
Cuaca cukup buruk hingga mau tidak mau mereka terpaksa melakukan transit di sebuah bandara secara darurat. Juno dan Amora pun memilih untuk beristirahat di salah satu bangku di bandara tersebut. Juno yang kehausan pergi meninggalkan Amora untuk membeli minuman sebentar. Amora memperhatikan Juno yang melangkah santai kearahnya dengan wajah sedikit pucat dan 2 kaleng minuman ringan ditanganya, mungkin karena dia masih terluka membuat dia kesakitan dari tadi.
Dia duduk di samping Amora dan meletakkan minuman di samping Amora, Amora pun mengambil dan meminumnya tanpa komando. Sesaat Amora ingat sesuatu. Ia pun tersenyum penuh arti.
"Kamu tau nggak?" tutur Amora mulai terlihat iseng. Juno pun menoleh pada Amora sekilas lalu ia kembali bersandar pada bangkunya.
"Apa?" ucap Juno datar. Dia masih malas untuk ribut sekarang karena keadaannya yang tidak baik-baik saja.
"Waktu kamu pingsan itu kan kamu nggak pakek apa-apa, nah aku panik, aku panggil lah warga sekitar" lanjut Amora kali ini membuat Juno tertarik dan menatap Amora serius dengan perasaan dag dig dug. "Kamu tau nggak, mereka semua ke kamar rame banget waktu itu. Dan ... Kamu dalam keadaan t*lanj*Ng," seru Amora seraya membulatkan matanya dengan menahan tawa, membuat Juno hampir tersedak, Amora berusaha menahan tawanya. "Aku kan juga butuh bantuan dan mereka datang semua masuk kamar, aku nggak bisa cegah. Jadi ... Warga di sana itu pada liat semua kamu dalam keadaan nggak pakek baju. Seharusnya waktu itu kamu liat expresi mereka. Mereka semua pada ledekin kamu. Mereka bilang punya kamu itu kecil banget, dan kelihatan nggak sehat dan mereka pada gunjungin punya kamu semua," tutur Amora yang sontak membuat wajah Juno merah padam karena malu. Juno terdiam seraya menenggak semua minumannya hingga habis dan meremas kaleng bekas minumannya hingga remuk. Amora pun mulai merasa takut jika Juno akan marah. Juno tampak berpikir sejenak, lalu ia pun tersenyum menatap Amora.
"Emang kamu bisa bahasa Swiss? Dari mana kamu tau bahasa mereka?" selidik Juno mulai meragukan pernyataan Amora.
"Bisa ... dikit-dikit ... Nggak percaya ya udah," ucap Amora yang tampak kesal karena usahanya mengerjai Juno tampaknya ketahuan.
"Emang bener mereka semua liat aku waktu itu dalam keadaan kayak gitu?" tanya Juno lagi mencoba memastikan dan berusaha mencari makna dari sorot mata indah Amora.
__ADS_1
"Hmmm ... " gumam Amora mengangguk tanpa menoleh meyakinkan seraya menenggak minumannya, Juno tampak berpikir, dia tidak boleh terpancing, Amora kelihatannya sengaja lakukan itu agar Juno malu dan marah untuk membalasnya.
"Ya udah, nggak papa," jawab Juno santai berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Membuat Amora kaget dengan reaksinya itu. "Lagian bagi aku itu udah biasa, aku udah sering liat tubuh manusia dalam berbagai macam bentuk, jadi kalo sekarang mereka liat aku juga dalam keadaan kayak gitu, ya B aja buat aku," ucap Juno santai.
"Yaudah. Aku cuman kasih tau doank, kok," tukas Amora dengan wajah yang ia tekuk karena gagak mempengaruhi Juno.
Amora hanya mendengus kesal mendengarnya. Walau jauh di dalam hati Juno ikut merutuk kejadian tersebut, hanya saja dia tidak ingin Amora mengetahuinya.
Tidak lama kemudian terdengar panggilan untuk mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka, mereka menuju ke pesawat mereka lagi. Kali ini Amora tak membuat drama menjauh lagi, sebab dia sudah kapok saat bertemu penumpang mesum tadi.
***
Sedangkan Amora sudah berlari terlebih dahulu menghampiri ayah dan ibunya. Dia membuang begitu saja koper miliknya, Juno yang melihat itu mau tidak mau terpaksa menyeret membawa 2 koper sekaligus, sebab dia akan bersikap baik pada Amora jika ada orang tuanya. Juno masih malu dan sungkan jika berhadapan dengan orang tua Amora. Terutama ibunya.
