Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Perang Di Mulai


__ADS_3

Setelah mengobrol beberapa saat Amora dan Sinta pun keluar kamar nenek Juno yang kelihatannya beliau mulai lelah dan ingin beristirahat. Mereka berdua pun meninggalkan nenek di kamar dengan berjalan agak pelan takut membangunkan beliau yang baru saja tertidur tersebut. Amora menutup pintu kamar dengan sangat hati-hati. Setelah itu ia pun pergi dengan tenang mengekori Sinta yang langsung membantu Darsih di dapur. Sedangkan Amora yang tidak bisa apa-apa hanya diam menjadi penonton.


Sinta kelihatannya seharian ini memang bertugas menjaga nenek Juno di rumah dan ia juga tampak sudah sangat akrab dengan suasana rumah ini. Itu tampak dari cara dia yang kelihatannya hapal betul dengan kebiasaan yang ada di rumah ini dan tata letak barang-barang yang ada di rumah. Amora memperhatikan Sinta yang begitu telaten dalam membantu mengurusi semuanya, dan pembantu melakukan segala hal sesuai petunjuknya.


Jengah hanya jadi penonton Sinta, Amora pun beranjak pergi. Ia mulai mengitari rumah besar yang tampak sepi ini. Beberapa sudut rumah terkesan sudah lama tidak di kunjungi, ada beberapa barang yang tertumpuk di sudut rumah dan sebagian di tutupi kain putih polos.


Amora berjalan lagi hingga sampai lah ia di sebuah aula besar yang tampaknya sering di gunakan sebagai tempat pesta atau pun acara-acara besar lainnya. Ada juga piano di salah satu sudutnya dengan lampu gantung yang mewah dan pilar-pilar besar penyangga ruangan yang memberi kesan elegan yang sangat kentara.



Hawa dingin dan seram dari sudut rumah yang kelam membuat Amora sedikit bergidik. Apalagi mengingat 5 anggota keluarga Juno tewas dalam kecelakaan. Itu membuat Amora semakin bergidik. Dia seolah berhalusinasi merasakan sesuatu mungkin sekarang tengah mengintainya di sudut ruangan gelap itu. Mungkin saja arwah keluarga Juno sekarang tengah mengintainya, karena dia sering membuat Juno terluka selama ini.


Sebelum pikiran liarnya menjadi-jadi Amora pun segera meninggalkan ruang gelap tersebut. Amora terus berjalan mengitari rumah besar yang tampak sepi dan klasik itu.


Hingga sampai lah ia di halaman belakang rumah. Di sana ada kolam renang besar yang sudah tidak terpakai lagi. Sudah banyak dedaunan yang memenuhi isi kolam dengan ranting pohon yang berjatuhan di dalamnya, airnya pun sudah berwarna hijau karena di penuhi lumut.

__ADS_1


Amora kembali melanjutkan perjalanannya semakin keluar, hingga sampai lah ia di sebuah kebun. Kelihatannya sebagian besar halaman rumah ini di manfaatkan menjadi kebun buah dan sayur. Ada rambutan, mangga, lengkeng dan pisang di sudut halaman, juga pohon kelapa. Semua tampak subur terawat. Ada juga kebun sayur kecil di sana, sepertinya itu sering di manfaatkan untuk keperluan keluarga. Ada berbagai macam jenis sayuran yang di tanam.



Sesaat Amora merasa sangat nyaman dengan suasana kebun ini. Memberi hawa sejuk dan segar. Angin sepoi-sepoi yang berhembus membuat rambutnya yang ikal dan panjang itu tertiup angin hingga menutupi sebagian wajah cantiknya. Ia pun menyeka rambutnya hingga kebelakang telinga.


kini sampai lah ia di bagian paling belakang rumah. Ia melihat sebuah taman di halaman belakang rumah nenek Juno yang luas, taman itu juga terhubung ke halaman depan rumah sehingga bisa melihat kedatangan seseorang dari sana. Di sana juga ada sebuah bangku panjang yang tepatnya berada di bawah pohon besar. Di sana cukup terawat dan bersih, mungkin juga menjadi tempat favorit penghuni rumah ini.


Amora berjalan berlahan ke sana, ada banyak bunga-bunga yang menghiasi taman atau juga kebun kecil itu sepanjang perjalanannya menuju ayunan. Amora menyentuh bunga-bunga cantik itu dengan ujung jarinya yang merentang. Di sana di tanami berbagai macam tanaman hingga menambah kesan segar dan cantik.


