
Amora pun terus mencoba menghiburnya dengan leluconnya dan candaannya, namun tak banyak membantu. Walau Juno mulai tersenyum tapi tidak tertawa lepas seperti dulu. Bahkan Amora sudah lama kehilangan keusilan Juno yang mulai ia rindukan. Juno yang selalu bersikap seenaknya saat bersamanya, Juno yang sering mengajaknya bertengkar atau berdebat.
"Sayang, aku pengen ke rumah aku. Sudah lama aku nggak kesana. Aku mau lihat keadaan rumah itu," ungkap Juno memecahkan lamunan Juno.
"Tapi kan kamu belum sembuh, sayang. Tunggu kamu sembuh dulu, ya. Nanti baru kita pergi ke sana," bujuk Amora lembut.
"Aku cuman kangen sama rumah itu. Aku pengen jenguk sebentar saja." Juno mencoba meyakini Amora. Dia terlihat benar-benar ingin kesana. Akhirnya Amora pun mengalah dan mengangguk setuju.
"Ya sudah, tunggu aku minta supir antar kita, ya. Kamu tunggu di sini dulu," tutur Amora lalu ia pun bangkit beranjak keluar.
Juno dengan langkah pelan bangkit dari posisinya yang duduk bersandar di ranjang, ia pun melangkah mengambil jaket sweater nya karena dia merasa sedikit dingin.
Sesaat Amora sudah datang.
"Udah siap? Yuk!" ajak Amora langsung mengambil tasnya. Juno mengangguk dan Amora pun menghampiri Juno untuk membantu Juno berdiri. Karena masih lemah Juno masih agak kurang leluasa dalam bergerak, hingga Amora selalu sigap membantu suaminya itu.
Mereka pun melangkah ke luar kamar. Sebelum pergi Amora dan Juno berpamitan kepada ayah dan ibunya.
"Loh, udah kuat kemana-mana kamu, Jun?" tanya ayah mertuanya khawatir.
"Udah, Pah. Aku cuman mau liat rumah nenek sebentar aja, sebab udah lama nggak ke sana, Pah" tutur Juno mencoba meyakini.
"Ya sudah. Tapi kalian nggak nginap, kan?" tanya Kevin lagi.
Juno menatap Amora yang tengah menggandeng tangannya itu.
"Kemungkinan kita nginap, Pah," tutur Amora menimpali.
"Oh ya sudah, hati-hati ya kalian di sana. Kalau Juno masih nggak enak badan, kamu bisa hubungin dokter Irshad saja ya Amora. Papa sudah pesan ke dokter Irshad tadi," tutur Kevin lagi. Mereka berdua pun mengangguk. Lalu setelah permisi, mereka pun pergi.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan mereka Amora tidak pernah melepaskan lengan Juno. Sedangkan Juno terus memandang keluar jendela kaca mobil. Entah apa yang ia pikirkan saat ini.
Amora membiarkan Juno dengan pikirannya, dia hanya menikmati kebersamaan mereka saat ini. Setelah berpisah 3 bulan pasca tugas Juno ke tempat terpencil tersebut Amora terus menyimpan rindu yang besar kepada Juno. Dan setelah mereka bersama Amora rasanya tidak ingin melepaskan nya lagi.
Ia ingin terus bersama suaminya ini. Dia tidak tahan jika berpisah lama dari Juno. Dia terus memeluk lengan Juno hingga ia terlelap dan hanyut dalam mimpinya.
Juno yang menyadari jika Amora sudah terlelap pun hanya tersenyum menatapnya, ia mengelus wajah cantik istrinya itu dengan kecupan hangat di kening Amora dan seutas senyum tipisnya.
Dia sangat menyayangi Amora, dan hanya Amora yang ia miliki saat ini. Dia sudah kehilangan semuanya di hidupnya tanpa tersisa siapapun lagi. Tapi entah kenapa hati Juno tetap merasa hampa. Dia seperti kehilangan gairah dan cintanya. Bahkan semenjak kepulangannya dan dari keberangkatannya sudah 4 mereka tak berhubungan selayaknya suami istri, memang dia baru sembuh, namun Juno merasa dari dalam lubuk hatinya sudah tak ada gairah dalam dirinya terhadap hubungannya walaupun dia masih sangat mencintai Amora.
Itu terbukti dari tidak adanya usaha Juno untuk mendekati Amora, dia hanya membalas perlakuan Amora sekedarnya walau Amora sudah berusaha sebaik mungkin padanya bahkan sangat baik padanya. Juno kembali menatap wajah cantik yang tengah tertidur di bahunya itu dia kembali tersenyum tipis. Dan membiarkan Amora dengan tidurnya.
