
Di rumah sakit. Juno baru saja selesai dengan prakteknya di poli umum. Dia lanjut ke bangsal dan mengecek beberapa pasien yang memang biasa dia yang cek dan memberi resep obat. Dia selalu mendapat sambutan ramah oleh pasien-pasiennya, inilah bagian dari penyemangat Juno selama ini.
"Dok, besok saya sudah bisa pulang. Saya pasti akan merasa sangat kehilangan sosok dokter yang tampan dan ramah seperti dokter," ujar salah seorang pasien yang kira-kira seusia neneknya itu.
"Bagus donk, kalo kita nggak ketemu lagi, nek. Itu artinya nenek sudah sembuh dan saya ikut senang karena saya berhasil merawat nenek selama di rumah sakit. Jadi, seharusnya jangan sampai kita bertemu lagi sebagai dokter dan pasien," canda Juno membuat si nenek terkekeh.
"Iya, nenek maunya ketemu dokter sebagai mantu saja, bisa?" kelakar si nenek. Juno pun menunjukkan cincin pernikahannya. Membuat si nenek ternganga menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Dokter sudah nikah?" tanyanya masih tidak percaya, Juno pun mengangguk seraya tersenyum.
"Saya sudah di lamar orang lain, nek. Cucu nenek telat," gurau Juno lagi. Mereka semua pun tertawa.
Selesai dengan semua tugasnya, Juno pun kembali ke ruangannya. Dia duduk bersandar di kursinya seraya memijat tengkuknya yang terasa pegal. Sudah beberapa hari ini dia sangat kelelahan. Dia bekerja lembur beberapa hari ini karena adanya beberapa dokter yang sedang keluar kota sehingga beberapa tugas dokter umum senior lain terpaksa Juno yang ambil alih.
Saat sedang menikmati waktu istirahatnya, tiba-tiba pintu ruangan Juno di ketuk oleh seseorang.
TOK, TOK, TOK ...
"Masuk!" sahut Juno.
Seseorang pun segera membuka pintu yang tidak di kunci tersebut. Ternyata dia adalah dokter Ikhwar yang merupakan salah satu dokter bedah senior terbaik di kota ini. Dia sudah seperti ayah bagi Juno. Dia sangat baik dan memperhatikan Juno.
Dia pun duduk di hadapan Juno yang masih tampak kecapean itu.
"Gimana? Capek, ya?" ujarnya. Juno pun mengangguk sambil terus bersandar mencoba untuk beristirahat sejenak.
"Kalo lemes kayak gini bagaimana bisa cepat punya anak, calon bapaknya saja sudah tidak bertenaga hahahah....," tawanya. Juno pun jadi tersenyum malu.
__ADS_1
"Nih, aku punya obat bagus. Kamu bisa pakek ini buat pulihin tenaga kamu. Jangan sampe di amuk istri gegara jarang pulang sekali pulang malah tidak memuaskan," kelakarnya lagi. Juno pun mengambil botol obat yang di sodorkan dokter ikhwar.
"Apa ini?" tanya Juno seraya mengecek kandungan komposisi obatnya.
"Obat kuat?" tanya Juno heran seraya mengernyitkan keningnya. "Wah, nggak ah. Nggak berani minum yang kayak ginian," tolak Juno langsung.
"Yeee.... Kamu bilang mau cepat punya anak. Ini bagaimana bisa punya anak, kalau kamu jarang pulang, terus sekali pulang udah nggak bisa-bisa ngapai-ngapain lagi. Ini bukan obat kuat yang kayak di pasaran ilegal. Ini obat hanya untuk mengembalikan stamina. Pakek waktu kamu lagi capek saja. Jangan keseringan. Kalo sesuai dosis tidak akan buat kamu ketergantungan. Ini bagus buat kamu yang sibuk," ujar si dokter. Juno kembali melihat melihat kotak obat itu dan benar saja ada label dari BPOM resmi dari pemerintah.
Juno menatap si dokter dengan tatapan ragu. Dia tau si dokter tengah menggodanya. Dia paham betul dengan tingkah dokter konyol ini.
"Pakai saja, minum 2 waktu malam sebelum tidur. Ok!" serunya lalu pergi.
Juno masih melihat kotak obat itu, ada foto seorang pria yang hampir tidak mengenakan busana kecuali pakaian dalamnya.
"Gambarnya bikin salah fokus," ujar Juno seraya tertawa geli.
"Ingat, sebelum tidur, ya," ingat si dokter lagi dari balik pintu dan kembali menutupnya lagi membuat Juno kaget dan melongo sesaat.
Tiba-tiba pintu ruangan Juno kembali di buka oleh seseorang.
