Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Sikap Tak Menyenangkam


__ADS_3

Setelah selesai makan siang, Amora dan Juno pun bersiap akan kembali ke kediaman Amora lagi, karena besok Juno sudah harus bertugas kembali. Juno tampak sibuk berberes-beres, sedangkan Amora tampak santai berbaring di ranjang dengan kaki yang menjuntai ke lantai.


"Di sini jauh lebih nyenengin dari pada di rumah. Nggak ada yang bisa aku ajak main kalo kamu nggak ada. Kenapa kita nggak tinggal di sini aja, Jun?" gumam Amora.


"Mama kamu nggak akan ngizinin kita tinggal di sini. Dia akan sendirian di rumah," ujar Juno yang baru selesai berberes-beres dan langsung duduk di samping istrinya itu.


"Di rumah banyak pelayan, ada juga Ros. Walau resek suka ngadu tapi dia enak buat diajak ngobrol, walau nggak bisa diajak bercanda. Habis dia serius terus, pantasan dia jadi perawan tua," ujar Amora yang membuat Juno terkekeh. Amora membalik tubuhnya dan memeluk Juno yang tengah tiduran di sampingnya.


"Jun!"


"Hmmm...!"


"Ngelahirin sakit nggak?" tanya Amora tiba-tiba. Juno pun menatap Amora.


"Bayi sebesar itu keluar dari rahim, pasti sakit, kan?" tanya Amora lugu.


"Nggak usah mikirin itu, nanti kamu bisa-bisa takut buat ngelahirin lagi. Aku kan ada, nanti kalo udah waktunya aku akan ada di samping kamu. Aku janji!" janji Juno membuat Amora tersenyum dan memeluk Juno lebih erat lagi.


"Akhirnya aku benar-benar jadi kucing kamu, ya!" ujar Amora membuat Juno tertawa keras.


"Kok kucing, sih? Bukan nya biri-biri?" goda Juno.


"Aku kan udah rajin mandi, masak masih jadi biri-biri juga," tukas Amora lucu. Membuat Juno tertawa.


***


Selesai berpamitan kepada nenek, mereka pun kembali pulang ke kediaman Amora.

__ADS_1


Saat sampai mereka di sambut oleh pelayan yang membawa bawaan mereka berupa buah-buahan yang Amora panen dari kebun kemarin.


Dari lantai atas tampak ibu Amora bersama Ros tengah memperhatikan kepulangan Juno dan Amora.


"Mereka itu baru pulang dari berkunjung ke rumah nenek Juno atau kampung, sih?" gumam ibu Amora yang tampak tak suka melihat Amora membawa buahan hasil panennya. Ros hanya diam mendengarkan tanpa berkomentar.


***


Dona ibunda Amora segera keluar menyambut kedatangan putrinya, ia mengambil bawaan Amora dan memberikannya kepada pelayan dengan expresi tidak sukanya.


"Sayang, kamu kenapa bawak-bawak gituan segala pulang? Apa di rumah kita kekurangan buahan? Kita punya semua di rumah, sayang," ungkap ibu Amora yang membuat Juno terdiam dengan expresi tidak enak hati.


"Itu aku yang panen, Mah. Bukan masalah mampu atau nggaknya buat beli, tapi karena aku kemaren panen sendiri," terang Amora tidak suka dengan sikap ibunya.


"Apa? Kamu ke kebun? Ke semak belukar gitu?" seru ibunya kaget. "Beraninya kamu ajak anak saya sampe kesemak-semak gitu? Saya jagain anak saya itu extra hati-hati, ke salon setiap hari, bisa-bisanya kamu ajak dia ke semak-semak gitu. Lain kali jangan bawa Amora lagi ke tempat kamu kalo sekedar mau merusak anak saya saja," tuding ibu Amora kepada Juno yang terlihat terdiam dan kaget.


"Ayo Juno, lebih baik kita ke kamar saja." Amora menyeret tangan Juno menuju kamar. Itu membuat keadaan terbalik, kini ibu Amora lah yang kaget dan shock.


Sedangkan Juno dan Amora sudah berlalu menuju kamar mereka.


***


Malamnya ibu Amora menceritakan perihal Amora yang kelayapan di kebun bersama Juno dan membawa buah. Dia mulai memprokasi suaminya untuk tak menyukai Juno.


"Dia itu sebenarnya tau nggak sih kalo Amora itu perawatannya mahal? Nggak sanggup dia biaya-in biaya salon Amora, eh malah di bawak ke kebun sama dia Amora, Pah. Badan Amora penuh kena gigitan nyamuk. Kesel Mama lihatnya," adu Dona. Kevin yang fokus ke laporannya mulai menatap istrinya serius.


