Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Racau Dona


__ADS_3

Saat sampai rumah Juno di kagetkan dengan kedatangan neneknya di ruang tamu.


"Nenek!" seru Juno yang langsung tersenyum sumringah mentap kedatangan neneknya itu. Dia langsung menghampiri neneknya dan mencium punggung tangan neneknya yang di ikuti oleh Amora juga.


"Nenek kapan datang? Kenapa nggak ngasih tau, kalo aku tau nenek datang kan aku bisa stay di rumah," ujar Juno. Nenek hanya tersenyum mendengar penuturan Juno yang penuh semangat.


"Nenek juga mendadak, tiba-tiba rasanya hari ini pengen ke sini. Kan nenek belum pernah datang ke sini. Ya, nenek hanya penasaran bagaimana kehidupan kamu sama Amora di sini. Apa kamu masih suka ninggalin Amora apa nggak, apa kamu suka pulang malam lagi apa nggak," ujar nenek seraya terkekeh dan di sambut senyum puas Amora yang merasa tengah di perhatikan nenek, ia tersenyum dan memeluk manja lengan nenek Juno.


"Pulang malam masih sering, nek. Kadang suka lupa kasih kabar," adu Amora manja. Juno menatap Amora sekilas mendengar aduan manja istrinya itu.


"Oh, ya nek. Kita ada kabar gembira. Tadi kita habis dari dokter kandungan buat cek kandungan Amora. Ternyata bener positif. Amora hamil baru jalan 4 Minggu. Jadi, bentar lagi nenek punya cicit." Sontak membuat semua yang mendengar menjadi bersorak gembira. Bahkan para pelayan pun ikut senang mendengarnya. Ros langsung memeluk nona mudanya itu seraya tersenyum senang. Amora pun ikut bahagia melihat semua orang bahagia.


"Syukur lah kalau begitu. Sebentar lagi anggota keluarga kita akan bertambah," ujar nenek seraya menatap Amora dan mengelus kepalanya lembut penuh kehangatan seraya mencium puncak kepala Amora, Amora yang tadinya memeluk Ros kini gantian memeluk nenek Widya kembali dengan erat.


"Selamat ya sayang," bisik nenek bahagia.


"Iya, makasih, nek," ujar Amora seraya mempererat pelukannya pada nenek.


Juno mengacak rambut Amora yang di sambut Amora dengan senyum nyengir dengan masih memeluk nenek Widya manja.


Tidak lama berselang terdengar suara mobil datang. Seperti suara ibu Amora yang baru datang. Itu terdengar dari suaranya ibunya Amora yang berseru memanggil para pelayan.


"Itu mama baru datang kayaknya, nek," seru Juno bersemangat dan bangkit untuk menghampiri mertuanya.


Sesampainya di luar tepatnya teras rumah, Juno melihat terjadi sesuatu.


"Ya ampun kok di jatuhin, sih!" seru ibu Amora pada para pelayan yang tanpa sengaja malah menjatuhkan barangnya. Kelihatannya ibu Amora baru saja membeli kristal baru lagi.


"Mah, baru datang?" sapa Juno ramah seraya berjalan menghampirinya. Dan spontan ingin membantu para pelayan itu untuk mengangkat kristal yang kelihatannya mereka agak kesulitan untuk mengangkatnya, karena ukurannya yang lumayan besar.

__ADS_1


"Jangan sentuh barang-barang saya!" bentak Dona pada Juno yang sontak membuat semua terdiam.


"Kamu pikir bisa ganti nanti kalo rusak? Gaji kamu yang belasan juta itu tidak akan sanggup menggantinya kalau rusak," seru Dona sarkas. Tepat saat nenek Widya yang tengah berdiri di depan pintu dan mendengar semua ucapan Dona pada Juno.


"Apa? Kamu bilang apa barusan Dona? Apa kamu barusan membentak cucuku?" ujar nenek dengan langkah pelan dan sebuah tongkat di tangannya berusaha menghampiri Juno yang juga tak kalah kagetnya dengan kehadiran neneknya yang sudah berdiri di sampingnya.


"Nggak, nek. Nggak ada apa-apa. Yuk, kita masuk lagi," ujar Juno berusaha membuat semua baik-baik saja. Nenek bergeming dengan tatapan tajam pada Dona yang tampak salah tingkah. Dia tidak menyangka jika di rumah sedang ada nenek Juno.


"Kamu sudah sering menghina cucuku seperti barusan, Dona? Apa memang begitu cara kamu memperlakukan cucuku selama ini?" selidik nenek Widya yang tampak sangat murka.


"Aku menikahkan cucuku dengan putrimu karena aku pikir keluarga ini bisa menerimanya, BUKAN UNTUK DI HINA SEPERTI INI," ujar nenek Widya yang sudah tidak bisa menahan amarahnya. Dengan Dona yang masih tampak diam.


