
Setelah kunjungan mereka selesai. Sinta kembali menemui Juno yang tengah mengobrol dengan perawat di meja resepsionis. Sinta dengan senyum ramahnya menghampiri Juno. Pria berkaca mata itu sudah lama memikat hatinya. Namun apa daya, Juno sudah memilih orang lain sebagai istrinya. Namun, itu tidak membuat sikapnya berubah terhadap Juno. Dia tetap berada di samping pria itu sebagai orang terdekatnya dan teman masa kecilnya yang selalu ada untuknya.
"Ini rekap medis yang kamu mintak tadi," ujarnya menyerahkan sebuah map kepada Juno. Juno pun mengambilnya dan mereka segera menuju sebuah sofa di lobby dan duduk di sana berdua.
"Makasih, ya," ujar Juno lagi pada map di tangannya.
"Eh, iya. Kamu piket ya malam ini? Aku juga," ujarnya lagi.
Juno hanya tersenyum mendengarnya. Sebenarnya gadis ini sengaja mengambil waktu piket bersamaan dengan Juno karena dia ingin bersama Juno.
"Oh, ya. Kayaknya kita sampe pagi di sini," ujar Juno lagi. Mereka pun terus mengobrol sambil berjalan ke ruangan praktek Juno.
***
Sedangkan di rumah, Amora mulai merasakan kehilangan dan kesepian karena sampai larut malam Juno masih belum pulang. Biasanya laki-laki itu selalu dengan iseng memeluknya saat tidur dan dia selalu menepisnya tapi Juno tetap tidak peduli. Dia akan tetap memeluk Amora hingga mereka terlelap.
Sejak dia tidur tanpa Juno dia tiba-tiba merasa kehilangan. Berkali-kali ia terbangun dan melihat jam di handphonenya. Sekarang sudah jam 2 dini hari. Tapi Juno masih belum ada kabar. Itu membuat dia sedikit kesal dan berkali-kali ia coba untuk memejamkan matanya tapi tetap tidak bisa.
"Kemana, sih? Kenapa nggak ngasih kabar! Telpon kek, kirim pesan atau apa gitu," rutuk Amora kesal sendiri. Tiba-tiba Amora teringat sesuatu.
"Eh, iya. Dia kan belum tau nomer baru aku, aku juga belum save nomer dia tadi," ujar Amora baru ingat. Ia pun melempar handphone nya ke ranjang dengan kasar.
__ADS_1
***
Di rumah sakit Juno tampak tengah duduk santai dengan segelas kopi untuk mengusir kantuknya di salah satu kursi yang ada di lobby rumah sakit tesebut. Sinta pun datang menghampirinya setelah dia sempat berkeliling sebentar tadi. Dia melihat Juno yang tengah duduk bersandar di kursinya dengan segelas kopi hangat di meja.
"Kamu kenapa bisa di perban gitu sih? Apa sekasar itu banget ya Amora sama kamu?" tanya Sinta.
"Nggak. Biasalah Amora," ucap Juno dengan senyumnya yang terlihat berbeda saat nama Amora di singgung. Entah kenapa ada rasa cemburu di hatinya saat Juno menceritakan Amora dengan senyuman begitu.
"Jangan di biasakan dia kasar kayak gitu sama kamu. Masak sama suami sendiri kayak gitu," ujar Sinta agak tidak terima. "Kalo aku ada disana pasti udah aku labrak dia," ujarnya lagi, Juno hanya terkekeh mendengarnya.
"Lagian aku juga yang salah. Nidurin dia waktu dia lagi nggak sadar. Makanya dia marah banget. Tapi, aslinya dia itu lucu. Apalagi kalo lagi marah-marah, nolak terus tapi akhirnya mau juga," ujar Juno sambil terus tersenyum saat mengingat tingkah Amora.
Juno mengangguk sambil menyeruput kopinya yang sedikit pahit itu. Sinta seolah merasa harapannya mulai musnah, tadi nya dia pikir Juno tidak pernah menyentuh Amora. Karena dia dan Amora terlihat tidak akur.
"Wow, aku pikir Amora akan nolak," serunya masih tidak percaya.
