Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Dengan Cinta Tanpa Rasa


__ADS_3

Makan malam mereka sepi tanpa nenek dan Sinta mereka lalui berdua saja di malam yang temaram ini. Sinta sudah pindah ke kampung halamannya semenjak dia menikah, ini menambah sepi malam mereka. Hanya suara dentingan sendok dan garpu beradu yang terdengar diantara Juno dan Amora. Tak ada percakapan diantara keduanya.


Amora menatap Juno yang tampak tak begitu menikmati makan malamnya. Benar saja, belum habis makanan di piringnya ia sudah mendorong piring di hadapannya. Dia mengelap mulutnya menggunakan serbet dan meminum air putih lalu bangkit pergi meninggalkan Amora yang masih menikmati makan malamnya.


Amora hanya diam memperhatikan tingkah gelisah Juno itu. Tidak ada sesuatu yang benar-benar fokus Juno kerjakan belakangan ini. Dia selalu terlihat kacau dan gelisah. Amora menarik nafasnya menatap Juno yang pergi meninggalkannya makan sendirian.


***


Setelah selesai dengan makan malamnya dan membereskan semua bersama Darsih di dapur. Amora pun menghampiri Juno di kamar. Ia membuka pintu kamar berlahan celingak-celinguk sebentar mencari sosok Herjunot. Tapi, Amora mendapati kamar kosong tanpa Juno. Ia segera menyusuri ruangan kamar itu, Amora mencarinya hingga kamar mandi, tapi tetap tak menemukan Juno. Hingga saat ia keluar kamar mandi mendapati pintu teras yang terbuka lebar. Amora segera melangkah menuju balkon.


Sesaat Amora menemukan Juno tengah duduk di teras menikmati angin malam. Dia tampak larut dalam pikirannya. Amora dengan seulas senyum menghampirinya perlahan dan duduk di sampingnya.


"Sepi," lirih Juno dengan pandangan lurus kedepan.


"Kita bisa pulang kalau kamu mau," tawar Amora seraya mengusap pelan bahu Juno seraya memeluk dan bersandar di bahu Juno yang terus menatap kedepan.


"Aku masih mau di sini dulu. Kamu kalau mau pulang juga nggak papa. Sebab disini mungkin kamu agak kesulitan, cuman ada Darsih yang layanin kita. Kamu bisa kerepotan urus semuanya nanti," ungkap Juno. Amora menggeleng pelan seraya tersenyum.

__ADS_1


"Aku mau berada dimana kamu berada. Aku nggak mau pulang kalau kamu nggak pulang. Aku akan temenin kamu, Jun," tutur Amora yang kali ini mencium tangan suaminya itu.


"Aku merasa nggak tenang, aku udah berusaha untuk mengalihkan pikiranku, tapi rasanya masih tetap kacau," tutur Juno dengan tatapan kosong.


"Jangan pernah merasa kamu sendirian, Jun. Kamu punya kami. Aku dan calon anak kita." Amora mengarahkan tangan Juno mengelus perut Amora yang masih terlihat rata itu, karena memang kandungannya yang masih 3 bulan.


Juno tersenyum walau begitu bagi Amora senyum itu tetap terlihat tak hangat seperti dulu. Amora ingin Juno seperti dulu lagi, di mana di setiap detik dia merasa di inginkan dan selalu hangat dalam tatapannya dan sentuhannya. Dia mencoba membangkitkan itu lagi, dia menggoda g@irah Juno yang terasa mati belakangan ini. Amora mulai menyentuh suaminya dengan penuh h@sr@t. Juno memang menyambutnya dan melakukan apa yang ia inginkan di malam ini. Juno membawanya ke ranjang dan melakukannya sebagai kewajiban seorang suami terhadap istrinya. Tapi tatapan dan sentuhannya datar tanpa g@ir@h. Amora merasa Juno akan melakukannya sama seperti yang sudah-sudah belakangan ini. Juno lakukan tapi hanya memuaskan Amora tapi tidak dia.


