
Setelah mereka berdua rapi, mereka pun keluar kamar dan menemui ayah Amora yang tengah duduk di ruang keluarga.
"Pah, kita mau ke tempat nenek dulu, kalo kita nggak pulang, itu artinya kita nginap, ya," izin Amora. Ayah Amora yang kebetulan tengah membaca koran itu menoleh dan di sambut Amora dengan cipika-cipiki sayangnya.
"Eh, kok papa di tinggal sendirian, sih? Mama kamu juga lagi ke tempat Tante malam ini," teriak ayahnya tapi Amora tetap berlalu seraya memberi kiss bye manjanya.
"Dah, papah. Sama Ros aja, yah," teriak Amora seraya menyentuh bahu Ros saat melewatinya. Ros yang kebetulan lewat dan tidak tau apa-apa menatap nona mudanya itu dengan membulatkan matanya dan di sambut Amora dengan senyum nakalnya seraya bergelayutan di lengan Juno yang tengah tersenyum dengan tingkah istrinya itu.
Belum sempat Ros melangkah pergi, langkah Ros sudah di hentikan oleh ayah Amora Kevin.
"Ros, tunggu!" seru Kevin. "Ada yang ingin saya tanyakan kemari sebentar,"
"Iya, Tuan," jawab Ros seraya melangkah mendekat ke arah tuannya dan berdiri di sampingnya dengan sopan.
"Duduk dulu," perintah Kevin sepertinya akan bicara serius. Ros pun mengikuti perintah tuannya. Dia duduk di sofa samping tuannya itu.
"Ada apa dengan Amora dan Juno? Coba ceritakan apa yang terjadi belakangan ini selama aku tidak ada," ucap Kevin menatap Ros yang membuat Ros agak kaget.
"Ros!" panggil Kevin lagi.
"Iya, tuan. Beberapa hari lalu sepertinya Nona Amora dan tuan Juno sempat ribut. Katanya Juno sering memaksanya saat bersama dan mereka ribut. Tapi lucunya Nona muda kelihatan tidak takut atau keberatan, sebab walau kelihatan jengkel tapi dia tidak membenci suaminya tuan Juno. Tuan Juno pun kelihatannya pelan-pelan bisa mengambil hatinya. Dan tempo hari nona muda sempat takut dan khawatir saat tuan Juno tidak menyapa beberapa hari karena dia yang terus menemui mantan kekasihnya. Dan sepertinya mereka bisa mengatasi itu, tuan," terang Ros membuat Kevin tertawa kecil.
__ADS_1
"Juno, Juno ... Dia memang laki-laki yang unik, dia tidak pernah menganggap amarah Amora sebagai penolakan. Dia selalu menganggap itu sebagai cara dia bersenang-senang. Awasi mereka terus, Ros. Mereka berdua itu sama-sama masih labil. Kau harus siap siaga dengan mereka, jangan sampai istri Horner berulah lagi, wanita itu cukup licik dan dia sepertinya juga punya kesumat terhadap Amora. Apalagi saya dengar anaknya masih sakit sampai saat ini, jadi awasi dia terus," ujar Kevin seperti mulai menangkap gelagat tidak mengenakan dari Resti.
"Iya, tuan," ucap Ros patuh.
"Tuan, ada yang ingin saya sampaikan," ujar Ros lagi.
"Apa itu?" tanya Kevin menatap Ros serius.
"Nyonya sepertinya tidak menyukai tuan Juno. Tuan muda Juno tidak sarapan dan makan malam selama tuan tidak ada di rumah. Nyonya serinh melarang pelayan menyajikan makan malam untuk tuan muda Juno," adu Ros.
"Oh, begitu? Baiklah, nanti akan aku tanyakan padanya. Terimakasih, Ros," ujar Kevin lagi, Ros pun dengan sopan segera pergi meninggalkan majikannya itu. Kevin tampak mulai berpikir.
