Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Dalam Bahaya


__ADS_3

Juno duduk sambil berpikir di teras belakang rumahnya. Ia bersandar pada sandaran sofa dengan pikiran yang kalut tak menentu. Dia mulai memikirkan hubungannya dan Amora. Bagaimanapun dia sangat menyayangi istrinya itu. Dia hanya butuh waktu untuk memahami dan memaafkan ucapan Amora padanya.


Saat sedang menikmati ke sendirianya itu Juno tiba-tiba di kagetkan dengan sebuah pesan masuk. Dia melihat foto yang Amora kirim padanya. Foto Amora yang tengah memamerkan sebotol minuman dan tampak sudah cukup mabuk. Seketika Juno membelalakkan matanya kaget sekaligus panik.


"Dia lagi ngapain di sana?" seru Juno.


Dia segera mengambil kunci mobilnya. Dan menghidupkan aplikasi GPS nya untuk melacak keberadaan Amora saat ini. Setelah tau lokasinya Juno pun segera meluncur kesana.


Dia terus memacu mobilnya dengan cepat. Dia takut Amora yang tengah sendirian itu akan di apa-apakan oleh orang-orang tak bertanggung jawab di sana. Pikiran buruk Juno terus menghantuinya sepanjang perjalanan itu. Mengingat klub yang Amora kunjungi ini terkenal dengan biangnya masalah.


***


Setelah memarkirkan mobilnya. Juno pun segera masuk dan mulai mencari Amora. Menemukan Amora di tengah hiruk pikuk musik dengan pengunjung yang padat dan suasana yang temaram bukan kah hal yang mudah. Juno terus menyusuri tiap sudut klub itu untuk mencari sosok istrinya itu. Sesekali ia harus menghindari dan menolak rayuan wanita malam yang ada di sana.


Di sisi lain Amora tengah di kerubungi 3 laki-laki yang kelihatannya bukanlah laki-laki baik itu. Dia terus mendekati Amora yang cantik itu. Jarang-jarang mereka bisa menemui wanita secantik Amora datang ke klub sendirian. Tentu ini kesempatan yang bagus bagi mereka, apalagi Amora sudah mulai terlihat mabuk.



Mereka pun mulai aksinya mendekati Amora.


"Hai cantik? Kok sendirian, sih?" sapa salah satu diantara mereka. Amora tampak tidak peduli, dia masih sibuk dengan minumannya. Melihat Amora sudah sangat mabuk mereka pun mulai aksinya. Mereka mulai menyentuh paha mulus Amora. Amora yang masih menyisakan sedikit kesadaran itu. Segera menepisnya dengan marah.


"Eh, galak juga ternyata dia," ujarnya kepada ke dua sahabatnya itu dengan senyum penuh arti. Sedangkan dua laki-laki lain hanya tertawa.


"Sikat aja, bos. Mumpung lagi sendirian ini. Jarang-jarang ada cewek semulus ini sendirian. Biasanya banyak pawangnya, bos," bisik salah satu diantara mereka.


"Cepetan, ini pasti bukan cewek sembarangan," bisik yang lain lagi.

__ADS_1


Ia pun tersenyum licik seolah paham dengan maksud kedua sahabatnya yang juga melihat wanita secantik Amora seperti serigala kelaparan itu. Mereka terus menatap tubuh Amora dengan tatapan tak biasa tanpa Amora sadari karena dia tengah sibuk dengan pikiran dan permasalahannya bersama Juno. Dia tak menyadari jika bahaya tengah mengintainya.


Salah satu dari mereka pun segera meng-kode temannya untuk segera bereaksi. Saat Amora benar-benar sudah sangat mabuk. Kedua pria itu pun segera menarik tangan Amora dan bersiap menyeret Amora ke suatu tempat dengan Amora yang terus memberontak. Sedangkan yang lain tampak acuh seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka seolah tidak ingin terlibat dengan apa yang ke 3 berandalan itu lakukan.


***


Juno terus mencari sosok Amora. Berkali-kali dia mencoba menghubungi handphonenya. Tapi tetap tak diangkatnya. Juno semakin panik dan tidak tau harus bagaimana. Dia merasa firasat tidak enak, dia merasa sesuatu tengah terjadi pada Amora saat ini. Tapi, sialnya dia kesulitan menemukan Amora di tengah padatnya pengunjung klub ini. Apalagi suasana temaram ini membuat Juno kesulitan melihat tanpa kacamatanya.



"Kemana sih? Dia nggak tau apa ini tempat bahaya buat dia yang lagi sendirian!" ujar Juno mulai sangat khawatir. Dia terus menyusuri semua tempat itu. Dia menatap satu persatu pengunjung berharap bisa menemukan istrinya diantara mereka semua.


"Hai ganteng? Sendirian aja, nih?" goda wanita malam yang tiba-tiba mendekati Juno. Juno terus fokus mencari Amora itu dan tak menggubrisnya. Tapi, wanita itu tidak putus asa. Dia terus menggoda Juno yang lama-lama membuat Juno risih.


"Maaf," tolak Juno saat menepis tangan wanita itu ketika dia mulai menyentuh Juno. wanita itu pun segera menghentikan aksinya.


