
Selesai dari rumah sakit, Juno kembali pulang. Dia kaget saat neneknya mengatakan Amora pergi dan belum kembali. Juno pun berinisiatif menelponnya. Setelah beberapa saat telfonnya pun diangkat.
"Kamu di mana?" tanya Juno.
"Aku udah pulang," jawab Amora singkat.
"Kok nggak izin, sih?" tanya Juno agak kesal.
"Maaf, tadi lupa," ucap Amora datar dan mematikan telponnya begitu saja.
"Eh di matikan." Juno sedikit kaget saat Amora mematikan telponnya tiba-tiba.
"Bagaiman Juno? Di mana Amora?" tanya neneknya khawatir.
"Sudah pulang, Nek. Yaudah, aku pulang ke sana saja ya, Nek," izin Juno seraya bersalaman mencium punggung tangan neneknya, setelah itu ia pun pergi.
"Hati-hati, Jun," seru neneknya. Juno berbalik dan melambaikan tangannya seraya tersenyum ke arah neneknya sambil terus berjalan. Neneknya terus menatap kepergian Juno hingga hilang di balik belokan jalan. Neneknya masih terus tersenyum beberapa saat.
"Anak itu sudah sangat besar dan tampan sekarang," ujar si nenek dengan seulas senyuman, ia pun kembali masuk ke rumahnya seraya menutup pintu rumah. Kini si nenek kembali sendirian. Dia hanya di temani Darsih pembantunya dan tukang kebun, nanti malam baru Sinta pulang, karena dia juga masih di rumah sakit sampai malam baru pulang.
Sinta memang tinggal bersama nenek Juno semenjak si nenek sakit, itu juga atas permintaan Juno karena dia khawatir dengan keadaan neneknya.
***
Di kamar Amora tengah suntuk memikirkan Horner yang kelihatannya memang sudah melupakan dia. Dia bolak-balik memutar tubuhnya di ranjang dengan gelisah.
***
Juno pulang ke tempat Amora, di sana sudah ada ibu Amora yang tengah duduk santai dengan sebuah majalah fashion di tangannya. Juno pun menyapanya.
"Mah," sapa Juno sopan.
Akan tetapi ibu mertuanya itu hanya melihatnya sekilas lalu kembali dengan kegiatannya seolah tidak peduli dengan kedatangannya. Juno yang sudah sangat lelah tidak mau ambil pusing, dia segera ke kamar Amora. Saat membukanya, ternyata sudah di kunci oleh Amora dari dalam. Juno pun mengetuknya.
__ADS_1
"Amora! Amora! Amor, bukak, Mor," seru Juno seraya mengetuk, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Juno pun berbalik badan bersiap akan pergi, tapi belum lagi dia pergi tiba-tiba pintu sudah terbuka. Juno berbalik melihat Amora sudah berdiri di depan pintu membukakan pintunya.
Tanpa basa-basi lagi Juno langsung masuk tanpa menyapa Amora. Dia sudah sangat lelah. Ia langsung menghempaskan tubuhnya yang lelah di ranjang. Sudah beberapa hari ini dia bekerja terlalu keras, dan baru hari ini dia bisa pulang sore sesuai jadwalnya, Amora memperhatikan tingkah Juno dengan seksama.
Sesaat Juno langsung tertidur dalam keadaan masih memakaikan pakaian lengkapnya bahkan sepatu pun masih ia kenakan. Dia hanyut di mimpi nyenyaknya yang dalam.
***
Amora heran dengan Juno yang tiba-tiba terdiam. Dia mendekati Juno yang tengah terbaring dengan kaki yang masih menjuntai kelantai. Saat Amora melihatnya lebih dekat lagi ternyata ia sudah tertidur dalam keadaan masih mengenakan pakaian lengkapnya.
"Dia beneran tidur?" gumam Amora mendelik matanya tidak percaya, dia mencoba mengguncang tubuh Juno pelan.
"Heh bangun. Lepasin sepatu kamu dulu. Juno! Bangun!" seru Amora setengah berteriak. Tapi tetap tidak ada jawaban. Juno masih di posisinya.
"Kenapa dia tidur kayak gini?" gumam Amora. Amora melirik jam di dinding, masih pukul 6 sore. Masih terlalu sore untuk tidur bahkan sebentar lagi akan magrib. Akhirnya Amora membiarkan Juno dengan posisi itu begitu saja.
***
Lama-lama Amora kembali merasa bosan. Ia kembali menatap Juno. Wajah itu terlihat begitu lugu dan teduh saat tertidur.
"Kacamata aja nggak di lepasnya. Apa memang segitu capeknya apa? Apa di rumah sakit dia memang lembur?" gumam Amora.
Amora kembali mendekatinya dan melepaskan kacamatanya Juno. Juno memang memiliki mata minus, walau tidak begitu parah. Akan tetapi ia selalu mengenakannya saat di rumah sakit untuk mengoptimalkan penglihatannya saat bekerja.
