
Makan malam itu Juno masih tampak kaku di rumah barunya ini. Ibu Amora tampak sangat telaten menyajikan makanan ke piring putri kesayangannya itu tanpa menyapa Juno sedari awal kedatangannya tadi siang. Juno hanya diam menyaksikan keakraban ibu dan anak itu sambil meminum air putih. Tidak lama ayah Amora pun ikut bergabung bersama mereka.
"Eh, iya! Jidat kamu nggak apa-apa, kan?" tanya ayah Amora sambil memasukkan nasi ke piringnya. Juno menoleh pada mertuanya seraya memegang keningnya. Amora di yang berada di samping Juno tampak khawatir jika Juno mengadu pada ayahnya apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh, ini .... Udah nggak apa-apa kok, Pah" ujar Juno menatap Amora yang tengah menatapnya seraya menggigit bibir bawahnya karena takut dan khawatir Juno akan menceritakan semuanya. "Biri-biri di sana galak-galak, apalagi yang betina," ujar Juno menyindir Amora, dia melirik Amora sekilas dengan senyum jahilnya, Amora langsung menatap tajam ke arah Juno. Juno sekali lagi memanggilnya dengan sebutan biri-biri lagi. Ia tampak menahan nafas kesal mendengar Juno masih saja menyebutnya biri-biri.
"Kok bisa? Emang kalian ngapain?" tanya ayah Amora masih bingung.
"Nggak ngapa-ngapain! Cuman main-main aja, Pah. Mungkin lagi sial aja aku waktu itu," ungkap Juno sopan sambil menikmati makan malamnya. Amora bisa bernafas sedikit lega kerena Juno tidak mengadu perihal yang terjadi di Swiss.
"Untung ketemu sama mahasiswa Indonesia disana, Pah. Dia yang nolongin kita, makanya kita bisa pulang cepat dan bisa telfon Papa juga. Amora di sana hampir mati kedinginan tiap malam gegara musim saljunya di sana dingin banget," ujar Amora mengadu, ia mulai berani angkat suara. Juno hanya tertawa kecil melihat Amora yang sudah bisa mencair dan tidak ketakutan lagi.
"Kan ada Juno masak masih dingin saja?!" goda ayahnya yang membuat Amora malu, yang lainnya hanya terkekeh begitupun Juno.
__ADS_1
'Karena malam hangat itu dia ke getok pakek vas bunga keramik,' gumam Amora menatap Juno yang tengah menyunggingkan senyum padanya.
"Kalian itu harus rukun berumah tangga, ribut dikit jangan di perbesar. Sama-sama harus belajar saling memahami. Kalian berdua itu sama-sama anak tunggal. Terutama Juno, kan," ujar ayah Amora yang membuat Juno tersenyum kecut seraya tertunduk karena teringat jika dia memang hanya miliki seorang nenek di dunia ini.
"Jangan sedih. Mulai sekarang kamu sudah punya ayah dan ibu, yaitu kita berdua. Papa hanya minta kamu perlakukan Amora dengan penuh tanggung jawab sebagai seorang suami dan pemimpin keluarga kecil kalian," nasehat ayah Amora. Juno tersenyum seraya mengangguk.
"Iya, Pah!" ujar Juno tulus.
Amora menatap tatapan tulus itu. Tapi tetap saja Juno Menyebalkan di mata Amora.
***
Selesai dengan makan malam mereka, mereka juga sempat mengobrol sebentar di ruang keluarga tapi berhubung Juno dan Amora baru sampai, mereka masih merasa lelah dan kurang istirahat. Sehingga mereka pamit untuk beristirahat lebih dulu.
__ADS_1
Sesampai di kamar Amora segera melemparkan selimut dan bantal kepada Juno. Juno yang kaget hampir saja kehilangan keseimbangannya karena ulah Amora. Ia memungut selimut dan bantal yang berserakan di lantai hadapannya dengan tatapan yang tak lepas pada Amora.
"Kamu tidur di kursi panjang itu mulai sekarang. Aku nggak mau adegan rudapaksa itu terulang lagi," ujar Amora santai seraya menarik selimutnya bersiap akan tidur lagi. Juno menyunggingkan senyumnya, dan mulai berpikir.
"Kamu nggak liat sama ulah kamu ini?" tunjuk Juno pada keningnya yang terluka. Amora hanya cuek masih pura-pura tidur, Juno mendekatinya dan menarik selimut Amora yang membuat Amora bangkit dan duduk di ranjangnya. "Aku masih keliyengan kamu paksa buat pulang dalam keadaan terluka. Di pesawat aku sampe muntah nahan perih sama pusing karena ngilu sekaligus sakit kepala karena ulah kamu. Terus sekarang kamu suruh aku tidur di kursi panjang yang nggak nyampe 1,5 meter itu? Kamu mau bunuh aku emangnya?" sewot Juno tidak terima, Amora hanya bisa menekuk wajahnya. Kali ini dia bergelut dada dan menatap menantang Juno.
"Kamu pikir vas itu bakal aku lempar gitu aja kalo kamu nggak ngapa-ngapain? Kamu itu ngelecehin aku. Sadar nggak?!" geram Amora tidak mau kalah masih dengan tatapan menantangnya.
"Pertama, waktu itu aku mabuk. Yang kedua, itu karena kamu nyebelin, dan yang ketiga, aku halal buat lakuin itu sama kamu, yang ada kamu yang dosa kalo kamu nolak," elak Juno tidak mau kalah. "Yang jelas aku nggak mau tidur di kursi itu, tinggi aku 184 cm, dan sofa itu 1,5 meter. Aku nggak kuat kalo musti nekuk badan tidur. Badan aku, kepala dan hati aku masih sakit. Kalo kamu mau, silahkan kamu yang tidur di sana," ujar Juno yang langsung melempar kembali selimut dan bantalnya ke atas ranjang. Ia pun segera berjalan menuju ke atas ranjang, tanpa peduli kepada Amora lagi. Amora menatap Juno dengan tatapan tidak percaya. Betapa sulit baginya menyingkirkan laki-laki ini. Amora menendang kecil tubuh Juno yang tetap tak bergeming itu malahan ia menanggapinya dengan senyuman.
"Udah, tidur. Mau aku lakuin lagi?" ancam Juno masih di posisinya memejamkan mata seraya membelakangi Amora dengan senyuman nakalnya. Amora langsung ciut nyalinya. Ia pun kembali berbaring dengan nafas yang tak beraturan menahan kesalnya.
Amora jelas kalah debat dengan Juno. Jika dia keraskan sekalipun pasti kalau ketahuan orang tuanya yang ada dia akan di salahkan lagi. Akhirnya ia pun mengalah untuk diam dan membiarkan Juno, mereka pun tidur dengan saling membelakangi satu sama lainnya.
__ADS_1
Sesekali Amora terbangun mewaspadai Juno yang tampaknya memang sudah terlelap. Tidak ada hal aneh tampaknya yang akan lelaki ini lakukan malam ini. Mungkin dia memang sedang butuh istirahat. Amora pun kembali berbaring walau masih dengan perasaan was-was. Dia menatap sekali lagi punggung Juno dan kembali mencoba untuk tidur lagi. Hingga perlahan ia pun tertidur.
BERSAMBUNG...