
Setelah mendengar dokter akan vonis kematian neneknya, Juno seakan merasakan dunia nya runtuh seketika. Dia jatuh pingsan dan di bawa pulang ke rumah Amora setelah memastikan keadaan Juno baik-baik saja. Juno masih tidak bisa di ajak bicara. Dia hanya diam termenung di kamar. Sedangkan neneknya sudah di makamkan tadi pagi. Juno seakan kehilangan roh dalam jiwanya. Dona hanya bisa terdiam melihat keadaan Juno tersebut.
"Puas!" lirih Kevin pada Dona dengan mata berkaca-kaca menahan sakit di hatinya. Dona hanya bisa tertunduk tanpa berani mengangkat wajahnya lagi.
Ia menghampiri Juno di ranjangnya dengan langkah perlahan. Dia duduk di samping ranjang Juno dengan Amora yang setia duduk di samping Juno.
"Maafin Mama. Mama nggak bermaksud kayak gini, mama cuman mau kamu fokus pada Amora saja saat itu. Mama tidak tau kalau itu panggilan karena nenek kamu sekarat. Maafin Mama, Juno!" lirih Dona dengan linangan air mata penuh penyesalan. Juno hanya diam tanpa reaksi. Juno seakan merasakan patah hati yang teramat dalam saat ini, dia tidak bisa hadir di detik terakhir neneknya itu membuat Juno sangat terluka, kecewa, marah dan penuh sesal. Membayangkan bagaimana saat itu neneknya mencarinya dan memanggil namanya tanpa bisa ia datangi membuat Juno sangat terluka.
***
Dona kembali ke kamarnya setelah pulang dari pemakaman nenek Juno dengan tatapan penuh sesal. Kevin masuk kamar dan membanting pintu kamar. Amarahnya benar-benar sudah memuncak kali ini. Ia menatap tajam ke arah Dona.
"Roman picisan murahan yang di taburi perasaan nggak mau kalah yang terus kamu simpan. Lihat! Siapa yang sedang kamu buat hancur? Anak kamu, DONA! Bukan hanya anak Hanna," geram Kevin penuh amarah.
"Selalu tidak mau kalah. Menyudutkan dia hingga seperti ini, sekarang apa yang bisa kamu dapat kalau sudah begini? Dia kehilangan neneknya dan kamu bisa PUASKAN? Tidak ada yang bisa tersisa dari dia. Bahkan sampai sekarang dia masih tidak sadarkan diri, berkali-kali dia pingsan di pemakaman karena ulah kamu. Dia kamu buat penuh penyesalan sekarang. Apa salahnya dia berbakti dengan neneknya? Kenapa kamu halang-halangi jiwa berbakti anak baik itu, DONA? Aku malah bangga punya menantu sebaik itu terhadap orang tua, ini malah di cemburui nggak jelas" pekik geram Kevin di kamarnya dengan Dona yang semakin tersudutkan.
"Kamu sangat, sangat jahat Dona, sangat jahat kali ini,"Dona hanya bisa tertunduk. Kevin yang geram keluar kamar meninggalkan Dona dan membanting pintu dengan keras.
Dia menuju kamar Amora dan Juno. Masih dengan tatapan kosongnya di ranjang. Kevin menitikkan air matanya karena tidak tega, dia tidak berani menemui Juno saat ini. Dia hanya di temani beberapa orang terdekatnya saat ini. Termasuk Amora yang terus berada di sampingnya.
__ADS_1
***
Juno tengah duduk di balkon kamarnya, ia menatap keluar halaman rumah, dia tengah sendirian di rumah karena semua orang tengah sibuk di acara peringatan 7 hari kematian neneknya di kediaman neneknya yang akan diadakan malam ini. Juno tidak mau kesana, karena dia masih belum sanggup dan tepatnya dia masih belum mau menerima kenyataan bahwa neneknya sudah meninggal dunia.
Tanpa sepengetahuan siapapun ia berjalan keluar dengan tatapan mata yang hampa. Ia terus berjalan menyusuri jalanan terik tanpa arah. Tak ada air mata atau emosi apapun. Ia hanya merasa hampa, sendirian, kecewa dan hancur, hancur? Apa masih ada yang tersisa dari dirinya yang bisa di hancurkan dari dirinya.
Semua sudah pergi meninggalkan dia sekarang. Tidak ada apa-apa lagi yang ia miliki sebagai sandarannya. Tidak ada lagi orang yang menyayanginya seperti nenek yang selama ini bersamanya.
