
Juno sakit beberapa hari dan di rawat oleh Amora di rumah dengan penuh kasih sayang. Siang malam Amora hanya berada di samping Juno tanpa mau meninggalkannya barang sebentar.
Dona melihat itu semua, bagaimana anaknya sangat mencintai Juno. Dia berdiri di depan pintu kamar Amora dan Juno yang terbuka. Tanpa. Kini ia semakin merasa bersalah atas tindakannya dulu. Tanpa terasa air mata Dona menetes membasahi wajahnya. Entah sejak kapan, tiba-tiba Kevin sudah berdiri di samping Dona dan menyentuh kedua bahu istrinya itu, yang dengan cepat segera menyeka air matanya.
"Seharusnya mereka bisa berbahagia sekarang dengan kehadiran buah hati mereka sebentar lagi, tapi ... Lihatlah," ujar Kevin dengan seulas senyum dingin dan ia pun berlalu meninggalkan Dona yang masih terpaku di posisinya. Dona hanya bisa menatap kepergian Kevin dengan tatapan hampa.
***
Setelah beberapa hari kini Juno mulai pulih dan sembuh. Juno perlahan bisa di ajak berkomunikasi. Dia mulai mau bicara walau masih belum seperti dulu. Dia masih tampak sangat terpukul dan menjawab sekenanya saja.
Pagi ini Juno dengan di bantu Amora mulai bangkit dari tempat tidurnya.
"Aku mau mandi," lirih Juno.
"Oh, yaudah. Aku siapin bentar air panasnya, ya," jawab Amora yang segera bangkit dan buru-buru menuju kamar mandi. setelah selesai semua baru ia membimbing Juno ke kamar mandi dengan penuh perhatian.
Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi Juno tampak segar. Ia tersenyum tipis kearah Amora. Amora menghampirinya dan memeluk Juno erat. Juno membalasnya dan dengan senyum tipis.
Juno dan Amora mulai melangkah keluar. mereka melangkah turun ke bawah menuju meja makan. Amora yang terus memegangi tangannya, karena kondisi Juno yang masih lemah pasca sakitnya kemarin. Ia melangkah dengan sangat hati-hati karena masih tidak terlalu kuat untuk bergerak.
Saat melihat kedatangan Juno di meja makan Kevin dan Dona tampak kaget.
__ADS_1
"Loh, kamu sudah sembuh? Kok sudah turun? Kalau kamu belum kuat, kamu bisa makan di kamar saja dulu. Jangan memaksakan diri begini," tutur Kevin yang tampak sangat khawatir itu.
"Udah, Pah. Aku udah sembuh, kok. Nggak enak juga tidur terus seharian, kepala aku pusing dan berat jadinya." Juno dengan seutas senyum.
"Ya sudah, kalau begitu. Sekarang makanlah yang banyak, biar kamu cepat pulihnya. Amora bantu suami kamu ambil makanannya," perintah Dona. Amora dengan cekatan melayani suaminya itu.
Juno sebenarnya belum begitu berselera untuk makan, hanya saja dia tetap memaksakan untuk menghabiskan makanannya. Dona dan Kevin terus menatap gerak-gerik Juno sedari tadi, begitupun Amora. Amora tahu jika Juno tengah memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja.
Sebenarnya, semenjak kematian nenek nya Juno tampak lebih pendiam dan seperti kehilangan arah dan dia seperti patah hati berkepanjangan. Amora dapat rasakan itu dari Juno. Juno jelas sedang menyimpan luka hatinya yang teramat dalam.
"Makan yang banyak, biar kamu cepat segar lagi dan bisa sehat seperti dulu lagi," tutur mertuanya. Juno hanya tersenyum seraya mengangguk pelan dengan senyum tipisnya. Amora mengusap bahu suaminya itu.
Dona terus mencuri pandang pada Juno, ada rasa kasihan di hatinya, juga perasaan bersalah yang mulai ia rasakan akhir-akhir ini. Apalagi sekarang Juno juga terlihat terus menghindarinya. Mungkin ada amarah yang ia simpan kepadanya juga. Karena bagaimana pun kematian neneknya saat itu juga ada andil dia di dalam jatuh sakitnya nenek Juno.
Dona terus memperhatikan Juno dan Amora tanpa suara. Amora tampak telaten mengurus suaminya itu. Dia menawarkan beberapa makanan, setelah Juno makan ia juga mengupaskan buah untuk Juno.
"Pah, Mah. Aku permisi ke kamar dulu," tutur Juno permisi untuk pergi.
"Oh, yasudah. Kamu istirahat lah dulu. Amora antar suami kamu dengan hati-hati, nak," tutur Kevin lembut.
