Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Di Cintai Tanpa Berjuang


__ADS_3

Selesai makan malam ala kadarnya sendirian. Juno kembali ke kamarnya. Sudah ada Amora yang masih berdiri di balkon tengah menelpon. Juno ke kamar mandi sebentar. Lalu keluar dan menghampiri Amora yang masih berdiri bersandar di besi pembatas balkon.


Dia berdiri di samping Amora. Amora kaget dengan kehadiran Juno yang tiba-tiba. Ia menoleh dan sedikit mengambil jarak dari Juno. Juno tersenyum miris.


"Kenapa? Marah?" tebak Juno pada Amora yang terlihat kesal sedari tadi.


"Kamu kesal karena aku nggak ngasih kabar? Atau karena ada hal lain?" tanya Juno lagi. Amora hanya diam dengan sorot mata masih terlihat kesal. Ia segera duduk di kursi yang ada di balkon.


'Atau karena kamu bertengkar dengan Horner tadi?' lanjut Juno membatin.

__ADS_1


"Aku sibuk, jadi lupa kasih kabar. Aku pikir kamu nggak mau aku ganggu juga, sebab selama ini tiap kali aku pulang kamu pasti marah-marah nggak jelas. Kalau kamu mau tau keberadaan aku, setidaknya kasih tau aku, kalo aku boleh hubungin kamu buat kasih kabar. Aku hanya takut nanti itu akan ganggu kamu waktu aku telpon kamu." ujar Juno. Yang membuat Amora terdiam sesaat dia menoleh pada Juno dia mencoba menangkap arah pembicaraan Juno, sesaat lalu ia kembali tersenyum sinis.


"Owh, aku pikir kamu sedang asyik berdua dengan asisten kamu sampe lupa sama aku," sudut Amora balik. Juno tersenyum penuh arti.


"Sinta? Kenapa dia? Aku sama dia itu teman sejak kecil dan juga rekan kerja aku. Sudah lama kami sama-sama dan dia juga banyak bantu keluarga aku, terutama buat jagain nenek. Hanya dia tempat aku bisa mengadu dan mintak tolong jagain nenek, karena kalo aku mintak itu sama kamu, kamu pasti nolak, kan?" ujar Juno seraya menatap Amora dengan senyum kecut. Amora hanya menatap Juno sekilas lalu kembali membuang muka. "Karena itu aku dekat sama dia dan nggak lebih dari itu. Dia itu satu-satunya orang yang bisa aku jadikan saudara sekaligus sahabat. Emang siapa lagi yang aku punya selain dia, yang mau dengerin aku dan bantu aku," ujar Juno mulai terdengar agak sarkas dan tajam membuat Amora sedikit kaget.


"Bukan berarti nggak punya perasaan, kan?" selidik Amora menyudutkan. Juno berbalik dan menatap Amora.


"Mana aku tau, mungkin saja cinta mulai tumbuh sekarang saat kamu sama aku udah nikah. Cinta kan nggak bisa di tebak kapan kehadirannya. Karena saat aku di rumah nenek kamu kemarin, dia selalu mepet kamu seolah ingin perang sama aku. Dia siapin makan buat kamu padahal aku ada disana, dia terus dekat-dekat sama kamu. Itu apa namanya? Dia cemburu sama kita," ujar Amora lagi mulai terlihat menantang.

__ADS_1


"Itu perasaan kamu saja. Lagian kamu juga nggak mau ngelayanin aku. Karena itu juga dia yang bantu aku, karena kamu juga kelihatan nggak peduli sama aku. Kamu anggap aku nggak ada, karena itu dia coba buat kamu sadar aku ini siapa nya kamu, mungkin kan itu yang ada di pikirannya Sinta! Lihat! Orang lain saja bisa lihat betapa acuhnya kamu sama aku." ucapan Juno seolah menyadarkan Amora bahwa Juno mulai merasa lelah. "Kamu bahkan telponan sama Horner mantan pacar kamu saat aku ada dan mengunjunginya ke tempat kerja aku tanpa nemuin aku padahal kamu udah datang. Itu menandakan kalo kamu nggak anggap keberadaan aku," ujar Juno membuat Amora terdiam, ternyata Juno melihat semuanya. "Jangan salahkan orang lain kalau kamu sendiri berulah. Aku berjuang sendirian dalam hubungan ini," ujar Juno lagi "Hah, sudah lah aku capek. Beberapa hari aku lembur, aku butuh istirahat. Jangan tumpahin kekesalan pertengkaran kamu sama Horner sama aku," ucap Juno lagi seraya pergi meninggalkan Amora yang masih terpaku.


"Aku iri dengan dia, dia bisa dapatkan perhatian kamu tanpa harus berjuang kayak aku. Tanpa harus tersiksa kayak aku. Bahkan kamu masih mengharapkan dia di saat dia sudah melepaskan kamu dan akan kembali bersama wanita lain," ujar Juno lirih. "Apa rasanya di cintai sebegitu besar oleh kamu, Amora?" ucap Juno dalam. Amora tercekat mendengarnya. Dia seolah kehilangan kata-katanya sekarang.


Amora baru sadar, dia salah jika menilai Juno tanpa emosi, Juno juga merasakan emosinya mungkin yang ia lakukan selama ini adalah menyembunyikannya dengan sikap acuh dan iseng. Amora menatap kepergian Juno yang langsung ke ranjang tempat tidur mereka dengan posisi membelakangi Amora.


Mungkin rasa lelah Juno juga membuat Juno jadi tidak bisa lagi menyaring ucapannya lagi, dia langsung mengutarakan apa yang ia rasakan tanpa perduli lagi dengan perasaan Amora.


Amora masih terpaku menatap Juno yang terus mencoba menguasai emosinya. Tanpa Juno sadari, Amora pun meneteskan air matanya. Entah kenapa dia merasa sangat tersayat mendengar ucapan Juno barusan.

__ADS_1


'Bagaimana rasanya di cintai tanpa harus berjuang, Amora? Aku iri dengannya' kata-kata ini terngiang di benak Amora.


BERSAMBUNG...


__ADS_2