Itu dapat Amora rasakan dengan tidak adanya kehangatan yang ia rasakan walau ia sudah berusaha membuatnya menjadi lebih menantang, Juno tetap bereaksi tak memuaskan. Walau Amora tahu Juno juga berusaha menutupi kehampaannya. Dia terlihat sekedar ingin memuaskan Amora saja tapi tidak dengan dirinya sendiri, ia sama sekali tak bisa menuntaskan untuk dirinya. Selesai melakukannya, ia akan berbalik membelakangi Amora dan matanya kembali kosong menatap kedepan.


"Apa kau menginginkannya? Sudah berapa kali kamu seperti ini, Jun? Kenapa?" tanya Amora pada Juno yang kini tengah menatapnya.


"Mungkin aku cuman capek dan baru sembuh," ujar Juno memberi alasan.


"Kamu bisa menolak kalau kamu lagi nggak mood, tapi kenapa kamu selalu terusin! Kamu buat aku susah tahu dengan isi hati kamu, Jun. Kadang aku ngerasa kamu buat kita semakin jauh dengan cara kamu ini. Walau kamu di samping aku tapi pikiran kamu jauh entah kemana, Jun." Juno berpikir sejenak dan menatap Amora.


"Kamu benar-benar mau tau isi hati aku?!" lirih Juno meyakinkan. Amora mengangguk pelan. "Aku ingin pergi ke suatu tempat sampai aku temukan titik lelah aku dan rindu ingin pulang. Aku seperti kehilangan semua rasa aku Amora, aku tidak bisa rasakan sedih, marah, apalagi bahagia lagi saat ini. Aku merasa hati aku mati. Aku hanya ingin menjauh saja dulu sampai aku tenang." tutur Juno membuat Amora bingung.

__ADS_1


"Maksud kamu?" tanya Amora bingung dan mencari makna dari mata Juno.


"Boleh aku pergi." Seketika Amora terdiam tak bisa berkata-kata, tiba-tiba air matanya berlinang. Dia tahu sekarang, Juno ingin meninggalkannya. Inilah yang Juno inginkan, Juno ingin meninggalkannya. Juno ingin melupakan semua termasuk dia dan semua tentang mereka.


"Lalu bagaimana aku dan anak kita? Bagaimana aku bisa hidup tanpa kamu, Jun? Sesakit apapun aku hanya mau sama kamu, Jun. Silahkan kamu sakitin aku, tapi jangan tinggalin aku, Jun. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Kalau kamu mau pergi aku ikut, Jun. Jangan tinggalin aku," mohon Amora yang langsung bangkit dan memeluk tubuh polos suaminya.


"Aku nggak ninggalin kamu selamanya. Aku cuman mau cari tempat yang bisa buat aku tenang dan bisa temukan kedamaian aku aja. Aku selalu tersiksa di sini Amora. Aku nggak mau semua jadi kacau akhirnya gara-gara ini," lirih Juno yang tanpa mereka sadari mereka sama-sama meneteskan air mata dengan saling memeluk. Juno terus mengelus lembut kepala Amora yang tengah di peluknya. Amora tak bisa menyembunyikan isaknya.


"Apa yang salah, Jun? Biar kita perbaiki sama-sama, tapi jangan pergi pergi tinggalin aku, aku mohon, Jun." Amora bangkit duduk menatap Juno. Kali ini Amora menangis dan histeris di samping Juno yang masih berbaring. Dia tahu Juno tengah meminta izin untuk pergi meninggalkannya, sesuatu yang sangat ia takutkan. Juno bangkit dan memeluk Amora yang menangis.


Bagaimana bisa ia sampaikan ini pada Amora dan membuat Amora memahaminya. Dia mencintai wanita ini sangat mencintainya, tapi hatinya tengah patah dan hancur, dia tidak ingin sakitnya saat ini membuat Amora terluka nantinya. Ia butuh waktu untuk sembuh, dia hanya ingin memulihkannya saja sebelum dia benar-benar membenci semua yang ada dalam hidupnya. Dia tidak ingin jika Akhirnya dia kelak membenci Amora juga.


"Jangan pergi, Jun. Jangan pergi! Aku mohon!" Isak Amora tak tertahankan masih di pelukan Juno, air matanya terus membasahi wajahnya. Sepertinya Juno tidak akan bisa meyakini Amora dengan keinginannya ini. Juno memejamkan matanya untuk beberapa detik.


Mereka terus berpelukan hingga tertidur dengan tangis masing-masing.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2