
Berkali-kali Juno di telpon. Akhirnya dia menyerah dan meninggalkan neneknya bersama Keira. Dia segera menuju rumah sakit tempat Amora di rawat. Sepanjang perjalanan dia merasa hatinya berat memikirkan neneknya, tapi entah kenapa ibu mertuanya seolah selalu ingin membelenggunya bersama Amora. Juno merasa sedikit kesal, tapi berusaha untuk ia tahan.
Ia melangkah dengan langkah yang sedikit terburu-buru karena telponnya terus berdering, ibu mertuanya menghubunginya seperti kesetanan saja.
Sesampainya di pintu kamar rawat Amora Juno langsung masuk tanpa salam atau ketukan. Semua tampak kaget dengan kedatangan Juno yang diam. Dona tampak kesal dengan sikap Juno yang seolah ingin menunjukkan sikap marahnya, terlihat dari expresi datar Juno. Juno segera menghampiri Amora yang tertidur dan menatap ibu mertuanya.
"Dia tidak apa-apa, kan? Kenapa harus di rawat? Mabuk nya Amora itu masih dalam batas wajar, aku tau kapan dia baik-baik saja atau sudah harus di rawat," ujar Juno datar.
"Itu karena kamu tidak peduli, nenek kamu dan selalu nenek kamu yang kamu pedulikan. Kapan kamu ada waktu untuk Amora? Dia melibatkan dua nyawa sedangkan nenek kamu sakit itu hal yang wajar karena sudah tua, kan," ujar Dona tanpa beban.
"Nenek itu keluarga satu-satunya yang aku miliki," ucap Juno tajam.
"Dan Amora tengah mengandung keturunan kamu, darah daging kamu juga kan?"
"Amora punya banyak yang peduli di sini, nenek hanya punya aku sekarang. Kenapa Mama nggak ngerti posisi aku, sih? Nenek itu cuman punya aku, kalau terjadi sesuatu sama dia siapa yang akan peduli selain aku," Juno mulai kesal dan mulai hilang rasa sabarnya.
"Bukannya Keira anak Kartika itu juga sedang di sana bantu rawat nenek kamu di sana? itu artinya nenek kamu juga ada yang jaga, apa kamu hanya mau punya kesempatan buat berdua dengan gadis itu?" tuding Dona membuat Juno mengernyitkan dahinya tidak percaya. Juno hanya bisa geleng-geleng kepala, percuma rasanya berdebat. Juno pun memilih untuk diam, dia tidak ingin menjadi kurang ajar nantinya jika ia terus lanjutkan percakapan ini. Juno pun tidur dengan posisi duduk di samping Amora.
Dona melihat Juno yang sudah tidur segera menghampirinya dan melihat handphone Juno yang bergetar di atas ranjang. Dia segera mengambilnya dan dengan kesal mematikannya dan mematikan handphone itu juga.
"Sudah. Nenek mu ada yang jaga, cukup fokus pada Amora saja kamu sekarang," bisik Dona sebelum kembali ke sofa dengan Juno yang tertidur duduk di samping Amora.
***
Di sisi lain Keira tampak panik karena nenek Juno yang terlihat tidak baik-baik saja sekarang. Dia mencoba menghubungi Juno berkali-kali tapi tidak bisa tersambung. Akhirnya dia putuskan untuk membawa nenek kerumah sakit sendirian bersama Darsih dan suaminya.
__ADS_1
Sesampainya rumah sakit mereka di sambut dengan para suster yang berjaga untuk membawa nenek ke ruang perawatan UGD, setelah melewati beberapa tahap penanganan awal tapi nenek masih tidak sadarkan diri, hingga akhirnya nenek Juno pun di pindahkan ke ruang ICU untuk penanganan lebih serius lagi.
Nenek sempat sadar sebentar dan beliau memanggil nama Juno. Keira semakin panik, karena nenek kelihatannya tidak akan baik-baik saja. Dia terus mencoba menghubungi Juno, tapi tetap tidak tersambung.
'Di mana kamu, Jun?' batin Keira khawatir sambil sesekali melirik keruang rawat nenek yang tengah di tangani beberapa orang perawat dan dokter.
"Panggil Juno sekarang?" perintah dokter pada Keira sebelum dia masuk kembali ke ruangan perawatan nenek dengan langkah terburu-buru. Keira tahu sekarang, nenek benar-benar dalam keadaan kritis, tapi dia masih tidak bisa menghubungi Juno.