***
"Dia bilang, dia rindu orang tua dan keluarganya. Dia mau pulang sekitar 1 mingguan dulu. Mungkin dia butuh waktu untuk tenang. Biarkan saja dulu, nanti kalau dia sudah kembali kalian jangan berubah sikap dengannya nanti dia bertambah tidak nyaman. Bersikap lah seperti biasa. Dia itu hanya tengah cemburu karena kamu Juno tidak sepenuhnya bersamanya lagi, mungkin dia tengah merasa kehilangan teman saja. Jadi, nenek harap kalian jangan membencinya dengan apa yang sudah dia katakan. Buat dia biasa dengan hubungan kalian, terutama kamu Juno. Dia bukan orang yang jahat, jadi jangan membencinya atau bertengkar lagi karena dia, ya," nasehat nenek Juno bijak. Juno dan Amora pun mengangguk. Juno menggenggam tangan Amora yang tampak juga shock.
***
Malam itu di kamar Juno di rumah neneknya. Juno dan Amora tengah duduk santai di balkon teras kamar mereka berdua seraya menikmati taburan bintang yang terang. Tiba-tiba Amora kembali teringat akan sosok Sinta.
"Aku nggak bermaksud benci dia, cuman aku sebel aja liat dia nantang aku terus. Kalau dia mau di ajak ngomong, aku pasti mau kok temenan sama dia. Dia itu udah sinis sama aku sejak kita kecil dulu," tutur Amora membuat Juno menoleh kearah Amora yang tengah bersandar di bahunya.
__ADS_1
"Kalian pernah ketemu waktu kecil?" tanya Juno.
"Pernah! Waktu kecil aku kesini tapi di usir sama dia terus. Aku kesel, kamu pun liat aku datang bukannya nyamperin malah pergi," tutur Amora membuat Juno harus menggali ingatan masa lalunya lagi. Juno sedikit lupa dengan kejadian tersebut.
"Itu waktu kamu udah nggak tinggal sama kita lagi. Aku kangen kamu, terus selama seminggu aku berusaha nemuin kamu, aku bahkan sebelumnya sampe sakit karena kangen kamu. Tapi tiap kali datang selalu Sinta yang nemuin aku, dia selalu usir aku. Sekali ketemu kamu, kamunya malah pergi waktu liat aku. Kayak sengaja hindarin aku. Sejak saat itu aku bersumpah nggak akan mau nemuin kamu lagi. Makanya aku benci banget waktu tau tiba-tiba di jodohin sama kamu," ungkap Amora. Sesaat Juno kembali ingat.
"Hahaha... Waktu itu! Itu bukan aku mau pergi, tapi aku mau ambil kunci pagar buat bukak pagar biar kamu bisa masuk. Waktu aku balik kamu malah udah pergi. Padahal aku seneng banget waktu liat kamu datang, aku mau nunjukkin mangga Bangkok yang waktu itu baru aku panen bareng Sinta. Waktu aku tanya Sinta katanya kamu udah pulang. Waktu itu aku juga sempat ke rumah kamu, tapi mama kamu bilang kamu nggak mau ketemu aku. Apa itu karena kamu udah marah sama aku?"
"Iya! Habis kamu ngeselin. Kamu lagian nggak ngomong kalo mau ambil kunci pagar, main pergi aja." Juno kembali tertawa mendengar pernyataan Amora. Sesederhana itu ternyata alasan Amora membencinya selama ini.
"Jadi karena itu kamu kesel terus sama aku?" tanya Juno.
"Iya, apalagi kamu juga emang ngeselin. Ngeledek aku mulu," tutur Amora yang tampak kesal. Juno malah membalasnya dengan mencubit hidung mancung Amora.
"Terus mau aku apain? Balas tingkah konyol kamu? Kayak kurang kerjaan aja aku musti ribut sama cewek bocil. Ya, mending aku isengin lah dari pada di tanggepin yang ada makin menjadi nantinya, malah nangis ujung-ujungnya yang ada,"
"Udah ah, udah malem ini. Mending kita tidur lagi, yuk," ajak Juno. Tapi Amora malah mengulur kedua tangannya mintak di gendong menuju ranjang. Juno pun mengikuti keinginan istrinya itu. Dia menggendong Amora hingga ke ranjang.
Setelah mematikan lampu kamar dan di ganti dengan lampu tidur mereka pun mulai untuk tidur. Dengan manja Amora tidur di pelukan Juno malam itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1