Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Perpisahan dan Bingkai Mimpi


__ADS_3

Di kediaman Kevin dan Dona. Kevin dan Dona tampak tengah berbincang berdua di kamar.


"Gini ya, Mah. Soal transferan yang Amora ambil dari aku itu adalah uang hasil dari hotel dan restoran dan usaha keluarga Juno yang kita pegang. Nah, nenek Juno sudah tidak ambil hasil bulanan itu lagi, karena itu papa transfer ke Amora. Mungkin juga Amora ini belum ngomong soal ini sama Juno. Jadi, yang aku transfer itu ya uang mereka. Mungkin nenek Juno sengaja nggak mau ambil uang itu lagi karena memang itu untuk Juno buat penghasilan mereka. Jangan kamu anggap mereka makan uang kita, nggak, itu uang mereka dan hak mereka," terang Kevin.


"Sekarang, aku nggak mau kamu bergaul sama genk-genkan kamu itu. Sekarang kamu cukup fokus ke keluarga ini saja dulu. Capek aku lihat Genk kamu itu, bukanya berteman malah saing-saingan kekayaan yang ada, kamu ngumpulin kristal-kristal kayak gitu buat apa? Kalung-kalung berlian, tas mahal sampe lemari nggak muat. Buat apa? Hanya buat dapat pengakuan?" omel Kevin seraya mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan. Dona hanya diam sedari tadi mendengar omelan suaminya padanya. Karena memang Kevin jika sudah marah tidak bisa di bantah jika mau semua cepat selesai, jika tidak maka akan panjang lagi urusannya jika salah jawab nantinya.


***


Hari ini tepatnya malam ini adalah keberangkatan Sinta pun tiba, malam itu Juno dan Amora mengantar Sinta berangkat ke kampung halamannya. Mobil jemputan Sinta datang langsung ke kediaman nenek Juno karena memang mobil itu milik keluarga calon suami Sinta yang juga akan menghadiri acara pertunangan Sinta dan Fajar.


Ini adalah saat-saat terakhir mereka bersama. Semua tampak berat melepaskan kepergian Sinta. Tapi, apa boleh buat, Sinta memang harus pergi. Sinta memeluk erat mereka semua sebelum ia pergi, terutama pada Juno sahabat sekaligus teman akrabnya sedari kecil. Mereka tidak pernah berpisah lama sebelumnya, dan kini mereka harus berpisah.


Juno melambaikan tangannya hingga mobil Sinta hilang tak terlihat, Sinta pun melakukan hal yang sama. Dia melambaikan tangannya hingga dia sampai di jalanan, baru dia duduk di bangkunya dan duduk dengan pandangan nanar. Tanpa terasa dia juga meneteskan air matanya.


"Hah, aku pasti harus penyesuaian lagi sama asisten baru besok," keluh Juno saat mereka sudah berada di ruang keluarga.


"Emang kamu selalu sama Sinta? Apa selama ini kamu nggak pernah sama orang lain?" tanya Amora.


"Sering cuman, kadang kurang sreg pasti rasanya beda kalo sama Sinta,"


"Kamu itu kalo nyaman sama sesuatu pasti kamu maunya itu-itu aja, kamu harus bisakan buat beradaptasi dengan yang lain, biar banyak pengelaman juga, bukannya mentok sama satu hal saja," nasehat neneknya. Juno hanya tersenyum mendengar nasehat neneknya.


"Suamimu ini memang sering begitu, Amora. Makanya dia kadang suka susah kalau harus lepaskan sesuatu, sebab ya kayak gitu, kalau sudah suka ya itu aja sampai ujung yang dia mau."


"Itu bagus kan, nek. Namanya setia," ucap Juno melakukan pembelaan diri.


"Orang yang seperti itu jarang menemukan hal baru, pikirannya kurang terbuka. Ya kayak kamu gini nih, coba lebih terbuka dan pandai menyesuaikan diri gitu. Di tinggal dokter ikhwar kamu langsung kayak ndak punya teman akrab lagi, di tinggal Sinta langsung kayak Ndak ada orang yang bisa jadi asisten kamu lagi." Juno tersenyum di sebut neneknya begitu. Amora melirik Juno.

__ADS_1


Mereka terus mengobrol hingga tanpa terasa hari semakin larut dan mereka pun memutuskan untuk beristirahat lagi ke kamar masing-masing.


***


Sudah 2 hari ini Amora dan Juno di kediaman neneknya. Muntah-muntah Amora semakin parah, dia sudah sampai pucat karena harus bolak-balik ke kamar mandi karena mual. Juno yang setia mendampinginya selalu memantau keadaan Amora. Ini selalu terjadi tiap paginya, tapi pagi ini benar-benar membuat Amora lemas. Juno pun harus menggendong Amora ke ranjang.


Saat sampai ranjang Amora mengendus bau Juno. Dan dia kembali mual.