"Mama kenapa, sih? Itu kehidupan mereka, mereka sudah dewasa dan sudah menikah. Biarkan mereka melakukan apapun yang mereka suka. Mama jangan terlalu ikut campur. Biarkan mereka menentukan sendiri pilihan hidup mereka," tegur Kevin.

__ADS_1


"Papa nggak suka Mama bersikap seolah terus mencari kesalahan Juno. Papa juga dengar kalau Mama bahkan larang dia buat makan malam. Kata para pelayan Mama sembunyikan makan malam buat Juno sampe dia hanya bisa makan telor ceplok pakek kecap. Apa Mama nggak malu kalau sampai neneknya tahu perbuatan Mama itu? Mah, cobalah hargai dia sebagai suaminya Amora. Amora saja menerima nya dengan baik sekarang, eh, malah Mama yang bertingkah sekarang," Kevin mulai merasa jengah dengan istrinya yang terlihat sulit menerima Juno itu.


"Apa sih yang Papa lihat dari Juno itu? Dia itu hanya dokter umum yang masih muda, gaji dia nggak lebih dari 10 juta satu bulan, di tambah dengan penghasilan lainnya dia dari rumah sakit pun nggak nyampe 20 jutaan, Pah. Seharusnya Amora itu bisa nikah sama laki-laki yang jauh lebih mapan dari Juno, tapi papa malah pilih dia dengan alasan hotel dan restoran. Pah, kita itu tidak butuh hotel dan restoran itu lagi, bisnis kita juga besar, bahkan jauh lebih besar dari hotel dan restoran milik keluarga Juno." Dona mulai berani mengungkapkan ketidak sukaannya terhadap Juno. Kevin pun melepaskan kacamatanya dan menatap istrinya.


"Mah, Juno itu anak tunggal dan pewaris tunggal dan dia juga anak sahabat karib papah dari zaman SMA dulu. Dia itu anak Jefri sahabat papah, Jefri itu sudah seperti saudara buat papah. Papah tidak akan tega kalau sampai anak tunggalnya itu menikahi orang yang salah. Lebih baik dia sama kita dan kita rawat dia bersama Amora juga. Lagian papah kenal Juno itu dari kecil. Juno itu anak yang jujur, tulus dan ikhlas. Dan yang terpenting, dia sangat mencintai Amora." ujar Kevin.


"Dia itu laki-laki, Pah. Dia bisa urus hidup dia. Kalau perempuan mungkin kita perlu khawatir. Lagian Papa itu kayak ngorbanin anak sendiri demi perasaan Papa itu," tukas istrinya lagi.


"Sudah lah, Mah. Yang jelas Papa tidak suka kalau Mama bersikap tidak menghargai Juno lagi. Kalau sampai Papa dapat laporan lagi Mama bersikap buruk sama Juno, Papa tidak akan tinggal diam. Ingat itu," ancam Kevin dan segera melanjutkan pekerjaannya kembali.


Sedangkan Dona tampak belum bisa terima, tapi dia juga tidak berani untuk membantah lagi. Akhirnya, ia pun meninggalkan suaminya itu di ruang kerjanya dan berjalan menuju kamarnya dengan perasaan kesal.


"Apa yang di lihat Kevin, sih dari putranya Hanna itu? Dia itu hanya tampan saja, tapi tidak mapan. Sungguh bukan lelaki yang bisa diandalkan," sungut Dona sendiri di kamarnya di depan meja riasnya.


***


Di kamar Juno tengah duduk bersandar di ranjang. Amora tampak sibuk dengan pakaian kotor mereka yang belum di cuci dari tempat nenek Juno kemaren. Amora terus memilah-milah nya.


"Jun!" panggil Amora yang membuat Juno tersadar dari lamunannya. Ia menoleh pada Amora.


"Ada lagi baju kamu yang kotor?" tanya Amora. Juno pun menggeleng dan Amora pun segera meletakkan keranjang tersebut di pinggir untuk di ambil para pelayan besok.


Setelah itu ia pun menghampiri Juno, Juno menyambutnya dengan senyum. Amora masuk kedalam dekapan suaminya itu seraya bersandar di dada Juno. Ia menatap wajah Juno, Juno pun tersenyum tipis. Amora menyentuh mata indah itu, mata itu terlihat menyimpan sesuatu yang tengah ia pikirkan.


"Kamu mikirin apa?" tanya Amora lembut. Juno hanya menggeleng pelan.


"Aku ngantuk, pengen tidur," ujar Juno dengan seulas senyum. Lalu ia pun segera berbaring dan tidur membelakangi Amora. Amora pun juga ikut berbaring ia menyentuh punggung Juno perlahan mendekat dan memeluknya. Tampak Juno yang belum tertidur. Dia masih terjaga dengan sorot mata kosong. Seperti ada sesuatu yang tengah ia pikirkan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2