun?" Juno duduk di depan mertuanya. Dia masih mengatur posisinya sebelum bicara. Dia mendapat mertuanya itu dalam.


"Pah ...!" seru Juno hati-hati. Kevin semakin merasa aneh dengan tingkah Juno yang tampak ragu-ragu tidak seperti biasanya.


"Ada apa? Ada yang mau kamu sampaikan? Katakan saja, nak," tutur Kevin lembut berusaha membuat Juno nyaman untuk bicara dengannya.

__ADS_1


"Aku ... Aku ... Mau nemuin Sinta buat kasih sesuatu. Bagaimana pun selama dia sama keluarga kami sangat dekat, kayaknya kurang sopan kalau aku nggak ke sana nengokin dia yang baru habis nikah, Pah." Juno berusaha menjelaskan, tapi Kevin merasa ada niat lain yang ingin Juno sampaikan. Dia menunggu pernyataan Juno selanjutnya.


"Dan ... Setelah itu, aku ... Aku Pengen pergi ke suatu tempat, Pah. Yang bisa buat aku tenang kembali," terang Juno.


"Kamu masih marah sama Mama?" tebak Kevin lembut.


Juno hanya diam tak bisa menjawab. Dia bingung dengan perasaannya sendiri.


"Nggak tahu, Pah. Hampir 2 bulan ini aku hampir gila rasanya, semua terasa sangat menyiksa perasaan aku. Ketidak hadiran aku saat detik-detik terakhir nenek saat semua orang berusaha mencari aku itu buat aku merasa kesal berkepanjangan, menyadari semua orang yang aku sayang pergi buat aku merasa sendirian, di khianatin Mama sedemikian rupa buat aku merasa kalau aku nggak punya siapapun yang bisa aku percaya. Ditinggal Sinta, dokter Ikhwar dan nenek. Semua buat aku ketakutan dan pengen menjauh buat berpikir dan menjernihkan pikiran aku kembali, Pah. Tinggal di rumah ini pun terasa asing buat aku sekarang, lama-lama aku merasa hampir gila di sini." ujar Juno tertunduk dengan tatapan nanar.


"Kita bicarakan ini sama-sama, ya, sama yang lain." Kevin tidak bisa menahan Juno, tapi dia juga takut keputusan nya nanti akan buat Amora kecewa.


"Pah, percaya lah. Setelah semua baik, aku akan pulang, Pah. Aku nggak berniat pergi selamanya. Aku hanya butuh tempat yang bisa buat aku tenang lagi,"


Kali ini Juno menyerahkan semua aset yang dia punya dan surat-surat penting lainnya kepada mertuanya untuk meyakini mertuanya. Membuat Kevin terbelalak, dia tidak menyangka jika Juno sangat serius dengan keinginannya. Kevin membuka satu persatu berkas-berkas tersebut. Itu semua adalah surat-surat penting yabg bersangkutan dengan semua kekayaan keluarga Juno. Kevin menatap Juno tidak percaya.


"Ini Papa pegang semua sementara aku nggak ada, hanya sertifikat rumah saja yang masih aku simpan, Pah. Kalau terjadi sesuatu sama aku nanti, Papa bisa serahin sama Amora dan anakku nantinya. Cuman, aku mohon izinkan aku buat menjauh dulu, Pah. Hanya sebentar. Aku butuh waktu sendiri buat tenang. Aku benar-benar capek sama perasaan aku belakangan ini." Kevin menatap tumpukan berkas-berkas tersebut sekali lagi dan Juno secara bergantian. Dan ia menatap Juno dengan tatapan ragu.


"Kamu harus janji pulang, papa nggak bisa handel semuanya tanpa kamu. Kamu harus janji, Juno. Jangan tinggalkan Amora. Apapun yang terjadi. Kalau kamu tinggalkan Amora, Papa cari kamu sampe ketemu dan kamu akan papa hajar di sana," ancam Kevin yang malah terdengar seperti kasih sayang di telinga Juno hingga membuat Juno tersenyum tipis.


"Hanya Amora yang aku cintai selama ini, Pah. Aku nggak akan ninggalin dia, aku benar-benar hanya lagi butuh waktu buat menyendiri saja," ucap Juno sekali lagi meyakinkan.


Kevin mengangguk mengerti.


"Pergilah, tapi jangan lama. Dan ... Ingat untuk pulang." Juno mengangguk seraya tersenyum.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2