Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Dia Milikku Menyingkir Kau


__ADS_3

Tidak lama Juno terbangun. Dia mengambil handphone nya untuk melihat jam berapa saat ini. Ternyata sudah jam 7 lewat. Ini sudah waktunya ia makan malam bersama keluarganya. Juno buru-buru turun dari ranjang dan bangkit mencari pakaiannya. Setelah menemukan boxer pendeknya ia pun berlari ke kamar mandi untuk kembali membersihkan dirinya lagi.


Sesaat Juno selesai dan kembali mengenakan pakaiannya. Ia segera keluar kamarnya mencari Amora. Ia sempat berseru memanggil nama Amora tapi tidak ada sahutan dari wanita cantik itu.


Dia terus mencari sosok Amora di rumahnya. Kemana perginya istri manjanya itu. Juno celingak-celinguk mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah besarnya yang temaram itu. Karena memang sebagian sisi rumah tidak mendapatkan pencahayaan yang cukup, terutama saat malam hari. Hingga butuh konsentrasi jika mencari seseorang di rumah besar ini terutama saat malam.


"Cepet juga ilangnya," gumam Juno seraya menuruni tangga panjang yang berbentuk spiral yang lebarnya mencapai 2 meter itu karena sangking besarnya rumah ini, tapi bak tak berpenghuni, tidak seorang pun yang dia temui.


Sesampainya di lantai bawah, Juno masih tak mendapati seorang pun di rumah ini, neneknya pun tidak ada di kamarnya. Rumah ini seolah benar-benar hanya ada dia seorang. Rumah yang memang tidak memiliki penerangan di setiap sudut rumah ini memang membuat pandangan terbatas, apalagi lantai atas ini banyak kamar kosong dan ruangan aula besar tanpa penyekat. Bukan tanpa alasan rumah ini tak memiliki penerangan yang cukup, selain karena akan membuat biaya listrik yang membengkak, juga memang sudah tidak di gunakan lagi. Bagi Juno yang sudah terbiasa tentu pemandangan ini tidak akan menakutkan, tapi bagi orang baru jarang yang ada berani sampai keruangan atas.


Juno sampai ke lantai bawah, sayup-sayup ia mulai mendengar suara obrolan di suatu ruangan belakang. Juno pun segera menuju sumber suara di ruang makan keluarga. Benar saja, semua orang ternyata sudah berkumpul di meja makan begitupun Amora. Semua tersenyum menyambut kedatangan Juno. Amora hanya melihatnya sekilas lalu kembali sibuk dengan nenek Juno.


Amora tampak duduk di samping nenek Juno. Sepertinya dia sengaja duduk di sana untuk menghindari Juno. Juno hanya tersenyum melihat tingkah Amora, ia pun duduk di kursi samping Sinta yang masih kosong. Sinta tersenyum saat menyadari kedatangan Juno yang duduk di sampingnya.


Amora sempat melirik sekilas, lalu ia bersikap seolah tak peduli walau sesekali matanya melirik ke arah lelaki tampan itu. Apalagi dia tampak akrab mengobrol bersama Sinta tentang pekerjaan. Ada sedikit rasa tak suka yang Amora rasakan, tapi dia berusaha menutupinya.


'setelah apa yang kita lakuin kamu bisa abaikan aku gitu aja, Juno! Brengsek!' rutuk Amora membatin. Juno tahu Amora tengah cemburu dia hanya ingin memancing Amora untuk lebih berani mengungkapkannya. Tanpa Amora sadari, Juno tersenyum penuh arti.

__ADS_1


***


Keluarga ini sengaja menggunakan meja makan kecil yang hanya terdiri dari 6 bangku saja. Karena memang penghuninya yang sedikit, dan meja makan yang terlalu besar akan membuat kurangnya komunikasi yang terjalin.


Amora masih menatap Juno dengan tatapan kesal, benci dan seram. Juno pura-pura tidak melihatnya dan tak begitu menggubris kekesalan Amora. Ia langsung duduk di hadapan Amora dan neneknya, di samping Sinta. Juno tersenyum kearah neneknya. Neneknya yang masih terlihat pucat dan lemah itu pun membalas senyuman cucu kesayangannya dengan mengulurkan tangannya di atas meja, Juno menyambutnya dengan menggenggam tangan neneknya yang mengelus lembut tangan cucunya itu.


