Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Penggoda


__ADS_3

Setelah seharian mereka bersenang-senang, sekarang waktunya mereka beristirahat. Karena malam sudah menjelang. Berkebun dan mengolah hasil panen mereka bersama tadi cukup membuat mereka semua ingin segera tidur setelah makan malam. Semua pun tampak sudah menuju ke kamar masing-masing. Sinta yang menginap di sana juga, sudah tidur bersama nenek juno.


Sedangkan Amora dan Juno di kamar mereka berdua. Juno tampak sibuk dengan handphone nya di atas ranjang, sedangkan Amora sibuk di kamar mandi sedari tadi. Kamar mereka tampak gelap karena kebetulan lampu di kamar tersebut tengah rusak dan belum di perbaiki, jadi mereka hanya menggunakan penerangan lampu tidur yang temaram.


Kamar yang seluas 8X8 meter itu terkesan agak angker karena suasana yang kurang pencahayaan, apalagi dengan gorden putih polos dan pintu balkon yang terbuka membuat angin terus memainkan gorden putih jendela itu. Juno yang sudah terbiasa sama sekali tidak terganggu, tapi Amora yang baru keluar dari kamar mandi langsung berlari menutupnya. Membuat Juno kaget dan dengan tatapan aneh dia menatap Amora.


"Nyeremin, kayak film horor. Besok kamu benerin ya lampunya. Rumah ini itu kesannya aja udah angker banget, di tambah lagi ini pakek acara bola lampu putus nggak di benerin cepet. Kalo malamkan jadinya horor," ujar Amora bergidik.


Juno hanya tersenyum tidak banyak respon. Sekarang yang membuat Juno terkesiap adalah lingerie yang tengah Amora kenakan. Lingerie merah yang seolah sengaja Amora kenakan untuk menggodanya. Itu membuat Juno cepat bereaksi.


Dia segera meminggirkan handphone nya dan berganti menatap Amora dengan senyuman nakalnya seraya bersedekap dada. Amora yang menyadari itu, langsung merasa risih. Dia berusaha menutupi tubuhnya yang nyaris terlihat tak mengenakan apapun karena lingerie yang ia kenakan sangat transparan.


Juno terus menatapnya dengan mata nakal dan liarnya. Amora menggigit bibir bawahnya karena menahan malu. Ini pertama kalinya ia bersikap begitu menggoda di hadapan Juno. Dan itu membuat dia merasa sangat canggung.


"Wow!" gumam Juno dengan mata terbelalak dan bangkit dari ranjangnya.

__ADS_1


Amora yang malu berniat akan mengganti pakaiannya dan berniat berlari menuju ke kamar mandi lagi tapi segera di cegat Juno yang langsung menariknya hingga ke dekapannya. Ia menatap wajah cantik itu dan menyisipkan kepinggir rambut Amora yang menutupi wajah cantiknya itu.


Amora terkungkung di pelukan Juno sekarang, ia terpaku seketika tak tau harus berbuat apa. Ia tidak bisa menghindar lagi saat wajah mereka semakin dekat dan Juno terus menarik tubuh Amora semakin mendekat hingga tak berjarak lagi. Ia melilitkan tangannya di pinggang ramping Amora dengan mata yang terus menatap tajam mata istri cantiknya itu. Karuan saja itu membuat nafas Amora semakin memburu menahan debaran jantungnya yang tak menentu dan gejolak hasratnya yang entah kenapa semakin tak tertahankan.


Juno mengangkat dagu tirus itu hingga wajah mereka sejajar. Hidung mancung keduanya nyaris bersentuhan karena sangking dekatnya. Amora ingin menolak malu, tapi ia tak bisa berbohong bahwa ia juga menginginkan hal lebih. Hingga ia hanya bisa pasrah sekarang dengan apa yang akan Juno lakukan padanya. Juno perlahan semakin mendekat dan mengecup bibir itu lembut dengan ku**man kecil yang semakin membakar hasrat mereka semakin memanas.


