Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Peringatan Keras


__ADS_3

Setelah makan malam itu, Juno dan Amora kembali ke kamar mereka dan tidur, Amora masih tampak kesal karena sedari tadi ayahnya hanya peduli kepada Juno dan mengabaikan dia anak kandungnya. Juno tahu itu, Juno membuka matanya sebentar dan tersenyum. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Amora dan memeluknya dari belakang seperti biasa dan seperti biasa juga Amora menolaknya tapi lama-lama dia pasrah karena Juno tidak akan melepaskannya walau dia memberontak sekeras apapun juga.


"Kamu tau? Di rumah sakit aku ada pasien yang sudah tua. Jadi, yang sakit itu si nenek, tapi kakeknya tiap saat di samping si nenek nemeninnya. Bahkan, karena usia nenek yang sudah senja jadi kami gagal menyelamatkannya. Si kakek sangat sedih, dia nangis. Kami minta maaf sama beliau karena tidak berhasil menyelamatkannya. Kami pikir dia akan sangat sedih atau marah menyalahkan kami. tapi dia bilang 'tidak apa-apa, kami sudah bersama selama 80 tahun lebih. Aku sudah menjaga dia seumur hidupku. Dia sudah bertahan dengan sakitnya terlalu lama demi aku. Terimakasih sudah mau merawat istriku bersamaku, kalian baik karena mau melayani pasien BPJS gratis seperti saya sepenuh hati,' semua staf dokter terharu waktu itu. Dokter Wahyu yang spesialis jantung peluk si kakek, karena terharu dengan ketulusan si kakek selama ini jagain pasiennya. Si kakek sama kayak kita, dia temenan sejak kecil sampai akhirnya mereka nikah. Dia udah jagain nenek sejak kecil. Makanya aku ingat kamu, karena kita juga sama-sama sejak kecil, kan?" cerita Juno. Amora hanya terdiam di pelukan Juno sambil mendengar cerita Juno. Dia tercenung dan ingat di mana saat remaja Juno selalu menjaganya dari anak-anak yang usil walau Amora tak pernah mengucapkan terimakasih padanya. Juno tidak pernah terlihat kecewa, dia selalu menjaga Amora dengan manis, walau ujung-ujungnya malah Juno lah yang akan membuat Amora menangis karena sifat isengnya. Ada senyum tipis dari Amora saat mengingat momen itu, tapi Juno tak menyadarinya karena Amora yang tengah membelakanginya.


"Aku harap kamu bisa bukak hati kamu buat aku, agar saat aku sakit kayak si nenek ada yang jagain. Karena ... Aku tidak punya siapapun Amora, selain kamu dan keluarga kamu. Kamu berharga buat aku, sayang. Maaf ya, aku sering bikin kamu kesal selama ini," tutur Juno lagi yang perlahan terdiam dan pelukannya pada tubuh Amora juga ikut merenggang, sesaat nafas Juno terdengar sangat teratur dalam sunyi. Amora dapat rasakan itu dari dekapan Juno dan wajah Juno yang tepat di belakang telinganya.


Amora berbalik dan menatap wajah Juno yang kini sangat dekat darinya. Bahkan hidung mereka nyaris bersentuhan sangking dekatnya saat ini. Dari nafasnya terdengar jika Juno sudah sangat terlelap. Mungkin dia memang sudah sangat kelelahan saat ini. Amora menarik selimut pada tubuh Juno dan mendekatkan tubuhnya lebih dekat ke dalam delapan Juno, dia tertidur di dekapan dada suaminya. Hingga bau wangi dari tubuh Juno yang memang selalu menjaga kebersihannya ini tercium segar oleh Amora, menjadi aroma terapi tersendiri buat Amora lebih tenang dan damai. Kali ini Amora pun bisa tidur pulas.


Mereka berdua pun tertidur dengan Amora yang meringkuk di dekapan Juno di malam yang sunyi, yang terdengar hanya suara gemerisik AC di kamar mereka.


***


Paginya Juno terbangun saat alarm di handphone nya berbunyi, sudah jam 07.00 Wib. Juno pun segera bangkit dan bersiap akan berangkat kerja. Dia menatap Amora yang masih terlelap di dekapannya semalaman. Juno mengecup lembut wajah cantik itu. Terlihat sangat polos saat dia tertidur. Ada seulas senyum saat Juno menatap wajah itu lebih dekat.


Sesaat Juno mulai beroikir, biar lah dulu mereka seperti ini. Dia tidak bisa mengacaukan momen ini lagi, mungkin menyentuh hatinya dengan lembut bisa membuat dia di terima daripada terus memaksa seperti biasa. Yang ada Amora malah bereaksi semakin keras padanya dan selalu menolaknya.

__ADS_1


Juno menatap wajah Amora sekali lagi dan mengelusnya lembut sebelum akhirnya dia bangkit pelan-pelan agar tak membangunkan Amora yang masih terlelap dengan tidurnya. Juno segera berjalan ke kamar mandi dan bersiap akan bertugas kembali.


Setelah selesai bersiap-siap dia melihat Amora masih juga terlelap di tidurnya. Juno mengecup lembut kening Amora sebelum pergi dan menutup pintu pelan. Amora terbangun tapi belum sempat dia bereaksi Juno sudah pergi.