"Bau kamu kok beda ya, Jun. Kamu ganti parfum, ya?" tutur Amora yang membuat Juno mengernyitkan keningnya, karena dia tidak merubah apapun dalam tampilannya. Parfum dan semua masih yang biasa dia pakai sehari-hari.


"Nggak, aku pakek yang biasa aku pakek," tutur Juno.


"Ganti deh baju kamu, sekalian mandi aja ulang, Jagan pakek parfum itu lagi. Bau nya nggak enak, aku mual rasanya cium bau parfum kamu yang itu," tutur Amora.


Juno yang paham jika Amora sedang ngidam dan mungkin memang itu hanya bawaan dia karena mual saja. Tapi, ia tetap mengikuti mau Amora. Mungkin Amora sedang sensitif dengan Indra penciuman nya saat ini. Juno pun memutuskan untuk mengganti pakaiannya dan tidak menggunakan parfum apapun.


"Sepi ya nggak ada Sinta,” tutur Amora. Juno hanya tersenyum sambil masih sibuk dengan handphone nya.


Amora yang sudah beberapa hari ini tidak bisa enak makan, tiba-tiba merasa ingin makan sesuatu.


"Kita keluar yuk, aku pengen martabak rasanya, Jun. Martabak ketan hitam pasti enak kali, ya," ucap Amora seraya membayangkan nya. Juno yang mendengar permintaan istrinya itu langsung meletakkan handphone nya.


"Tapi ini udah malem banget. Jam 9, loh," ucap Juno melihat jam di tangannya.


"Yaudah, yuk kita beli sekarang aja," ajak Amora.


Baru saja Juno akan bangkit hendak pergi bersama Amora, tiba-tiba Darsih datang menghampiri Juno dan Amora.

__ADS_1


"Den, ndoro mintak aden ke kamar sekarang katanya," ujar Darsih sopan.


"Bentar, ya." Juno menatap Amora dengan senyum sebelum ia beranjak menemui neneknya. Amora walau berat akhirnya ia pun mengalah. Ia menunggu di sofa hingga Juno selesai.


Lama menunggu hingga jam sudah menunjukkan pukul 10.15 WIB. Tapi, Juno tak kunjung datang. Amora pun pergi mengintip ke dalam kamar nenek Juno. Tampak Juno yang tengah memijit neneknya.


Juno mendengar pintu terbuka ia pun menoleh ke arah sumber suara. Sudah ada Amora di sana yang tengah berdiri. Ia tampak sedikit memanyunkan wajahnya, lalu Juno melirik neneknya. Ternyata beliau sudah tidur. Juno dengan langkah pelan pun beranjak meninggalkan neneknya menghampiri Amora yang sudah nampak kesal.


Mereka keluar dengan langkah perlahan meninggalkan kamar si nenek karena takut membangunkan beliau. Juno mengunci pintu pelan dan tersenyum ke arah istrinya itu tapi Amora masih saja tampak kesal. Juno pun memeluk istrinya itu. Dan mengacak rambutnya hingga tampak senyum mulai tersungging dari bibir manis Amora.


Mereka pun segera keluar menuju mobil, walau sudah larut untuk melanjutkan perjalanan Juno tetap memenuhi janjinya.


"Udah malem, loh. Emang masih ada jam segini?" lirih Amora sedikit khawatir jika mereka akan gagal mendapatkan martabaknya.


"Kalo nggak dapat nanti aku yang bikinin. Tenang aja," ujar Juno masih dengan senyum. Amora hanya diam, dia hanya ingin martabak memang pinggir jalan, bukan yang di buat di rumah.


"Pasti bedalah rasanya, Jun. Anak kamu itu maunya yang di buat mamang pinggir jalan, bukan yang di buat ayahnya," tutur Amora.


Juno melirik Amora yang cemberut dengan tatapan hangat. Benar, sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah. Dia akan memiliki sosok kecil yang akan merindukannya dan menganggapnya penting, dia akan punya sesuatu yang akan ia perjuangkan nanti, sosok kecil yang akan ia jaga selain Amora tentunya. Sosok yang akan menjadi 'Demi' nya nanti, pasti sangat menyenangkan jika saat itu menjadi nyata nanti. Pikiran Juno sudah melayang jauh ke impian indahnya.


Amora melihat senyum tipis yang hangat terukir dari wajah tampan Juno. Ia yang semula sangat kesal entah kenapa saat melihat senyum hangat Juno hatinya ikut menjadi hangat. Ia tau lelaki ini sangat mendambakan buah hati yang ingin ia jadikan bingkai keluarga nya.


Amora mengusap perut ratanya lembut.


'Tumbuh lah dengan baik, nak. Ayahmu sudah lama mendambakanmu dan merindukan kedatanganmu. Jadi, tumbuhlah dengan baik, agar kelak kamu bisa membingkai indah impian ayahmu,' batin Amora tulus.


'Dia milikmu, Juno. Jadi, aku harap kamu bisa menjaga kami dengan baik hingga ia terlahir sempurna ke dunia ini untukmu nanti,' batin Amora tulus.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2