"Iya, tapi aku paksa aja. Akhirnya dia kayak nggak nolak. Dia itu nggak tau kenapa aku rasa dia nggak sepenuhnya nolak, tapi juga gengsi buat bilang mau," ujar Juno masih terus terkekeh mengingat kejadian mereka di swiss.
"Kamu gimana dengan si polisi muda itu? Mikir apa lagi? Kalo dia baik apa salahnya di coba dulu," nasehat Juno pada sahabat masa kecilnya sekaligus rekan kerjanya itu. Sinta hanya menggeleng pelan dengan senyuman kusut.
"Dah ah, aku lagi kesel sama dia. Nggak usah ngomongin dia," ujar Sinta agak kurang suka.
__ADS_1
"Terus gimana kamu sama Amora? Yakin dia mau terima kamu kalo terus kamu paksa gitu? Nanti yang ada dia trauma dan malah jadi masalah buat kamu, loh," ingat Sinta.
"Nggak tau. Mama Dona juga kelihatannya nggak suka sama aku," tutur Juno lagi seraya bersandar pada sandaran kursi dengan expresi kusut.
"Loh kenapa? Kalian kan di jodohin, seharusnya keluarganya setuju, donk!" seru Sinta bingung.
"Tadi siang dia mau pergi tapi supir lagi keluar semua. Waktu aku tawar biar aku saja yang antar dia jawabnya malah ketus. Aku ngerasa di rumah itu yang mau terima aku hanya ayah Amora saja. Apa aku salah ya setuju dengan pernikahan ini, Sint?" tanya Juno lemas. Sinta mulai menatap kedalam mata Juno, mencoba mencari maknanya.
"Dulu kenapa kamu setuju-setuju aja? Kalo Amora kan dari awal kamu tau sendiri dia nggak suka kamu, dia sering kasar sama kamu," tanya Sinta.
"Nenek, Sint. Kalo nenek yang udah mintak kapan aku bisa nolak. Apapun maunya nenek pasti aku turutin. Aku itu nggak punya siapa-siapa lagi selain dia. Jadi apapun mau dia pasti aku turutin," tutur Juno. "Walau itu akan mengorbankan perasaan aku sendiri," tutur Juno lagi dengan nada yang lemah.
"Kamu punya hak untuk hidup kamu, Jun. Kamu punya kendali. Kamu bisa nolak kalau kamu nggak suka," ucap Sinta lembut dan merasa kasihan pada sahabatnya ini.
"Kamu nggak tahu gimana rasanya kehilangan semua anggota keluarga dan masih memiliki kesempatan untuk memiliki seorang dalam hidup kamu, Sint. Aku sangat takut nenek bakal ninggalin aku kalo aku nolak dia, aku takut nenek sakit atau merasa tertekan. Kalo aku nggak papa, aku masih sehat dan kuat. Aku bisa kendalikan semua, beda sama nenek, sedikit tekanan aja bisa buat beliau sakit dan tensinya naik, jantungnya kumat. Aku nggak mau kehilangan nenek," tutur Juno. Sinta paham betul dengan perasaan Juno.
"Iya, aku ngerti," ucap Sinta seraya tersenyum dan mengusap lembut bahu Juno. Malam itu mereka habiskan saling berbagi cerita berdua. Kebetulan disana hanya ada mereka berdua saja hingga mereka nyaman untuk membagi semuanya berdua.
***
Di kamar Amora kembali terbangun lagi. Dia benar-benar tidak bisa terlelap. Ia melirik ke pakaian Juno yang terletak di atas kopernya di salah satu sudut ruangan. Dia mengambil pakaian tersebut dan menciumnya, tercium bau parfum Juno yang masih melekat di sana. Amora seakan bisa merasakan ke hadiran Juno saat itu. Ia pun entah kenapa juga merasa tenang.
Amora sesaat tersadar akan tindakannya, ia pun kembali meletakkan pakaian tersebut ke tempat semula dan kembali ke ranjangnya. Saat jam 4 pagi baru Amora bisa memejamkan matanya dan terlelap.
__ADS_1
BERSAMBUNG...