
Sesampainya di rumah, Juno segera bersiap akan ke tempat pesta tersebut, ia di sambut Amora yang segera membantu Juno di kamar dengan segala yang sudah ia siapkan sebelum Juno pulang. Juno menggunakan stelan jas yang sudah di persiapkan Amora untuknya, sedangkan Amora sendiri mengenakan gaun panjang dengan belahan dada rendah berwarna hitam. Juno memperhatikan kedatangan Amora yang terlihat sangat cantik itu. Dengan gaun hitam belahan pinggir hingga paha mulusnya terlihat. Kalung berlian dan tas tangan yang tak lah murah. Benar-benar penampilan yang sempurna.
Ia pun menghampirinya perlahan. Juno melihat Amora yang kesulitan memasang pengait kalungnya. Ia datang dan memegang pinggang ramping Amora seraya menc*um lembut bahu mulusnya, itu membuat Amora sedikit kaget dan menoleh.
"Kamu buat aku pengen nggak jadi pergi," bisik Juno menggoda Amora seraya mengambil alih kalung berlian tersebut dari tangan Amora dan membantu mengaitkannya hingga terpasang.
Amora pun mengalihkan tubuhnya menghadap ke arah Juno dan mendorong hingga terduduk di kursi depan meja rias. Ia pun duduk di pangkuan Juno dengan gesekan kecil yang menggairahkan bagian pribadi suaminya itu, membuat Juno menelan salivanya karena godaan liar yang Amora lakukan padanya.
"Kita bisa benar-benar batal pergi, sayang," bisik Juno dengan ******* kecil di telinga Amora dan gigitan kecil di daun telinganya membuat Amora terkekeh. Dia pun berdiri dan mengambil tas kecilnya kembali seraya berjalan keluar kamar dengan langkah menggoda yang seksi, meninggalkan Juno yang masih butuh waktu untuk menguasai dirinya seraya tersenyum dan geleng-geleng kepala dengan kenakalan istrinya.
Juno pun bangkit dan menyemprotkan parfum kembali pada tubuhnya untuk penyegaran merapikan sedikit pakaiannya dan setelah ia rasa rapi ia pun keluar kamar dengan gaya mempesonanya.
Juno berjalan menuruni tangga, tiba-tiba semua mata tertuju pada kedatangan Juno yang mempesona, tubuh jangkung yang atletis itu terlihat keren dan sangat mempesona dengan balutan stelan jas hitam yang membuat aura ketampanan Juno semakin terlihat. Bak para model profesional. Juno yang tidak menyadari itu hanya melangkah dengan santai dan menghampiri istrinya.
__ADS_1
Dia tidak tau jika sepanjang langkahnya menuruni tangga tadi para pelayan tak bisa melepaskan pandangan mereka darinya, membuat sedikit kegaduhan dan bisik-bisik kekaguman diantara mereka. Tapi sedikit mereka tahan saat melihat lirikan seram nyonya besar mereka. Sebenarnya saat itu Dona pun terpesona dengan penampilan menantunya itu, dia melihat aura kharismatik Jefri dalam diri Juno dan sisi cantik dan menarik dari sisi Hanna. Juno merupakan perpaduan Hanna dan Jefri yang sempurna. Dia mewarisi bagian terbaik dari kedua orang tuanya.
Kevin yang menatap kagum pada menantunya itu sangat bangga akan ketampanan menantunya yang semakin terlihat jelas malam ini. Dia melihat sosok superstar sekolah kedua orang tua Juno dulu di miliki Juno seutuhnya. Sungguh dia sudah memilih menantu yang sangat tampan.
Juno yang baru sampai langsung di sambut Amora dengan uluran tangannya. Ia pun menyambutnya dan menggandeng tangan istrinya.
"Tampan sekali menantuku ini," ucap Kevin penuh kekaguman terhadap Juno. Seraya menepuk pelan bahu Juno, Juno hanya tersenyum tersipu malu dan Amora pun tersenyum menatap Juno, ia menggenggam tangan suaminya itu dengan senyuman bangga atas kepemilikannya yang sempurna. Sedangkan Dona masih tampak dingin, diam menyimpan kekagumannya di relung hati nya saja.
'Jefri dan Hanna sangat kuat dalam diri anak ini. kharisma Jafri dan mata indah Hanna ia miliki dalam dirinya. Sangat Mempesona dan menarik, tapi entah ia sadari atau tidak. Aku tidak pernah melihatnya tebar pesona pada wanita lain. Ah, kenapa aku ini. Dia memang putra Hanna, kan, dan ... Jefri,' batin Donna yang kembali mengingat wajah orang tua Juno di masa lalu. Bagaimana wajah itu selalu menjadi pusat perhatian di masa lalu dan di puja-puja banyak mata, hari ini Juno seolah memflash-back kejadian itu lagi saat dia berhasil menjadi pusat perhatian dengan tampilan bedanya hari ini.