Dona hanya bisa menelan ludahnya yang terasa pahit dengan tangan yang saling meremas menahan sesak setelah mendengar sin. Tanpa sadar air mata bening dari sudut matanya tiba-tiba menetes dan membasahi pipinya. Ia segera menyekanya. Ia menarik nafas panjang untuk melampangkan rongga dadanya yang terasa sesak itu. Dia mulai merasa sangat bersalah sekarang.
Lalu ia pun bangkit dari kursinya. Saat ia berjalan ia melihat suaminya yang tampak tengah menikmati tontonannya di televisi. Ia tak menyapanya, ia langsung saja berlalu ke lantai atas. Ia berjalan cepat menyusuri tangga dan terus berjalan hingga ia melewati kamar Juno dan Amora yang tertutup, sesaat langkahnya tercekat, dia kembali merasakan sesaknya ia menatap pintu kamar itu beberapa saat dan dia benar-benar tidak tahan. Akhirnya ia pun berlari menuju kamarnya dan langsung menuju ranjangnya. Ia mendekap wajahnya dengan duduk di pinggir ranjang.
__ADS_1
Tiba-tiba tangisnya benar-benar tidak tertahan kan lagi. Ia pun menumpahkan tangisnya. Ia terisak sendirian sekarang. Tiba-tiba bayangan wajah cantik Hanna semasa sekolah dan senyum cerianya mulai membayangi Dona.
Bayangan bagaimana dulu mereka begitu akrab dan bersahabat. Tepat saat mereka masih sama-sama di bangku SMA, mereka mengintip dari jendela tim basket tengah bermain basket di lapangan. Tampak seorang pria yang sangat tampan di antara para pemain. Dia lah Jefri, ayah Juno. Saat itu dia sama gagahnya dengan Juno saat ini.
"Jefri ganteng banget," gumam Dona pada Hanna. Hanna hanya terkekeh mendengarnya saat itu tanpa komentar.
Setelah itu beberapa waktu kemudian Dona mendengar jika Hanna dan Jefri menjalin kasih, dua idola kampus itu kini menjadi sepasang kekasih. Itu sontak membuat Dona merasa seperti tersambar petir di siang bolong. Dia merasa di khianati oleh Hanna.
Mulai saat itu persahabatan Dona dan Hanna pun merenggang. Mereka berdua semakin hari semakin menjauh. Dan akhirnya mereka benar-benar berpisah saat Hanna dan Jefri memutuskan untuk sama-sama melanjutkan kuliahnya di Sidney dan akhirnya menikah.
Setelah sekian tahun Dona masih saja dendam akan hal tersebut. Dia menganggap Hanna sengaja merebut Jefri darinya. Padahal Hanna tahu jika Donna sudah lama menaruh hati kepada Jefri, tapi Hanna malah menerima Jefri menjadi kekasihnya.
Dan kini saat ini Donna mulai merasa bersalah, dia melampiaskan kekesalan masa lalunya kepada Juno anak Jefri dan Hanna. Anak sahabatnya dan sahabat suaminya juga. Padahal Tuhan mengganti Jefri dengan Kevin yang tak kalah baiknya dari Jefri, tapi Donna seolah masih tak puas juga.
"Maaf, Han. Maaf Hanna, seharusnya aku tidak boleh begitu pada putramu. Seharusnya aku menerima dia dengan baik, bukan malah membencinya tanpa alasan seperti ini," isak Donna penuh sesal sekarang.
Ia terus menangis hingga ia lelah rasanya matanya pun sudah bengkak sekarang. Tapi tetap saja dia masih merasakan sesaknya. Menangis berapa lama pun tak akan bisa membuat dia mampu menghilangkan rasa bersalahnya. Kini yang terluka bukan hanya Juno tapi Amora dan calon cucunya juga.
***
Di sisi lain, Amora terus mencoba menghibur Juno dengan leluconnya dan candaannya, namun tetap tak banyak membantu. Juno masih tetap diam bergeming. Akhirnya Amora lelah dan menyerah. Dia memeluk suaminya itu erat.
"Tidak apa. Aku akan menunggu sampai kamu bisa kembali seperti dulu lagi," ucap Amora dengan seulas senyuman nya dan penuh keyakinan. Mungkin sedikit kesabaran dan usaha nya lagi akan membuat Juno seperti dulu. Dia hanya perlu setia mendamping Juno saat ini. Dia ingat, dulu Juno juga pernah memperjuangkannya penuh rasa sabar, mungkin saat ini adalah gilirannya memperjuangkan Juno dengan penuh rasa sabar juga.
__ADS_1
BERSAMBUNG...