Juno terus berjalan hingga hari senja. Entah sudah berapa jam ia berjalan tanpa arah. Hujan mulai turun, Juno tetap berjalan tanpa berhenti dengan tatapan kosong. Ia sebenarnya secara fisik mulai lelah walau ia sendiri tidak merasakan itu, kakinya mulai terasa kaku tidak bisa ia gerakkan lagi. Tapi masih terus ia coba untuk langkahkan, hingga ia terjatuh dan masih juga ia paksakan untuk kembali berdiri.
Tiba-tiba langkah Juno terhenti di depan sebuah masjid besar. Matanya tertuju ke sana. Ia masuk setelah melepas alas kakinya. Ada beberapa jemaah yang tengah sholat dan ada juga yang memperhatikan kedatangan Juno yang datang dalam keadaan basah kuyup. Ia duduk tapi tidak melakukan apapun. Juno hanya diam duduk bersimpuh. Tiba-tiba ia bersujud seketika tangis nya pecah, membuat beberapa marbot masjid mulai memperhatikan Juno. Dia melihat dari stelan yang Juno pakai dia pasti bukan orang sembarangan tapi tingkah Juno sangat aneh. Dia menangis terisak sambil bersujud.
Seorang ustad mendekati Juno yang masih terisak. Ia menyentuh bahu Juno pelan.
"Nak, ada apa?" ujar seorang ustadz pelan. Juno tak bergeming dari sujudnya. Dia tetap bersujud tanpa mau beranjak hanya tubuhnya yang tampak terus bergetar menahan tangisnya. Ustad dan beberapa orang berusaha mengangkat Juno dari sujudnya yang sudah terlalu lama itu.
"Kenapa dia mengujiku hingga tidak menyisakan sedikitpun untuk aku berpegang? menyisakan celah untuk aku bernafas. Apa salah ku? Aku tidak pernah menyakiti siapapun. Aku bahkan mengobati hamba-Nya yang lain di rumah sakit dengan setulus hati. Aku patuhi setiap permintaannya, tapi dia tetap pergi meninggalkan aku dengan cara yang sama dengan yang lain. Semua yang aku miliki di renggutnya dari ku tanpa sempat aku mengucapkan selamat tinggal. Kenapa Dia begitu tidak adil padaku," Isak Juno emosional, seorang pria muda memeluk Juno, hingga tangis Juno pecah tak tertahan kan.
"Jangan gini mas. Banyak orang di luar sana yang juga di uji Allah, mereka di uji bukan karena Allah membenci mereka tapi karena Allah yakin mereka mampu. Mas harus sabar, jangan jadi seperti ini," ujarnya berusaha menenangkan Juno.
__ADS_1
Sesaat Juno bisa tenang, pak ustad menyentuh bahu Juno dan menyandarkannya di salah satu sudut ruangan. Mereka ingin mengganti pakaian Juno yang basah tapi Juno menolaknya. Hingga mereka hanya bisa mengelap tubuh Juno yang basah.
***
Tidak lama Amora sudah datang menemui Juno. Berkat aplikasi pelacak yang pernah Juno hubungkan ke handphone mereka hingga Amora bisa melacak posisi Juno saat ini.
Saat melihat Juno memang ada di sana Amora langsung berlari memeluk tubuhnya yang masih diam tanpa reaksi.
"Tadi mas ini kesini dalam keadaan basah, kami tawarin buat ganti pakaiannya dia nolak, mbak," terang salah seorang.
"Terimakasih pak. Dia suami saya, kami memang sedang berduka. Mungkin dia pergi saat kami tidak ada di rumah tadi, pak," terang Amora. Amora menceritakan sedikit tentang kematian nenek Juno yang membuat Juno seperti ini. Mereka pun mulai paham sekarang dan menatap Juno dengan tatapan kasihan.
Setelah mengobrol sebentar dan mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang ada di sana. Amora pun permisi untuk membawa Juno pulang bersamanya. Juno hanya diam sepanjang perjalanan mereka pulang.
"Jun, kamu kenapa pergi?" tanya Amora lembut di mobil.
Juno masih diam tanpa jawaban. Amora merasa sangat bersalah, karena ulah ibunya kini Juno seperti hidup tanpa arti karena patah hati akan kematian neneknya yang tanpa kehadirannya. Juno seolah terus menyesali hari itu, dia seakan tengah menghukum dirinya sendiri saat ini.
BERSAMBUNG....
__ADS_1