"Gimana kabar nenek? Udah enakan?" tanya Juno seraya menggenggam tangan keriput neneknya dengan tatapan hangat dan penuh kasih sayang. Sebuah senyuman pun kembali mengembang dari bibir neneknya. Sesaat Amora merasa Juno adalah sesosok lelaki yang hangat, tapi kenapa saat bersamanya Juno selalu menunjukkan kebrutalannya.


"Sudah! Nenek sudah sembuh. Kamu dan Amora bisa kembali ketempat kalian besok, jangan khawatir lagi. di sini nenek juga ada Sinta dan bik Darsih juga mamang di depan. Kamu tidak perlu khawatir lagi. Banyak yang jaga nenek di sini," ujar neneknya bijak dan masih terlihat sangat anggun di usia senjanya ini.


'Heh, kalo di rumah aku dia nggak akan berani macam-macam, tapi kalo lagi di luar dia selalu cari kesempatan,' rutuk Amora membatin.


"Kalian berdua baik-baik, ya. Cepetan punya anak, biar nenek punya teman buat di rumah. Nenek sudah tidak sabar pengen gendong cicit nenek, biar rumah ini kembali rame lagi," goda neneknya seraya terkekeh. Ada rasa sedih di mata Juno saat neneknya menyebut rame lagi. Ya, dulu rumah ini ramai dan hangat, semua ada dan saling melengkapi. Kepergian mereka semua secara tiba-tiba benar-benar membuat Juno dan neneknya merasa sangat kehilangan.


"Iya, nek. Kita usahakan secepatnya, ya," ujar Juno sepenuh hati sambil terus mengelus tangan neneknya yang diatas meja di hadapannya itu. Juno melihat sekilas ke arah Amora yang duduk di samping neneknya, ia tampak tersenyum kecut dengan permintaan nenek Juno tersebut.


Sesaat Sinta datang membawa makanan panas dan menaruhnya di atas meja makan, lalu ia pun duduk di samping Juno. Membuat Amora mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Nih ada ikan panggang dan sambel nya juga, ini aku buat bareng mbok Darsih di belakang tadi. Ikannya masih seger diambil di kolam langsung terus langsung di masak, pasti enak," ujar Sinta bersemangat, dan di sambut dengan senyuman oleh nenek dan Juno.


Hanya Amora yang tampak tidak menyukai ini. Perempuan ini sedari tadi seolah sengaja ingin memanasi dia, walau reaksi Juno biasa saja tetapi tetap saja itu menyebalkan bagi Amora.


"Ini kelihatannya enak sekali, ikan guramenya besar lagi. Kamu memang hebat kalo soal masak," puji nenek membuat Amora semakin tidak menyukainya.


"Ayolah cari calon suami lagi, mau jomblo sampe kapan?" ujar Juno menggoda.


Sinta hanya tersenyum sambil mengambil piring untuk Juno dan memasukkan nasi dan lauknya.


"Aku akan nikah kalau ada laki-laki kayak kamu, Jun," ujar Sinta sambil meletakkan piring berisi nasi dan lauknya itu di hadapan Juno. Amora dan Juno yang mendengarnya jadi tercengang sesaat, sedangkan nenek Juno tampaknya tidak mendengar apapun beliau sibuk menikmati makannya.


Juno menatap Sinta dan Amora yang tengah menatapnya dengan tatapan aneh.


"U-udah makan lagi," ujar Juno kagok, dia mulai merasa suasana yang tidak nyaman.


Sinta terus tersenyum bahagia sedangkan Amora mulai sangat tidak menyukai Sinta, Sinta benar-benar ingin mengajaknya perang. Apalagi sikapnya sedari tadi seolah dia lah istrinya Juno dan mengabaikan perasaan Amora yang tidak menyukainya sedari awal kedatangannya tadi siang.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2