Sesaat mobil mereka sudah berhenti di depan gerbang, ternyata mereka sudah sampai di tempat tujuan. Juno segera membangunkan Amora dan ia pun melangkah keluar pintu mobil. Dia menatap rumah besar dan mewah ini, agak tak terawat tapi tak membuat kesan mewahnya luntur.
Juno melangkah masuk rumah, masih seperti dulu. Perabotannya masih di tutupi kain putih tapi tetap bersih terawat. Bik Darsih datang menyambut kedatangan mereka.
"Bik, kami nginap malam ini, ya. Bik, aku langsung ke kamar, ya," tutur Juno yang masih tampak lemah.
"Oh, iya den. Kamarnya sudah siap, kamar nya den Juno dan nenek selalu bibik bersihkan, kok," tuturnya lagi sopan, seorang pembantu laki-laki datang membawakan tas bawaan Juno dan Amora ke kamarnya. Juno dan Amora pun mengikutinya.
Setelah mengantar barang-barang mereka, si pembantu itu pun pergi meninggalkan kamar dan menguncinya. Juno duduk di pinggir ranjangnya dengan tatapan yang masih pucat, sedih, hampa dan tanpa gairah hidup.
Amor datang mendekatinya dan duduk di samping Juno, dia menatap pria tampan itu. Ia menyentuh kening Juno, sudah sejuk, dari kemarin demamnya sudah tidak lagi kambuh. Mungkin juno memang sudah mulai sembuh.
"Udah sejuk, aku nggak demam lagi?" tanya Amora lembut seraya mengusap pipi Juno.
"Aku ngantuk!" tutur Juno yang langsung ambil posisi berbaring. Amora dengan sigap menarik selimut yang ada di ranjang untuk menyelimuti Juno.
"Rumah ini udah sepi" kesah Juno dengan tatapan sedihnya.
__ADS_1
Amora tersenyum tipis, ia yang kebetulan duduk bersandar di ranjang langsung berbaring dan dan memeluk suaminya itu.
"Udah, jangan mikirin itu lagi. Nanti kamu sedih lagi," tutur Amora.
Juno pun membalik tubuhnya dan menghadap ke arah Amora sekarang. Dia menatap Amora sesaat, tapi entah kenapa rasanya pun sudah berbeda, dia seolah tidak merasakan lagi perasaannya yang dulu begitu membara pada Amora. Api cintanya seakan ikut padam.
"Kenapa semua rasanya beda sekarang?" tanya Juno lirih.
"Kenapa? Hmmm... " tutur Amora lagi seraya mengusap pipi Juno dan melihat kedalam mata Juno.
Juno menggeleng dan memejamkan matanya. Ia mencoba untuk tidur sekarang. Amora menatap mata yang terpejam itu, dia masih mengusap wajah tampan itu dan perlahan ia menciumnya. Tidak ada reaksi dari Juno. Mungkin ia sudah benar-benar tertidur.
Amora bangkit dan bersiap untuk beranjak keluar, sebelum keluar ia membenahi selimut suaminya itu. Sekali lagi ia menatapnya dan mengecupnya.
"Tidur lah, aku mau masak dulu," tuturnya lagi membenahi selimut suaminya dan memastikan dia baik-baik saja lalu Amora pun bangkit meninggalkan Juno yang sudah terlelap. Dia berjalan dengan sangat hati-hati dan mulai melangkah membuka pintu pelan dan kembali menutupnya pelan.
***
Amora berjalan turun menuju dapur, di sana sudah ada mbak Darsih yang tengah bersiap masak, ia tampak sibuk dengan beberapa sayuran dan ikan.
"Masak apa, bik?" tanya Amora ramah. Sontak membuat baik darsih kaget.
"Eh, non Amora. Ini, non mbok masak buat kita nanti. Mbok belum masak tadi, mbok Ndak tau kalo non Amora sama Aden mau kesini," tutur nya lagi.
"Ya udah biar saya bantuin, ya," ucap Amora langsung turun tangan, si pembantu pun tampak kaget.
"Eh, Ndak usah, non. Biar bibik saja," tuturnya tidak enak hati saat majikan mudanya ini ikut membantunya. Amora tetap tak menggubrisnya, ia terus saja melanjutkan pekerjaannya. Akhirnya si pembantu pun mengalah dan mereka mulai masak bersama.
BERSAMBUNG...
__ADS_1