Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Pergi Untuk Memaafkan


__ADS_3

Setelah menemui mertuanya. Juno kembali menuju kamarnya, dia menatap Amora yang tengah terlelap. Ia menghampiri Amora dan mengusap lembut rambut Amora dan mengecup puncak kepalanya.


"Hanya sebentar sayang. Aku tidak mau bersikap buruk sama kamu saat perasaan aku masih kayak gini. Aku takut nyakitin kamu dan anak kita. Biar aku menjauh sampai aku bisa memaafkan semuanya dan hati aku bisa menerima semua dengan tenang," ungkap Juno lirih. Ia mengecup kening istrinya itu, dia menatap wajah polos Amora yang tengah tertidur. Ia juga mengusap perut rata Amora seakan mengucapkan salam perpisahan pada jabang bayi mereka.


"Maaf, nak," lirih Juno pelan.


Juno menarik nafas panjang dan mulai bersiap-siap. Diam-diam dia menyusun semuanya di saat Amora tertidur lelap. Juno tidak banyak membawa barang. Dia hanya membawa yang penting saja.


Sekali lagi Juno mencium kening Amora. Lalu diam-diam dia keluar berjalan keluar rumah seorang diri menuju pintu gerbang.


Kevin hanya menatap kepergian Juno dengan diam dari lantai atas ruang kerjanya. Dia menatap kepergian menantunya tanpa mampu ia cegah. Hanya hatinya yang penuh dengan keyakinan bahwa Juno laki-laki baik yang pasti tau apa yang ia lakukan dan bagaimana caranya ia mempertanggung jawabkan semua.


***


Keesokan harinya Amora langsung histeris saat tahu Juno pergi meninggalkannya. Dia menangis histeris di kamarnya beberapa orang mencoba menenangkannya namun tetap tidak bisa, hingga dia di berikan obat penenang karena gerakannya yang agresif di takutkan akan membahayakan kandungannya.


Kevin menatap Dona. Dia tahu sekarang Dona sudah dapat ganjaran atas perbuatannya. Dia hanya tersenyum sinis pada Dona dan meninggalkannya.


Dona segera menyusul suaminya ke ruangannya.

__ADS_1


"Pah, kenapa nggak Papa cegah kalau dia udah ngomong sama Papa? Papa sengaja biarkan Juno ninggalin Amora?" tanya Dona bingung akan tindakan Kevin.


"Mama harusnya senang. Bukannya ini yang Mama mau? Juno putra Hanna itu pergi meninggalkan rumah kita. Putra musuh bebuyutan mu di masa lalu. Kenapa Mama minta Papa cegah?" sudut Kevin.


"Iya, aku yang salah, Pah. Aku menyesal, sangat menyesal. Aku hanya mengikuti emosi tanpa berpikir selama ini. Aku memang kurang dewasa menanggapi semuanya. Aku hanya tidak suka, saat kamu putuskan pernikahan anak kita tanpa kamu bicarakan dulu sama aku, kamu ambil keputusan gitu aja, seolah Amora itu bukan anak aku," tukas Dona.


"Apa kamu lupa kalo aku sudah rencanain pernikahan mereka jauh hari? Ini juga aku percepat karena kamu mau nikahin Amora dengan Horner lelaki yang bahkan lebih pantas jadi pamannya. Hanya karena perkara dia laki-laki sukses yang bisa kamu banggakan di depan geng kamu, kamu rela menikahkan Amora dengan dia. Kamu selalu mengambil keputusan berdasarkan kepentingan kamu, mana mungkin aku bisa percaya sama kamu. Sekarang lihat hasil pemikiran egois kamu, semua jadi berantakan, kan? Baru sekarang kamu bisa sadar dengan kesalahan kamu? Setelah semua berantakan. Peringatan aku selama ini nggak kamu dengerin," pungkas Kevin keras.


"Terus sekarang bagaimana? Apa Papa nggak tahu Juno mau kemana?"