"Maaf, mbak," panggil Juno. Si wanita pun menoleh dengan senyum menggodanya. "Saya lagi cari istri saya," ujar Juno kembali memanggil wanita itu seraya menunjuk foto Amora. Wanita itu pun tersenyum. Dia melihat layar handphone Juno, Juno sangat berharap wanita ini tahu sesuatu karena perasaan Juno semakin khawatir saja rasanya.


"Oh, dia lagi di bawak Ferdi sama teman-temannya tadi. Mungkin mereka lagi senang-senang sama wanita ini sekarang," ujar si wanita tenang. Seketika darah Juno terasa naik dengan cepat dan jantungnya terasa berhenti berdetak.


"Barang bagus kayak gitu di tinggal sendirian mabuk mah santapan empuk sama orang sini, mas," ujar si wanita lagi kali ini seraya mengepulkan asap rokoknya. Juno semakin panik mendengarnya.


"Beri tahu saya, kemana mereka membawanya. Saya akan bayar kamu berapapun nanti," ucap Juno panik. Si wanita langsung tersenyum mendengar penawaran menarik Juno tersebut.


"Ok, tunggu. Kita harus bawak orang. Ferdi itu bajingan, harus keras kalo mau hadapin dia," ujarnya.


"Cepat, mbak. Istri saya bukan perempuan sembarangan," desak Juno semakin panik. Sedangkan si wanita segera memanggil teman-temannya dengan sebuah kode.

__ADS_1


"Kalo bukan cewek sembarangan jangan kesini donk, mas. Kita nggak jamin istri mas masih utuh, sebab mereka udah lumayan lama tadi bawaknya," ujarnya lagi seraya melangkah pergi menuju tempat tujuan mereka.


Juno langsung gemetar tangannya karena panik, dia merasa lemas tubuhnya.


"Jangan pingsan dulu, mas. Nanti istrinya benar-benar nggak bisa di selamatin, loh," tutur nya lagi dengan senyuman tersungging.


"Tuh mereka sudah datang. Cepetan, mas," ajak wanita itu lagi.


Juno pun bangkit dari kursinya. Dia mengikuti si wanita dengan nafas tak beraturan. Hingga sampailah mereka di sebuah ruangan seperti ruang karaoke. Juno ikut menggedornya dengan panik. Tepat saat seorang laki-laki keluar dari ruangan itu. Juno dengan tak sabar mendorongnya. Dan melihat Amora yang hampir tak mengenakan atasannya lagi walau masih tertutup dan berpakaian lengkap. Kancing pakaiannya sudah tampak longgar. Sepertinya Juno datang tepat waktu.


Juno dengan amarah yang memuncak. Menghajar ketiga lelaki itu dengan membabi buta. Saat mereka akan melawan 2 pria tegap yang menemani Juno tadi ikut membantu Juno menahan mereka, hingga Juno bisa melampiaskannya sampai puas. Ia sangat marah saat melihat Amora di lecehkan oleh ketiga lelaki ini, walau mereka belum sempat melakukan apapun pada Amora, namun tetap saja Juno merasa sangat murka atas perbuatan ketiga pria yang kelihatannya masih sepantaran mahasiswa ini.


Sesaat Juno melihat botol-botol minuman yang terenggak di atas meja. Juno mengambilnya dan bersiap akan menghantam pria itu dengan sebotol minuman, si wanita yang menemaninya tadi segera menahannya.



"Jangan, mas. Kalau ada yang mati nanti jadi masalah," cegah si wanita seraya mengambil botol tersebut dari tangan Juno.


Dia berusaha menahan Juno dan menenangkannya. Juno pun tersadar. Dan kembali ingat pada Amora. Dia segera menghampiri Amora yang tampak sudah tak sadarkan diri itu. Dia memeluknya erat dengan keadaan Juno yang bersimbah keringat dan nafas yang tersengal. Ia segera membenahi pakaian Amora yang sedikit tersingkap itu. Si wanita melihat betapa Juno sangat khawatir dan ketakutan pada istrinya itu. Ada segurat senyum tipis di wajahnya saat melihat perlakuan Juno pada Amora.


"Lain kali hati-hati kalau kesini, mas. Ini bukan tempat pemula. Kalo nggak tau aturan mainnya ya siap-siap jadi mangsa kayak gini. Untung istri mas belum sempat diapa-apain," ujar si pria kekar seraya menepuk bahu Juno. Sedangkan ketiga pria tadi sudah kabur entah kemana. Juno tidak perduli, dia hanya mengkhawatirkan Amora saja saat ini.


"Makasih, mas. Nanti saya akan bayar kalian semua. Terimakasih buat bantuan kalian, tadi," ujar Juno lagi setelah ia dapat menguasai emosinya. sedangkan ke 3 berandalan itu sudah pergi entah kemana, mereka tampak kalang kabut saat kabur saat mereka di lepaskan tadi, walau dalam keadaan kesakitan karena telah Juno hajar habis-habisan.


Ia kembali menatap istrinya itu dan mengangkatnya keluar ruangan yang di temani oleh ketiga orang tersebut. Juno segera membayar ke 3 pria bertubuh kekar besar wanita tersebut dalam jumlah yang besar setelah ia mengambil uang di ATM. Setelah membayar ketiganya, Juno berkali-kali mengucapkan terimakasih.


Juno pun segera mencari hotel terdekat untuk mengurusi Amora yang mabuk. Dia tidak bisa membawa Amora pulang dalam keadaan kacau seperti ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2