Ibu Amora masih tidak terlalu menyukai Juno, karena keluarga Juno tidak lah sehebat keluarga Amora yang kaya raya. Bahkan biaya sekolah kedokteran Juno pun sering di bantu oleh keluarga Amora. Itu yang membuat ibu Amora memandang Juno tidak lah sepadan dengan putrinya yang cantik jelita dan berpendidikan tinggi.
Hanya ayah Amora yang bersikeras atas perjodohan ini. Dia sangat tertarik dengan pribadi Juno yang sederhana dan tidak neko-neko. Apalagi sosok Juno yang sangat menyayangi neneknya. Itu membuat ayah Amora sangat yakin menjodohkan putri tunggalnya dengan Juno. Dia yakin sekali Juno juga sosok yang bisa bertanggungjawab atas putrinya.
__ADS_1
Sedangkan ibu Amora tidak menyukai Juno karena masih melihat seseorang dari bibit, bebet dan bobot. Sementara Juno hanya dokter muda yang baginya berpenghasilan masih cukup kecil untuk ukuran seorang Amora yang bisa menghabiskan ratusan juta sekali belanja. Penghasilan Juno yang hanya beberapa puluh juta tidak akan mungkin bisa memenuhi kebutuhan anaknya Amora.
"Apa sih yang papa lihat dari laki-laki bau kencur ini?" bisik ibu Amora kepada suaminya.
"Kamu tidak lihat, dia itu sangat tampan, cocok dengan Amoraku yang manis dan manja. Apalagi mereka juga sudah kenal dekat dari kecil. Kamu tidak tau kan dengan menikahkan mereka berdua itu artinya hotel itu akan menjadi milik keluarga kita seutuhnya. Juno kan pewaris saham dari hotel dan restoran kita juga," terang ayah Amora dengan pandangannya tetap fokus pada kedatangan Amora dan Juno yang tengah menyeret 2 koper di belakang Amora, koper miliknya dan juga Amora.
Ibu Amora hanya bisa menekuk wajahnya saat melihat kedatangan Juno, dan tersenyum saat Amora memeluknya dan memeluk ayahnya juga, rasa rindunya terhadap kedua orang tuanya terbayar sudah sekarang. Sedangkan Juno hanya bersalaman pada kedua mertuanya itu dengan mencium punggung tangan mertuanya tersebut.
"Eh Juno kok kening kamu di perban?" tanya ayah Amora yang sontak membuat Amora dan Juno kaget.
"Oh, ini ... Ini ... Aku keseruduk biri-biri domba waktu di Swiss, Pah," ujar Juno melirik usil pada Amora. Amora tampak sangat kesal mendengar itu, tapi dia tidak bisa menunjukkan kekesalannya sekarang. Dia takut ayahnya akan tau apa yang sebenarnya terjadi, tentu ayahnya akan membela Juno seperti yang sudah-sudah seandainya ayahnya tau yang sebenarnya. Setiap kali mereka ribut, biasanya ayah Amora akan lebih memilih untuk memihak Juno daripada Amora anak kandungnya.
"Bukan karena kalian berdua ribut, kan?" curiga ayah Amora membuat keduanya terdiam.
"Nggak kok, Pah," ujar Juno ragu. Ibu Amora hanya diam memperhatikan Juno dengan tatapan dingin. Dia tidak suka dengan sikap ayah Amora yang selalu membela Juno daripada anaknya sendiri.
"Ya sudah lah, Pah. Kita pulang aja yuk," ajak ibu Amora dingin sambil menggandeng putrinya. Amora pun mengikuti langkah ibunya dan di ikuti yang lain.
Ayah Amora tampak akrab mengobrol bersama Juno sambil berjalan santai menuju mobil mereka di parkiran, dia menanyakan tentang kasus perampokan yang menimpa mereka dan cerita mereka selama di Swiss. Amora dengan semangat ikut menceritakannya dengan gaya berlebihannya dan Juno hanya tersenyum melihatnya.
__ADS_1
Sedangkan ibu Amora terlihat sangat dingin sejak kedatangan mereka tadi. Hingga mereka sampai di dalam mobil pun dia masih tampak dingin tanpa senyum kepada Juno sama sekali. Membuat Juno menjadi merasa canggung dan kikuk.