
Keesokan harinya mereka berdua pun menuju ke hotel tempat dimana Rasti dan Horner akan melaksanakan resepsinya beberapa hari lagi. Di sana mereka di sambut keluarga Horner sebagai tamu istimewa.
"Amora!" seru seorang wanita paruh baya. Amora pun segera menghampirinya dan memeluknya seolah mereka sudah sangat lama tidak bertemu dan terlihat sangat akrab.
"Kapan kamu nyampe sini, sayang?" tanyanya.
"Kemaren Tante. Oh ya, ini suami aku Herjunot. Juno, ini bunda Horner neneknya Raya," ucap Amora memperkenalkan Juno kepada wanita paruh baya tersebut. Juno menyambutnya dengan saling memberi salam dengan wanita tersebut.
"Oh, ya. Rasti nya mana sama Raya?" tanya Amora.
"Ada, dia lagi sibuk di dalam urus ini itu, Raya lagi di kamarnya tidur di sebelah kayaknya. Kan 2 hari lagi mereka adakan resepsi pernikahannya. Kamu datang, ya. Jangan pulang dulu. Nginap saja di sini sekalian," tuturnya. Juno melihat Amora cukup akrab dengan keluarga besar Horner. Mereka terus mengobrol akrab. Juno hanya diam sedari tadi karena dia juga tidak mengenal keluarga ini.
Hingga entah dari mana datanglah Horner.
"Dokter Juno! Amora! Kalian ada di sini?" seru Horner. Juno pun menoleh.
"Kapan kalian kesini?" sapanya lagi.
"Iya, baru kemaren kita nyampe. Sekalian liburan juga, yaudah kita kesini juga buat mampir sebentar, kan," tutur Amora seraya menatap Juno yang hanya tersenyum tipis.
Ternyata Horner dan Rasti baru kembali dari fitting baju pengantin yang akan mereka kenakan di resepsi mereka esok hari. Melihat situasi yang ramai Juno terlihat kurang nyaman, Horner pun segera mengajak Juno keluar untuk mencari tempat yang nyaman mengobrol berdua.
__ADS_1
***
Sampailah mereka di sebuah kafe di dekat restoran tersebut. Juno masih tidak banyak bicara, karena dia masih merasa canggung. Apalagi mengingat siapa Horner membuat dia merasa aneh dengan situasi ini.
"Sudah lama aku bersama Amora, tapi aku selalu merasa Amora tidak pernah sebahagia saat dia bersamamu. Dia terlihat menjadi dirinya saat bersamamu. Dia manja dan selalu tersenyum," tutur Horner membuat Juno menatapnya dalam. Karena selama ini yang Juno rasakan Amora sangat kasar dan suka marah-marah saat bersamanya.
"Itu sekarang. Kalau dulu dia kasar, selalu marah-marah dan kami sering bertengkar. Dia selalu memaki aku. Dia sering buat masalah," tutur Juno cuek.
"Saat bersamaku dia banyak menahan. Dia berusaha seolah ingin seperti Rasti, yang anggun, dewasa dan selalu manis. Tapi, saat bersamamu dia menjadi sosok yang berbeda. Dia bisa marah, juga bisa terlihat sangat bahagia, sedikit ke kanak-kanakan layaknya anak tunggal. Layaknya dirinya yang sebenarnya, bukan orang lain." Juno menatap Horner tidak paham.
"Dia seperti menemukan jati dirinya saat bersamamu. Dia tidak berusaha menjadi sempurna saat bersamamu, dia berusaha menjadi dirinya sendiri. Aku merasa dia tidak benar-benar mencintai aku selama ini. Dia hanya nyaman saat bersamaku. Dia hanya ingin bersembunyi darimu, dari cinta masa kecilnya, cinta pertamanya. Dia sering bercerita kalau dia sangat menyukaimu saat kecil. Kamu membelanya dan melindunginya saat kecil. Membuat dia merasa menemukan sosok spesial. Katanya semua berubah saat kamu kembali bersama nenekmu. Dia kelihatannya selama ini hanya berusaha menutupi perasaannya padamu. Tapi, dia tidak pernah benar-benar membencimu. Aku merasa Amora menyukaimu sejak kalian kecil. Karena itu, aku selama ini hanya merasa Amora menyukaiku karena nyaman untuk dia bersembunyi darimu. Bukan karena dia mencintaiku." Juno mulai berpikir. Jika di runut kebelakang Amora memang tidak pernah benar-benar menolaknya. Dia memaksa Amora berhubungan dengannya layak suami istri tapi tak membuat gadis itu takut, malah mereka sering melakukan nya walau mereka harus bertengkar terlebih dahulu. Dan akhirnya Amora seolah membiarkan Juno melakukan itu lagi dan lagi. Bahkan, dia merawatnya dengan sangat baik saat sakit. Dia juga tidak pernah membiarkan orang lain mengetahui pertengkaran mereka. Buktinya hingga saat ini ibunya Amora tidak pernah mengetahui tentang pertengkaran mereka, bahkan Amora bersikap baik di hadapan neneknya. Hanya Sinta yang mengetahui bahwa mereka sering bertengkar dan ribut, itu pun karena Juno yang sering curhat.
