
Sinta menemui Amora dengan senyum sinisnya.
"kau yakin mau melepaskan Juno, Amora? Jika kau lepaskan dia, aku akan mengambilnya dan jangan harap kau bisa bersamanya lagi," bisik Sinta di samping Amora. Membuat Amora menatap tajam pada Sinta. Setelah mengatakan itu dia pun pergi menyusul Juno.
Ada rasa khawatir di hatinya saat dia secara tak sengaja mengucapkan kalimat tak menginginkan Juno dan Sinta malah menemuinya mengatakan akan mengambil Juno darinya. Ada rasa tak ingin kehilangan Juno yang tiba-tiba sangat kuat ia rasakan sekarang. Tapi tak bisa ia ungkapkan. Amora ingin menyusul Sinta tapi hatinya tengah kacau, ia pun memutuskan untuk pulang saja.
"Maaf, Juno," lirihnya sendirian seakan menyadari akan sikapnya barusan, ia melangkah pergi cepat meninggalkan tempat tersebut.
Amora pergi dengan mobilnya menuju sebuah taman. Ia menangis di dalam mobilnya. Ia butuh waktu untuk sendiri, dia tengah terjebak dengan perasaannya. Dia bingung, kenapa dia tak bisa akui jika dia benar mencintai Juno. Tapi, dia masih menyimpan obsesinya pada Horner. Dia tidak mungkin kan tengah mencintai 2 pria sekaligus. Amora terus menangis, menangisi Horner yang sudah benar-benar mencampakkannya dan Juno yang kini marah padanya. Dia mulai merasa kehilangan semuanya sekarang.
Tanpa ia sadari, itulah taman yang pernah ia kunjungi bersama Horner dulu. Dia berjalan berlahan keluar dari mobilnya. Ia mulai menyusuri taman yang kebetulan tengah sepi itu. Ia seolah tengah napak tilas dengan masa lalu mereka dulu.
Setiap sudut dari taman itu kembali membawa Amora pada kenangan indah itu lagi. Dimana ia, Raya dan Horner sering menghabiskan waktu mereka bertiga di sana. Ia ingat saat itu orang sering mengatakan mereka tampak sangat bahagia dengan Putri cantiknya Raya. Amora sangat bahagia saat itu, ia seolah memiliki segala nya di hidupnya saat itu.
Hingga suatu saat Rasti melarang Raya untuk menemui mereka lagi. Raya kerasa kepala memberontak dan berlari mengejar Amora yang datang menjemputnya harinya itu, saat itu lah pertengkaran ibu dan anak itu terjadi di tangga sekolah Raya, hingga tanpa Resti sadari ia malah mendorong Raya hingga terjatuh dari tangga.
Semua berubah mulai saat itu, Horner menjadi lebih fokus mengobati Raya. Dan Amora mulai melihat Rasti memanfaatkan keadaan itu untuk kembali kepada Horner. Hingga Horner menemui amora hari itu, tepat setelah Amora di lamar Juno.
Amora berusaha kabur hingga ia berhasil menyusup kabur dari rumahnya dan menemui Horner kediamannya berharap bisa membuat Horner meninggalkan Resti dan menyelamatkan dia dari pernikahan yang tak di inginkanya. Tapi kenyataannya sungguh di luar dugaan Amora.
__ADS_1
"Menikah lah dengannya Amora, jangan permalukan keluarga kamu dengan cara pergi seperti ini. Mereka akan sangat malu jika saat calon suamimu datang kamu tidak ada," tutur Horner bijak dengan menggenggam tangan Amora yang masih mengenakan baju kebayanya lengkap dengan riasannya.
Amora tidak percaya ini.
"Ternyata selama ini aku berharap kepada orang yang salah. Kau pengecut Horner. Kau tidak mempertahankan hubungan apapun, bahkan saat aku korbankan semua demi kamu, kamu masih tak menganggapnya berarti. Kau pengecut Horner," teriak Amora histeris seraya berlari meninggalkan Horner dan kembali ke acara pertunangannya bersama Juno, tepat satu Minggu setelah itu Amora dan Juno pun resmi menikah.
