Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Keadaan Yang kacau


__ADS_3

Setelah menerima pengaduan dari Ros, Kevin langsung pulang. Dia menemui Dona yang tampak sudah tidak teler lagi. Dia sudah membaik. Itu terlihat dari dia yang mulai sadar dan ketakutan dengan kedatangan Kevin yang langsung menggebrakan meja dengan keras. Sontak membuat Dona kaget terlonjak.


"Kamu ngomong apa sama nenek, Juno?" Seru Kevin keras, Kevin tampak sangat marah dengan wajah yang merah padam dan sorot mata tajam pada Dona.


"Aku habis minum wine sama temen-temen tadi. Jadi, aku agak ngelantur, Mas. Cuman sedikit sekedar icip-icip karena udah di tawarin. Katanya baru dia dapat dari Perancis. Dan kebetulan Juno ada di sana, aku nggak sengaja malah bentak dia di depan neneknya," tutur Dona ragu.


"Kamu sama Genk sosialita kamu itu memang nggak jelas kelakuannya. Lihat, apa yang terjadi. Aku mati-matian meyakinkan nenek Juno, kamu malah merusak semuanya. Kamu sadarkan bisnis kita ini berkat kolega dari nenek Juno. Sekarang kamu buat masalah dengan dia," rutuk Kevin keras.


"Berani-beraninya kamu ngomong Juno berpenghasilan kecil, nggak sepadan sama Amora. Terus yang sepadan siapa? Anak presiden? Anak sultan Brunei? Atau mau kamu jodohin sama pangeran Inggris sekalian? Ngomong nggak pakek otak." tunjuk Kevin geram pada kepala Dona yang hanya bisa terdiam "Mau sombong dan angkuh itu kira-kira. Ini akibatnya selalu nggak mau kalah. Ini pasti gara-gara kalah omongan kamu sama Genk kamu, kan? Mereka spill penghasilan mereka dan anggota keluarga mereka, terus kamu ngerasa kalah, makanya pulang-pulang kamu langsung lampiasin semua ke Juno. Iya, kan?" tebak Kevin yang seolah tau semua, ya Kevin sudah hapal dengan kelakuan Dona selama ini. Dona tidak berani membatah lagi.


"Sudah lah. Kita itu sudah tua, sudah bukan waktunya lagi geng-gengan. Mending kamu fokus sama Amora yang lagi hamil itu," nasehat Kevin.


"Sekarang. Kamu ke rumah Juno dan minta maaf dengan neneknya!" perintah Kevin yang membuat Dona mendongak dan menolak.


"Nggak, ah. Malas banget aku ke sana," tolak Dona santai.


"Terus kamu mau hubungan kayak gini? Kamu mau rusak semuanya? Apa kamu benar-benar mau Juno dan Amora bercerai?!" tekan Kevin.


"Dari dulu aku liat kamu sama Juno itu agak lain memang. Ada kesumat apa kamu sama anak itu? Kamu masih punya masalah pribadi sama orang tuanya? Kamu masih cemburu dengan Hanna ibu Juno? Kamu masih dendam dengan masa lalu kamu, kan? Karena itu kamu bisa kelepasan ngomong sama dia. Aku dengar semuanya Dona. Bagaimana cara kamu memperlakukan anak itu selama dia di sini. Kan, sudah aku ingatkan sama kamu berkali-kali. Dan kalau sudah begini mau di katakan apa lagi?" Kevin tampak tidak dapat menahan amarahnya kembali.

__ADS_1


"Jangan kamu fikir aku tidak tau, kamu selama ini selalu menganggap Hanna sainganmu kan? Karena dia berhasil mendapatkan laki-laki yang sudah lama kamu taksir. Kamu menyukai Jefri dan Jefri malah memilih Hanna sahabat kamu. Kamu masih kesal dengan itu? Karena itu kamu sangat membencinya hingga saat ini, dan sekarang pelampiasan mu malah pada Juno yang tidak tau apa-apa soal roman picisan murahan kamu itu. Kita itu sudah tua, dan Hanna pun sudah meninggal, tapi kenapa kamu masih saja dendam dengannya? Pantas Amora pola pikirnya juga kekanak-kanakan, karena pola pikir ibunya pun masih kekanak-kanakan begini."