"Dia itu sedang kacau. Dia butuh waktu untuk tenang, biarkan saja dulu. Nanti lihat keputusan apa yang akan dia ambil. Tugas kamu adalah jaga Amora baik-baik, juga kandungannya. Buat dia tidak panik dan ngerti. Kamu perbaiki semua yang sudah kamu buat berantakan." Tukas Kevin langsung


***


Kebetulan di samping Juno adalah seorang ibuk-ibuk. Dia terus mengajak Juno mengobrol sepanjang perjalanan, Juno hanya diam dengan senyum mendengarnya. Hingga beliau lelah dan Juno kembali bisa beristirahat dengan tenang. Dia tersenyum melihat ke arah si ibuk, ocehan si ibuk lumayan menghiburnya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya Juno sampai pada tujuannya. Kota kecil dengan hiruk pikuk yang masih tidak terlalu ramai. Juno segera mencari taksi yang bisa ia tumpangi menuju ke hotel kediamannya untuk sementara waktu.


***

__ADS_1


Di sisi lain ada Amora yang baru bangun. Dia kembali menangis karena kepergian Juno. Dia segera mengambil handphonenya untuk menelpon Juno, tapi nomer Juno sudah tidak aktif lagi. Amora dengan kasar membanting handphone itu ke ranjangnya. Para pelayan dengan sigap berusaha menangkapnya agar handphone itu tidak terjatuh ke lantai dan rusak.


Amora kembali histeris, Kevin dan Dona pun masuk kamar dengan panik. Amora menatap tajam ayahnya. Kevin masih tampak tenang, sedangkan Dona langsung memeluk putrinya itu.


"Kenapa papa izinin dia pergi?" Isak Amora "Papa nggak kasihan sama aku? Aku nggak akan bisa tanpa dia, Pah. Aku mau ikut dia, gimana kalo dia nggak pulang? Atau terjadi sesuatu sama dia di jalan nanti. Atau Juno malah nekat ngelakuin sesuatu yang kita nggak tau. Papa bisa buat anak aku kehilangan ayahnya," cerca Amora histeris.


Kevin berusaha mendekati Amora dan memeluknya. Amora membalas pelukan Kevin dengan memukul-mukul dada Kevin seraya histeris. Kevin hanya diam dengan amukan putrinya itu. Dia membiarkan Amora memukulnya hingga dia lelah dan berhenti sendiri hingga menyisakan isak Amora yang terdengar menyayat hati, wajahnya di penuhi keringat karena lelah dengan emosinya.


Kevin mengusap lembut wajah putrinya. Ia tersenyum dengan tenang, Kevin mulai mengajak Amora untuk duduk dan bicara baik-baik.


Walau masih dengan isaknya Amora sudah tampak sedikit tenang. Kevin berusaha mengajak Amora untuk bicara.


"Dia sedang patah hati, dia lelah dengan perasaannya. Biarkan dia pergi sebentar untuk menemukan ketenangannya. Papa yakin Juno akan kembali, dia hanya butuh waktu. Jangan tahan dia di sini, dia bisa gila betulan kalau kita tahan dia terus. Dia tengah berusaha memaafkan seseorang tanpa menyakitimu, nak." Kevin melirik Dona yang terdiam seolah paham apa maksud suaminya. Amora juga terdiam termangu lalu kembali menangis. Dona kembali memeluk putrinya.


"Tidak apa-apa, dia laki-laki baik. Percayalah, nak. Dia akan kembali." Dona ikut berusaha meyakini putrinya.


"Kalau kamu benar-benar menyayangi suamimu, jagalah anaknya yang tengah kamu kandung saat ini dengan baik." Ros mencoba menimpali. Amora menatap Ros nanar.


Mungkin semua orang benar. Dia harus memberi Juno kesempatan untuk pergi dulu. Menahannya dan menangisinya saat ini mungkin hanya akan berakibat buruk bagi Amora dan bayinya. Amora menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan. Dia mulai belajar memahami, jika mencintai tidak harus selalu bersama, bukan! Melepasnya sejenak bisa jadi adalah salah satu bukti bahwa ia sangat mencintai Juno. Seperti dia saat ini. Dia mungkin memang harus melepaskan Juno dengan penuh rasa ikhlas untuk sementara demi kebaikan Juno. Dia harus percaya bahwa Juno tidak apa-apa di luar sana.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2