
Pagi itu di rumah sakit Juno masuk dan langsung bersiap dengan rutinitasnya. Sinta sudah bersiap di ruangannya sebagai asistennya di poli umum. Mereka segera memulai kegiatan mereka.
"Hari ini kayaknya lumayan rame, ya," seru Juno kepada Sinta yang masih sibuk dengan kegiatannya.
"Iya, lagi pancaroba. Kayaknya banyak yang mulai flu dan sakit. Kamu mending pakek masker hari ini, sebab flu gampang nular lo," ingat Sinta. Juno pun mengangguk.
Setelah semua beres mereka mulai berurusan dengan pasien mereka satu persatu. Juno yang ramah membuat pasiennya selalu nyaman saat berkonsultasi dengannya.
Setelah pasien terakhir keluar Sinta menatap Juno tajam.
"Kamu itu harus hati-hati sama pasien, mereka itu sakit. Siapa tau kan kamu ketularan mereka. Jangan terlalu dekat gitu," ingat Sinta agak kesal dengan Juno yang selalu susah untuk diingatkan untuk jaga jarak.
"Nggak papa, kan habis ini kita juga bersih-bersih," tutur Juno dengan senyum manis lalu ia pun menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
"Udah semua kan? Aku mau lanjut ke bangsal lagi," tanya Juno sekali lagi. Sinta pun mengangguk.
Belum juga Juno melangkah ke luar, tiba-tiba dia mulai merasa pusing. Dia buru-buru berpegangan pada tiang pintu ruangannya. Mungkin ini karena sedari pagi dia belum makan, Juno mulai kehilangan tenaga dan merasa pusing karena kelelahan. Dia masih berpegangan pada tiang pintu. Sinta dengan cepat menghampiri Juno.
"Loh, kenapa, Jun?" tanya Sinta khawatir.
"Agak pusing," ujar Juno mencari tempat duduk, Sinta menuntun Juno duduk di kursinya dulu.
"Kamu belum sarapan, ya?" tanya Sinta Juno menggeleng.
__ADS_1
"Nggak sempat tadi pagi," tuturnya seraya membuka botol minuman. Sinta menatap kasihan kepada Juno. Sesaat dia ingat sesuatu. Ia pun segera mengambilnya di tas yang ia bawa tadi dan kembali menemui Juno di ruangannya.
"Eh, iya. Aku bawak makanan. Aku liat kamu sering nggak sarapan akhir-akhir ini. Jadi aku bawak masakan nenek dari rumah tadi. Mungkin kamu kangen sama cah kangkung buatan nenek," tutur Sinta membuat Juno tersenyum sumringah.
Dia memang sudah lama kangen masakan neneknya. Sinta mengerti itu, karena dari dulu Juno selalu memuji masakan neneknya dan setelah menikah dia jarang pulang ke tempat neneknya. Apalagi sekarang ia sedang sibuk. Sinta segera membuka bekal yang ia bawa dengan Juno yang sudah siap di kursi nya.
"Makan dulu sebelum kerja. Kamu bisa gampang sakit kalo terus nggak sarapan kayak gini. Tubuh kamu jadi gampang drop nantinya," tutur Sinta lembut seraya menyiapkan semua diatas meja Juno. Juno tersenyum dan mulai menikmatinya. Sinta memperhatikan pria tampan itu dengan lahap nya menikmati masakan yang ia bawa itu.
"Kamu biasanya selalu sarapan, tapi ini kok sering nggak sih akhir-akhir ini? Padahal pagi-pagi kamu udah nyampe rumah sakit. Nggak mungkin nggak sempat kan? Nggak mungkin juga di rumah segede itu nggak ada pembantu yang masak kan?" selidik Sinta. Juno menghentikan kegiatan makannya. Itu membuat Sinta semakin curiga.
"Ada apa Juno?" tanya Sinta sekali lagi, kali ini dengan tatapan serius nya.