***
"Kau pengecut Horner. Kau membuat aku terjebak sekarang. Kau egois, bisa-bisanya aku mempercayai perasaanku padamu," isak Amora sendirian di bangku taman itu seraya mendekap wajahnya dengan kedua lututnya yang terangkat, ada rasa ragu di hatinya jika dia benar-benar tak mencintai Juno, tidak, rasa apa ini? Amora memejamkan matanya dengan mata yang sembab karena menangis.
Setelah puas menangis, ia pun pulang dengan mobilnya. Sesampainya di rumah Amora segera masuk kamarnya dan mengunci dirinya di kamar. Ia kembali menangis di ranjangnya dan terisak hingga ia terlelap di tidurnya.
***
'Dia masih mengharapkan lelaki itu. Aku sama sekali tidak ada di sudut matanya. Bisa-bisanya aku berpikir dia kemari untuk menemui ku,' batin Juno dengan senyum miris dan lunglai ia duduk di kursinya.
'Mungkin aku juga harus berhenti membuat ia mau menerima ku. Dia terus berusaha menolak ku sejak awal pernikahan ini. Mungkin aku juga harusnya tau diri, bukannya memaksa terus begitu,' batin Juno mulai lelah. Dia mencoba mencuci wajahnya yang terasa panas dan pikirannya sangat kacau saat ini.
Ia tidak bisa berbuat apa-apa pada hubungan ini. Dia sama terjebaknya dengan Amora. Jika Amora tak menginginkan dia, bagaimana cara ia menyampaikannya pada neneknya. Menghindari Amora seperti ini tak mungkin selalu bisa ia lakukan.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu ruangan Juno di buka seseorang, itu lah Sinta.
"Juno!" seru Sinta. Juno menoleh dan berusaha tersenyum seolah tidak ingin Sinta mengetahui kacaunya dia saat ini.
"Aku lihat semuanya. Jadi, jangan pura-pura lagi," ujar Sinta yang kini sudah duduk di hadapan Juno.
"Kamu tidak harus melukai perasaan kamu demi perempuan seperti Amora Juno. Jika dia tidak menginginkanmu banyak wanita di luar sana yang menginginkan kamu dan jauh lebih bisa menghargai kamu. Lepaskan dia jika dia memang tidak menginginkanmu, jangan sakiti diri kamu sendiri begini Juno," lirih Sinta.
"Seandainya semudah itu, Sinta. Aku bisa semudah itu membuang perasaan ku, sudah aku lakukan sedari awal. Aku selalu berusaha menjauhinya dengan berbagai alasan selama ini, tapi tetap saja saat aku di dekatnya hasratku terhadapnya kembali menggebu dan seolah mengatakan aku siap untuk terluka demi bersamanya. Aku selalu bersikap tidak apa-apa, walau setelah itu aku akan kembali di lukainya,"
"Itu karena kamu terlalu setia dan tulus padanya, Juno. Jika begitu cara mu mencintai dia, apa boleh aku jujur?" Sinta menarik nafas panjang. Juno menatap Sinta, gadis itu kelihatannya akan nekat kali ini. "Aku juga siap terluka jika itu bisa membuatmu mencintai aku lebih dari sekedar seorang sahabat. Apa kau tau selama ini aku selalu menunggumu berbalik ke belakang dan melihat keberadaan ku lebih dari sekedar seorang sahabat atau pun saudara? Tapi, aku terlalu takut untuk mengungkapkannya padamu Juno. Karena kamu membuat batas yang terlalu jelas diantara kita," ungkap Sinta yang membuat Juno terdiam.
"Sinta!" lirih Juno tidak percaya.
"Percayalah Juno, mencintai laki-laki seperti kamu itu sangat mudah. Kamu baik, lembut, hangat dan pengertian. Siapa yang tidak akan jatuh cinta kalau di perlakukan seperti itu," ungkap Sinta lagi. Sesaat Sinta tersadar dengan apa yang baru saja ia ungkapkan.
"Kamu tidak perlu membalas perasaanku, aku hanya ingin mengungkapkannya saja. Aku tau kamu sangat mencintai Amora. Aku hanya merasa tersiksa selama ini menahan perasaanku terhadap mu." Sinta langsung pergi keluar meninggalkan Juno yang masih mematung tidak Percaya.
Sinta berjalan cepat menuju toilet. Di sana dia meraba dadanya. Jantungnya berdebar kencang tak karuan, tapi sekarang dia bisa lega karena telah mengungkapkan semuanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...