Dari kejauhan Amora melihat kedatangan Sinta yang kelihatannya akan menghampirinya. Gadis itu tampak nya baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Hingga dia bisa santai sekarang. Dia terus berjalan mendekati Amora. Amora melihat kedatangannya sekilas lalu kembali fokus dengan handphonenya sambil berayun-ayun di ayunan tersebut.


Ternyata benar, dia memang ingin menghampiri Amora. Dia duduk di kursi panjang yang tidak jauh dari posisi Amora. Dia melirik Amora dan menarik nafas panjang sebelum mulai bicara.


"Kamu sudah lama kenal Juno?" tanya Amora memecahkan kebisuan diantara mereka. Padahal baru saja Sinta akan mulai bicara, tapi Amora sudah mendahuluinya.

__ADS_1


"Iya, kami berteman sejak kecil. Dan saat ini aku juga bekerja di rumah sakit di tepat Juno bekerja. Aku menjadi asisten Juno di tempat prakteknya saat ini. Rencananya kami akan membuka tempat praktek di rumah dinas rumah sakit. Jadi setiap setelah magrib sampai jam 10 kami akan buka praktek bersama. Kami selalu bersama sejak kecil. Juno itu lelaki penyayang dan sabar. Dia juga pinter, kalau di sekolah dulu dia menjadi idola banyak perempuan. Karena dia baik dan pintar. Kasihan Juno, waktu SMP dia sempat terkena musibah besar, keluarganya mengalami kecelakaan yang menewaskan keluarganya. Dia sempat depresi dan berbulan-bulan dia kayak nggak mau lanjut hidupnya dia. Tapi setelah kita semua berjuang dan aku sendiri nggak pernah ninggalin dia buat yakinin dia kalo dia nggak sendirian, dia pelan-pelan balik lagi ceria. Dan akhirnya dia ketemu ayah kamu yang ambil alih hotel keluarga dan usaha keluarga dia hingga dia jadi dokter kayak sekarang," terang Sinta panjang lebar.


"Aku harap kamu bisa jagain Juno dengan baik, ya. Di balik sikap ramahnya dia, dia menyimpan ketakutan besar dalam dirinya. Dia takut di tinggal, dia selalu protect orang-orang tersayangnya. Jangan kamu sakitin dia, kalo kamu sampe sakitin dia, aku pastiin aku akan rebut Juno dari kamu dengan berbagai cara," ujar Sinta lagi penuh dengan penekanan seperti sebuah ancaman pada Amora.


Sinta memang selalu begitu terhadap orang-orang yang baru di hidup Juno, apalagi ini Amora. Wanita yang sudah lama ingin di temui-nya. Dan ingin di ajaknya bicara.


"Oh, jadi kamu yang di omongin suster di rumah sakit waktu itu. Mereka bilang kamu selalu cemburu dengan orang-orang yang dekati Juno," ujar Amora yang membuat Sinta terdiam. Amora ingat tentang asisten Juno yang perawat muda itu sebut sangat galak. "Oh, ya. Saat kecil Papa pernah Bawak Juno pulang ke rumah dan kami tinggal bersama. Walau hanya beberapa bulan," kenang Amora masih bermain ayunan. Sinta sudah mengetahui itu, jika Amora dan Juno saat kecil pernah tinggal bersama. "Kenapa? Kamu suka Juno sejak kecil? Kalo kamu suka, kamu bisa bilang sama dia. Itu dia baru pulang. Nggak usah ancam aku. Yang jatuh cinta itu Juno, Juno yang jatuh cinta sama aku sejak kecil," ujar Amora tak kalah menantang dengan senyuman sinis yang tersungging dari bibirnya lalu ia pun berlalu meninggalkan Sinta.


Sinta menatap tajam kepergian Amora dengan meremas tangannya menahan emosi di dadanya. Ternyata Amora bukanlah wanita lugu yang lemah, dia cukup berani dan arogan. Baru beberapa saat mereka bicara saja dia sudah bisa menjawab Sinta dengan gaya sinis dan berani.


'Ternyata kau wanita ****** yang mengusirku waktu itu,' kenang Amora pada masa kecilnya yang tiba-tiba kembali terbayang. Ia ingat betul dengan expresi ketus Sinta saat itu, Sinta kecil yang sangat sombong.


Amora terus melangkah menghampiri Juno dengan senyum penuh arti yang tersungging di bibirnya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2