"Aku merasa risih aja. Aku rasa ibu Amora nggak suka sama aku. Waktu itu aku pulang malam dan aku lapar, aku ke meja makan minta sesuatu untuk makan malam. Tapi mereka semua seperti ingin menyembunyikan sesuatu. Mereka seperti ketakutan, ya sudah aku minta makan pakai telur ceplok aja, sebab malam itu aku lapar banget. Aku ingat tiap kali sarapan bersama ibu mertua dia nggak pernah sapa aku. Jadi, aku rasa dia nggak bisa terima aku sepenuhnya di rumah itu. Makanya aku coba hindarin dia, aku nggak enak kalo dia nggak nyaman waktu sarapan sama aku. Sebab hanya ada kita berdua saat sarapan, makanya kalo papa lagi nggak ada aku nggak sarapan di rumah," tutur Juno dengan senyum miris. Sinta mengangguk tanda mengerti sekarang.
Juno hanya tertawa kecil seraya mengedik kan bahunya dan kembali melanjutkan makannya.
***
Diam-diam Sinta menelpon Amora. Baru juga ia akan menelponnya, tapi Sinta urung lakukan. Dia kembali berpikir.
"Nanti aku di kira ikut campur lagi. Lagian Juno nya udah baikan. Tapi ... Keterlaluan juga sih Amora, kalo sampe makan pun Juno nggak di tawarin. Kalo nenek sampe tau, mati kamu Amora," rutuk Sinta kesal.
***
__ADS_1
Selesai bekerja Juno buru-buru pulang. Ia tiba-tiba merasa tubuhnya semakin meriang. Ia pun putuskan untuk pulang lebih awal. Di kamar Amora kaget dengan kepulangan Juno tiba-tiba. Dia menatap Juno yang baru pulang dengan tatapan kaget. Ia menggantikan pakaiannya buru-buru dan tidur di ranjang. Amora berjalan pelan ke ranjang menghampiri Juno yang sudah terbaring.
"Kamu kenapa?" tanya Amora masih dengan tatapan bingung.
"Aku nggak enak badan," lirih Juno. Amora meraba kening Juno. Ternyata benar terasa panas. Dia melirik tas Juno.
"Kamu sudah minum obat?" tanyanya khawatir. Juno menggeleng. Amora pun mengambil tas Juno dan mengeluarkan beberapa jenis obat yang Juno simpan di tasnya.
"Yang mana obatnya buat demam?" tanya Amora pada beberapa obat yang ia keluarkan. Juno pun mengambil beberapa obat dan memberikannya pada Amora.
"Cuman segini?" tanya Amora lagi. Juno pun mengangguk. Amora pun buru-buru keluar kamar. Sebentar ia datang dengan segelas air putih.
"Duduklah dulu. Minum obatmu," tutur Amora. Juno kaget dengan reaksi Amora. Dia membimbing Juno untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Dan memberikan Juno obat yang Juno tunjukkan tadi. Sudah ia buka dari bungkusnya dan Juno pun mengambilnya dan menelannya.
"Tidur lah," tuturnya lembut seraya membenahi selimut Juno. Juno pun berbaring dengan tatapan aneh dengan perhatian Amora padanya.
"Mau aku pijit?" tanya nya lembut dan langsung memijit lembut lengan Juno dan beberapa bagian tubuhnya.
Amora terus merawat Juno tanpa banyak bicara. Dia bahkan mengompres Juno dengan handuk yang ia rendam ke air hangat semalaman. Usaha Amora berhasil membuat demam Juno cepat sembuh.
Semalaman ia di rawat tanpa pertengkaran. Sesaat Juno merasa kadang Amora tak seburuk itu. Tapi siapa yang tau nantinya apa yang terjadi. Selama di hati Amora masih ada nama lain.
"Terimakasih," tutur Juno paginya saat Amora kembali meraba kening Juno untuk mengecek apakah Juno masih demam. Amora hanya mengangguk dan tersenyum. Dia senang Juno sudah tidak sakit lagi. Ia kembali membawa air dan handuk itu keluar kamarnya. Juno menatap kepergian Amora. Ia tersenyum simpul, setidaknya di momen ini dia merasa Amora mulai menerima keberadaannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...