"Iya, dok ...." ujar Juno terputus. "Eh, kami, Sint!" Juno buru-buru menyembunyikan obat itu karena takut ada yang salah paham jika melihat obat itu.
"Aku mau ngomong," ujar Sinta yang langsung duduk di kursi depan meja Juno. Juno hanya menatap Sinta dengan tatapan heran dan penasaran. Ia pun duduk kembali.
"Ada apa?" tanya Juno masih bingung.
__ADS_1
"Tadi Amora kesini. Dan kamu tau ... Dia nemuin laki-laki di taman belakang. Orang tua dari pasien anak Raya di ruang anak yang tengah nunggu jadwal operasi pendarahan di otaknya," adu Sinta berapi-api. "Istri kamu itu bukan hanya galak, tapi juga punya selingkuhan. Nggak tau diri," rutuk Sinta yang masih tampak kesal seraya bergelut dada.
"Kenapa jadi kamu yang kayak kebakaran jenggot?" ujar Juno merasa sedikit lucu dengan reaksi Sinta tersebut.
"Istri kamu selingkuh, JUNO!" ujar Sinta agak geram dengan sikap santai Juno yang seolah tidak peduli.
"Aku tau Amora belum mencintai aku, Sinta. Aku sedang menunggunya. Menunggu dia jatuh cinta padaku. Mungkin dia memang harus menyelesaikan masalah nya dengan lelaki itu terlebih dahulu sebelum dia menerimaku sepenuhnya. Aku hanya ingin memberikan dia ruang jika memang dia butuhkan. Lelaki itu pasti Horner. Horner sempat menjelaskan tentang hubungannya dan Amora saat sebelum kami menikah. Dia menjelaskan semua padaku sebelum pernikahan ku dan Amora. Aku percaya pada Horner," ujar Juno terlihat tabah walau masih terselip luka di sudut matanya saat menyampaikan itu dengan senyuman.
"Jangan bermain api Juno. Kau tidak bisa mempercayai mereka sepenuhnya, mereka berdua itu dua orang yang pernah saling cinta. Bagaimana mungkin kamu percaya mereka sudah tidak memiliki perasaan lagi. Dan lagian kamu seolah hanya menempatkan diri kamu sebagai pelarian Amora saja. B0d0h," ujar Sinta masih tidak paham. Juno kembali tertawa kecil.
"Dia pilihan nenek, Sinta. Kamu tau ... Sesayang apa aku sama nenek?" ujar Juno kali ini terlihat sendu. Saat Juno menekan kan kata 'demi nenek' dia seolah ingin menyiratkan jika ini semua bukan untuknya tapi untuk neneknya, jadi dia tidak akan peduli dengan perasaannya.
"Juno!" gumam Sinta seraya menggeleng tidak percaya. "Kamu ngorbanin perasaan kamu semata-mata demi nenek? Ini pernikahan kamu, kamu bisa nolak kok kalo kamu nggak setuju," ujar Sinta tidak percaya.
"Aku mencintai Amora juga. Hubungan aku dan Amora itu tidak bisa aku jelaskan. Aku menyayangi dia juga, tapi ... Entah lah, aku sulit menjelaskan nya. Aku hanya yakin Amora akan mencintaiku suatu saat nanti, tanpa harus aku paksa. Dia tidak pernah benar-benar menolak ku, tapi juga tidak mau mengakui kalau dia menerimaku. Walau terlihat kasar, tapi ... Dia ... " ujar Juno sulit menjelaskan.
"Terserah. Yang pasti, kalau dia nyakitin kamu aku nggak akan tinggal diam. Dia nggak bisa Seolah-olah nggak hargain kamu kayak gini. Dia seolah hidup sendiri tanpa mempertimbangkan kamu sebagai suaminya. Dia itu sebenarnya sadar atau nggak kalau dia udah nikah, sih sebenarnya?" ujar Sinta membuat Juno terkekeh.
"Pantes ya trio suster muda itu sebut kamu satpam aku," kekeh Juno.
"Siapa?!" ujar Sinta membelalakkan matanya "3 mahasiswa magang itu?" tanyanya lagi. Juno mengangguk seraya tertawa. Sedangkan Sinta tampak tak dapat menyembunyikan kekesalannya.
"Udah kerja ngerepotin, suka bikin rusuh, ngeselin juga. Kapan selesainya sih mereka magangnya? Aku suka gedeg kadang liat mereka kerja sambil pecicilan bertiga," rutuk Sinta. Juno hanya tertawa mendengarnya. Gampang sekali mengalihkan obrolan dengan Sinta.
Tapi memang itu lah kenyataannya, Sinta selama ini selalu menjaga Juno, Juno pun begitu. Dia selalu menjaga Sinta. Mereka layaknya saudara yang tak memiliki ikatan darah.
__ADS_1
BERSAMBUNG...