Lelaki itu tampaknya memang sangat sibuk akhir-akhir ini. Dia tidak bersikap memaksa Amora lagi, dia terlihat jauh lebih lembut sekarang. Tapi entah kenapa Amora malah merasa ada yang hilang dengan sikap Juno yang begitu sopan dan teratur padanya. Ada rasa menggelitik di hatinya saat mengingat bagaimana Juno padanya saat di Swiss. Apa karena ini di rumahnya jadi Juno lebih memilih untuk menjaga sikapnya, karena ada orang tuanya di rumah? Ah, entah lah.


Juno turun untuk sarapan pagi. Saat melihat Juno yang sudah siap berangkat kerja ibu Amora segera teringat akan Amora yang masih tertidur di kamarnya. Ini akan menjadi masalah lagi jika suaminya tahu Amora tidak memperdulikan suaminya saat berangkat kerja.


Ibu Amora pun segera berjalan cepat menuju kamar Amora. Dia melihat Amora masih terlelap dalam tidur nyenyaknya. Ibunya segera membangunkan Amora.


"Apaan sih, Mah. Aku masih ngantuk. Biasanya juga dia pergi kerja pergi sendiri, kan! Nyampe juga dia di rumah sakit," ucap Amora yang masih mengantuk.


"Itu kalo Papa kamu nggak ada bisa kamu kayak gitu. Ingat papa lagi ada di rumah sekarang. Ayo sekarang kamu bersiap-siap, antar Juno buat pergi kerja. Setelah itu terserah kamu mau tidur lagi atau mau pingsan seharian juga Mama tidak peduli," ucap ibunya.

__ADS_1


Walau masih merasa malas akhirnya Amora tetap memaksakan diri untuk bangun. Dia mencuci wajahnya di kamar mandi dan segera turun. Juno menatap kedatangan Amora yang berjalan berlahan ke arahnya dengan wajah masih di tekuk dan dengan pakaian tidurnya.


"Sudah siap, Jun?" tanya ibu Amora selembut mungkin.



Juno mengangguk pelan dengan seulas senyuman. Amora pun meraih tas suaminya itu dan berjalan mendahului Juno yang segera di tarik ibu Amora agar sejajar dengan Juno dan menggandeng tangan Juno. Juno kaget dengan drama ini. Tapi dia segera paham saat ayah Amora menatap tajam ke arah mereka. Juno tau ini karena pertengkaran semalam jadi ibu Amora berusaha mendisiplinkan Amora dan bersikap ramah padanya.


Saat Amora dan Juno sudah berjalan keluar. Ayah Amora menatap tajam pada istrinya seraya menikmati roti selai sarapan paginya.


"Papa mau pergi beberapa Minggu ini, jadi Papa harap jangan ada keributan selama papa tidak ada di rumah. Dan ... perlakukan menantu kita dengan baik, dia masih baru di rumah ini. Makannya dia di perhatikan, pasti dia belum berani bilang kalau lapar, minta Amora lebih memperhatikan suaminya itu. Jangan terus cuek seperti tidak punya suami. Lihat Juno, pagi-pagi sudah bangun untuk kerja, dia masih saja lelap tidur tidak peduli apa-apa. Kamu bisa kan didik dia supaya menghormati suaminya, jangan mentang-mentang suami sabar malah jadi makin seenaknya begitu," tegur suaminya yang mulai kesal dengan sikap Amora terhadap Juno.


Dia tahu betul jika istrinya sama dengan Amora, sama-sama kurang setuju dengan pernikahan ini, karena dia merasa anak tunggalnya tidak pantas menikahi Juno yang hanya seorang dokter umum muda dan belum begitu mapan di bandingkan dengan Amora anaknya yang merupakan putri pewaris tunggal dari semua kekayaan mereka.


"Kamu yang paksakan dia, Pah. Ya terima resiko kalau dia tidak bersikap baik, Juno memang harus sabar kalau masih mau tetap menikahi Amora. Kan dia tau Amora tidak setuju dengan pernikahan ini, kenapa dia masih setuju saja untuk menikah. Sekarang ya terima resikonya dia di gituin Amora," bela ibu Amora seraya menikmati sarapannya juga.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu dan Amora mau seenaknya begini? Kamu pikir semua ini bisa kita dapatkan begitu saja kalau bukan karena usaha keluarga Juno. Jangan pura-pura lupa, Mah. Semua ini juga ada andil dari keluarga Juno. Jadi sekarang saat dia tidak memiliki siapapun apa salahnya kita bawa dia menjadi bagian dari keluarga kita. Dia itu juga merupakan laki-laki baik, dan tidak banyak tingkah. Kalau kamu bandingkan dengan kekasih Amora sebelumnya Juno jelas secara watak dan kepribadian lebih unggul dan bertanggung jawab. Kalau kamu tidak percaya, coba saja kamu lihat nanti," ujar ayah Amora Menantang.


Ibu Amora hanya diam, dia malas melanjutkan perdebatan ini. Pasti suaminya tidak akan mau kalah juga nantinya.


__ADS_2