"Mbok, mbok tau nggak alamat Amora di mana?" tanya Keira pada Darsih.
"Wah, mbok Ndak ingat, non. Habis kita kesana cuman sekali pakek taksi, jadi mbok ndak ingat lagi," tutur Darsih lugu apa adanya.
Keira menatap nenek Juno yang masih dalam penanganan dokter itu tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Maaf, Jun," lirih Keira. Dia tau nenek Juno mungkin tidak akan selamat, ini hari terakhir nenek yang akan Juno lewati tanpa bisa ia ucapkan selamat tinggal.
"Juno melewati hari terakhir neneknya, maaf, kami sudah berusaha sekuat mungkin," tutur salah satu dokter yang membuat Keira terpekik tak berdaya.
"Bagaimana ini, bik. Juno kamu di mana? Kamu di mana, Jun!" pekik Keira di hadapan mayat nenek yang sudah terbujur kaku.
***
Di sisi lain, Juno masih larut di alam mimpinya di ruang rawat Amora. Dia seolah bertemu nenek di alam yang entah seperti apa itu. Seorang wanita anggun yang cantik itu menatapnya hangat dan menghampirinya.
"Sudah, tidak apa-apa. Di sini nenek tidak apa-apa, kamu baik-baik, ya. Nenek titip semua untuk kamu. Kamu harus bisa baik-baik saja setelah nenek pergi, nak," ucap nenek tenang dengan senyum hangatnya. Juno menatap neneknya dengan tatapan aneh, dia benar-benar terlihat cantik saat ini. Tapi, perlahan nenek melepas genggaman tangan Juno tanpa melepaskan senyum dari bibirnya.
__ADS_1
"Nek, nenek mau kemana? Nek, jangan. Nek, NENEK..." pekik Juno panik saat dia melihat nenek yang terus menjauh darinya. Juno terus berteriak memanggil neneknya tanpa bisa ia kejar karena tubuhnya yang terasa kaku tak bisa buat ia bangkit mengejarnya.
"NENEK!" pekik Juno terbangun dari tidurnya membuat Amora yang sudah terbangun dan ibunya kaget.
"Jun, kamu kenapa, sayang?" tanya Amora bingung.
Juno tidak menjawab, dia langsung mengecek handphonenya. Sesaat dia panik saat melihat handphonenya yang ternyata tidak menyala.
"Kenapa handphone aku mati?" tanya Juno heran.
"Itu ... Itu ... Semalam Saya yang matikan," tutur Dona datar. Juno mengernyitkan dahinya menatap Dona heran dengan ke lancangan Dona atas barang pribadinya.
"Mama!" seru Amora kesal.
"Apa?" tanya Dona bingung. "Itu biar suami kamu bisa fokus sama keadaan kamu, nggak sibuk urus ini itu," ujar Dona lagi memberi alasan.
Juno melihat ada banyak panggilan tidak terjawab dari Keira. Ia langsung menghubungi Keira kembali. Wajah Juno langsung berubah pucat saat dengan panik Keira menyampaikan berita tak terduga padanya. Juno tanpa mengatakan apapun lagi segera berlari keluar menuju tempat neneknya.
***
Sesampainya di sana, sudah ramai dengan orang-orang yang mengurusi neneknya. Juno melangkah dengan panik masuk ruangan. Ada Keira dan beberapa orang yang menghadapi mayat nenek Juno dengan tatapan penuh duka. Beberapa orang dokter menghampiri Juno dan memeluknya untuk memberikannya kekuatan.
Sedangkan Juno langsung terlihat panik dan ketakutan. Hal yang selama ini ia takuti terjadi, dan lebih buruknya lagi dia tidak ada di sana saat itu terjadi.
Juno terduduk lemas di depan ranjang rawat neneknya.
__ADS_1
"Maaf, dok. Kami sudah berusaha menahannya sebisa mungkin agar anda bisa datang di detik-detik terakhir beliau. Tapi ...." Di detik selanjutnya Juno sudah terkulai lemas karena tidak sanggup menahan rasa bersalah dan duka yang teramat dalam yang ia rasakan. Semua panik saat melihat Juno yang tiba-tiba pingsan itu.
BERSAMBUNG...