"Kalau aku tau cucuku di perlakukan begini, aku tidak akan sudi menikahkan mereka berdua. Banyak di luar sana keluarga yang bisa menghargai gaji belasan juta cucuku itu, Dona," geram nenek Juno.


"Udah, nek. Ini nggak kayak nenek lihat. Ini cuman salah paham," ujar Juno berusaha terus menengahi. Amora tampak bingung apa yang harus ia lakukan.


"MAMAH, APA-APAAN SIH, MAH. Aku nggak pernah permasalahin berapapun penghasilan Juno. Aku sayang Juno dan yang Juno kasih ke aku pun lebih dari cukup kok selama ini," bela Amora yang tampak panik. Juno dan Amora saling pandang.


"Nek, Mama pasti lagi mabok ini, nek. Jangan di dengar omongan ngawur Mama, nek. Dia habis kumpul-kumpul sama temannya. Dia pasti habis minum anggur merah, nek. Jadi agak ngawur," terang Amora khawatir karena kata-katanya ketakutan melihat expresi marah nenek Juno.


"Apanya yang cukup? Kamu sering mintak transfer papah kamu. Apalagi kamu memang tidak menyukai Juno awalnya, kan? Pernikahan ini bisa terjadi karena memang papah kamu yang selalu paksakan," sudut Dona lagi dengan angkuhnya dan tatapan yang sama sekali tak terlihat gentar..


"Baik. Kamu mau apa? Mencari menantu kaya raya untuk di nikahkan dengan putrimu? Silahkan kalau begitu. Aku juga dengar kalau untuk makan saja cucuku sering tidak di tawari di rumah ini. Memang lebih baik dia tidak di sini. Dari pada cucuku mati kelaparan di sini dengan mertua yang pemikiran dangkal seperti kamu," tutur nenek Widya yang membuat Juno dan Amora panik mendengarnya.


"Nggak, nek. Amora sayang banget sama Juno. Kalo nggak mana mungkin Amora bisa sampai hamil, kan? Mama pasti habis mabok ini, nek. Jangan di ambil hati, nek," ujar Amora seraya menangis. Amora pun segera memeluk lengan Juno. Juno memeluk Amora agar tenang, dan meminta para pelayan membawa mertuanya masuk, tapi di tolak Dona.


"Iya, nek. Ini pasti hanya salah paham, aja dan ....," tutur Juno terputus.


"Kemasi barang-barang kamu sekarang juga, Juno," tutur nenek Widya tidak mau di bantah lagi dan tampak emosional.

__ADS_1


"Tapi, Nek ....," nenek mengangkat tangannya tanda tidak mau di bantah lagi. Juno menatap Amora yang terus menangis dan melarang Juno untuk tidak pergi.


"Nggak, nek. Jangan Bawak Juno pergi, nek," tangis Amora menahan Juno.


"Sudah Amora, biarkan saja mereka pergi. Banyak laki-laki lain yang mengharapkan kamu," ujar Dona.


"MAMA KENAPA, SIH? MAMA MABUK YA? Mama sadar donk, Mama lagi ngomong apa ini? Mama jangan rusak rumah tangga aku. Sadar, Mah. Ini masih sore, Mah," tutur Amora yang mencium ada alkohol di pakaian ibunya. Dona memang baru berkumpul bersama Genk sosialitanya dan dia baru saja pesta wine mahal ala sosialita sepertinya yang membuat dia sedikit kehilangan kontrol sekarang.


"MAH, SADAR, MAH," teriak Amora seraya histeris.


Nenek Widya hanya menatap Dona dengan tatapan sinis. Sungguh Dona terlihat buruk saat ini.


"Nek, jangan dengerin omongan Mama. Dia habis ngumpul bareng temennya, dia pasti habis minum wine lagi, nek," pinta Amora lagi. Nenek tetap bergeming.


Tidak lama Juno keluar dengan tas ransel kecilnya bersiap pergi mengantar neneknya. Itu membuat Amora semakin panik.


"Jun, kamu jangan gila, ya," teriak Amora pada Juno seraya memukul tubuh Juno.


"Kamu ikut aku dulu sekarang ke tempat nenek. Kita ke tempat nenek dulu, ya sampai semua tenang. Kita antar nenek pulang dulu," ajak Juno. Amora tidak menjawab dia mengerti maksud Juno, dia hanya mengikuti Juno dan nenek ke dalam mobil.


"Heh, mau kamu bawa kemana anakku, HAH?" teriak Dona histeris dengan pandangan mata yang tampak agak teler.


"Nyonya! Apa-apaan ini? Nyonya mabuk?" ujar Ros yang baru berani bersuara setelah mobil Amora dan Juno berlalu.


"Aku tidak mabuk, aku hanya minum segelas wine, AKU TIDAK MABUK ," teriak Dona mulai meracau lagi.


"Bawa nyonya ke kamar. Biar saya hubungi tuan besar dulu," perintah Ros pada para pelayan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2