
Selesai dengan urusan administrasi. Amora segera kembali kerumah untuk mengecek kopernya mencari nomer ayahnya. Dia membongkar isi kopernya dengan harap-harap cemas. Dia membuka semuanya dan mulai mencari kedalam satu-satu barang. Dia menghamburkan semua barang-barangnya dan benar saja, ada sebuah nomer di kertas kecil yang Amora simpan di kantong kecil koper miliknya. Amora terbelalak saat mendapatkannya dia tersenyum tak percaya dengan mulut ternganga. Ini seperti menemukan harta Karun baginya.
"Hah ... akhirnya Ketemu juga kamu!" seru Amora kegirangan. dia mencium kertas itu berkali-kali sebagai ungkap rasa syukurnya. Dia merasa seperti mendapat jackpot besar, karena dengan bisa menghubungi ayahnya maka dia bisa mendapatkan bantuan dan segera pulang kembali ke Indonesia. Semua penderitaannya bersama Juno pun akan segera berakhir.
Ia segera menghampiri si pria tadi. Pria itu tengah duduk di teras rumahnya, Amora pun segera memberikan nomer itu padanya.
"Ini, ketemu," seru Amora seraya menyerahkan kertas kecil tersebut. Pria itu segera mengeceknya dan mengeluarkan handphonenya bersiap mencoba menghubungi nomer tersebut.
"Coba aku telfon dulu, ya," ujarnya dan langsung menghubungi nomer tersebut. Amora terus berdiri di samping pria tersebut dengan harap-harap cemas. Ia sangat berharap nomer itu bisa di hubungi karena hanya itu harapannya satu-satunya. Setelah menunggu beberapa saat. Si pria pun berseru.
"Masuk!" serunya tersenyum senang. Itu sontak membuat Amora bersorak kegirangan. Amora bisa bernafas lega sekarang.
"Beneran?!" seru Amora masih tidak percaya, si pria mengangguk dan menyerahkan telfonnya. Benar saja Amora mendengar suara seseorang dari seberang sana melalui sambungan telpon tersebut. Amora tak dapat menahan harunya.
"Pah!" seru Amora senang dengan mata berkaca-kaca, setelah satu Minggu lebih ia tersiksa bersama Juno, kini akhirnya dia bisa bebas juga.
"Sayang, kamu kemana saja? Kenapa nggak hubungin Papa? Papa coba hubungin kamu tapi nggak aktif. Kalian kemana saja?" seru ayahnya terdengar sangat khawatir.
"Panjang ceritanya, Pah. Intinya kita di rampok dan sekarang Juno masuk rumah sakit gara-gara, gara-gara ...." Sesaat Amora bingung mencari alasan yang tepat.
"Juno kenapa? Di lukain sama si perampoknya? Biar papa susul saja kalian ke sana, ya. Malam ini papa berangkat!" seru ayah Amora yang terdengar semakin khawatir.
"Nggak, Pah. Tadi pagi dia jatuh terus pingsan. Sekarang dia ada di rumah sakit. Masalahnya kita nggak punya uang buat pulang sama biaya rumah sakit. Papa bisa kirim uang ke kita kan. Soalnya dompet dan barang berharga kita ilang semua,"
"Ya sudah langsung Papa kirim sekarang. Kirim saja nomer rekeningnya, nanti papa kirim ya sayang,"
"Makasih, Pah," seru Amora sangat bersyukur.
__ADS_1
Selesai menelpon ayahnya, Amora segera menemui si pria penolongnya tadi.
"Nama kamu siapa?" tanya Amora.
"David, mbak. Saya mahasiswa di sini. Tapi kebetulan lagi liburan juga kesini. Tadinya sama temen, tapi temen udah balik duluan, jadi saya sendirian di sini. Mbak siapa namanya?" ujar David.
"Saya Amora, tadi itu suami saya namanya Juno. Maaf ya pasti tadi pagi malu-maluin banget. Dia itu suka ngeselin, ngajak ribut terus makanya sampe kegetok tuh pakek guci," ujar Amora yang membuat David tertawa.
"Jangan gitu lah, mbak. Suami ganteng kayak gitu masak di aniaya, kan sayang nanti gantengnya bisa rusak," ujar David seraya menunggu Amora beres-beres bersiap akan pergi ke rumah sakit lagi.
"Udah biasa dia itu, toh sampe sekarang masih hidup juga dianya," kekeh Amora. "Oya... Nanti aku bisa pinjam rekening kamu kan buat kirim uang, sebab kartu kita semua juga diambil sama rampoknya," ujar Amora lagi sambil menenteng tas dan perlengkapannya kerumah sakit. David tersenyum seraya mengangguk setuju. Mereka pun berangkat kembali ke rumah sakit.
Sebelumnya Amora menunggu kiriman ayahnya dulu, tidak lama kiriman itu pun sudah sampai.
Baru ia menemui Juno di rumah sakit. Tampak Juno yang sudah sadar dan tengah duduk bersandar di ranjangnya. Dia menatap kedatangan Amora dengan tatapan tajam.
"Alhamdulillah masih hidup," jawab Juno sarkas. David yang mendengarnya hanya bisa menahan tawanya di sudut ruangan.
