
Mereka sampai di tempat pesta dan di sambut tuan rumah dengan baik juga beberapa sesama tamu undangan. Juno yang melihat kedatangan neneknya segera menghampiri beliau. Nenek ya menyambut cucunya itu dengan hangat, begitu pula Amora, dia langsung memberi salam cipika-cipiki pada nenek. Mereka mengobrol sebentar hingga ayah dan ibu Amora pun menghampiri mereka. Setelah memberikan salam ibu dan ayah Amora tampak akrab mengobrol bersama nenek.
Sesaat mereka mulai di sibukkan dengan Circle masing-masing. Juno dengan kenalannya, dan ayah Amora pun dengan rekan bisnisnya. Hanya ibu Amora dan Amora yang masih bersama nenek Juno.
"Di sini banyak pengusaha sukses yang sudah menghasilkan ratusan juta di usia mudanya, Buk. Mereka bisa hidup mapan di usia mereka yang masih seangkatan Juno tanpa bergantung dengan orang tua mereka lagi. Sangat menginspirasi, ya," tutur Dona yang membuat Nenek Juno sedikit mengernyitkan keningnya dengan senyum tipis penuh makna. Sedangkan Amora menatap ibunya masih tidak paham akan keadaan dan maksud tujuan ibunya bicara begitu.
"Contohnya dia, buk," tunjuk Dona pada salah seorang pemuda. "Dia sukses dengan usaha propertinya, dia punya banyak apartemen dan mobil mewah hasil kerja kerasnya. Dan itu juga, buk. Dia pengusaha tambang di usianya yang masih 32 tahun. Amora sempat akan di jodohkan dengan pria itu, tapi ayah Amora menolak karena menginginkan Juno. Sekarang dia sukses di usia mudanya, dia bahkan punya jet pribadi dan rumah super mewah di Kalimantan, iya kan Amora," terang ibu Amora.
"Aku senang nggak nikah sama dia, Mah. Dia suka mainin cewek. Aku bersyukur suami aku Juno, selain tampan Juno juga tau bagaimana caranya menghargai wanita," tutur Amora yang terdengar sedikit membela Nenek Juno seraya memeluk nenek kesayangan Juno itu.
Itu membuat Dona sedikit memicingkan matanya. Nenek Juno hanya tersenyum tipis dan memngangkat tangannya menyentuh bahu Amora atas reaksi pelukan hangat Amora padanya. Nenek Juno seakan mulai paham arah pembicaraan ini. Ia memandang ke sekitar dan ia menarik nafas panjang saat matanya tertuju pada tamu yang baru datang. Nenek melambaikan tangannya pada sosok wanita elegan itu dengan seorang gadis cantik di sampingnya dan berjalan ke arah mereka. Dona menatap kedatangan dua orang itu. Tentu Dona tahu betul siapa yang nenek Juno panggil itu. Pengusaha konglomerat Kartika istri Subekti pemilik usaha properti terbesar di Indonesia.
Ia pun segera menghampiri nenek Juno dan cipika-cipiki.
__ADS_1
"Wah, Buk. Anda ada di sini juga, ya? Tidak menyangka ya kita bisa ketemu di sini. Sudah lama saya tidak mendengar kabar tentang anda, Buk. Apa kabarnya?" sapanya ramah. Dona terdiam, karena walau dia kalangan atas juga tapi dia bukan kah di kalangan Subekti Group, karena itu kalangan kelas kakap. Dona menelan salivanya seolah tertampar akan keadaan.
"Baik, ini Keira, ya? Sudah selesai kuliah mu, nak?" tanya nenek Juno ramah dan di sambut senyuman hangat si gadis cantik.
"Sudah, Nek. Baru beberapa bulan lalu Kei wisuda, Nek," jawabnya akrab. "Ini siapa, nek?" tanyanya pada Amora yang tengah berdiri di samping nenek Juno. Nenek pun memandang Amora dan menyentuh lembut wajah cantik Amora, membuat Amora tersipu.