Amora beranjak ke sepatu yang Juno kenakan. Ia melepaskannya perlahan dan berusaha mengangkat tubuh Juno agar keatas ranjang seluruhnya. Karena kakinya sekarang dalam keadaan menjuntai kelantai. Belum selesai juga Amora mengangkatnya. Juno sudah terbangun.
Perlahan Juno mulai mengumpulkan kesadarannya. Dia melihat ke sekitarnya dan mencoba untuk bangkit. Ia melihat Amora sudah duduk di pinggir ranjang dengan tatapan lurus padanya, ada gurat kekesalan di wajah Amora yang tergambar saat ini.
"Kamu! Eh, aku ketiduran, ya?" ujar Juno yang masih terlihat belum begitu sadar. Amora langsung bersedekap dada menatap Juno. Lalu meninggalkan Juno begitu saja ke balkon yang ada di kamar mereka. Juno menatap Amora lalu menyunggingkan senyum di bibirnya.
Dia memijit tengkuknya yang pegal. Lalu langsung ke kamar mandi sambil memungut sepatu dan kacamata nya yang dilepas Amora tadi lalu meletakkannya di samping kopernya. Ya, Juno masih belum di izinkan meletakkan barang-barangnya di lemari. Tepatnya Juno tidak pernah mencobanya lagi setelah Amora melemparkan semua pakaiannya begitu saja sebelumnya dari lemari.
Juno mengambil pakaian gantinya lengkap dengan pakaian dalam lalu langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya. Selesai Juno segera meletakkan pakaian kotornya di tempatnya. Dia melirik Amora di balkon, ia tampak menelpon seseorang. Juno melirik sekilas lalu pergi keluar.
__ADS_1
***
Juno menuju meja makan dan memanggil pelayan.
"Tolong bawakan saya makanan, ya. Saya lapar," ujar Juno kepada salah satu pelayan tersebut. Pelayan tersebut tampak bingung.
"Itu tuan, itu ... Makanannya ....," ujar si pelayan terputus-putus. Juno pun segera paham.
"Ya sudah tolong buatkan saya telor ceplok dan kecap saja buat saya makan malam ini. Saya sudah sangat lapar," ujar Juno tidak mau memperumit. Si pelayan pun mengangguk lalu pergi.
Juno tau itu pasti di larang ibu Amora lagi, ibu Amora sering begitu terhadap Juno. Juno mencoba untuk tidak memperumitnya, karena itu dia akan segera paham dan diam.
Tidak lama makanan itu pun selesai di buat, Juno yang sedari tadi siang tidak sempat makan di rumah sakit segera memakan lauk sederhana tersebut dengan lahap. Si pelayan yang sedari tadi menatap Juno sebenarnya sangat kasihan terhadap Juno, tapi apa daya dia hanya seorang pelayan di rumah besar itu. Dia hanya bisa mengikuti perintah nyonya besarnya.
Juno memang sering di perlakukan begitu saat ayah Amora sedang tidak ada di rumah, dia mencoba untuk memahaminya agar tidak terjadi keributan di keluarga itu. Dia tidak ingin kejadian saat dia tidak di bukakan pintu kamar itu kembali terjadi. Saat itu terjadi keributan, ayah Amora sempat memarahi semua orang di rumahnya karena tidak ada yang menegur Amora atas tindakannya. Dan sekarang Juno mencoba untuk menjaga agar kejadian itu tidak terulang kembali.
Selesai makan, Juno bangkit dan bersiap akan pergi.
"Maaf, tuan," seru si pelayan tiba-tiba penuh penyesalan dengan mata berkaca-kaca. Juno tersenyum paham akan perasaan si pelayan.
"Tidak apa-apa. Aku menyukai makan malam ku. Maaf ya sudah merepotkan kalian malam-malam begini," ujar Juno lalu pergi. Si pelayan masih tertunduk. Juno pergi dengan sebuah senyum terulas di wajah tampannya.
***
Di suatu sudut ada ibu Amora bersama Ros yang tengah memperhatikan Juno yang tengah makan malam dengan menu sederhana nya. Dia tampak lahap dan menghabiskannya tanpa sisa.
"Jangan kamu anggap mudah untuk masuk ke keluarga ini. Aku bukan suamiku," tuturnya dengan seulas senyum sinis.
Ibu Amora terus memperhatikan Juno seraya meminum anggur merahnya. Ros yang memperhatikannya hanya diam seraya geleng-geleng kepala dengan perlakuan majikannya ini terhadap menantunya tersebut. Ada rasa kasihan di hatinya terhadap Juno tapi dia juga tidak mungkin menentang nya, karena dia hanyalah seorang pelayan di rumah besar ini.
Amora pun tampaknya juga tidak akan peduli dengan hal ini. Juno tetap berusaha bersikap santai dan seolah-olah tidak apa-apa.
BERSAMBUNG...
__ADS_1