"Percayalah. Amora itu mencintaimu, dia hanya menyembunyikannya selama ini dari mu. Dia sering mengunjungimu diam-diam ke tempat kamu kuliah dulu. Aku mengetahuinya dari bekas tiket yang sering dia pesan. Dia diam-diam mengawasimu juga, dokter Juno." Juno tersenyum, sekarang dia sedikit paham. Mungkin yang Horner katakan itu benar. Karena, saat dia tidak pulang pun Amora sering tampak kesal. Dia sering mengatakan itu juga, hanya saja selama ini Juno hanya menganggap sebagai alasan Amora yang ingin mengajaknya bertengkar saja. Bahkan, saat dia tidak memberi kabar berhari-hari di rumah sakit dia datang ke rumah sakit, walau ujung-ujungnya dia belokkan ke tempat Horner. Saat dia benar-benar marah pada Amora, Amora tampak sangat ketakutan saat itu. Bahkan dia menangis, dia langsung membuat perubahan besar dalam hubungan mereka. Dia langsung menyatakan perasaannya pada Juno seolah takut kehilangan.
"Cinta itu kadang sulit dan rumit, dok," tutur Horner dengan seulas senyum seraya menikmati kopinya.
Mereka mengobrol cukup akrab hingga waktu sore menjelang. Dan Amora pun menelpon menanyakan keberadaannya. Mereka pun segera kembali ke hotel. Setelah itu mereka pun kembali ke hotel mereka dengan menggunakan taxi.
Di mobil taxi dalam perjalanan pulang, Juno kembali memikirkan ucapan Horner tadi. Dia menatap Amora yang tampak tidak seperti orang yang patah hati, karena mengingat Horner akan menikah. Dia bahkan terlihat sangat bahagia sedari tadi, senyum tak pernah lepas dari wajah cantik Amora. Dan dia selalu lengket dengan Juno.
__ADS_1
"Kamu emang pernah ngunjungin aku ke Inggris waktu aku kuliah?" tanya Juno. Amora menoleh cepat ke arah Juno yang tampak penasaran.
"Bener?" tanya Juno lagi.
"Hmmm...," gumam Amora yang sebenarnya tengah menahan malu. Juno menyunggingkan senyumnya, dia tidak menyangka jika Amora benar-benar pernah menguntitnya dulu.
"Ngapain jauh-jauh ke Inggris tapi nggak nemuin aku?" tanya Juno lagi.
"Ya ... Aku iseng aja, kan kebetulan aku juga waktu itu lagi jalan-jalan ke Inggris. Papa bilang kampus kamu ada di Cambridge, kebetulan lewat, yaudah aku kesana aja. Kak Lia Gunawan sepupuku kan juga kuliah di sana. Makanya aku sekalian liat kampus kamu juga,"
"OOO ....," gumam Juno dengan senyum.
"Apaan? Jangan kegeeran, deh," sergah Amora.
"Maksud aku, kalo kebetulan jenguk sepupu kamu kenapa kamu sering gitu, tapi nggak nyapa aku, padahal udah jauh-jauh kan nguntitnya." Kali ini Juno membuat wajah Amora merah karena malu.
"Hmmmmhhhh... Siapa yang kasih tau sih?" tanya Amora yang tidak dapat menutupi rasa malunya. Juno langsung tertawa mendengar pengakuan Amora.
Tanpa mereka sadari mereka malah berbaikan dan kembali harmonis lagi setelah dari kemarin Juno ngambek karena di paksa Amora ke pernikahan Horner.
"Iya, aku ngaku. Dulu aku sering ngintilin kamu, tapi kamu nya kalo jalan lurus banget pandangan matanya sampe nggak pernah nyadar," aku Amora. Juno pun tertawa mendengarnya. "Yaudah, aku udah ngaku, tuh. Kita baikan, ya!" bujuk Amora kesempatan dalam kesempitan seraya memeluk lengan suaminya itu dengan senyum manisnya. Juno hanya tersenyum seraya mengusap kepala istrinya itu. Mereka terus menikmati perjalanan mereka hingga sampai di hotel tempat mereka menginap.
__ADS_1
BERSAMBUNG...