"Pokoknya aku nggak mau tau. Besok kamu ke tempat mereka dan selesaikan semua," perintah Kevin tidak bisa di bantah lagi dan pergi meninggalkan Dona yang masih mematung di tempat.


***


Di sisi lain, Juno tampak baru memeriksa keadaan neneknya. Karena sepulang dari kediaman Kevin dan Dona, nenek Juno langsung pusing dan lemas. Nenek tampak sudah tertidur. Juno pun setelah membereskan semua dengan langkah pelan ia pun keluar dan menutup pintu perlahan.


Di luar di sofa Sinta dan Amora tampak tengah duduk menunggu kedatangan Juno.


"Gimana keadaan nenek, Jun?" tanya Sinta yang tampak khawatir.


"Darah tingginya kumat, kayaknya dia cukup shock. Sekarang udah tidur dan mudah-mudahan nanti nggak apa-apa," tutur Juno seraya duduk di samping Amora yang juga tampak pucat.


"Udah di minum obatnya tadi?" tanya Juno. Amora pun mengangguk.


"Udah, Jun. Bawak Amora istirahat aja dulu di kamar. Nenek biar aku yang jagain," ujar Sinta lagi seraya mengelus tangan Amora lembut. Amora tersenyum ke arah Sinta yang di sambut Sinta dengan senyuman pula.


Juno pun segera membawa Amora ke kamar mereka. Sinta segera ke ranjang dan berbaring di sana di temani Juno yang memeluknya.

__ADS_1


"Aku, takut, Jun. Aku takut nanti kita di paksa buat pisah karena permasalahan ini," lirih Amora.


"Nggak. Kamu tenang saja. Aku nggak akan setujui itu. Kamu jangan banyak pikiran dulu. Fokus saja sama calon bayi kita. Kamu nggak boleh stress, apalagi di trisemester pertama ini adalah pembentukan otaknya janin, kamu nggak boleh stress kalo mau bayi kita pintar dan cerdas kelak. Semua biar aku yang urus, kamu nggak perlu mikirin apa-apa." Amora tersenyum kearah Juno, Juno pun mempererat pelukannya pada Amora.


Tidak lama Amora pun tertidur juga. Tiba-tiba telpon Juno berdering, ternyata Kevin yang menelpon.


"Iya, Pah," jawab Juno.


"Bagaimana keadaan nenek, Jun? Apa beliau baik-baik saja?" tanya Kevin dari seberang sana.


"Pulang tadi nenek agak pusing, Pah. Tapi, sekarang sudah baikan dan sudah tidur. Amora juga sudah tidur, Pah,"


"Bagus lah, besok Mama ke sana sama Papa. Papa harap kamu juga jangan tersinggung dengan ucapan Mama, ya! Dia tadi agak mabuk karena habis minum wine sama Genk nya, jadi omongannya memang ngelantur,"


"Nggak, kok, Pah. Tenang aja," tutur Juno dengan senyum kecut.


Sebenarnya jika jujur dia juga tersinggung atas ucapan ibu mertuanya itu, hanya saja kelihatannya pura-pura tidak apa-apa untuk tidak menimbulkan masalah baru mungkin itu jauh lebih bijak saat ini. Bagaimana pun saat itu Dona menghinanya tepat di depannya langsung, mustahil jika itu tak menggoreskan luka di hatinya Juno sendiri.


Dia memang selama ini hanya mengirim Amora dari hasil kerja nya di rumah sakit, karena neneknya lah yang memegang semua hasil investasi yang ada. Juno tidak berani menanyakan itu karena dia sungkan. Tidak pernah ada di benaknya jika ternyata itu sangat mempengaruhi mertuanya selama ini, karena mengingat hasil usaha yang di pegang ayah Amora malah tidak di pegang nenek Juno lagi semenjak Juno menikah. Karena itu pula yang mendasari Amora sering meminta transferan dari ayahnya, walau tanpa sepengetahuan Juno.

__ADS_1


Juno mengusap wajahnya kasar. Dia merasa kacau sekarang. Neneknya sakit, Amora pun tengah hamil muda dan pertengkaran ini juga kelihatannya akan berbuntut panjang.


BERSAMBUNG...


__ADS_2