"Oh, ya mbak, mas. Saya permisi pulang dulu ya, ini sudah malam. Besok pagi saya kesini lagi, kok," ujarnya. Amora dan Juno pun mengangguk. Tidak lupa mereka mengucapkan terimakasih kepada David sebelum ia pergi.
"Syukur deh. Kecoak mana mungkin gampang mati ya kan, apalagi kecoak mesum kayak kamu." Juno mencoba untuk bersabar dengan tingkah istrinya ini. Jika bukan karena dia segan terhadap ayah Amora yang sangat baik padanya mungkin sudah lama ia tinggalkan gadis ini di kota asing ini.
Sesaat Juno sadar akan kehadiran David.
"Dia siapa tadi?" tanya Juno.
"Dia yang bantuin kamu pakek baju pagi tadi sebelum di bawak kerumah sakit. Dia juga bantu banyak tadi. Untung ada dia, kalo nggak kamu udah aku kubur di halaman belakang rumah tadinya," ujar Amora lagi.
__ADS_1
Juno hanya bisa tersenyum sinis terhadap Amora yang selalu punya niat untuk membunuhnya. karena kepalanya masih terlalu pusing untuk di ajak ribut sekarang ia pun memilih untuk kembali berbaring.
"Terserah kamu, aku mau istirahat. Kepala aku sakit," ujar Juno yang langsung kembali tidur membelakangi Amora.
"Nggak mau minta maaf, kamu?" Amora menatap tajam seraya bergelut dada ke arah Juno yang kini tengah tidur membelakanginya.
Juno pun membalikkan tubuhnya dan menatap Amora tidak percaya.
"Yang jadi korban itu aku. Yang kamu lempar pakek guci sampe pingsan itu aku," seru Juno seraya mengernyitkan dahinya dan geleng-geleng kepala tidak percaya. Amora hanya tersenyum sinis atas pernyataan Juno barusan.
"Iya, dan semua terjadi karna tindakkan m3sum kamu. Yang sakit bukan cuman kamu, aku juga sakit. Yang di rugi-in juga bukan cuman kamu tapi aku juga. Yang repot ngurusin kamu juga aku. Dan kamu pingsan bukan karena lemparan aku aja, tapi karena kamu masih mabuk juga. Dokter bilang luka kamu itu cuman robek ringan, cuman kamu terlalu mabuk jadi nya pingsan," sergah Amora.
Juno menarik nafas panjang dan mencoba bangkit dan duduk bersandar di tempat tidurnya.
"Itu hak aku sebagai suami kamu. Aku bisa lakuin itu kapan saja aku mau, bahkan kamu juga nggak sepenuhnya nggak sadar. kamu pura-pura kan malam itu mabuk dan tidur? kamu bereaksi, kalo kamu nolak kenapa nggak kamu tolak aku?" sergah Juno juga. "Buktinya kamu bilang, 'lebih dari sekali, kan?' kalo yang pertama kamu mabuk yang ke dua itu kamu udah sadar, kan? kenapa kamu diam? kamu menikmati nya?" tukas Juno membuat Amora membulatkan matanya kehilangan kata-katanya. "Atau itu terlalu nikmat buat kamu tolak? Sehingga kamu biarin semuanya? terus paginya kamu pura-pura gila lagi," tambah Juno semakin menyebalkan.
"Aku itu mabok bukannya mati, tentu aja aku bereaksi. Alkohol itu buat aku susah bedain mana nyata dan mana yang mimpi," seru Amora mulai kehilangan kesabarannya. Juno hanya menatapnya dengan tatapan datar. "Buat kamu mati sekarang itu gampang, ya," tukas Amora cepat yang kali ini mengambil sendalnya bersiap akan di hajarnya pada Juno. Juno yang tengah tak berdaya dengan infus dan kepala yang masih pusing itu reflek mengangkat tangannya menyerah.
"iya, iya, ya ... Aku minta maaf, lain kali nggak akan kayak gitu lagi," janji Juno. Amora menurunkan tangannya dan melepaskan sendalnya, tapi ekspresi masih tampak sangat kesal. "Iya, maaf," ucap Juno lagi meyakinkan dengan senyum manisnya yang terlihat menyebalkan itu dan di akhiri dengan tawa kecil Juno. Amora mulai tampak tenang. Ia pun kembali duduk di bangkunya. Juno yang merasa keadaan yang mulai tenang mencoba untuk tidur lagi.
"yaudah, aku udah boleh tidur. Aku beneran masih pusing ini," ucap Juno memelas.
"Yaudah, istirahat aja sana," ucap Amora mulai tampak tenang walau masih tampak sewot. Juno pun mulai mencoba untuk berbaring kembali dan beristirahat. Amora kembali menatap Juno yang sudah tampak terlelap, ada guratan peduli di matanya terhadap Juno. itu terlihat dari ia yang mencoba membenahi selimut Juno agar dia tidak kedinginan dan sorot mata peduli yang ia tunjukkan saat Juno tertidur. Akhirnya Amora pun tertidur di samping Juno dengan posisi duduk.
Saat Amora terlelap Juno membuka matanya dan mengelus lembut kepala Amora dengan tangannya yang masih terpasang infus itu. Ia tersenyum tipis ke arah gadis manja yang sangat ia cintai ini.
__ADS_1