"Ini istri Juno. Dulu kamu sangat dekat dengan Juno, nah sekarang Juno sudah menikah. Dan ini adalah istri Juno sekarang. Habis nungguin kamu kelamaan Nenek nunggunya," tutur nenek Juno terkekeh.
"Ya, Nenek hanya ikut maunya Juno, dia dari dulu maunya Amora, padahal Amora diajaknya berantem terus sebelum nikah," kekeh Nenek lagi.
"Iya, ya... Keira ingat dulu Juno sering banget teleponan sama cewek, waktu Keira tanya siapa, dia selalu jawab calon istri, ternyata ini Amora, ya? Lumayan cantik juga, ya Nek," puji Keira yang terdengar agak ambigu.
"Eh, Buk. Jangan gitu ah, ini beneran patah hati, loh dia. Waktu Juno nikah berkali-kali dia tanyanya 'beneran, Mah? Beneran?' tanya nya dari Inggris. Sampe mau pulang dia. Tapi aku tahan. Eh, ibuk tahu nggak anak pejabat yang centil itu, siapa sih namanya aku lupa, dia itu malah kabur keluar negeri karna patah hati ibu nya yang cerita loh, buk ... Pernikahan Juno itu patah hati nasional, buk buat anak gadis kita-kita. Dia kan usil suka jahilin Keira dan yang lain. Jadi baperan semua," terang Kartika.
__ADS_1
Mendengar jika wanita yang dekat Juno bukanlah kalangan biasa membuat Dona terdiam seketika, niatnya yang ingin pamer malah langsung terpatahkan dengan kehadiran Kartika dan putrinya di hadapan Dona. Nenek Juno seolah menjawab telak hinaan yang coba Dona sisipkan secara halus tadi, sekarang malah dia yang tertampar oleh keadaan. Perbincangan mereka berlangsung cukup lama dan akrab. Hingga tanpa terasa hari semakin larut. Nenek pun sudah merasa cukup dengan pestanya. Ia menatap Dona yang sedari tadi terdiam.
"Hari sudah mulai malam. Sepertinya saya harus pulang sekarang," tutur nenek tidak ingin melanjutkan perbincangan konyolnya, beliau mulai merasa ibu Amora ingin menyudutkan cucunya Juno tadi, dan sekarang setidaknya dia sudah memberi pemahaman yang cukup kepada Dona tentang siapa cucunya itu. Ia pun meninggalkan Dona yang masih terpaku di posisinya. Ia segera menghampiri Juno untuk memberitahu kepulangannya. Juno tampak memberi salam perpisahan pada neneknya itu. Dona masih menatap nenek Juno yang berlalu dengan anggun, walau usianya sudah cukup senja tapi beliau masih terlihat anggun dan berkelas.
'Hmmm... Entah apa unggulnya cucumu hingga suamiku sangat menyayanginya dan memarahi anaknya sendiri untuk membela cucumu. Sekarang kamu bersikap seolah cucumu sangat hebat, apa kau lupa jika cucumu itu hanya dokter umum, penghasilannya hanya puluhan dan belasan juta saja tiap bulannya. Putramu sangat menyebalkan Hanna,' gerutu Dona membatin.
"Hmmm... Mah, liatkan nenek Juno itu juga banyak kenalan dari kalangan atas," tutur Amora membuat Dona mendengus kesal. Amora paham jika ibunya tadi berniat pamer pada nenek Juno, sekarang malah dia sendiri yang di buat nenek Juno ciut nyali.
"Tetap saja penghasilan suami kamu itu kalah jauh sama laki-laki yang dekat sama kamu dulu, sama Horner pun Juno masih kalah jauh," sergah Dona masih tidak terima.
"Dah ah, capek Amora liat Mama nggak mau kalah terus. Mending Amora nyamperin suami Amora, tuh. Mulai mabuk dia," tutur Amora seraya menghampiri Juno yang tengah berkumpul bersama teman-temannya itu. Kini Dona tinggal sendirian di pesta itu. Ia pun segera mencari suaminya dan menghampiri nya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1