Merekapun bersiap akan pergi lagi. Juno dan Amora melangkah terlebih dahulu menuju mobil BMW keluaran terbaru yang super mewah itu. Juno membuka kan pintu mobilnya untuk Amora dan Kevin membukanya untuk Dona. Juno ambil alih untuk menyetir dengan Jefri dan Hanna di bangku belakang Amora dan Juno di depan. Mereka segera meluncur ke tempat tujuan.
"Papa dengar nenek kamu juga datang, Jun," seru Kevin membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Iya, Pah. Dia sama om Rudi pengacara keluarga kita. Nenek sama om Rudi emang dekat, jadi kalau ada apa-apa om Rudi udah kayak saudara kita," tutur Juno.
"Kalian masih berhubungan dengan orang-orang bisnis almarhum ayah dan kakek kamu, ya?" tanya ayah Amora lagi.
"Masih beberapa, Pah. Sebab beberapa gedung kan juga mereka sewa sama nenek, jadi karena itu masih ada hubungan baik. Dan om Rudi yang urus urusan gedung-gedung itu," tutur Juno lagi
"Wow, nenek kamu masih merupakan sleeping investor, ya. Saat ayah dan kakek kamu meninggal. Nenek kamu langsung menjual aset yang butuh pengeluaran banyak, termasuk properti dan beberapa mobil. Lalu menjadikannya modal untuk membangun gedung pencakar langit dan beberapa bangunan mewah lain. Sekarang di usia senjanya dia tinggal menikmati semua tanpa banyak kerja keras dalam kehidupan yang sederhana. Jadi, kamu pun kalo nggak kerja sudah ada penghasilan kan, Jun?" tutur mertuanya masih kagum dengan apa yang menjadi investasi diam-diam keluarga Juno. Juno hanya tersenyum mendengarnya.
"Ya, harus tetap kerja kan, Pah. Namanya juga hidup. Seenggaknya ada kegiatan biar nggak kosong-kosong amat. Nanti yang ada terlalu santai malah habisin tabungan yang ada. Harus ada kerjaan juga, Pah. Biar nggak terlalu boros nenek bilang. Makanya di rumah itu kita nggak pakek banyak pembantu lagi, semua mobil yang dulu di jual semua, kita pakek seperlunya aja. Sebab kan pajak dan perawatannya kan juga lumayan nguras uang, Pah. Dan beberapa perabotan rumah juga di jual nenek. Kan di rumah ada sekitar 20 kamar kosong karena nenek bilang lebih baik perabotan nya di jual aja dari pada nggak kepakek. Dan nenek juga memanfaatkan lahan rumah kita buat berkebun, katanya kita harus memanfaatkan apa yang kita punya selagi bisa. Makanya tiap tahun musim buah, walau nggak seberapa itu lumayan buat bantu keluarga Darsih juga. Jadi Darsih di rumah itu nggak ngandelin gaji aja, Pah. Tapi juga hasil kebun buah dan sayur yang nenek serahin sama Darsih. Nenek cuman mintak di rawat aja dengan baik lahannya. Kadang Darsih sampe nolak di gaji sama nenek, Darsih bilang uang kebunnya juga udah cukup buat biaya keluarga dan anaknya sekolah. Tapi nenek tetap kasih Darsih dan suaminya Gaji, Pah," terang Juno panjang lebar, membuat Kevin semakin kagum dengan pola pikir keluarga Juno yang selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk bisnis dan sangat cermat dalam menggunakan uang mereka.
"Papa kagum sama kamu. Kamu punya segalanya tapi gaya hidup kamu masih sangat sederhana. Sama sekali tidak mau ikuti arus gaya hidup zaman sekarang," ungkap Kevin membuat Juno kembali tersenyum Amora pun mengecup punggung tangan suaminya itu.
Sedangkan Dona tampak cuek, dia sibuk dengan pikirannya yang masih menerawang entah kemana. Dia memilih untuk tidak terlibat pembicaraan ini. Jadi, dia sama sekali tidak mendengar percakapan antara Juno dan Kevin. Dengan sesekali tatapannya tertuju kepada Juno dengan pikirannya sendiri tentang Juno.
__ADS_1
Tidak terasa mereka pun sampai di tempat tujuan. Merekapun segera di sambut Valet yang menjemput mobil mereka untuk di parkirkan. Setelah itu mereka pun segera masuk ruang pesta yang di sambut dengan suasana super mewah ala pesta kalangan atas dengan musik yang kencang mendayu berkelas.
BERSAMBUNG...