"Kenapa harus menggodaku? Tanpa kamu goda pun aku dengan suka rela akan melakukannya setiap malam denganmu," bisik Juno pada telinga Amora. Membuat wajah Amora semakin memerah.


"In-ini ... Kado dari salah seorang tamu undangan. Jadi aku coba pakek tadi. In-ini juga mau aku lepas dan ganti, kok. Sebab terlalu tipis," tutur Amora gugup.


Juno mengangkat Amora perlahan keranjang, dan mulai membuka pakaiannya juga hingga tak menyisakan apapun lagi. Suasana remang menambah kesan romantis yang dalam diantara mereka. Membawa mereka semakin dalam lagi ke suasana yang menggairahkan.


Juno perlahan mulai mencumbui istrinya selayaknya suami istri di ranjang itu. Amora menikmati setiap sentuhan tanpa batas itu dengan penuh gairah yang membara di sekujur tubuhnya yang terasa semakin panas.


Setiap sentuhan itu seperti membawa dia ke surgawi dunia. Entah kenapa dia selalu menikmati ini sebagai candunya. Entah Juno lakukan dengan paksa seperti saat di Swiss atau seperti saat ini, bagi Amora itu selalu membawa kesan yang dalam baginya. Ia menikmati setiap sentuhan itu dan selalu merindukannya.

__ADS_1


Setiap kali Juno tak hadir di malamnya karena tugas, Amora tak pernah lelap di tidurnya. Dia merindukan sentuhan laki-laki ini setiap malam di ranjangnya. Dan kini ia tidak perlu menyembunyikannya lagi, ia bisa ungkapkan itu.


Leng*hannya sekarang tak lagi tertahan seperti dulu, ia bisa keluarkan semua yang ia rasakan sekarang. Ia bisa lihat dengan jelas bagaimana Juno saat menjamahnya tanpa malu lagi. Ia bisa menyentuh wajah yang penuh hasrat itu tanpa takut lagi. Ia bisa rasakan setiap kehangatan itu tanpa ada perasaan yang ingin ia sembunyikan.


Tak terasa mereka mulai sampai pada puncak permainan mereka. Ia merasakan itu sekarang, sesuatu yang sangat ia tunggu dari permainan ini secara bersamaan. Ia tak sanggup lagi menahannya, begitu pula Juno. Sesaat mereka benar-benar seperti di bawa terbang ke awang-awang. Hinga nafas mereka seperti terhenti sesaat.


Dan akhirnya mereka benar-benar menuntaskannya dengan penuh kepuasan. Juno menatap wajah Amora yang sayu, dia mengecup lembut bibir merah itu lalu beralih pada keningnya. Ia mengatur nafasnya sesaat sebelum ia mengakhirinya. Ia terbaring di samping Amora. Amora menatapnya, dan mereka saling pandang untuk sesaat.


Amora menatap Juno yang masih mengatur nafasnya, Juno balik menatap Amora yang di sambut senyum keduanya tanpa sepatah katapun. Juno menggenggam tangan Amora dan mencium tangan istrinya itu. Membuat Amora merasa menjadi wanita paling spesial saat ini.


Hinga akhirnya Juno segera mencari pakaiannya untuk ke kamar mandi. Setelah mendapatkan nya, ia pun mengenakannya dan segera melangkah ke kamar mandi. Amora masih menatap kepergian Juno dengan tatapan enggan untuk lepas meski sesaat, ia masih ingin bersama dan memeluk lelaki tampan itu.


"Jun!" seru Amora manja. Juno pun menoleh.


"Jangan lama-lama, aku takut," seru Amora yang masih di ranjang. Juno hanya tersenyum seraya masuk ke kamar mandi, sedangkan Amora terus celingak-celingukan seraya meraih beberapa helai tisu di atas nakas samping tempat tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2